
"Biarkan saya masuk! saya teman pasien di dalam, tolong biarkan saya masuk. Saya mohon!".
Suara familiar terdengar di dekat pintu masuk ruangan ini. Seketika gw melihat ke arah sumber suara dan disana berdiri wanita cantik bernama Putri yang berusaha untuk masuk tapi dihadang dan dihalangi oleh pengawal Bokap yang berjejer di pintu.
"Tolong biarkan dia masuk, dia Putri saya". Budi berjalan menghampiri anaknya.
"Bunda, ayah dia teman sekaligus dokter yang mengoperasi Bimo, tolong biarkan di masuk". Gw bicara meminta bantuan Ayah dan Bunda.
"Biarkan dia masuk!". Ayah bersuara lantang.
"Putri". Budi memanggil menyambut dan akan memeluk anaknya tapi dilewati begitu saja oleh Putri seakan menganggap bokapnya adalah udara kosong.
Dia berjalan cepat menuju ke arah gw dan seketika terkejut dan berhenti saat Bunda dan Ayah berdiri melihatnya.
Putri terdiam melihat Orang tua gw, dia memandang ayah dan bunda bergantian.
"Apa kamu Putri teman anak saya?". Bunda segera berbicara dengan senyum ramahnya.
"Kami berdua adalah orang tua Bimo, saya sudah mendengar sedikit tentang kamu dari anak kami". Bunda melanjutkan bicara.
Raut wajah Putri tampak tegang, mungkin dia tidak mengira bakalan ada bokap dan nyokap gw disini. Apa saat dia disuruh kemari sama Budi tadi, tidak diberitahu tentang ini.
Putri semakin salah tingkah dengan pelan dan tergagap dia berbicara memperkenalkan diri. "Salam kenal om dan tante nama saya Ayunda Putri Wijaksono".
"Iya salam kenal juga, kamu begitu cantik. Beruntung anak saya bisa berteman dengan kamu". Bunda langsung berjalan ke depan dan memegang tangan Putri.
Gw lihat wajah dia bersemu merah dengan pujian dari bunda.
Bunda memang sangat mengerti suasana dia melihat Putri yang takut dan salah tingkah segera dia ajak bicara dengan ramah dan memuji.
"Terima kasih tante, saya yang beruntung bisa mengenal Abimana".
"Kamu sudah cantik tapi juga sangat sopan, tidak heran anak nakal itu tidak mau lihat kamu terluka".
"Tante soal itu..
"Kamu tenang saja cantik, Bimo sudah ceritakan semuanya sama tante. Wajar kok jika laki-laki ingin selalu melindungi wanita". Bunda segera menyela Putri saat ingin berbicara.
"Jagoan kelihatannya keberuntungan kamu soal wanita berasal dari bakat ayah". Bokap berbicara pelan di saat bunda masih mengobrol sama Putri.
"Ayah tolong jangan mengaku-ngaku ini semua berkat usah dan kerja keras Bimo sendiri". Gw juga bicara pelan takut Bunda dan Putri dengar.
Bodo amat sama 2 cebong mereka masih sibuk sama fikirannya masing-masing yang terlihat sangat girang, saat diajak ikut ke Singapura.
"Ayah tau semua tentang kamu, sejak dulu kalau enggak berantem ya minum. Mana mungkin kamu berani dekati wanita lebih dulu kecuali wanitanya yang dekati kamu. Dan itu adalah gen dari Ayah kamu ini".
Rasanya gw pengen guling-guling di lantai, menangis dan ngadu ke Bunda karena sudah di remehkan sama Ayah, tapi gw sadar yang di ucapkan sama Ayah itu fakta semua.
Ini ma ibarat gw gelut sama Ayah, cuma sekali sentil langsung KO gw. Benar-benar sesuatu ini Rama Putra Pramono.
"Sayang kok kamu bisik-bisik sama Ayah, lagi ngomongin apa?". Bunda berbalik badan dan menggandeng Putri berjalan ke samping gw.
Saat ini Putri ada di tengah-tengah Ayah dan bunda di samping kiri gw yang masih senderan di ranjang.
