Preman Campus

Preman Campus
ISTRI BIMO


__ADS_3

"Pak Salim mari kita balik ke rumah sakit".


"Iya den biar saya ambil mobilnya dulu". Pak Salim segera beranjak pergi.


"Kamu nginep dimana? mau ikut kerumah sakit atau minta diantar ke hotel tempat kamu menginap".


"Cak Nuri namanya cak! Nurii.. bukan kamu! Punya nama dia". Reza menegur gw dengan sewot.


"Iya Bim, nama cantik dan indah gitu enggak kamu ucapkan". Udin masih mencari celah untuk masuk ke dalam hati bini orang dengan pujiannya.


"Nuri kamu ikut kita saja, daripada di hotel sendirian". Reza berucap menawari dengan penuh harap.


"Iya Nuri, lebih aman di rumah sakit. Lagian rumah sakitnya milik keluarga Bimo".


"Apa boleh aku ikut kesana?". Dia bertanya dan menatap gw.


"Ya haruslah kan suami kamu ada disana, biar kalian nanti bisa bicara baik-baik". Gw bicara apa adanya.


"Cak kalem dikit napa! galak amat dirimu"


"Iya Bim, abis manis sepah loe buang!".


"Maksud lu apaan nyet? sepah apa yang gw buang?".


"Tadi itu, loe cari-cari kesempatan pegang tangan Nuri. Dua kali lagi, loe juga lihat kan dek Za".


"Iya kak Din, pinter banget ini bemo cari kesempatan dalam kesempitan".


Muka ini betina tampak memerah saat 2 anak cebong bahas soal gw yang memegang tangan Nuri.


"Titttt!!"


Gw diselamatkan dari tatapan maut 2 anak cebong dengan bunyi klakson mobil, berhenti di samping kami.


"Nyet lu berdua duduk di belakang, biar gw didepan". Gw memberi intruksi


"Cak Nuri duduk dimana masak duduk dibelakang sama kita kan sempit".


"Iya Bim mending loe aja yang kurus duduk di belakang sama kita".


"Lu berdua tenang saja, Nuri biar gw pangku aja gimana di depan?".


"Uhuk-uhuk". Saking terkejutnya ini betina sampai terbatuk.


"Dek Za?".


"Iya kak Din".


"Kita ikat ini bocah dan masukan ke bagasi aja gimana?".


"Ide bagus itu kak Din, itu memang tempat yang cocok untuk tuan muda kita ini".


"Nyet, mau ngapain lu berdua? jangan mendekat! gw cuma bercanda anjing!". Gw lari dan di kejar 2 anak cebong mengelilingi mobil.


"Stop nyet, biar itu betina duduk di depan dan gw di belakang sama lu berdua".


"Emang dia ayam cak kamu sebut betina? kak Din siapin talinya".


"Siap dek Za, kita pakai ikat pinggang saja"


kita bertiga kejar-kejaran mengelilingi mobil kek anak kecil, pak Salim dan Nuri tersenyum melihat tingkah kekanak-kanakan kami bertiga.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, tidak di Indo atau Singapura kalau sore hari dan jam pulang kerja pasti macet.


Gw duduk berdesakan dengan 2 anak cebong di jok belakang sementara betina bernama Nuri itu duduk di depan disamping pak Salim.


Terkadang dia tampak melamun di depan sana dan terkadang dia juga melihat kami bertiga dan menegok ke belakang.


Tidak ada perbincangan berarti di dalam mobil cuma 2 anak cebong saja yang mencoba kembali menarik perhatian Nuri dengan segala perhatian yang mereka tunjukan.


Sedangkan gw cukup senderan dan memejamkan mata, walaupun tidak tidur setidaknya gw aman dari pertanyaan-pertanyaan kagak penting dari Reza dan Udin.


Fikiran gw melayang sampai Jogjakarta, entah kenapa gw rindu sama itu kota di saat gw sudah berada disini selama 6 hari.


Apa balik ke Jogja malam ini saja ya? Gw bertanya pada diri sendiri.


Saat berangkat hanya butuh waktu 15 menit, sekarang Butuh 30 menit untuk sampai di Rumah Sakit karena jalan yang macet.


Kami ber empat pun langsung turun dari mobil, Nuri terlihat tampak kagum dengan Rumah Sakit gw yang tampak megah.


Dan harusnya kan gw yang sombong ya, tapi kenapa malah 2 anak cebong itu yang terlihat jumawa.


"Nyet ayo kita langsung naik saja, mungkin suami Nuri masih di operasi sekarang". Gw yang dari tadi diam saja memulai pembicaraan.


"Naik kemana cak?". Reza bertanya bingung


"Iya Bim, emang kita lagi ada di puncak gunung apa".


"Kemana lagi nyet kalau kagak ke lantai 25! gw kan udah ditunggu sama bokap nyokap gw disana".


"Kita enggak makan dulu ini cak? nuri terlihat lapar itu, kasian".


"Tu dia kagak ngapa-ngapa, ayo kita naik dulu! soal makan gampang nanti biar di antar seseorang".


Gw pun melangkah terlebih dahulu berjalan menuju lift, dibelakang 2 anak cebong berjalan di samping kiri dan kanan Nuri, Seperti satpam yang lagi mengawal artis.


