Preman Campus

Preman Campus
TERMINAL NGAWEN 1


__ADS_3

"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.. TUJUHHHH MBAK! TUJUH, rambut aku rontok tujuh". Dengan putus asa gw menghitung helai demi helai rambut gw yang rontok akibat jamba kan ganas mbak Suci.


"Enggak mau tau aku, pokoknya harus tanggung jawab dirimu mbak! Mahkota aku ini, baru ini aku dijambak sampai rontok gini ini rambut". Gw langsung menggerutu kagak karuan.


"Masih berani kamu minta tanggung jawab Bim?". Dengan melotot tapi menahan senyum mbak Suci melihat gua, mungkin dia mau ketawa liat gua yang melas ngitung helai demi helai rambut yang rontok akibat keganasannya.


"Ya beranilah, kan kamu mbak yang aniaya aku". Gua mulai ngotot.


"Itu buat sadarkan kamu Bim biar bangun dan melihat kenyataan bukan bengong di alam mimpi terus, suka ngaco kamu kalau lagi mimpi".


"Wajar dong aku mikir seperti tadi lha kata-kata mbak Suci aja kek gitu, sebagai cowo ya aku mikirnya kesana apalagi sebelah kiri di sebrang jalan itu ada hotel". Gua beralasan sambil nunjuk ke arah hotel di sebrang jalan.


"Otak kamu aja yang mesum Bim, lagian kata aku yang mana yang bisa buat kamu berfikir kesana? mbak rasa bicara wajar-wajar aja deh".


"Wajar?". Gw berucap sambil terpaku tidak percaya ngeliat wajah tanpa dosa janda sebelah gua.


"Iya wajar kan omongan mbak tadi? Bagian mana coba yang buat kamu salah paham?".


"Ya kalimat lebih cepat keluar lebih enakan akunya itulah mbak, mana ada kalimat kek gitu kalau kagak buat mancing-mancing.. Apalagi aku mudah kepancing orangnya".


"Yeeee! Pikiran kamu aja itu yang kejauhan fantasinya Bimo, kamu gak liat itu bangunan kecil di samping hotel? Itu kan apotik.. Maksud mbak itu lebih cepat kamu keluar lebih enakan karena di obati luka kamu itu, sebelum kamu tidur tadi kan mbak bilang mau bawa kamu ke apotik, ngerti kan sekarang kamu? Kalau masih salah paham sih kebangetan dan bukan aku yang mancing tapi emang kamu yang pengen itu". kata yang penuh akan sindiran langsung terlontar dari bibir Mbak Suci.


"Apotik?". Gw terkejut dan langsung OTW nengok ke samping kanan dengan mata gw fokus bak kamera dan bangsatnya emang ada bangunan kecil di samping kiri itu hotel dengan nama Apotik Sumber Waras.


"Liat sendiri kan kamu Bim? apotik itu! kenapa yang kamu liat cuma hotel saja? pantas aja pikiran kamu kemana-mana, dasar cowo". Melihat gw terdiam terpaku, Mbak Suci berkata rada dingin.


"Mana aku tau bangunan kecil dan nyempil kek upil itu Apotik mbak, sekilas liat aja aku kira itu kandang ayam".


"Alasan aja kamu itu, udah ayo turun dan jalan kesana. Kita obati luka di wajah kamu itu".


"Kamu aja deh mbak yang turun, aku tunggu di dalam mobil aja.. malas nyebrang jalan aku, panas". Gw cuek dan senderan di jok mobil.

__ADS_1


"Ya ampun.. kan yang luka kamu Bimo jangan manja deh, ayo cepat turun mbak tunggu di luar". Tanpa menunggu jawaban dari gw lagi mbak Suci langsung membuka pintu mobil dan keluar lebih dahulu.


Mau gak mau gua terpaksa turun daripada denger omelan mbak Suci lebih lanjut.


Moment di Apotik tidak ada yang spesial dan anehnya enggak ada masalah apapun yang terjadi, gua merasa sedikit gimana gitu.


Secara setiap saat pasti ada masalah yang hampiri gua jadi rada ada yang hilang saat mbak Suci ngobatin luka gua di Apotik.


Setelah 30 menitan kita berhenti untuk acara obat mengobati perjalanan kita ke kota Blora pun berlanjut dan tidak ada kendala apapun, karena gua kembali senderan dan tidur jadi enggak ada perbincangan apapun gua sama mbak Suci.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Bim? bangun Bim kita udah hampir sampai terminal Ngawen ini". Suara mbak Suci membangunkan tidur gua.


