
"Bim? Bimo? bangun Bim... Jangan tidur disini, ayo bangun".
Samar di dalam lelap tidur gua, nama gua dipanggil dengan lembut dari suara yang yang sangat familiar.
"Hmm dingin". masih mengarungi alam mimpi gua bergumam pelan dan tanpa sadar meraih dan memeluk sesuatu. "hmmm.. hangat dan empuk". Gumam gua lagi menikmati sensasi hangat dan nyaman yang tiba-tiba gua rasakan.
"Bim, lepas Bimo.. Malu di lihatin banyak orang. Jono bantuin bangunin Bimo, malah diam aja kamu di sana".
"Iya Ci". Jono beranjak mendekat.
"Emang keren loe sahabat ku bisa-bisanya tidur di sini seperti gelandangan, mana tau lagi mana selimut yang empuk.. Iri gua sama ke hoki an loe itu". Jono dengan iseng mengacungkan 2 jempolnya
"Jono cepat bantuin, malah bicara yang tidak-tidak kamu". Suci udah mulai tidak nyaman karena banyak pengendara motor yang lewat melirik dia.
"Tenang Ci Bimo kagak bisa dibangun kan dengan cara biasa.. biar aku kasih tau cara bangunkan itu bocah".
"Ya udah cepat, malu ini aku dilihat orang yang lewat".
"Ehem-ehem, BEMO TOLONG GUA BIM!! GUA DI KEROYOK ORANG BIM!! BEMO TOLONG!!".
"Jono! kenapa malah teriak-teriak sih kamu? Aaaacchh!". Bruk!".
"Mane Jon?! Mane yang keroyok loe! Tunjuk orang nya biar gua hantam!". Gua mendorong guling di dalam mimpi dan segera bangun berdiri menghampiri Jono setelah mendengar teriakannya, kagak lupa dan reflek kuda-dua siap hantam gua pasang dan kencengakan.
Jono malah terlihat bengong melihat ke belakang.
"Mana yang keroyok loe anjing! Liat apaan sih loe?". Auto gua berbalik ke belakang mengikuti arah pandangan Jono.
"Astaghfirullah! Mbak Suci? Ngapain kamu rebahan di tanah kek gitu? lagi cari undur-undur apa mau bersatu sama alam?".
"Menurut kamu Bim?". Mbak Suci balik nanya dengan wajah cemberut.
"Emang kebangetan loe Bim, abis loe peluk mesra langsung loe tendang gitu aja temen gua. Ayo Ci bangun". Jono mengulurkan tangannya dan membatu mbak Suci bangun.
"Apa sih maksud kalian berdua? Kagak ngerti gua".
"Ehh Bemo! Tadi loe ngapain?".
"Ngapain? Gua merokok tadi dan kelihatannya terbawa suasana tertidur bentar saat nunggu kalian dan mimpi peluk guling hangat".
"Yang loe peluk itu Suci Bemo!".
"Ya ampun! Jadi yang aku dorong tadi itu kamu mbak?". Gua auto mendekati mbak Suci. "kamu gak apa-apa kan? Bagian mana yang sakit? Apa perlu kita ke rumah sakit?". Gua memegang pundak mbak Suci dan menyesali apa yang gua lakukan secara kagak sadar tadi.
"Cuma terkejut Bimo dan gak apa-apa tidak perlu ke rumah sakit segala". Mendapat perhatian dari gua mbak Suci sudah tidak cemberut lagi dan berucap dengan senyum.
"Iya Bemo lebai banget loe". Jono menyindir dari samping.
"Ini juga karena loe Jontor! Kenapa pakai teriak-teriak minta tolong segala sih?! Gua kan jadi gelagapan, mana coba orang yang keroyok loe itu?".
__ADS_1
"Itu kan buat bangunin loe Bemo! Mana bisa loe dibangunkan dengan cara biasa, masih untung kagak gua siram air".
"Udah-udah kalian berdua jangan berdebat, di pinggir jalan ini nanti dikira lagi berantem lagi". Mbak Suci berucap menengahi. "Ayo kita masuk mobil dan balik".
"Udah kelar mbak beli bonekanya?".
"Udah kok ngomong-ngomong terima kasih untuk bonekanya". Mbak Suci berucap dengan senyuman yang tercetak di bibirnya tapi gua kagak ngeh apa yang dia katakan.
"Boneka apa?"
"Tadi kan Jono masuk beli boneka buat Mika dan Mila katanya kamu yang suruh dan bayarin sekalian boneka yang aku beli".
Gua auto melihat Jono yang lagi sok keren banget itu pose dia, kagak gua sangka bisa kreatif juga itu dia punya otak.
"Oh itu biasa aja lagi mbak seperti sama siapa aja, kita kan bukan orang asing". Gua ber acting sebaik mungkin dan memberi mbak Suci kedipan mata penuh makna yang langsung buat dia salah tingkah.
"Kalian mau saling menggoda sampai kapan ini? enggak jadi masuk mobil dan balik kita?".
"Menggoda apa sih Jon? Aku kan cuma ngucapin terima kasih ke Bimo". Mbak Suci segera membantah.
"Iya jangan baper an ngapa, ngomong-ngomong bangunan besar warna merah itu apa sahabatku?". Gua menunjuk bangunan yang tidak jauh dari kami yang tampak sangat mencolok dan bertanya ke Jono.