"Papa cuma bahas betapa lembut dan penyayang nya mama kok, bukan begitu jagoan?". Ayah bertanya dan melotot mengintimidasi gw.
Jadi bakat gw yang pinter ngeles dan berasalan ini juga warisan dari bokap, sumpah kagak guna banget ini warisan.
__ADS_1
"Iya Bunda, Bimo sama Ayah seneng lihat bunda baik dan cepat akrab sama temen Bimo". Gw ikutan ngibul karena kalau jujur bisa-bisa nama gw dicoret bokap dari akta keluarga.
"Kamu memang mirip sama papa kamu sayang, pinter banget kalau buat wanita tersipu, oh iya disapa dong temannya yang cantik ini kok di diemin aja".
Gw tersenyum canggung begitu pula dengan Putri yang nunduk aja dari tadi dan kagak berani liat gw.
"Putri maaf ya kalau bunda dan Ayah aku buat kamu terkejut, mereka memang seperti itu. Tapi aku nyakin kok Bunda dan Ayahku bakalan jadi calon mertua yang baik".
"Sayang? kamu terang-terangan banget".
"Ha-ha-ha-ha, persis sangat mirip sama Ayah kamu jagoan". Ayah tertawa bangga.
Putri jadi salah tingkah dengan ucapan ngawur gw dia semakin menunduk dengan pipi yang memerah.
Gw lihat bibirnya yang berwarna pink itu dan teringat kembali kejadian sebelumnya saat gw kiss dan lum@t itu bibir mungil nan lembut.
Budi bokap Putri entah mengapa tersenyum lebar mendengar perkataan gw dan pak Amir yang melihatnya tampak begitu iri dan cemburu.
2 cebong yang biasanya bereaksi pun masih pada diem aja mungkin otak mereka sudah berada di Singapura dan kagak peduli lagi dengan situasi sekarang ini.
"Sayang kamu nakal ya? liatin apa itu kamu?". Bunda pergoki gw saat memandang bibir Putri.
"He-he-he. Maaf bunda, salahin ayah ya soalnya semua yang ada di diri Bimo kan warisan dari dia".
"Jagoan kok jadi Ayah?". Bokap tampak pucat
"Kan tadi Ayah bilang semuanya yang ada di dalam diri Bimo adalah bakat warisan dari Ayah".
Bokap terlihat serba salah dan melihat bunda dengan senyum canggungnya.
Bunda hanya mengelengkan kepalanya melihat dan mendengar perdebatan suami dan anaknya.
"Iya tante tidak apa-apa, saya suka kok Bimo orangnya humoris". Putri menjawab pelan
"Terima kasih, kamu memang calon mantu idaman. Bimo sayang Bungkusin ini buat bunda ya?". Bunda bicara dengan entengnya.
Mata gw terbelakak yang semula senderan sekarang langsung duduk tegak melihat bunda.
Putri pun yang dari tadi menunduk sekarang melihat Bunda disebelahnya.
Bokap Putri dan Pak Amir juga sama terkejutnya mereka maju satu langkah untuk mendengar lebih dekat, mungkin mereka mengira ada masalah dengan pendengarannya.
Reza dan Udin yang sejak tadi otaknya sudah jalan-jalan di Singapura dengan kecepatan kilat balik lagi kesini dan ikut menatap Bunda gw.
Cuma Bokap aja yang tampak biasa saja mendengar ucapan bunda, dia malah tersenyum lebar dengan mata yang penuh bintang.
"Mama imut banget sih". Ayah berbicara memuji.
Suasana sekali lagi hening, imut darimananya dari kalimat bungkusin orang?.
"Bunda, emang Putri gado-gado minta Bimo bungkusin. Aneh-aneh aja bunda ini".
Bunda tersenyum melihat gw. "Putri ini dessert yang paling manis dan cantik sayang, masak kamu bilang gado-gado".
"Anak orang ini Bunda bukan makanan penutup". Gw segera berbicara
"Iya sayang maaf bunda bercanda kok, maaf ya Putri tante terlalu senang dan suka mengenal kamu".
