Preman Campus

Preman Campus
75


__ADS_3

Saat ini gua berasa menjadi anggota DPR turun dari mobil dikawal oleh dua orang.


Jono di sebelah kiri gua yang matanya jelalatan melihat rumah sederhana yang berjejer tidak jauh dengan gadis-gadis berpakaian mini duduk di depan setiap rumah.


Suci di sebelah kanan gua dengan mata indahnya yang tajam selalu mengawasi gerak-gerik yang gua lakukan.


"Bim itu keknya ada yang berumur belasan tahun deh". Jono menunjuk dengan jarinya.


"Adoh!". Gua langsung teriak sebelum melihat karena Suci udah cubit perut gua duluan.


"Jono!". Suci memberi Jono tatapan maut


"Iya-iya sorry Ci". Jono langsung sadar tapi pandangan matanya masih fokus melihat para wanita penjajah nikmat.


"Bimo itu yang kamu cari, cepat beli dan cepat kita pergi dari sini". Suci menunjuk sebuah lapak yang tidak jauh.


"Iya". jawab gua singkat dan berjalan ke depan


"Selamat siang mas, silahkan di beli oleh-olehnya.. Murah meriah semua ini". Penjual pria langsung menyambut kami dengan kata-kata khasnya


"Sayang yang mana sih ungker jati itu?". Gua bertanya ke Suci


"Kamu aja enggak tau kenapa mau beli sih?".


"Kan aku udah bilang tadi, ini titipan dan pesanan temen.. ungker jati dan belalang". Gua menjawab santai agar kagak ketauan ngibul


Untung juga si kampret masih fokus ngeliatin pecun jadi rada aman gua kagak dapat komentar dari dia.


"Masnya cari ungker ya? Ini mas silahkan ini mau berapa kg?". Pedagang di depan langsung menunjuk sesuatu yang kecil berwarna coklat tua di dalam sebuah wadah besar.


"Astaghfirullah! ungker itu beneran ulet?". Gua udah tau tapi masih terkejut saat pertama kali melihat


"Memang itu ulat jati Bimo". Suci berkata pelan.


"Ada yang masih hidup ya itu pak? ada yang masih bergerak gitu". Gua merasa jijik dan menunjuk.


"Iya mas karena dagangan saya ini fresh baru dikirim tadi". Jawab sang penjual bangga.


"Ok pak saya minta 5kg aja kalau gitu". Gua bicara dan menunjukan 5 jari ke depan


"Bimo terlalu banyak itu, nyakin teman kamu bisa habisin?". Suci tampak terkejut


"Udah disini juga sayang, tanggung kalau cuma beli sedikit.. nanti dikira aku pelit lagi".


"Ya terserah kamu deh".


"5 kg ya mas, baik akan segera saya timbang". Dengan senyum cerah karena dagangannya laku si bapak tampak bersemangat.


"Sama belalangnya juga pak, udah di goreng itu ya?".


"Iya mas kalau belakang saya jualnya sudah dalam bentuk goreng dengan berbagai rasa.. dan semua ini belakang kayu yang juga tinggi protein seperti ungker ini".


"Ok saya juga ambil belakang gorengnya 5 kg, rasanya original aja". Pinta gua


"Lebih enak yang rasa balado Bimo, aku suka yang balado". Suci bersuara sambil menatap lekat belalang goreng di nampan besar.

__ADS_1


"Kamu juga doyan ginian sayang?".


"Kalau belalang goreng tekstur nya renyah dan aku lumayan suka". Jawab Suci malu-malu


"Ya udah kamu mau berapa kg? Biar dibungkusin sekalian".


"Seperempat aja, cuma buat cemilan di mobil aja kok.. lagian di keluarga aku enggak ada yang doyan".


"Baik pak belakangnya tambah seperempat dan tolong di pisah ya?".


"Baik mas". Dengan sigap dan full senyum dia mulai beralih dari ungker ke belalang.


"Jon loe kagak mau ju...


Ucapan gua terhenti karena Jono yang semula di samping kiri gua tiba-tiba menghilang tanpa gua sadari.


"Sayang? Jono kemana?".


"Mana aku tau, kan tadi ada disamping kamu". Jawab Suci cuek


"Sialan! baru ini gua tau itu bocah punya ilmu menghilang kek gitu" gua bergumam dan dalam hati harus belajar sama Jono trik dan tips cara menghilang tanpa ketahuan.


"Ini mas sudah semuanya, ungker 5 kilo dan belalang goreng 5 kilo". Penjual depan gua menaruh oleh-oleh yang telah dibungkus rapi di depan gua dan Suci.


"Yang seperempat pak?".


"Ini yang seperempat bonus karena mas dan mbaknya beli banyak". Bungkusan kecil dia taruh lagi.


