
"Berapa mbak?". Gw bertanya karena udah terlanjur jalan mundur kalau kagak nanya harga ya kagak enak gw.
"Cuma 150 ribu mas, dijamin capeknya hilang". Dia tersenyum ramah. "Gimana mas apa masnya tertarik?".
Anjir murah banget yak, ini pijit apa cuma di elus-elus doang, Gw berucap dalam diam. Tersenyum kecil setelah mendengar harga itu.
"Bagaimana mas, apa masnya tertarik?".
"Tentu saja mbak, jelas sangat tertarik dong". Jawab gw tanpa berfikir dan langsung ngeluarin 150 ribu dari dompet seperti kilat. "Kebetulan memang pegal-pegal ini badan saya". Senyum penuh arti hadir tercetak di bibir gw.
"Ini mbak, saya bayar dulu". Gw langsung menyerahkan uang.
Wanita depan gw tampak terkejut ngeliat duit yang gw sodorkan.
"Kenapa mbak? Ini diambil, uang asli kok ini. Apa kurang? Tadi katanya cuma 150 ribu". Gw memandang dia aneh.
"Maaf mas bukan begitu, biasanya pelanggan bayarnya belakangan. Baru ini saya liat ada pelanggan yang bayar dulu sebelum di pijit". Dia balas menatap gw aneh.
"Emang enggak boleh ya saya bayar duluan?".
"Boleh mas, sangat boleh malah". Dia menjawab cepat dan mengambil uang yang gw sodorkan.
"Jadi kita masuk sekarang ini mbak?". Gw udah sangat antusias dan gak sabar.
"Iya mas silahkan masnya masuk ke ruangan sebelah". Sambil berbicara wanita depan gw menujuk pintu berwarna merah.
"Kenapa gak pintu di belakang mbaknya saja? Emang ada yang beda ya?". Gw bingung dan merasa ada yang janggal.
"Pintu belakang saya khusus untuk pelanggan wanita mas dan masnya pelanggan pria di ruangan pintu merah itu".
"Lho! Kok gitu, emang perbedaannya apa mbak?".
"Ya jelas berbeda dong mas, kalau pelanggan perempuan yang mijit juga perempuan sedangkan pelanggan laki-laki ditangai oleh laki-laki juga".
Jawaban halus dan pelan itu berasa begitu keras gw mendengarnya, auto gw begong dan mercerna itu kata-kata.
"Ehhh! Hati-hati mas!".
Kedua tangan wanita meraih dan memegang gw yang hampir layu dan jatuh di tanah.
"Mas kenapa? Mau saya ambilkan minum dulu".
__ADS_1
"Enggak mbak, enggak usah". Jawab gw cepat dan kembali berdiri tegak setelah beberapa saat kehilangan tenaga tumpuan kaki karena terlalu terkejut.
"Seperti masnya sangat lelah itu, berdiri saya mau jatuh sendiri. Saya jamin setelah dipijit, lelah akan hilang dan kembali bugar".
Bugar apaan? nyesel gw jalan mundur tadi. Gw mengeluh dalam hati.
"Mas?". Wanita itu memandang gw, "Kenapa malah melamun masnya? Mari saya antar, di dalam sana sudah ada orang yang siap melayani".
"Ya ampun!". Gw berseru sambil melihat jam tangan. "Udah jam segini.. sepertinya saya enggak jadi pijit mbak, uang yang tadi buat mbaknya saja. Saya permisi dulu".
Wanita itu tampak terkejut dan sebelum dia menjawab dan bereaksi, gw langsung ngibrit jalan cepat ke arah area keberangkatan bus.
"Mas tunggu mas!".
Mas tunggu!".
Teriakan wanita itu terdengar dari arah belakang tapi bodo amat dan gw terus berjalan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Gw keluar dari dari pintu dan tiba area keberangkatan bus. Di tempat ini suasana begitu ramai dan hidup, tidak jauh di depan sana semua bus berbagai jurusan berjejer dengan rapi menghadap ke gerbang keluar terminal.
"Semarang!"
Seseorang berdiri di pintu bus bagian depan berteriak nyaring menyebut nama kota dan setelahnya banyak penumpang mulai berjalan masuk menghampiri, tidak lama Bus pun melaju dan keluar dari area terminal.