__ADS_1
"Iya tante tidak apa-apa kok, saya juga senang bisa mengenal tante dan om". Putri sudah mengatasi grogi dan keterkejutannya.
"Putri terima kasih ya, atas bantuan kamu. Jadi ngerpotin kamu terus aku".
"Kamu bicara apa sih Bimo, sudah menjadi kewajiban aku itu dan harusnya aku yang berterima kasih sama kamu". Putri berbicara dan memandang gw.
"Tidak Cantik, biarkan kami juga sebagai orang tua Bimo mengucapkan terima kasih karena kamu sudah menolong anak kami". Bunda berbicara kembali.
"Saya tulus kok tante buat melakukan yang terbaik untuk Bimo, saya juga sedih dan kawatir saat melihat Bimo kesakitan". Putri tampak malu dengan ucapannya sendiri.
"Iya tante tau". Bunda tersenyum lembut sambil membelai rambut indah Putri.
"Tapi tante mau minta maaf sama kamu, karena mau pisahkan kamu sama anak nakal tante untuk sementara waktu".
Putri sontak terkejut dia terlihat salah paham dengan ucapan Bunda, terlihat dari matanya yang sendu menatap gw.
"Bunda jangan ngerjain Putri deh, jadi sedih itu dia". Gw segera berbicara.
Putri tampak binggung dan langsung melihat bunda yang sedang tersenyum.
"Bunda kan belum selesai bicara sayang, cantik ini saja yang mengira-ngira duluan".
"Cantik maksud tante itu, tante dan om mau bawa Bimo ke singapura sebentar untuk merawat dan menghilangkan bekas jahitan di perutnya, kebelulan disana tante dan om punya Rumah sakit yang mempunyai alat-alat medis terbaik". Bunda menjelaskan
"Maaf ya tante". Putri bicara dan menunduk.
"Cantik kok minta maaf? kan kamu tidak salah".
"Saya merasa tidak enak karena rumah sakit keluarga saya ini tidak bisa merawat Bimo dengan baik".
"Jangan Bicara seperti itu cantik, ini cuma masalah alat medis saja kok. Kalau soal tenaga medis terutama dokter, tante nyakin kamu yang terbaik".
"Terima kasih tante". Putri tersenyum mendengar pujian dari bunda gw yang tulus.
"Kamu tenang saja, nanti om akan berinvestasi ke Rumah Sakit ini dan membawa alat-alas medis terbaik untuk kamu gunakan". Ayah ikut berbicara yang membuat wajah bokap Putri bersinar cerah di belakang sana dan sekali lagi pak Amir tampak iri dan cemburu.
"Terima kasih om tapi tidak usah repot-repot, saya tidak mau memanfaatkan om dan tante untuk kepentingan keluarga saya".
"Ya ampun cantik hati kamu baik sekali". Bunda sudah sangat terpesona keknya sama Putri.
"Ini bukan untuk keluarga kamu tapi untuk pasien-pasien yang berobat disini agar mendapat pelayanan yang lebih baik". Ayah kembali berbicara.
"Kalau itu untuk pasien dan masarakat luas agar bisa dengan cepat sembuh dari sakit yang di derita, saya akan terima dan tidak akan mengecewakan om dan tante".
"Baik nanti Om akan suruh orang untuk bertemu dengan kamu untuk membahas semuanya".
"Iya om terima kasih". Jawab Putri pelan.
Dia kembali menatap gw. "Bimo kamu hati-hati ya disana dan semoga cepat sembuh". Putri bicara seperti tidak rela melepas gw ke Singapura.
"Kamu tenang aja paling cuma seminggu aku disana, nanti aku kabari kamu kalau sudah balik kesini".
Putri tersenyum dan mengangguk mendengar gw cuma seminggu disana.
"Ma kelihatanya kita harus berangkat sekarang".
"Putri tante bawa Bimo sebentar ya kamu tenang saja jika dia sudah sehat akan tante balikin kok sama kamu". Bunda masih bisa bercanda
__ADS_1
"Iya tante, Putri tunggu". Putri bicara pelan dan memberikan senyum terbaiknya ke Bunda.