
"Bimo kita kemana sekarang? Kalau jalan balik ke mobil jauh dan juga enggak malu loe dilihatin banyak orang dari tadi? pakai napa itu baju, ini bukan catwalk dan biasa aja jalan loe itu kagak usah kek model yang sok keren".
Jono yang berjalan di sebelah gua dengan keduanya tangannya yang memegang plastik uang tampak risih karena setiap orang yang lewat di jalan tampak melihat ke arah kami, terutama melihat gua.
Sementara Suci berjalan pelan mengikuti dari belakang.
"Jon kalau gua pakai ini baju malah melorot entar celana gua, udahlah sekarang kita cari makan aja dulu. Sumpah laper banget gua, hampir terkuras ini tenaga dan perlu asupan nutrisi". Gua bicara dan memegang perut yang udah bunyi mulu dari tadi.
"Itu di depan ada warung pojok lontong sayur, gimana mau kamu?". Jono menunjuk ke depan memberi arahan.
"Terserah Jon yang penting bisa ganjel perut gua, ayo kesana". Gua udah kagak sabar dan berjalan duluan.
Tidak lama gua udah sampai di depan warung sederhana dengan Baner bertuliskan Warung Pojok Bu Sum dengan berbagai menu makanan dan minuman.
"Selamat dat...
Penjual wanita setengah baya menyapa dan langsung terkejut saat gua masuk dan melihat penampilan gua.
"Maaf buk teman saya bajunya kotor penuh semen, tolong maklum ya pekerja proyek soalnya". Jono buru-buru maju dari belakang dan menjelaskan.
"Plak!". Gua pukul pelan pala belakang si kampret, "Kalau cari alasan itu yang bener napa Jon".
"Udah loe diam aja biar gua yang bicara".
"Oh iya saya maklum kok, mas dan mbak nya mau makan ini?". dengan ramah ibu Sum bertanya.
"Iya Bu teman saya mau makan".
"Loe kagak makan Jon?".
"Masih kenyang gua dan juga loe sama Suci tunggu di sini, biar gua keluar bentar cariin loe baju dan celana sambil cari kendaraan untuk balik ke mobil".
"Ok lah kalau gitu". Gua iyakan aja ide si Jono.
"Ci kamu tunggu di sini ya, awasi Bemo jangan sampai dia buat ulah lagi".
"Cepat ya Jon". Suji mengangguk pelan menjawab.
"Sip! Ok gua keluar dulu". Jono langsung melangkah pergi.
"Mas dan mbaknya mau makan apa?". Bu Sum bertanya lagi.
Gua berjalan mendekat, "Menunya ada apa saja Bu?".
"Disini ada lontong sayur, lontong sambal, nasi pecel dan nasi rames mas".
"Mm.. Kalau gitu saya lontong sayur aja, 2 porsi jadikan satu, untuk lauknya ada apa Bu?".
"1 porsi sudah banyak mas tapi kalau memang ingin seperti itu bisa nanti saya buatkan dan untuk lauknya disini ada Ayam, telur dadar, ikan goreng, tempe dan bakwan jagung".
__ADS_1
"Untuk lauk saya mau ayam bagian paha dan hati dan untuk minumnya saya es jeruk tanpa gula". Gua segera melanjutkan memesan.
"Baik mas, untuk mbaknya mau pesan apa?". Pandangan Bu Sum beralih dari gua ke Suci di belakang yang dari tadi diam.
"Saya tidak makan Bu, cukup teh hangat saja 1". Pelan Suci menjawab.
"Baik, akan segera saya buatkan silahkan mbak sama mas nya duduk dulu". Bu Sum menunjuk meja dan kursi sederhana yang tidak jauh dari kami dan dia langsung ke belakang menyiapkan pesanan.
"Ayo duduk dulu Bim". Pelan Suci berbicara.
"Iya". Jawab gua singkat dan segera berjalan menuju kursi.
Suci mengikuti duduk di depan gua dan kami pun saling berhadapan.
"Bimo bisa kita bicara sebentar?". Dengan lebih percaya diri Suci berucap dan menatap gua serius.
"Bisa dan jujur saja aku tidak bisa menebak jalan pikiran kamu, dari tadi pikiran aku bulet seperti benang kusut. Yang ada di dalam pikiran aku cuma pikiran negatif tentang kamu dan sekarang aku beri kamu kesempatan untuk mengubah itu". Jawab gua tidak kalah serius.
Mumpung Jono kagak ada, gua ingin mencari tau apa alasan Suci yang sebenarnya bersikap kek tadi.
"Bim aku tau kamu kamu sekarang marah dan kecewa sama aku dan aku mengerti itu. Aku minta maaf". Suci mulai berbicara.
"Aku juga minta maaf karena tadi bentak dan dorong kamu saat di dealer dan tidak memperhatikan apa yang terjadi setelahnya karena aku terlalu panik liat mantan suami aku".
"Kamu jangan salah paham dulu Bim, panik aku itu bukan karena perasaan atau rasa yang lainya.. perasaan aku untuk dia sudah hilang dan tidak tersisa setetes pun". Suci buru-buru menjelaskan sebelum gua bicara.
"Terus alasan kamu menghentikan aku tadi apa? itu orang udah menghina Jono dan aku abis-abisan sampai bawa-bawa keluarga segala, bagi pria martabat keluarga itu di atas segalanya".
Pikiran gua auto terbuka saat ini dan bisa menebak dengan positif alasan dari Suci dan tidak lagi ada pikiran dan prasangka negatif.
"Jadi kamu hentikan aku tadi karena Diah?".
"Iya Bim, itu karena Diah putri aku.. Walau Samsul berprilaku buruk tapi dia sayang banget sama Diah dan itu tulus, rasa sayang Ayah ke anaknya. Begitu juga dengan Diah yang sayang ke Ayahnya".
