Preman Campus

Preman Campus
TARUHAN


__ADS_3

Gw lepaskan tangan si mohawk biru yang baru aja gw patahin.


Dia masih mengerang kesakitan di tanah dan langsung memegang lengan kiri nya yang lunglai karena tulang yang kagak nyambung.


"Apa kalian pada liatian! Pada bubar kagak!".


Gw berteriak lantang penuh akan intimidasi dan sorot mata tajam ke arah orang-orang yang masih berdiri terpaku melihat akhir dari Fight gw yang berlangsung dramatis.


Dengan cepat kerumunan membubarkan diri dan lebih tepatnya meninggal lokasi mini market, disaat raut ketakuan terpancar di wajah mereka ketika melihat gw.


Mohawk merah yang dari tadi terbaring dengan kaki patah satu, gw liat dengan tertatih dan ekpresi wajah nelangsa mencoba bangun.


Dengan seret satu kakinya dia menghampiri mohawk biru yang ada di bawah gw meringkuk memegangi tanganya.


"Bang tolong ampuni kami bang, kami salah telah goda pacar abang dan menghina orang tua abang. Kami menyesal tolong jangan patahkan anggota tubuh kami lagi". Mohawk merah dengan air mata berderai memohon ampun ke gw.


"Nama lu berdua siapa tong!". Dengan muka datar gw bertanya.


"Saya Roni dan dia Juan bang". Mohawk merah menjawab lirih, tidak ada lagi raut wajah jumawa dan sombong dari ini bocah.


Gw sedikit iba melihatnya, mereka masih sangat muda dan dengan bengis gw menghajar mereka karena sulut emosi gw.


"Sayang!". Suara Bianca terdengar dari arah belakang auto gw berbalik dan melihat Bianca yang sudah keluar dari taksi berlari ke arah gw.


Rasa iba di hati gw sedikit menghilang saat melihat wajah cantik yang sedang belari ke arah gw itu.


"Pelan-pelan Bie, jangan lari robek nanti". Gw kawatir karena Bianca berlari kenceng banget kek banteng, mantul-mantul lagi itu 2 gunung dia.


Bianca dengan cepat masuk ke dalam pelukan gw. "Sayang kamu buat aku takut". Bianca berucap di didalam pelukan gw lirih.


"Takut apa? aku gak apa-apa kok, aku yang takut liat kamu lari kek tadi, gimana coba kalau robek".


"Bodo amat, robek ya beli lagi cuma celana ini". Bianca menjawab dan mempererat pelukannya.


"Bukan celana Bie maksud aku, kan kamu lagi M, kan bisa cedera itu kamu jika kamu buat lari-lari". Senyum nakal menghiasi wajah gw.


"Sayang masih sempet-sempetnya kamu bercanda!". Bianca keluar dari pelukan gw dan cemberut masam.


"Liat ini hidung kamu masih ada darah yang mengering, aku ambilin tissue ya?".

__ADS_1


"Bie kamu jangan kawatir dan tunggu di dalam taksi saja dan tolong itu pisau bawa sekalian, milik ibuk kantin itu yang gw pinjam saat mau selamatkan Reza tadi".


"Ya ampun sayang, enggak modal banget kamu. Pantas aja aku seperti kenal dengan pisau itu". Bianca tampak tidak percaya gw bisa bawa pisau dari kantin.


"Oya kamu kenal? Namanya siapa itu pisau?". Sambilt tersenyum gw bertanya.


"Namanya Tarjo!". Jawab Bianca sewot.


"Hehehe, kamu emang gemesin Bie. Ya udah tunggu aku di taksi aja gi. Masih ada urusan aku sama 2 orang ini".


"Tapi sayang?".


"Bie nurut sama aku, cuma sebentar aja kok nanti aku susui kamu". Gw menyakinkan Bianca.


"Ya udah tapi cepat ya, udah tidak berdaya juga itu mereka berdua". Bianca berucap dan berbalik badan mengambil pisau yang tergeletak di tanah dan kembali berjalan dan masuk ke dalam taksi.


