Preman Campus

Preman Campus
TELETUBBIES


__ADS_3

"Allahuakbar!". Gua terkejut dan berteriak kecil karena berasa becak terbang ke atas dan ciuman kami terlepas dengan Suci yang oleng kesamping.


"Maaf mas mbak, polisi tidurnya tinggi-tinggi". Di belakang bapak kang becak berbicara dan terus mengayuh dengan pelan kembali.


"Oh iya pak tidak apa-apa". Suci menjawab cepat dan melirik gua malu-malu.


"Sepertinya polisi bobo tidak mengizinkan lidah kita bertemu sayang". Gua menggoda Suci dan bodo amat jika orang yang lagi mengayuh di belakang dengar, merusak suasana aja dia itu.


"Apa sih Bimo? Tadi itu bukan aku". dengan berpaling menutupi wajahnya janda sebelah gua tampak menahan malu.


"Kamu jangan buat aku takut lho, kalau bukan kamu terus yang masuk ke mulut aku tadi lidah siapa?". Gua menggoda Suci lebih lanjut.


"Pokoknya bukan aku". Suci masih kekeh tidak mengakui tanpa berani memandang gua


"Hehe, ngapain sih malu-malu gitu? Kita kan sudah ngelakuin lebih jauh dari ciuman di mobil kamu, masak kamu mau gini terus? kan tadi juga kamu yang minta dan kasih kode ke aku".


"Dekat dengan kamu itu bahaya Bim". Jawab Suci tiba-tiba dan membuka telapak tangannya yang menutupi wajah untuk memandang gua.


"Bahaya gimana? Aku kan enggak mungkin sakiti kamu". Tanya gua heran.


"Bukan bahaya yang itu, aku nyakin kok kamu enggak akan sakiti aku".


"Lha terus maksud kamu bahaya dalam konteks apa?".


"Ya bahaya karena aku merasa tidak menjadi diri aku sendiri, melihat kamu dan mendengar kamu bicara seperti melihat magnet dengan daya tarik yang tinggi dan kuat".


"Kamu lagi gombalin aku lagi ini ya? kalau ada polisi bobo lagi gimana? bisa sungsep kita saat ciuman".


"Aku serius Bimo, kamu harus tanggung jawab pokoknya". Suci cemberut tapi tampak lucu dan imut.


"Tanggung jawab? semakin bingung aku sayang". Gua menggaruk rambut bawah yang kagak gatal.


"Bimo! tangan kamu ngapain itu?!". Suci terbelalak menunjuk tangan gua di dalam dalam celana.


"Kan aku lagi bingung dan pada umumnya kalau bingung harus sambil garuk-garuk rambut kan?". jawab gua polos.


"Rambut kepala Bimo yang di garuk bukan rambut yang itu! ih kamu ini". Suci tampak gemas sendiri memandang gua.


"Ini juga rambut kepala yang aku garuk".


"Kepala atas tuan muda Abimana Pramono!bukan kepala yang itu, aku teriak ni Jika kamu masih bercanda terus". Suci mengancam.


"Bentar-bentar". Gua berucap sambil mau buka celana.


"Kamu mau ngapain Bimo!". Suci semakin ngegas.


"Ya biar aku masuk dulu lah supaya kamu enak teriaknya, mengerti kan maksud Abang?". Gua memberi Suci kedipan mata penuh arti mesum.


"Minggir Bim?!".

__ADS_1


"Sayang kamu mau apa? Jadi dimasukin gak ini?".


"Jangan pegang! Aku mau loncat dari becak".


"Hehehe.. aku kasih enak kok malah milik loncat kamu ini, nanti lecet-lecet lho kamu nya. Kan mending lecet di sana aja lebih enak". Gua masih menggoda Suci dengan kode-kode dewasa.


"Bimooo akuu seriuusss.." Suci merengek manja kek anak kecil.


Iya-iya serius, sebenarnya mbak Suciku ini mau ngomong apa sih?". Gua perlakukan Suci sehalus dan selembut mungkin. "Kamu mau minta apa dari Abang Bimo? minta tanggung jawab untuk apa?".


"Untuk aku yang sudah tidak bisa berpaling dan menengok lagi". Suci berucap serius dan tampak khawatir.


"Lho! Leher kamu sakit? Salah bantal apa gimana? Mana sini aku pijit". Gua mengulurkan tangan tapi langsung Suci tampik.


"Bukan itu Bimo, ih kamu ngeselin". Suci langsung cemberut lagi


"Memang sih". ucap gua pelan


"Memang apa?!". Suci masih tampak kesal.


"Ya memang bukan hanya kamu aja yang tidak bisa berpaling lagi tapi aku juga tidak bisa".


"Kenapa? Leher kamu sakit juga!".


"Bukan tapi lebih ke akunya yang mulai memahami rasa ini". Jawab gua pelan membawa suasana kembali ke arah romantis.


"Rasa? rasa apa Bimo?". Ekspresi Suci langsung berubah malu-malu dan tampak berharap.


"Aaa.. Aaaaaa!!". Gua auto menjerit karena Suci bukan lagi mencubit tapi Jambak rambut gua.


