
Suara gerimis rintik-rintik yang dari tadi terdengar sekarang sudah berubah sepenuhnya menjadi hujan yang lumayan lebat.
Walau ini mulai musim kemarau entah kenapa langit seakan mendukung percumb** gw sama Bianca dengan memberikan suasana dingin agar kamu semakin menghangatkan satu sama lain.
Gw kagak tau orang-orang yang memperbaiki wahana biang lala masih pada kerja apa kagak disaat hujan turun semakin lebat.
Gw kagak peduli juga jika akan terjebak disini selamanya bersama wanita yang masih mempermainan bibir gw dengan ganas ini.
Sel-sel di dalam tubuh gw menari-nari menerima setiap rangsan** dari permainan bibir Bianca yang begitu lihai.
Darah gw berdesir mengalir dan berputar-putar di dalam tubuh, rasa haus dan lapar menghilang entah kemana tergantikan dengan jiwa yang bergejolak menginginkan lebih dan lebih dari sebatas ciuman.
Kedua tangan setan gw yang semula masih di pinggang Bianca saat ini sedikit demi sedikit inci demi inci pelan-pelan mulai merayap dengan pasti naik ke atas.
Mungkinkah Bianca menyadarinya? Gw juga kagak tau yang pasti jika dia diam saja berarti tangan setan gw masih aman.
Gw sedikit tersentak dan terkejut di saat kedua tangan Bianca yang semula berada di leher belakang gw, saat ini beralih memegang dan menakup kedua pipi gw.
Auto bibir gw semakin monyong ke depan dan yang terjadi selanjutnya sudah bisa di tebak, ciuman dan lu**** yang di lancarkan Bianca semakin dalam.
Kenikmatan macam apa ini Bimo, rasa ini lebih nikmat dari 2 sahabat karip lu miras dan rokok itu. Gw bicara dalam hati di tengah-tengah mendapatkan serangan nik***.
Kagak hayal sekarang banyak ABG di luar sana pada menikah dini dan buncit di luar nikah, kenikmatan yang di tawarkan setan sungguh tidak dapat ditolak. Ini baru permainan bibir, bagaimana jika gw dan Bianca menaikan level dan bermain dengan pedang excalibur masuk ke sarungnya, kenikmatan seperti apa yang akan kita rasakan?
"Duaaaaar!!". Suara petir terdengar kilatan cahaya samar-samar gw lihat walaupun mata terpejam.
Gw tersentak kaget begitu juga dengan Bianca, untuk sesaat bibir kami berhenti melu*** tapi masih dengan erat menempel.
Mata gw terbuka begitu juga dengan kedua mata Bianca.
Kami saling memandang dengan jarak yang sangat dekat karena Bibir yang masih saling terhubung satu sama lain.
Bola mata Bianca begitu jernih gw liat dari jarak ini, nafas dari hidung saling bertabrakan seakan-akan kita sedang berbagi oksigen satu sama lain.
"Duaaarrr!". Suara petir sekali lagi terdengar, seperti sinyal yang suruh gw untuk berhenti atas semua kegilaan yang kami lakukan. Itu yang gw fikirkan saat mendengar suara petir sekali lagi.
Tapi bagi Bianca suara petir itu seakan-akan suara pistol yang di tembakkan di garis start, dia kembali memejamkan mata dan kembali lagi menganiaya Bibir gw dengan ganas dan brutal.
__ADS_1
Siapa sebenarnya yang srigala disini? Kenapa gw merasa seperti keledai dan dipermainkan oleh Bianca.
Awalnya gw sangat berbangga diri dengan skill kiss yang gw miliki tapi saat ini rasa bangga gw memudar ditelan keganasan Bianca.
Gw kira dia masih cupu dan amatir, ternyata eh ternyata dia adalah suhu yang sangat ahli di olahraga bibir ini.
Gw keteteran dengan berbagai skill yang Bianca lancarkan, dengan berat hati gw mengaku kalah.
Tapu tiba-tiba harga diri gw sebagai pejantan bergejolak, jiwa gw membara dan semangat gw tiba-tiba menggebu-gebu.
Lu jual gw beli! Gw juga memejamkan mata kembali menerima serangan nik*** dengan pertahanan yang gw tingkatkan dan sesekali melancarkan serangan balik dengan menggigit kecil bibir Bianca.
Entah ini sudah menjadi ronde yang keberapa gw kagak tau, kenikma*** macam ini tidak akan pernah membosankan.
