Preman Campus

Preman Campus
BECAK


__ADS_3

Gua berdiri di depan warung pojok Bu Sum dengan tersenyum sambil mengelus baju yang gua pakai.


Bukan baju pink laknat yang di beli si kampret tapi baju batik hitam dengan motif macan pemberian dari buk Sum yang baik hati, batik milik suaminya yang tidak pernah dipakai karena motifnya, motif yang gua banget.. garang dan gagah.


Sungguh gua sangat berterima kasih dengan kebaikan yang Bu Sum berikan ke gua, walau dia sempat tertawa tapi dia bertanggung jawab untuk itu dan tidak seperti Jono dan Suci.


Saat akan gua kasih uang, Bu Sum dengan tulus menolak.. Dia berkata iklhas dan suka berbagi dengan orang yang membutuhkan.


Baru kali ini gua merasa senang dikira orang miskin dan gua kagak memaksa lagi karena gua tau ketulusan itu tidak bisa dibeli dengan uang.


Jono dan Suci berjalan ke luar dari dalam warung dan menghampiri gua.


"Girang amat loe Bim, enggak cocok banget loe pakai batik kek gitu dan lebih cocok baju yang gua belikan.. ya kan Ci?". Jono masih saja mengulum senyum bahas baju laknat itu.


"Iya" Jawab Suci pelan sambil terkekeh.


"Kalian mau ngerumpi di sini terus atau balik? Kalau mau ngerumpi ledekin gua lagi biar gua pesankan kopi supaya tambah syahdu obrolan kalian".


"Sensi banget sih loe Bim, iya dah gua minta maaf.. Loe aja suka bercanda masak di becandain gak mau". Jawab Jono mengungkit dan membandingkan.


"Iya Bimo egois". Suci ikut bersuara.


"Sayang jika kamu masih membela Jontor ini, jangan harap kamu bisa liat batang aku lagi.. walau kamu memohon minta dimasukin bakalan aku tolak mentah-mentah". Gua menatap Suci serius


"Bimo apa sih? ancaman kamu kok aneh banget gitu?". Suci terkejut dan memukul dada gua pelan.


"Anjir! emang gokil loe Bim, bicara kek gitu di pinggir jalan tapi sejak kapan kalian pakai panggilan sayang?".


"Sejak temen loe **** dan telan ... Emmmm". Mulut gua langsung di bungkam Suci dengan tangannya.


"Jono kamu akan rahasiakan ini kan?". Suci langsung panik dan bertanya ke Jono


"Emang bajingan yang beruntung loe Bemo!" Jono tersenyum penuh arti memandang gua dan langsung mengangguk menatap Suci.


"Tenang aja Ci rahasia kalian aman sama gua, gua juga udah bisa menebak dari awal tentang kalian jadi santai aja". Jono tampak bicara santai tapi terlihat menyakinkan.


Suci tampak lega dan menarik telapak tangannya dari bibir gua.

__ADS_1


"Ok sekarang kita balik ke mobil di depan toko boneka, udah siang juga ini". Jono tampak udah balik normal jalan pikirannya.


"Itu yang mau gua bilang dari tadi Jon, mana katanya loe udah cari kendaraan tadi?".


"Itu depan loe Bim, cuma Nemu dua gua.. Loe bisa bareng Suci biar gua sendiri gak apa-apa".


"Mari mas silahkan duduk, Lama sekali kami nunggu disini". Pria setengah baya berdiri di pinggir jalan sejak tadi bicara dan memandang kami bertiga.


"Becak Jon?". tanya gua pelan.


"Iya becak, kenapa mau protes lagi loe? enggak suka?". Jono langsung sinis.


"Suka lah udah lama juga gua kagak naik becak, ayo kita naik". Gua bersemangat maju duluan dan segera naik dan duduk di dalam becak, alat transportasi tradisional yang hampir punah ditelan zaman sama kek delman yang keberadaannya sulit ditemukan saat ini.


"Tumben temen kamu girang seperti itu Jon, aku kira tuan muda seperti dia akan malu naik becak".


