Preman Campus

Preman Campus
PINTU KEMANA SAJA


__ADS_3

Setelah ngantar cewe rahiasa gw ke kost sepupunya, sekarang gw dalam perjalanan ke rumah bang Jack.


Walupun gw kagak turun dan antar dia, Amora dengan malu-malu sempat kiss gw di pipi sebelum turun.


Di perjalanan berdua tadi banyak hal baru yang gw ketahui tentang Amora yang selama ini belum pernah gw tanyakan.


Amora ternyata 2 tahun lebih tua dari gw dan sekarang kerja di salah satu perusahan Kosmetik besar yang mempunyai cabang di Jogja, Dan yang membuat gw kagum di usia yang relatif muda dia sudah menjadi manager pemasaran untuk wilayah Jogja dan kota-kota di sekitarnya.


Saat gw tanya kenapa dia nge kost di tempat sederhana itu, jawaban dia sungguh buat gw mengerti arti dari sebuah kenyamanan.


Dari dia datang ke Jogja dari Solo dia sudah menempati kost lantai dua itu dan disana juga dia ketemu mantanya dan tentu saja ketemu gw, dia bilang mudah untuk menemukan kost yang mahal dan bagus tapi susah untuk menemukankan kost yang nyaman seperti kost yang kita tempati sekarang ini.


Dan gw baru tau ternyata Amora berasal dari Solo kota tetangga dari Jogja, yang cuma perlu waktu 2 jam untuk sampai kesana. Kedua orang tuanya PNS dan Amora punya 1 adik laki-laki yang saat ini kelas 10.


Orang emang berberda-beda disaat orang lain ingin kuliah setelah lulus SMA, tidak untuk cewe rahasia gw itu. Dia bilang bosan belajar dan ingin segera kerja cari uang, sekuat apapun kedua orang tuanya memaksa, Amora bilang dia tetap kekeh gak mau kuliah.


mungkin itu juga dipengaruhi dari Lulu sepupunya yang tamat SMA langsung kerja dan sekarang punya studio musik untuk disewakan.


Dan pada akhirnya keputusan dia cukup tepat untuk langsung berkerja, karena dengan kecerdasan dan semangatnya itu dia bisa seperti sekarang yang bisa dibilang hidup berkecukupan.


"Nak Bimo udah jadian ya sama neng Amora ya?" Pak Rohmat bertanya dari belakang kemudi.


"Iya tapi tolong rahasiakan ini ya Pak, cukup tau saja, karena kedepannya saya akan hubungi bapak jika mau jalan sama Amora".


"Siap nak Bimo, tenang saja mulut bapak terkunci rapat". Pak Rohmat tersenyum di depan sana.


"Terima kasih pak". Gw berucap tulus.


"Harusnya saya yang berterima kasih ke nak Bimo, istri dan anak saya senang sekali saat saya pulang membawa uang pemberian nak Bimo kemarin".


"Bapak ceritain soal saya ke keluarga bapak?".


"Saya enggak berani bilang takut nak Bimo tidak suka saat istri dan anak bapak tau, saya cuma bilang dapat rezeki dari orang baik".


Sampai segitunya pak Rohmat ngejaga identitas gw, emang tidak salah penilaan gw terhadap pak Rohmat. Rahasia gw pasti ama sama dia.


"Kalau bapak ingin kasih tau tentang saya ke keluarga bapak silahkan saja. Saya tidak keberatan sama sekali".


"Serius nak Bimo?".


"Iya saya juga percaya sama keluarga pak Rohmat, pasti mereka orang yang baik hati seperti anda".


"Terima kasih nak Bimo, istri dan anak saya pasti terkejut jika rejeki itu datang dari anak muda sehebat nak Bimo ini".

__ADS_1


"Pak Rohmat bisa saja, terima kasih atas pujiannya. Saya juga masih perlu banyak belajar kok pak".


Perjalanan ke rumah bang jack ini gw isi dengan ngobrol ngalor ngidul sama pak Rohmat, dia lebih sering bercerita soal pengalaman masa mudanya.


Pukul satu tiga puluh siang, akhirnya gw sampai di depan istana bang Jack.


"Kita sudah sampai tujuan nak Bimo". Pak Rohmat berbicara.


"Iya pak ini untuk ongkosnya". Gw menyodorkan 5 lembar seratus ribuan.


"Tidak usah nak, tidak usah bayar. Gratis untuk nak Bimo".


"Jangan dong pak anda kan kerja dan saya disini penumpang nanti kedepannya kalau saya hubungi bapak lagi malah enggak enak saya".