"Siapa nama lu berdua tadi? Gw lupa". Gw berbalik badan dan menatap mohawk merah dan mohawk biru lagi.


"Roni saya bang". Mohawk merah menjawab.


"Juan". Mohawk biru yang sudah berdiri juga menjawab.


"Gw kagak suka saat lu berdua lecehkan cewe gw dan hina nyokap gw, tapi diluar dari itu gw kagum sama nyali kalian, terutama lu juan".


"Kalian tunggu disini sebentar dan jangan coba kabur!". Gw mengancam mereka.


Mereka berdua tampak pasrah dan mengangguk pelan.


Gw segera berjalan masuk ke mini market, kasir pria yang tadi juga melihat fight gw tampak ketakukan saat menyadari kehadiran gw.


"Kasih gw plastik!". Gw bicara dan meminta plastik.


"I i ini". Dengan terbata kasir penakut itu memberi gw plastik besar warna putih khas mini market.


"To to tolong jangan sakiti saya".Badan itu kasir tampak bergetar sambil memegang plastik yang gw inginkan.


"Kagak usah GR lu! Siapa juga yang mau sakiti lu".


Gw sambar plastik di tangan dia dan berjalan cepat ke mesin ATM yang ada di pojok mini market.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama gw masukan kartu ATM dan gw tarik keluar uang 20 juta, dengan cepat gw masukan uang ke dalam plastik dan berjalan lagi ke kasir.


Kasir itu bengong melihat apa yang baru aja gw lakukan.


"Kagak usah begong gitu lu! Kek kagak pernah liat duit aja, berapa itu tadi harga plastik?".


"Ti ti tidak usah bang, ge ge gratis untuk abang". Dia masih dengan bicara terbata-bata.


"Ok terima kasih kalau gitu". Gw langsung berjalan keluar dengan cepat berdiri lagi di depan 2 orang pemuda yang baru aja gw patahkan kaki dan lengannya.


"Roni, juan! Lu berdua masih muda masa depan kalian masih panjang jika lu pada mau berubah dan memberi kepala kalian dengan sedikit otak".


Mereka masih menunduk tanpa berani melihat wajah gw dan menjawab perkataan gw.


"Sraaak!". Gw lempar plastik berisi uang 20 juta di bawah kaki mereka berdua.


Plastik sedikit terbuka dan mereka langsung melihat gw tidak percaya setelah melihat isinya.


"Uang apa ini bang?!". Juan bertanya dengan tangan kirinya yang lunglai tidak bergerak.


"Lu berdua denger! Gw akan bertaruh untuk lu berdua, di dalam plastik itu ada 20 juta buat lu berdua berobat, jika lu bisa berubah setelah sembuh cari gw di Campus UGM dan lu bisa panggil gw Bimo, gw akan kasih lu berdua hidup baru".


Mereka bengong tidak percaya mendengar ucapan gw, mereka saling memandang dengan wajah yang masih berdarah dan dengan cepat meraka beralih melihat gw.


"Kami akan berubah bang! Kami akan berubah dan mengikuti abang!". Jawab Juan lantang dan Roni yang mengangguk cepat.


"Gw kagak percaya sama bacot lu doang, gw perlu bukti. Jika pun lu berdua ngibul. Gw kagak ada masalah dan hanya menganggap seperti kalah taruhan saja".


"kami berjanji bang!".


"Kami berjanji bang!".


"berjanji akan sembuh, berubah dan datang untuk mengikiti abang!".


"Terserah lu berdua, gw pergi sekarang!".


Gw berjalan pergi dengan sok cool dengan berwibawa juga tentunya tidak lupa gw ambil kunci inggris di tanah.


Bodo amat jika itu bocah pada liat gw comot barang mereka.

__ADS_1


Kunci inggris sialan ini akan gw pajang di tembok kamar kost, sebagai pengingat ini adalah Kunci inggris pertama yang pernah hantam hidung gw.


__ADS_2