
Gw termenung saat pria di depan sana menyebut nama cewe gw Bianca, sebagai alasan dia culik Reza dan juga memusuhi Udin juga.
Apa dia teman Bianca? Atau fans nya? Atau mungkin anggota dari Zeus? Segala macam pertanyaan muncul di otak gw.
Tapi yang pasti Bianca kenal sama ini orang, apa itu cewe 2 in gw ya? Sialan! pusing sendiri gw memikirkan segala kemungkinan ini.
"Memangnya dirimu siapa hah! pacar senior Bianca saja bukan pakai ngaku-ngaku ngaca dulu sana sama air kobokan!". Reza dengan berani menjawab dan mencemooh.
"Sebelum janur kuning memanjang masih milik kita bersama asal kamu tau bajingan!". Merasa menang jumlah Reza mengebu-gebu mengeluarkan semua amarahnya.
"Nyet? Melengkung bukan memanjang". Gw berucap pelan.
"Halah! Sama aja itu cak!". Reza menjawab tanpa melihat gw yang ada di belakang dia.
"Kamu tanya siapa gw? Ha-ha-ha-ha, sungguh lucu. Gw adalah orang yang paling dekat dan mengenal Bianca, apa kalian fikir Bianca akan tertarik dengan orang udik dan kumuh seperti kalian? Kalau mimpi itu jangan di siang bolong Babi!".
"Bacot lu Anjing!". Udin yang dari tadi diam tiba-tiba mengumpat keras.
Tanpa gw sadari dia langsung melesat berlari ke depan menuju ke pria yang bernama Dio dengan emosi yang menggebu.
"Din tunggu!". Gw mau hentikan itu bocah tapi sudah terlambat.
Kagak gw sangka Udin bakalan nekad kek gitu, gw merasa bangga dan kawatir ngelihatnya.
Reza cuma bengong kek sapi ompong ngeliat saudara cebongnya yang biasanya riang gembira sekarang berubah menjadi beringas dan haus darah kek gitu.
Dio di depan berdiri dengan santai melihat Udin yang semakin mendekat membawa tinjunya.
"Din semangat Din! Lu pasti bisa". Kali ini gw yang memberi semangat ke Udin.
"Mampus loe bajingan!". Udin teriak dan mengarahkan tinjunya ke wajah Dio yang masih datar dan menyunggingkan senyum tampak tenang dan percaya diri sekali.
"Plokk!". Suara tinju Udin ditangkap tangan sebelum mengenai sasarannya yaitu wajah Dio.
Udin terkecut tidak percaya karena tinggal sedikit lagi dia akan berhasil mendaratkan itu bogem mentah.
Reza tampak kawatir melihat itu dan mata dia kagak bisa lepas memandang Udin yang sedang dalam bahaya.
Sementara gw disini malah kebelet kencing, sialan apa gw minta izin dulu ya buat ke kamar kecil, terpaksa gw ambil kerikil di lantai dan gw kantongi yang mitosnya bisa menahan buang air kecil.
Tangan yang menangkap tinju Reza bukan tangan Dio melainkan tangan pria bernama Tom yang dari tadi diam dan tenang.
Gw kagak liat itu tangan dia bergerak nangkap tinju Udin karena cepet banget itu gerakan.
Udin mencoba menarik tinjunya tapi karena cengkraman tangan Tom itu begitu kuat, sulit dia untuk melepaskan diri.
"Aaaaaaaa!". Udin teriak saat tangan dia diputar.
__ADS_1
Udin mencoba memukul dengan tangan dia satunya yang masih bebas.
"Buggk!". Tinju si Tom mendarat di perut Udin saat Udin baru aja akan mengangkat tangan.
Dengan pukulan itu akhirnya tangan Udin terlepas dari cengkraman Tom dan dia mundur satu langkah sambil memegangi perutnya.
"Kak Din awas!". Reze berteriak di saat Tom maju.
"Praaakk!". Tendangan tinggi dia lancarkan ke kepala samping kanan Udin.
"Brukk". Udin jatuh ke keri tapi dia langsung berguling ke belakang dan berdiri dengan cepat.
Ajib! Keren banget itu di Udin bisa guling-guling kek uler gitu. Gw memuji dalam hati.
"Cuiiihh!". Udin meludahkan darah dari mulutnya, pandangannya lurus ke si Tom yang ada di depan Dio.
"Kak Din dirimu enggak apa-apa?". Reza tarik Udin ke belakang dan tampak kawatir.
"Luka seperti ini tidak ada artinya dek Za bagi gw". Udin berkata sambil menyeka sudut bibirnya, bisa tampil keren juga itu si rambut mohawk kek nonton film action ini gw jadinya.