Gua dengar Suci bicara sambil jalan ke arah gua.


"Bemo emang aneh dan kagak bisa ditebak jalan pikirannya Ci, semoga kamu enggak kaget nantinya jika itu anak ngelakuin hal-hal absurd plus gila".


"Masih aja ngerumpi in gua kalian berdua, ayo cepat naik". Gua udah kagak sabar pengen ngerasain sensasi naik becak lagi setelah sekian lama.


"Udah Ci cepat sana kamu ke depan dan jagain itu bocah, pantengin terus dia karena ada kemungkinan bakalan nantang gelut setiap orang yang lewat". Jono tersenyum jail dan segera berjalan ke belakang naik becak yang satunya.


"Silahkan naik neng, hati-hati". Ucap kang ramah.


"Iya pak terimakasih". Jawab Suci tidak kalah ramah.


"Bimo geser dong, kamu tempati semua terus aku duduk dimana?".


"Sini di pangkuan aku". Jawab gua santai.


"Jangan mulai deh Bim, malu dilihat banyak orang.. ini kan kendaran terbuka, geser ahh". Suci langsung naik dan mendorong gua ke samping dan langsung duduk.


Becak melaju dengan pelan karena yang mengontrol manusia dengan otot kaki dan bukan mesin.


Gua menikmati suasana sepanjang perjalanan dan melupakan semua hal konyol di warung pojok Bu Sum.

__ADS_1


"Senang banget kamu Bim, suka ya naik becak?".


"Suka, berasa liburan saat ini.. Kira-kira mau gak ya bapak becak ini nganter aku ke Jogja?".


"Ngaco kamu tenaga manusia kan ada batasnya, mengayuh Blora Jogja ya bisa pingsan di jalan".


"Gitu ya?".


"Hehe, baru ini aku liat kamu seperti ini". Suci memandang gua lekat dari samping.


"Seperti ini gimana?"


"Ya seperti sekarang ini, cuma naik becak saja kamu tampak bahagia dan senyum terus dari tadi.. benar apa kata Jono kamu itu aneh, kadang bisa buat dunia tampak mengerikan tapi bisa juga membuat dunia tampak indah untuk dilihat".


Gua tersenyum lembut menatap Suci, tanpa banyak bicara gua langsung maju kecup bibirnya sekilas.


"Bimo apa itu tadi?!". Suci terkejut dan menutupi bibirnya.


"Kamu lagi gombalin aku kan tadi? Ya itu hadiahnya". jawab gua santai sambil senderan dan menatap ke depan lagi menikmati suasana kota Blora yang masih lumayan sepi walau sudah hampir siang.


Suci terdiam tapi gua merasakan dia menarik-narik baju batik gua pelan.


"Apa sayang?".


Suci tidak menjawab tapi wajahnya tampak merah dan malu-malu sambil terus menarik kecil baju gua.


Gua langsung mengerti dengan sinyal dan kode seperti ini dan gua tau apa yang dia inginkan, berhubung gua dalam suasana hati yang baik tanpa pikir panjang gua kasih aja apa yang Suci mau.


Gua tarik lengannya hingga wajah kami berdekatan sekaligus pandangan kami yang bertemu dan tanpa kata-kata yang terucap bibir kamu sudah menempel dan saling bersentuhan, berciuman dengan mesra dan lembut.


Bukan ciuman bibir yang cepat dan grusa-grusu tapi lebih ke ciuman yang saling menikmati setiap sapuan lembut di bibir.


Ciuman romantis di suasana yang lumayan romantis pula yang tercipta di dalam bangku penumpang becak.


Gua hanya ingin menikmati moment ini dengan apa adanya dan kagak ada niat meminta lebih tapi sepertinya Suci yang saat ini ingin meminta lebih karena pelan-pelan lidah dia mulai merangsek masuk secara tiba-tiba ke dalam mulut gua mencari benda lunak tak bertulang untuk di hisap.


Gua sempat terkejut tapi segera memejamkan mata dan diam memberikan jalan untuk Suci berbuat apa yang dia suka

__ADS_1


__ADS_2