"Udah sampai kita ya mbak?". Gw mengucek mata dan kembali duduk tegak, mobil tampak berhenti di pinggir jalan yang ramai.


"Iya sudah sampai kita, itu di depan terminal Ngawen". Mbak Suci menunjuk dengan jarinya.


"Teman kamu benar nunggu di sini Bim?". Mbak Suci bertanya menatap gua.


"Iya mbak mungkin dia ada di depan sana, sepertinya kita harus berpisah disini mbak". Gua berucap santai sambil menatap rambut.


Mbak Suci tampak diam memandang gua, entah apa yang ada di pikiran nya saat ini.


"Kamu gak mau mbak temani cari teman kamu dulu? kamu kan asing disini nanti kalau kesasar gimana?".


"Enggak usah mbak terminal kecil ini dan juga teman aku udah bilang kok kalau dia lagi nunggu di mushola terminal, nanti aku tinggal tanya aja kalau enggak tau".


"Baik kalau seperti itu, Oya ini kan udah lewat jam makan siang Bim gimana kalau kita makan siang dulu sebelum kamu temui teman kamu itu?".


"Makan? Kita kan udah makan tadi mbak di perjalanan, mbak lupa abis makan terus kita gelut sama kang parkir gila?". Gw memandang mbak Suci aneh.

__ADS_1


"Tadi itu kan sarapan Bim dan ini udah jam setengah 3 sore, ya sekarang makan siang lah. Mbak tau rumah makan enak di terminal Ngawen sini, sate kambing yang besar-besar".


"Enggak lapar aku mbak, lagian kasian teman aku udah lama nunggu dia dari kemarin buat jemput".


"Teman kamu bentar lagi kan gak apa-apa Bim, makan berapa menit sih? Tenang aja mbak traktir".


Melihat gelagat dan cara bicara mbak Suci gua merasa ada yang aneh, kenapa ini janda kekeh ngajakin gua makan? Pakai mau traktir segala buat mancing gua.


"Mbak? Jujur deh makan cuma alasan kan?". Gua memandang mbak Suci curiga.


"A a apa maksud kamu? A a a alasan apa?". dengan terbata mbak Suci cepat menjawab dengan ekspresi wajah tampak kaget yang dibuat-Buat.


"Iya alasan mbak Suci kalau gak mau pisah sama aku hehehe, sepertinya ada yang bakalan kangen ini sama aku. Ahh emang ya pesona dan kharisma Bimo ini kagak bisa terbantahkan". Gw tersenyum lebar nan sombong.


"ihhhh! Siapa juga yang mau berlama-lama sama kamu Bim? Jangan GR deh, mbak itu kasian sama kamu. Abis berantem tadi kan pasti lapar kan? Baik-Baik mbak mau traktir". Dengan pandangan ke arah lain mbak Suci menjawab dan gua bisa tau jika doi lagi grogi saat ini.


"Wahhh gitu ya mbak? Ok deh ayo kita makan kalau gitu, aku abis berantem juga capek ini gimana kalau nanti kita istirahat di hotel dulu? Ada hotel kan disekitar sini? Mau temenin aku kan kamu mbak?". Sambil menahan ketawa gua pancing sekalian.


"Gila! Enggak! Enggak jadi makan dan enggak jadi traktir aku, cepat kamu keluar dan temui itu teman kamu yang kelamaan nunggu".


"Santai aja mbak, seperti yang kamu bilang tadi teman aku pasti sabar nunggu kok. Dia itu orangnya penyabar lagi, masih ada waktu ini buat kita bersama dan beradu".


"Adik sableng! apanya yang di adu? Cepat keluar dari mobil mbak! sebelum aku teriak maling". Dengan wajah meronanya mbak Suci mengancam.


"Teriak aja mbak paling yang aku curi cuma hatinya mbak Suci". Gw bercanda sambil mengedipkan satu mata.


"Turun gak? Apa mau mbak nyalain lagi ini mobil dan putar balik ke Solo?".


"Lha jangan dong susah-susah aku kesini masak mau balik ke pelaminan kita".


"Bimo!". Mbak Suci tampak mulai gemas.

__ADS_1


"Hehehehe iya-iya mbak bercanda aku, Baik kalau gitu adik kamu yang ngangenin ini turun dulu.. mbak udah tau no aku kan? Nanti kalau rindu tinggal video call aja, lebih bagus kalau video call kamu mandi mbak". Tanpa menunggu jawaban gua langsung membuka pintu dan keluar, berlari menyebrang jalan sambil bayangin wajah keselnya janda satu anak yang berada di dalam mobil sana.


__ADS_2