"Ha-ha-ha-ha! Bagaimana sampah mau lagi kalian?! asal kalian tau Thomas ini adalah pesilat no 1 dari perguruan teratai putih kalau cuma lawan kalian ditiup juga mental".
"Jangan sombong dirimu kucing garong! Baru dari perguruan gitu aja kau banggakan, asal kau tau orang di belakang kita ini adalah orang dari perguruan gagak hitam".
Reza bicara dengan lantang memperkenalkan dan melihat gw begitu juga dengan si Dio dan Tom di depan sana.
Dan gw sedang memegangi batang gw yang udah kagak tahan pengen kencing, efek batu krikil kagak mempan di dalam saku.
"Ha-ha-ha-ha!". Orang yang menari seperti ulat itu kamu bilang jagoan? Liat itu Tom saking takutnya itu orang jadi gila".
Tom diam saja dan fokus melihat gw saat Dio berbicara.
Memang benar kaki gw goyang-goyang kagak tenang karena lagi nahan, sialan baru ini mekanik gw rewel di saat mau gelut.
"Cak! Dirimu lagi ngapain?". Reza menatap gw kagak percaya.
"Kebelet kencing gw nyet! Udah di ujung ini dan bentar lagi muncrat!".
"Mampus loe sialan!". Orang cacat mental bernama Udin teriak lagi setelah dengan kata kencing yang gw ucapkan.
"Kak Din jangan!". Reza mencegah tapi cuma dengan bacot doang.
Udin sudah melesat lagi ke depan dengan cepat.
"Tom minggir biar gw yang hantam itu manusia sampah!". Dio berjalan ke depan dan memegang pundak si Tom.
Tom pun mundur dan Dio langsung berjalan santai ke depan sementara Udin berlari mendekat.
__ADS_1
"Wuuussss!". Suara angin saat Udin mengangkat kaki kanan dia untuk menendang perut samping Dio.
Dio mundur satu langkah pelan dan berhasil menghindar dan Udin yang tubuh nya berbutar karena tendangannya meleset juga langsung mundur satu langkah.
Reza tampak tegang melihat adegan barusan dan gw berjalan mundur ke belakang rak di saat kagak ada yang memperhatikan. Resleting gw buka dan terdengarlah bunyi kracak-kracak.
"Ayo maju sampah! Cuma segitu doang kekuatan loe!". Dio mencibir Udin.
"Loe yang minta anjing!". Udin berteriak dan tak gentar kembali melesat maju lagi.
Sekarang tinju Udin dia tarik ke belakang dan dengan cepat meluncur maju menuju dada Dio.
Dio memundurkan satu kakinya kebelakang dan mengambil ancang-ancang dengan tinjunya yang juga di tarik kebelakang dan langsung maju menyambut tinju Udin.
2 tinju di udara semakin mendekat dan sebentar lagi akan bertemu dan saling berbenturan.
Reza kagak bisa kedip melihat saudara cebongnya yang sudah berubah drastis.
Tom masih diam mengamati Dio dan Udin.
Sementara gw menggoyangkan pinggul ke kiri dan ke kanan, memegang dan mengelap helm warna pink adek gw yang baru aja muntah air kuning.
"Praakkkkkk!". Suara dua tinju berbenturan.
Tangan Udin gw liat langsung jatuh dari udara terkulai lemah dan dia terbawa tekanan tinju Dio sampai mundur 2 langkah ke belakang dengan wajah meringis menahan sakit.
"Cie! Sampah mau nanggis! Ha-ha-ha-ha!". Dio tertawa lebar mencibir Udin.
"Sono lapor ke emak loe! dan suruh kesini hadepin gw".
Muka Udin tampak memerah. "Jangan menghina Ibu gw bangs*t!".
Udin maju lagi dan Dio pun tersenyum bersiap melakukan tendangan kaki kanannya yang sudah terangkat.
"Wusssss!". Tendangan Dio mengarah ke kepala Udin.
"Kan Din nunduk kak!". Reza berteriak memberi intruksi.
Udin pun nunduk dan tendangan Dio hanya mengenai angin.
"Braaakkk!". Dio terjatuh karena Udin saat menunduk menendang satu kaki dia yang masih berdiri di saat kaki satunya masih di udara setelah gagal menendang Udin.
kagak mau melewatkan peluang emas Udin langsung berdiri tegak sementara Dio terbaring di depan dia panik.
"Dio menghindar!". Tom yang dari tadi diam berteriak di saat kaki Udin bersiap menyerang.
"Praaaakkk!". Tendang Udin akhirnya mengenai batok kepala Dio.
__ADS_1
"Aaaaaaaa!". Jeritan kesakitan dan amarah terdengar.