Preman Campus

Preman Campus
BACKSTREET


__ADS_3

Gw kagak nyangka hari ini bakalan gw awali dengan mendengar Amora yang nembak gw.


Awalnya mengira dia bakalan minta gw untuk minta maaf karena insiden sate kuda, tapi pada kenyataannya cewe yang lagi memandang gw ini malah meminta gw untuk jadi cowonya.


Untuk sesaat gw masih mencerna apa yang terjadi, karena ini adalah pengalaman pertama gw ditembak sama cewe secantik Amora.


Jujur gw seneng tapi ada beberapa hal yang masih terasa mengganjal di hati.


"Bimo kamu kok diem?". Amora bicara menatap gw dengan wajah yang terlihat tegang.


"Amora aku boleh jujur gak?". pelan gw bertanya.


"Enggak". Amora menggeleng dan gw liat 1 butir air mata jatuh dari matanya.


"Amora kenapa nangis?". Gw langsung panik tanpa permisi memengang wajahnya dan mengahapus butiran air mata yang jatuh di pipinya.


"Kamu mau nolak aku kan Bim? kamu enggak suka ya sama aku?". Dia berucap dan melepaskan tangan gw yang memegang wajahnya.


"Kamu kok berfikiran seperti itu? kan aku belum bicara dan menjawab".


"Kamu mau jujur bukannya itu sudah pasti kamu nolak aku kan?".


"Ctaak!".


"Bimo kok kamu malah sentil kening aku sih?". Amora memengangi keningnya.


"Biar kamu sadar dan kagak berfikir dan berspekulasi dulu sebelum aku bicara".


"Terus kamu mau jujur soal apa?".


"Ini tentang rahasia aku yang belum kamu ketahui dan belum aku ceritakan sama kamu".


"Rahasia? apa jangan-jangan kamu sudah punya istri ya?".


"Ctakk!".


"Kenapa aku disentil lagi!". Amora mengeluh dan memegangi kening nya lagi.


"Udah dibilang jangan berspekulasi aneh-aneh, mana mungkin aku punya istri".


"Kalau gitu rahasia apa yang kamu miliki? yang aku belum tau?". Amora menatap gw serius dan untungnya kagak ada air mata yang jatuh lagi dari matanya.


"Ini tentang identitas aku Amora, kamu tau nama lengkap aku?".


"Ya taulah Bimo, pertama kali kita kenalan kan kamu sebutin dan aku inget sampai sekarang, Abimana Pramono kan?".


"Iya itu nama aku, kamu ngerasa ada yang aneh tidak dengan nama itu?".


Amora tampak bingung dengan pertanyaan yang gw ucapkan. "Aneh apa emangnya nama kamu bagus kok".


"Bentar ya Amora". Gw berdiri dan mengambil Hp yang gw cas di atas kulkas.


"Ini foto keluarga aku Amora". Gw duduk kembali dan menaruh hp di samping Amora.


Dia tampak binggung tapi dengan cepat mengambil dan melihat foto yang gw tunjukan.

__ADS_1


"Sintha Wirathama..!". Amora terkejut dan menyebut nama bunda gw.


"Iya itu nama bunda aku Amora dan Rama Putra Pramono adalah ayah aku".


"Dukkk!!".


"Amora itu hp warisan kenapa kamu jatuhin?". Gw langsung memungut hp gw yang tidak bersalah.


Lega karena karena kagak pecah dan masih sehat hp yang gw kasih nama betty ini.


"Amora kok kamu jadi bengong gitu dengar aku jujur?".


"Jadi selama ini kamu bohongin aku Bimo?".


"Mana ada aku bohong? kamu aja enggak pernah nanya".


"Butik shinta yang tersebar di seluruh indonesia dan Pramono grup dengan segala anak usahanya itu milik orang tua kamu?"


"Iya, Itu milik Ayah dan Bunda aku".


Amora tersenyum tipis menatap gw, saat gw melihatnya itu sama sekali bukan senyum kebahagian.


"Lupakan saja semua yang aku katakan barusan Bimo". Amora berucap lirih.


"Maksud kamu apa Amora?"


"Aku tidak tau kalau kamu berasal dari keluarga yang begitu hebat dan terpandang Bimo, aku merasa menjadi kecil dihadapan kamu sekarang ini".


"Maaf jika aku tidak tau tempat dan mengungkapkan perasaan aku ke kamu, wajar jika kamu nolak aku". Amora berdiri dan langsung melangkah pergi.


"Jedaaarrr!!!".