Bus kedua maju sama seperti sebelumnya, ada orang di pintu berteriak nama kota tujuan dan yang disebut adalah kota Ngawi.
Bus ketiga jurusan Surabaya dan Bus keempat yang baru jalan keluar adalah jurusan Pasuruan.
Bus kelima berwarna hijau melaju dari belakang, dari namanya yang terlihat di badan Bus itu adalah Sumber Kencono.
"Purwodadi!".
"Purwodadi!".
"Ayo.. Ayo yang ke Purwodadi!".
Pria yang berdiri pintu Bus berteriak nyaring dan cuma sedikit penumpang yang berjalan menghampiri.
Anjir! itu nama kota apa? Aneh banget, hehehe. Gw tersenyum dan menahan ketawa.
__ADS_1
Apa jangan-jangan itu kota kagak ada di Indo yak? Mungkin itu bus jurusan salah satu kota di planet Mars. Gw masih tersenyum saat melihat Bus jurusan kota aneh itu melaju pelan ke gerbang keluar.
Gw mengambil rokok tapi belum sempat gw membuka tas, hp di saku celana bergetar. Segara gw ambil dan liat siapa yang calling dan nama kang tatto muncul di layar hp.
"Halo Jon". Sapa gw ramah.
"Bemo udah sampai mana loe?". Jawab Jono tidak ada ramah-ramahnya sekali.
"Santai aja bray, bang Bimo udah sampai minal Solo ini. Tinggal nunggu Bus jurusan Blora saja". Jawab gw santai.
"Ngapain loe nunggu jurusan Blora di terminal Solo?". Jono bertanya dengan suaranya yang ngebass.
"Lu mau ngelawak ya Jon? Gila ya lu? Gw kan sekarang mau ke tempat lu anjing!". Gw langsung mengumpat, bodo amat dilihatin banyak orang enggak kenal ini.
"Bemo?Loe yang lagi ngelawak!". Jono berteriak lantang kek orang kesurupan di ujung telfon.
"Di terminal Solo itu enggak ada Bus jurusan Blora, udah lupa loe ya? Kemarin kan gua bilang dari Jogja ke Solo, dari solo ke Purwodadi dan abis itu baru ke Blora jadi dari Solo loe naik Bus jurusan Purwodadi Bemo!".
"Kasih tau itu yang halus dan baik-baik kampret! Kagak usah ngegas juga bacot lu, gw kagak budeg sialan".
"Lu juga yang pelupa, buat gua emosi aja. Mana gua belum sarapan lagi, hampir beku jadi es gua tadi malam tidur di mushola nunggu loe, udah sana cari bus jurusan Purwodadi".
"Bentar Jon bentar! Jurusan apa lu bilang tadi?". Gw terkejut dan melihat Bus yang gw ketawain tadi masih berjalan pelan menuju gerbang keluar terminal.
"Jurusan Purwodadi Bemo! PURWODADIII". Jono semakin ngegas kata-katanya.
"Anjing!". Gw mengumpat dan langsung mematikan HP memasukannya kedalam saku.
"OMM TUNGGUU OMMM!". Gw langsung ngibrit lari kejar bus.
"OMM, SAYA MAU NAIK OMM.. BERHENTII OMM!". Gw terus berteriak-teriak kek orang gila dan terus berlari.
OMMM.. PURWODADI KOTA YANG INDAH OMM, TUNGGUU!".
Bus kagak berhenti dan terus melaju dan gw sekuat tenaga terus mengejar.
"SAT! BANGGSAAAT! BERHENTI". Nafas gw mulai kagak teratur tapi tetap berlari sambil berteriak.
Bus sudah melaju di jalan raya dan semakin cepat dan cepat.
"OM.. Tung.. Uhuk-uhuk! Uhuk-uhuk!". Gw terbatuk dan jongkok di tepi jalan.
__ADS_1
Mulut gw megap-megap karena berlari ngejar Bus, stamina dari sarapan roti ham dari Putri udah abis terkuras.
Dari jongkok gw langsung terduduk, sambil mengatur nafas melihat bus yang awalnya gw olok-olok semakin melaju jauh dan menghilang.