"Mas kenapa mas?". Kang becak di belakang langsung tanya, "Mau berhenti dulu ini?".


"Enggak usah pak, cuma lagi kesemutan aja". Suci yang menjawab sementara gua menggosok kepala di tempat yang abis di Jambak Suci.


"Sakit tauk sayang". Gua auto menggerutu.


"Kamu begitu gemesin banget ya aku Jambak". Jawab Suci cuek lagi


"Yang namanya gemes itu di kiss mbak Suci bukan di Jambak!". Gua mengoreksi


"Kan aku gemesnya campur kesel".


"Hehe dasar kamu ini, ngomong-ngomong aku..


"Aku apa! Udah jangan bicara kalau enggak serius". Suci masih dalam mode jutek.


"Aku cinta sama kamu" Gua bicara dan mencoba memasang wajah ganteng di depan Suci, mencoba ini lho ya dan banyak kemungkinan gagal.


"Bimo?". ekspresi wajah Suci berubah lagi memandang gua, dengan suara halus dan lembut memanggil bak suara putri keraton Jogja.

__ADS_1


"Kenapa? itu kan yang akan kamu minta dan ingin kamu dengar?". Tanya gua serius.


"Iya". Jawab Suci dengan memerah wajahnya.


"Mungkin aku enggak tau rasa ini bagaimana tapi yang pasti aku telah menganggap kamu spesial dan wanita yang wajib aku lindungi dan bahagiakan, mungkin kita baru kenal dan itu memang fakta yang tidak bisa disangkal tapi..


"Bukannya cinta seperti itu ya? Jika dia udah datang masalah waktu ataupun usia tidak jadi masalah? Semua buta di mata cinta dan hanya kita yang bisa saling memandang melihat dengan sayang dan kasih ingin memiliki satu sama lain, jika aku salah tolong koreksi". Gua bicara panjang se menyakinkan mungkin walau dalam hati ....


"Enggak ada yang salah". Suci menjawab cepat, "Semua yang kamu katakan benar dan indah". Suci langsung maju masuk dalam pelukan gua dengan seutas senyum yang tercetak di bibirnya.


Gua langsung balas pelukan dia, walau rada gerah di dalam becak tapi gua kagak mau merusak suasana.. bisa di Jambak lagi gua entar.


"Bimo terima kasih". Ucap Suci lembut di dalam pelukan gua.


"Jangan beri aku kata itu, cukup hilangkan kata terima dan berikan aku kasih saja".


"Kamu memang laki-laki yang sempurna Bim". Suci memuji, "Aku enggak tau kamu bisa sangat romantis seperti ini".


"Aku jauh dari kata sempurna sayang tapi aku bisa menjadi apapun yang kamu minta".


"Jika kamu mau tertawa aku bisa melawak di depan kamu, jika kamu butuh sandaran.. bahu aku juga lebar ini.. Aku bisa menjadi apapun termasuk orang yang paling romantis di dunia jika kamu menginginkannya"


"Bimo?". Suci semakin erat memeluk gua setelah mendengar apa yang gua katakan.


"JIKA GUA MINTA LOE TURUN SEKARANG JUGA! LOE MAU KAGAK BEMO?!".


"Sayang suara kamu kok berubah nge bass sih? Tanya gua heran.


"Itu bukan suara aku Bim tapi suara Jono". Jawab Suci yang juga masih kagak sadar dan terlalu nyaman berada di dalam pelukan gua.


"Astaghfirullah! Jon?!". Gua langsung sadar begitu juga dengan Suci yang langsung keluar dari pelukan gua.


"Enak ya kalian! Anget pasti itu.. Becak udah sampai dan berhenti saban tahun kalian malah kek Teletubbies berpelukan, emang dunia ini cuma milik kalian?!".


"Ambil aja duit gua Jon dan cari kontrakan sana, Sini peluk lagi sayang". Gua mengulurkan tangan ke Suci tapi si kampret gerak cepat meraihnya dan tarik gua keluar dari becak.


"Gila loe Jon! yang halus ngapa! bisa nyungsep gua ini". Gua langsung ngedumel


"Bimo kamu enggak apa-apa?". Dengan perhatiannya Suci ikut turun dan bertanya.


"Tenang, Abang Bimo gak apa-apa.. Adek Suci gimana? Kok turun sendiri tadi kan mau Abang bantu..


"Abang bakso kali bemo! udah kalian berdua kagak usah main drama.. kamu juga Ci, kena pelet Bimo kok dalam banget.. ikut-ikutan berubah gitu, Ayo cepat kita balik sebelum kena razia satpol PP kalian".


Jono berucap dengan sinis dan berjalan ke mobil.


"Lagi iri itu dia pasti". Gua berkata pelan


"Udah Bimo jangan buat Jono semakin marah, ayo naik mobil". Suci berjalan duluan dan gua ikuti dari belakang sambil melihat pinggang dia yang ramping walau di balut gamis.

__ADS_1


Sepertinya pas pinggang itu buat pegangan jika gua sodok dari belakang.


__ADS_2