"Aku enggak mau Diah bersedih Bim, aku enggak mau dia menangis lagi seperti saat tau orang tuanya berpisah.. Dia masih kecil dan masih butuh kasih sayang dan perhatian dari seorang Ayah". Suci tampak tidak bisa lagi membendung air matanya dan mulai meneteskan butir demi butir di hadapan gua.
Sekali lagi pintu hati gua terbuka saat ini dan saat ini di dalam lubuk hati gua yang paling dalam gua bersyukur Suci menghentikan gua tadi.
Alasan yang dikatakan Suci sangat masuk akal, mungkin gua akan menyesal jika Suci kagak hentikan gua tepat waktu.
Hampir aja gua menghapus kebahagiaan dan sumber kasih sayang dari Diah.
Gua yang udah sebesar ini saja sayang banget sama bokap dan terkadang rindu ingin bercengkrama bersama apalagi Diah yang masih kecil.. mungkin bagi dia Ayah adalah kebanggaan.
Cinta pertama dari anak perempuan adalah Ayahnya, gua tau persis tentang itu.
Dalam diam gua bicara dan bersumpah untuk diri gua sendiri, nanti dan seterusnya.. jika iblis datang merasuki gua lagi dalam sebuah pertempuran tidak akan bertindak terlalu jauh, mungkin akan gua buat cacat atau sebatas pingsan saja.
Seiring bertambahnya pelajaran dalam hidup, suka dan duka.. Gua berharap diri ini semakin tumbuh dewasa dan suatu saat nanti bisa menjadi pribadi yang tebih baik lagi, walau gua kagak tau itu datangnya kapan.
__ADS_1
"Bimo kenapa diam? apa kamu masih marah dan tidak mau memaafkan aku?". Suara Suci memecah lamunan gua.
Dan untuk pertama kali sejak dari dealer, gua kembali kasih Suci senyum lembut.
Segera gua beranjak berdiri pindah ke sebelah Suci dan langsung gua peluk dia lembut.
Suci sedikit tersentak tapi sesaat kemudian dia membalas pelukan gua dan terisak.
Wanita itu senang atau sedih, terharu atau merasa sakit akan mengekpresikan diri dengan mengeluarkan air mata.. Itulah kelebihan dari kaum wanita, kelebihan yang bisa meluluhkan hati seorang pria.
"Sorry aku yang salah karena tidak bisa berfikir panjang, untuk sesaat aku lupa dengan posisi dan keadaan kamu dan juga Diah". Gua berucap tulus dan mengusap kepala belakang Suci yang terbalut jilbab.
"Mungkin sekarang aku masih seperti remaja labil yang hanya memiliki nafsu dan amarah tapi yakinlah aku Abimana Pramono berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama dua kali".
Gua bicara dan mendorong Suci pelan keluar dari pelukan gua dan langsung gua hapus air matanya.
"Kamu mau maafkan aku kan?". Sekarang gua yang meminta maaf.
"Kamu tidak salah Bim, sedikit banyak aku sudah mengerti tentang kamu".
"Walau kamu sering berkata kasar terhadap Jono, aku tau kamu sayang sama dia sebagai sahabat dan kamu tidak terima saat dia dan keluarganya di lecehkan, kamu adalah tipe orang yang setia dan aku suka itu". Suci tersenyum kecil.
Dan gua yang mendengar kata setia dari bibir Suci langsung berkeringat dingin.
"Maaf kalau menunggu lama". suara terdengar dari dalam warung dan itu suara Bu Sum yang datang membawa nampan.
Gua langsung merasa lega karena secara tidak langsung, Bu Sum datang di waktu yang tepat.
"Tidak kok Bu kami juga sedang berbincang ini". Gua segera menjawab dan Suci segera menghapus sisa air mata di wajahnya.
"Ini pesanannya sudah jadi". Bu Sum menaruh nampan di meja yang buat gua langsung terkejut melongo.
"Selamat menikmati". Dengan senyum ramah bu Sum langsung pergi, meninggal kan gua dengan mulut yang masih terbuka.
"Sayang di Blora emang gini ya? Makanan di taruh di baskom dan bukan piring, mana itu banyak banget lagi lontong sayurnya satu baskom penuh". Gua panggil Suci sayang lagi dan tunjuk baskom di atas nampan.
"Hehehe, kan kamu yang minta tadi 2 porsi dijadikan 1 ya itu hasilnya. Kalau ditaruh piring yang tidak muat Bim". Suci terkekeh melihat ekspresi wajah gua.
Gua mengangkat baskom dari atas nampan yang lumayan berat dan gua taruh di depan gua, "Ini serius 2 porsi dan bukan 5? Brutal banget ini soalnya, beda sama kantin STM aku dulu".
"Ya beda lah Bim, jakarta sama Blora jangan kamu bandingkan. cepat makan nanti keburu dingin". Suci menyuruh dan mengambil teh hangat pesanan dia dari atas nampan.
"Iya tapi gimana ini makannya? seumur-umur aku enggak pernah makan dari baskom Segede gini dan coba liat ini sayur lodehnya.. Seperti nya bisa buat aku renang".
"Lha terus gimana dong? Mau pesan lagi 1 porsi aja?".
"Janganlah mubazir nanti ini".
"Lha terus Bimo sayang maunya gimana?". Suci tampak gemas liat gua dan itu adalah pertama kali dia panggil aku sayang.
__ADS_1
"Suapi". Jawab gua cepat dengan ekspresi yang gua buat seimut mungkin tapi kelihatannya Suci melihat gua lebih ke arah amit-amit karena dia langsung menutupi mulutnya terkejut sekaligus menahan tawa.