Dia membuka pintu, sebelum Amora keluar gw dorong pintu dari belakang dan tertutup kembali.


Amora terkejut dan seketika itu berbalik badan melihat gw yang berada tepat di depannya.


Dia diam menatap gw dengan air mata berlinang.


Amora diam saja saat kedua tangan gw memegang wajahnya dan menghapus air matanya.


"Gadis bodoh! kenapa main kabur aja kamu? Pakai lari lagi, kalau kesandung dan nyungsep kan aku yang jadi tersangkanya".


"Dukk! Dukk! Dukk!". Amora memukul dada gw pelan. "Aku enggak kuat mendengar kamu nolak aku, kamu ngerti gak sih?". Amora kembali terisak dan memukuli dada gw pelan.


Lama-lama kok sakit juga ya pukulan Amora, Auto gw pegang kedua lengan tangan dia.


"Gadis bodoh! siapa yang nolak kamu? aku kan belum bicara dan menjawab".


Sontak Amora terdiam dan melihat mata gw, melihat dia sudah tenang gw pun melepas kedua tangannya.


"Aku kan tadi cuma kasih tau kamu soal identitas aku sebenarnya Amora".


"Bukannya itu sama saja kamu nolak aku ya? itu secara tidak langsung kamu bilang orang miskin seperti aku tidak pantas bersanding dengan pangeran seperti kamu".


"Cetaak!!".

__ADS_1


"Bimoo sakit, kamu udah sakiti hati aku masih aja sakiti kening aku". Amora terisak dan memegangi kening nya lagi.


Gw tersenyum melihat Amora yang mengosok-gosok itu kening.


Gw pegang kedua bahunya dan dengan cepat gw tarik ke dalam dekapan, gw peluk Amora erat.


Dia yang terkejut gw rasakan badannya sedikit menegang.


"Itu karena kamu masih aja berspekulasi yang tidak-tidak dan itu hukuman buat kamu".


"Masih untung aku sentil kening kamu, kalau aku khilaf kan bisa sentil punt!ng kamu".


"Duk! Duk! duk!". Kali ini pungung gw yang menjadi sasaran pukulan Amora.


"Amora kamu merasa nyaman di pelukan aku kok malah kamu sakiti aku sih". Gw bicara saat tubuh Amora masih nempel di tubuh gw.


Dia malah semakin keras memukul, gw pegang pundaknya dan gw dorong pelan tubuhnya keluar dari dekapan gw.


"Sorry ya aku cuma bercanda, kamu sih selalu menebak-nebak kata yang aku ucapkan. Ini kan bukan kuis, mana tebakan kamu salah semua lagi".


"Jadi kamu enggak nolak aku Bimo?". Amora melihat wajah gw penuh harap.


"Amora hidung kamu kok aneh sih?".


"Kok kamu malah bahas hidung aku, hidung orang miskin memang seperti ini". Jawab dia sewot.


"Bukan gitu, tadi kan kamu nanggis kok kagak ada ingus yang keluar, kamu sedot masuk lagi ya?".


"Bimoooo!!".


"Dukk!! dukkk!! dukkk!!". Amora melancarkan serangannya lagi di dada gw.


Reflek gw mundur tapi dia masih aja maju dan serang gw hingga kaki gw mentok di pinggir kasur.


Gw pegang kedua lengannya dengan cepat dia melepaskannya lagi, dengan satu pukulan ringan di dada, gw jatuh kebelakang reflek gw cari pegangan dan itu adalah tangan Amora.


"Brukk!". Gw jatuh di atas kasur busa dengan membawa Amora yang tengkurap di atas tubuh gw.


Kasur ini nyaman banget sumpah, mantul-mantul dari bawah dengan Amora yang ada di atas gw semakin menambah sensasi aneh.


"Tu kan kita jatuh, untung saja di kasur". Gw bicara dan mendekap tubuh Amora dari bawah saat dia mencoba bangun.


"Gadis bodoh! aku itu enggak nolak kamu". Gw berbisik pelan di teliga dia dari bawah.


Amora langsung berhenti bergerak memajukan wajahnya tepat di atas wajah gw.


Posisi ini begitu intim dan buat gw berdebar kagak karuan.


Dia tersenyum lembut dengan raut wajah bahagia telihat begitu jelas. "Jadi kamu terima perasaan aku Bimo?".


"Iya aku terima aku juga suka sama kamu, tapi dengan satu syarat".


"Syarat apa?". Lirih terdengar suara Amora.


"Kita pacarannya Backstreet!".

__ADS_1


__ADS_2