Pak Rohmat tampak berfikir untuk sesaat. "Ya udah jika itu keinginan nak Bimo, tapi itu kebanyakan nak. Cuma 120 ribu saja ongkos yang tertera di aplikasi".


"Udahlah pak, sisanya kasih ke putri pak Rohmat saja. Bilang aja uang jajan dari calon pacarnya gitu". Gw bicara menggoda pak Rohmat.


"Nak Bimo bisa saja, terima kasih atas kebaikan nak Bimo ke bapak yang bukan siapa-siapa ini".


"Santai aja lagi pak, ya udah saya keluar dulu".


"Iya nak Bimo silahkan, kalau butuh bapak langsung WA saja. Kapanpun dan dimanapun pasti bapak akan datang".


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bim udah datang kamu!"


Baru aja gw berjalan 2 langkah ke depan gerbang yang di jaga 6 orang, dari balik gerbang suara bang Anton terdengar memangil nama gw.


"Buka gerbangnya cepat!". Bang Anton membentak ke para penjaga yang berbadan gede-gede itu.


"Siap bang! Jawab mereka serempak udah kek paduan suara aja anak buah bang Jack ini.


Gerbang pun dibuka dan bang Anton langsung menghampiri gw untuk di ajak masuk.


"Tadi gw udah siap-siap jemput kamu lho Bim, kata bang jack enggak usah dan kamu mau kesini sendiri". Ban Anton bicara saat kita mulai berjalan.


"Iya bang, tadi gw mampir ke tempat lain dulu soalnya dan enggak enak kalau ngeropotin bang Anton".


"Seperti sama siapa saja kamu! Kita kan udah seperti saudara. Ingat kan, kita pernah duet gelut di taman terbengkalai?".


"Ingatlah bang belum ada sebulan juga masak gw lupa, ngomong-ngomong gimana hasil pembersihan Apollon bang? Sukses kan?".

__ADS_1


"Soal itu biar bang Jack saja yang cerita Bim" Bang Anton menjawab ambigu sekali buat gw tambah penasaran.


Gw masuk rumah bang Jack yang besar tapi sepi sekali ini.


"Ngomong-ngomong Bie ada gak bang?".


"Non Bianca baru di jemput dari Campus, mungkin sebentar lagi juga sampai. Ayo kita ke atas dulu, bang Jack suruh gw untuk bawa kamu langsung ke ruangan pribadinya".


"Iya bang". Jawab gw singkat dan mengikuti bang Anton berjalan menaiki tangga.


Pasti Bianca marah karena gw kagak kasih kabar seminggu ini, padahal gw udah janji untuk bawa dia ketaman hiburan.


Semoga aja itu cewe marahnya enggak pakai kekerasan dan main cakar mencakar. Gw berharap dalam hati.


Gw dibawa bang Anton berjalan menuju pojok ruangan lantai dua disana ada satu pintu besar berwarna hitam.


"Tok-tok-tok! Bang Jack permisi, Bimo sudah sampai di sini".


"Cklek!" Pintu dibuka dari dalam dan munculah bang Bram sepupu bang Anton sekaligus tangan kanan bang Jack.


"Udah sampai kamu Bim? Ayo masuk udah ditunggu sama bang Jack". Bang Bram bicara dan membuka pintu lebar.


"Iya bang permisi". Gw pun masuk dan di ikuti bang Anton dan bang Bram dari belakang.


Gw liat bang jack yang duduk di sofa langsung berdiri saat melihat gw.


Gw perhatikan ruangan ini sungguh berbeda, dengan tembok warna hitam dan terdapat patung-patung binatang di setiap sudut ruagan.


Terdapat 2 pintu juga di dalam ruangan ini yang sangat misterius sekali menurut gw.


Apa itu pintu kemana saja nya Doraemon ya? Gw bertanya pada diri sendiri.


"Duduk Bim, sorry kalau saya tiba-tiba minta kamu datang kesini". Bang jack bicara dan mempersilah kan gw untuk duduk.


"Iya bang tidak apa-apa, saya juga berniat untuk datang kemari karena ada janji sama Bianca". Gw duduk setelah bang jack duduk terlebih dahulu karena dia tuan rumahnya.


Bang Anton dan bang Bram tetap berdiri dan sekarang mereka ada dibelakang bang Jack.


"Ha-ha-ha, iya Bie uringan-uringan terus dari kemarin karena kamu tidak bisa dihubungi".


"Hehe, iya bang nanti saya akan minta maaf sama Bianca. Ngomong-ngomong bagaimana hasil dari bersih-bersih Zeus bang?".


Wajah bang Jack langsung tampak serius. "Itu juga yang ingin saya bicarakan sama kamu Bim".

__ADS_1


__ADS_2