Setiap orang yang yang melihat gw pasti langsung menunduk hormat, walaupun pandangan mereka terlihat aneh saat melihat gw yang acak-acak an kek gembel karena abis gelut, Tapi tidak ada satupun dari mereka yang berani menegur dan bersuara.


Kita langsung masuk saja saat lift terbuka dengan cepat gw berdiri di samping kanan, senderan dan memencet tombol 25.


2 anak cebong dan Nuri berdiri di samping kiri dengan posisi yang masih sama yaitu Nuri yang berada di tengah. Kami auto berhadap-hadapan dan saling memandang dalam diam.


"Cak diam saja dirimu?".


"Iya Bim enggak biasanya loe diem gini?".


2 anak cebong mempertanyakan kediaman gw.


"Gw lelah nyet, walaupun badan gw udah sembuh dari fit tapi stamina gw belum balik ke normal". Jawab gw jujur


"Sorry cak karena ta kita dirimu adu pukul lagi". Tumben ini anak madura otaknya bener pakai minta maaf segala.


"Iya Bim, gua juga minta maaf dan terima kasih karena loe selalu ada disaat kita membutuhkan, untuk seterusnya gua harap akan terus begini".


"Seterusnya?! emang lu kira gw pembalut saat dibutuhkan selalu ada, kagak tulus lu berdua anjing! minta maaf nya".


"Cak jangan Bicara kasar, Nuri jadi takut ini".


"Iya Bim, dik0nt0l itu bahasa loe!".


Nuri, gw dan Reza seketika langsung terkejut dengan ucapan Udin.

__ADS_1


"Kak Din, dikontrol yang bener! dirimu malah ikut-ikutan menakuti Nuri".


"Nuri jangan takut ya? mereka berdua memang seperti itu suka kpleset lidah nya". Reza bicara seakan melihat peluang bahwa cuma dia sisini yang waras.


"Tidak apa-apa Reza, aku suka orang yang jujur dan blak-blakan". Dia bicara dan menatap gw untuk sesaat.


"Tingg!!".


Pintu terbuka di lantai 10 dan masuk 5 orang dokter, mereka yang dari luar mengombrol saat masuk langsung diam seribu bahasa ketika melihat gw.


Mereka menunduk memberi hormat dan berdiri di tengah dengan badan tegak kek lagi upacara bendera. Segitu takutnya mereka sama gw, satu diantaranya bergerak pelan memencet tombol 20 dan dengan cepat kembali ke barisan.


Jika saat ini gw teriak siap gerak maju jalan mereka ngarti kagak ya? Gw tersenyum sendiri membayangkan itu dan sialnya gw kagak sadar jika pandangan Nuri tertuju ke gw sejak tadi.


Dengan cepat gw beralih ke mode cuek kembali dan memejamkan mata.


Tidak lama kamipun telah sampai di lantai 25 dan langsung berjalan ke arah satu-satunya ruangan yang ada di lantai ini.


"Tok-tok-tok! Ayah bunda? Bimo masuk ya?".


Baru aja gw bicara pintu sudah langsung di buka, siapa lagi kalau bukan Bunda gw.


"Bimo sayang, kamu enggak apa-apa kan sayang? mana yang sakit? badan kamu sampai kotor semua seperti ini". Bunda langsung memegang dan memeriksa seluruh badan gw di depan pintu.


Dilihat 3 orang yang ada dibelakang, tapi bunda seakan-akan tidak menghiraukannya.


"Bimo enggak apa-apa kok bunda, cuma kpleset aja tadi".


"Sayang jangan bohong sama bunda, Ayah kamu sudah ceritakan semua ke bunda termasuk pria yang kamu suruh bawa kesini itu".


Dasar bokap ember tadi aja janji kagak bakal kasih tau bunda. Gw mengerutu dalam hati.


"Sorry jagoan Ayah lebih takut ancaman Bunda kamu daripada ancaman kamu". Bokap muncul dan bicara tanpa beban dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.


"Bunda kita bisa bicara di dalam aja gak, badan Bimo udah gatal-gatal ini pengen mandi dulu".


"Ya udah sana kamu cepat ke kamar mandi, Reza Udin silahkan kalian juga masuk".


"Iya tante" Jawab mereka serempak


Pandangan Bunda langsung beralih ke Nuri dan tampak terkejut.


"Gadis cantik ini siapa kalau boleh tau?".


"Nama saya Nuri tante salam kenal". Jawab Nuri cepat.


"Itu istri Bimo bunda". Gw bicara dan berjalan ke kamar mandi.


"Apaaaaaa!! Bunda langsung terkejut tidak percaya.


"Jagoan kamu nikah kok enggak ngundang ayah sama bunda?". Bokap tersenyum mungkin sudah tau kalau gw asal ngomong doang.


"Ayah sama bunda juga nikah gak ngundang Bimo".


"Papa, Bimo! jangan bercanda!". Bunda bicara keras dan tegas yang buat bokap langsung menunduk.


"Maaf Bunda salah bicara Bimo, itu wanita istri dari pria yang Bimo hajar, sudah ya nanti aja ceritanya. Bimo mandi dulu".


"Sayang! berhenti kamu disitu!".


Gw langsung ngibrit dan masuk ke kamar mandi, nanti aja gw jelasinnya biarkan bunda menerka-nerka saja dulu.

__ADS_1


__ADS_2