"Wah makasih pak". Gua segera berucap karena bonus sekecil apapun itu adalah hal yang membahagiakan bagi para pembeli.


"Untuk ungker 5 kg 100 ribu mas dan untuk belakangnya sedikit lebih mahal 120 ribu karena carinya Juga susah".


"Iya pak saya juga mengerti, menangkap sesuatu yang terbang pasti susah". Gua segera mengambil uang 250 ribu dari dompet.


"Ini pak ambil saja kembaliannya, karena bapak kasih saya bonus.. saya juga kasih bonus juga".


"Ya ampun terima kasih mas baru ini saya punya pembeli seperti masnya ini, di kasih bonus malah balik kasih bonus". Dengan bahagia dia terima uang yang gua sodorkan.


Gua hanya tersenyum menanggapi antusias diri dari si bapak penjual.


Segera gua ambil bungkusan ungker dan belalang. "Yuk sayang kita balik mobil dan ini belalang goreng kamu".


"Kita enggak nunggu Jono Bimo?". Suci bertanya sambil meraih bungkusan seperempat belalang goreng dari tangan gua.


"Nanti juga balik, mungkin lagi kebelet pipis dia tadi.. Yuk ah jalan".Gua mengandeng tangan Suci dan Kita pun kembali ke mobil terlebih dahulu.


Gua segera taruh ungker dan belalang pesanan Bianca di bagasi berdampingan dengan boneka-boneka yang dibeli Suci dan Jono.


Gua masuk ke dalam mobil dan langsung disuguhi dengan pemandangan mengerikan, Suci makan belakang kek makan kripik.. Renyah dan terlihat empuk sampai kepala belalang ikut dia kremus.


"Bimo kamu mau? enak lho". Suci menawari


"Enggak terima kasih, kamu aja yang makan". Gua langsung menolak.


"Emm.. padahal enak lho ini". Suci kek bintang iklan sekarang, makan belakang goreng dengan ekspresi lebay.

__ADS_1


"Teman kamu itu tau aja Bimo kalau belalang goreng itu enak dan bergizi, teman kuliah ya?".


"Oh iya teman kuliah namanya Udin asli gunung kidul, di kampung halamannya juga ada itu belakang goreng tapi udah sulit ditemui, saat tau aku mau ke Blora dia langsung minta dibelikan sebagai oleh-oleh".


Gua menjawab dengan keringat dingin yang muncul di punggung dan semoga saja Suci kagak curiga.


"Hehehe nama temen kamu khas Indonesia banget itu, Udin". Suci tersenyum kecil.


Thanks nyet! Karena nama loe gua selamat kali ini. Gua bicara dalam diam.


"Itu Jono Bimo, bawa apa itu dia?". Suci menunjuk ke depan.


Auto gua liat dan di depan sana si kampret jalan sok keren menuju ke mobil.


"Sorry-sorry tadi gua liat lapak temen". Jono masuk mobil dan langsung nerocos


"Teman kamu juga jualan disini Jon? Siapa?". Sambil gigit belalang Suci bertanya


"Kamu enggak kenal Ci, dia warga Ngawen dan temen aku saat masih bekerja di perhutani dulu".


"Oh gitu, jualan apa emang teman kamu?".


'Ini jualan dodol wijen, aku beli itung-itung membantu". Jono menunjukan dodol yang dibungkus besek.


"Kek nya manis itu Jon, bagi dong". Gua langsung ngiler.


"Ambil aja Bim, gua juga punya info bagus yang aku dapat dari teman aku tadi". Jono tersenyum penuh arti.


"Info apaan?". tanpa curiga gua bertanya dan meraup beberapa dodol dari besek (Wadah makanan yang dibuat dari ayaman bambu)


"Cuma 75 Bim". Jono bicara dengan mengedipkan matanya ke gua


"Apa yang tujuh lima? Harga dodolnya?".


"Bukan harga dodol tapi harga cewe yang berjejer itu cuma 75..


"Uhuk-uhuk". Auto gua tersedak dodol saat ini.


"Plakkk!". Kepala Jono langsung di hantam sama wanita disamping gua.


"Jono!". Suara Suci melengking keras.


"Sorry Ci bercanda aku". Jono langsung menggosok kepalanya.


"Bimo kamu enggak apa-apa, mau minum?". Dengan perhatiannya Suci mengelus punggung gua


"Enggak usah sayang, udah gak apa-apa kok". Jawab gua lembut.


"Gitu aja sampai tersedak loe Bemo! Lebay banget".


"Ehh kang dodol! Gimana kagak tersedak info kagak penting loe kasih tau ke gua tapi ngomong-ngomong 75 itu berapa jam?".


"Adooohhhhh!".


Gua auto teriak dan kagak gua kasih tau juga kalian udah mengerti apa yang terjadi.

__ADS_1


__ADS_2