Kedua tangan gw yang dari tadi merayap dari pinggang Bianca dan menuju ke atas yang terhenti karena suara petir, sekarang mulai lagi dan sebentar lagi sampai di tujuan yang gw idam-idamkan yaitu 2 gunung kembar dengan pucuknya yang berwarna pink itu.
Bianca memegang kedua pipi gw lagi untuk memperdalam ciuman kami.
Untuk sesaat entah kenapa gw teringat Amora. Gw ingin mengumpat dalam hati disaat seperti ini bayangan Amora muncul di dalam benak gw.
Hati gw tiba-tiba perih sakit dan berasa ditusuk-tusuk membayangkan Amora kedinginan menanti kedatangan gw.
Hati nurani gw datang di saat yang kagak tepat, Gw terdiam membiarkan Bianca menyerang bibir gw dengan ganas.
Gw yang terpejam tiba-tiba mata gw basah dan 1 tetes air mata meluncur di pipi.
Gw tertawa melihat drama saat adengan kiss pemeran utamanya malah nangis, saat ini gw menertawakan diri gw sendiri. Kagak nyangka hidup gw bakalan mirip sama drama itu.
Apa kamu selemah ini Bimo? Apa kamu tidak menyukai Bianca? 2 pertanyaan yang gw ucapkan dalam hati membuat gw sadar.
Bagaimanapun juga gw menyukai Bianca dan menyanyangi dengan tulus sama besarnya dengan rasa sayang gw ke Amora.
Gw tidak akan pilih kasih hingga membuat Bianca kecewa kalau gw berhenti disini.
Tapi Bianca tiba-tiba menghentikan aktifitasnya dan mundur sedikit kebelakang.
Dia menatap gw. "Bimo kok kamu nanggis? Aku sakiti kamu ya?". Bianca tampak panik memandang gw.
__ADS_1
Ternyata air mata setetes tadi meluncur dan mengenai tangan Bianca yang megang pipi gw.
"Siapa yang menangis Bie? Aku enggak bisa nafas ini karena kamu terlalu ganas jadi air mata aku jatuh dengan sendirinya karena kekurangan oksigen". Gw segera beralasan mencari kata yang tepat agar Bianca kagak curiga.
Tangan gw yang semula berada di bawah gunungnya gw tarik untuk menyeka wajah dan mata gw.
"Maaf sayang aku enggak sadar". Bianca berucap malu-malu.
"Iya gak apa-apa wajar kok, bibir aku kan rasanya manis jadi wajar aja kamu bringas kek tadi". Gw tersenyum dan menggoda Bianca.
Bianca tidak menjawab tapi langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Terlalu malu mungkin dia untuk menatap gw.
"Ini hujan ya sayang?". Bianca melihat keluar dari sela-sela ruangan wahana biang lala setelah beberapa saat.
"Iya Bie, kamu juga denger sendiri kan petir tadi".
"Aku kira cuma suara petir aja, enggak dengar aku suara hujan".
"Iya yang kita dengar kan suara bisikin setan tadi, mana dengar suara air jatuh".
Bianca tersenyum seperti menyetujui dan sependapat dengan perkataaan gw.
Setengah jam berlalu setelah adegan panas gw sama Bianca, kami masih terjebak di atas wahana biang lala.
Kami mengobrol lagi dengan gw selingi candaan, tidak ada lagi adegan panas dan bergairah.
Pandangan Bianca tidak pernah lepas dari gw sejak tadi seakan-akan dia sudah jatuh sedalam-dalamnya ke dalam pesona seorang Abimana Pramono.
"Bie ada yang aneh ya dengan wajah aku? Kenapa kamu liatin aku kek gitu?". Gw tersenyum kecil dan bertanya.
Bianca tersenyum lembut dan berucap pelan. "Kamu ganteng banget sayang".
"Kamu dalam keadaan sadar kan Bie? Tumben banget kamu muji aku ganteng?". Gw kagak percaya dengar itu kata dan pujian yang keluar dari bibir Bianca.
"Sadarlah sayang, kamu kan cowo aku. Wajar dong kalau aku puji kamu ganteng". Bianca tidak malu-malu lagi untuk mengutarakan fikirannya.
Keknya ada yang salah sejak dia ngerasaain bibir gw kenapa jadi seperti bucin gini ini cewe.
__ADS_1