"Dealer motor Yamaha itu, ada tulisannya kan kenapa iseng nanya sih loe?".
"Berarti mereka jual motor ya Jon?". Gua mengangguk dan memikirkan sesuatu.
"Kagak mereka jual lemper sama tahu bulat! yang namanya dealer motor ya jualnya motor Bemo, gak mutu banget sih pernyataan loe".
"Bukan penasaran mbak, aku cuma kepikiran mau beli in Mila motor.. Dia kan udah SMP enggak tega aku liat dia naik sepeda lewat hutan untuk sekolah tapi sepertinya Jono enggak suka, ya udah gak Jadi.. Yok kita balik aja". Gua langsung berbalik badan.
Bruk! Astaghfirullah!". Gua terkejut dan terdorong ke depan karena merasa tertabrak sesuatu dari belakang.
"Bimo?". Suara pria halus dan merdu plus lembut gua dengar.
"Iya Jon kenapa?". Jawab gua kagak kalah lembut.
"Bim.. Gua gak bisa bicara lagi Bim".
"Iya gua ngerti loe dari dulu pengen bisu kan tapi BISA KAGAK LEPAS DULU INI PELUKAN LOE?!". Suara gua langsung meninggi melepas kedua tangan Jono yang melingkar di perut gua dan segera balik badan melihat wajah si kampret yang berubah Melo.
"Udah kagak usah kek gitu muke loe, gua juga ingin beli motor buat diri gua sendiri dan mau gua bawa ke Jogja.. dari awal udah kepikiran buat beli tapi enggak ada waktu, susah mau kemana- mana musti pesan grab dulu".
"Jadi nanti kita balik ke Jogja naik motor Bim?".
"Iya lah lebih cepat juga kan daripada naik kendaraan umum".
"Ok deh gua nurut aja, kesana sekarang kita?". Jono tampak bersemangat.
"Ambil dulu itu duit di mobil, kita pakai dulu nanti kalau kurang untuk renovasi rumah loe kita ambil lagi, udah santai aja kalau sama gua jangan kek orang susah".
__ADS_1
"Ok bentar biar gua ambil". Jono langsung berjalan cepat membuka pintu mobil.
Gua beralih menatap mbak Suci yang tampak bengong dan melamun seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Mbak kamu kenapa? Enggak enak badan ya?". Gua bertanya dan menyentuh lembut keningnya memeriksa mungkin dia demam.
"Ehh.. Enggak apa-apa kok Bim". Dengan sedikit terbata dan sorot mata tidak fokus mbak Suci menjawab dan mundur satu langkah ke belakang mengindari sentuhan gua di keningnya.
Gua jadi merasa ada yang aneh tadi dia baik-baik saja kenapa jadi seperti orang yang risih gini saat ada di dekat gua.
"Serius mbak kamu enggak apa-apa? Kok aku malah merasa kamu kenapa-napa ya?".
Mbak Suci diam saja kali ini dan tidak menjawab, dia malah melihat Jono yang baru saja keluar dari mobil membawa plastik berisi uang.
"Ada apa dengan kalian berdua? Aku tinggal enggak ada semenit kok jadi tegang gini suasananya?". Jono curiga dan bertanya memandang gua dan mbak Suci secara bergantian.
"Jono bisa kita bicara sebentar?". Mbak Suci dengan wajah serius berbicara.
"Bicara ya bicara aja Ci, ada apa sih sebenarnya?". Jono tampak bingung.
Gua yang mengerti posisi segera sadar dengan maksud kata-kata mbak Suci.
"Jon loe bicara sama mbak Suci dulu, gua tunggu di dekat lampu merah penyebrangan sana". Gua segera melangkah pergi tanpa memandang mbak Suci karena tiba-tiba gua merasa kesel dengan perubahannya yang tiba-tiba.
"Bim mau kemana loe?". Jono mencegah dengan meraih lengan gua yang segera gua tepis.
Gua berjalan lurus dan berhenti berdiri tepat di bawah lampu merah, entah kenapa saat ini gua pengen memukul sesuatu dan pas banget ada motor berhenti menunggu lampu hijau.
Pengendara pria tinggi besar tanpa helm tapi naik motor matic dan dia melihat gua tanpa kedip.
"Eh.. Bangsat! Liat apa loe anjing?! turun lu sialan!". Gua melangkah mendekati.
Pria itu langsung panik dan berubah bego seketika, dia gas motornya dan ngacir gitu aja nerobos lampu merah yang buat gua seketika bengong.
"Liat apa loe semua!". Gua membentak pengendara lainya yang ada, dari yang naik motor sampai supir truk gua pandang rendah dan tajam, fix jiwa preman gua keluar saat ini.
"Bemo! ngapain loe kampret!". Suara Jono dari belakang terdengar berteriak dan segera dia menghampiri gua.
"Ayo minggir, salah minum obat ya loe? Orang asing loe tantang satu persatu, Maaf ya semuanya teman saya memang kadang suka kumat".Jono bicara dan menarik gua ke pinggir jalan seiring dengan menyalanya lampu hijau dan para pengendara langsung pergi sambil melirik gua.
"Kenapa sih loe Bim? Kagak bisa tenang jadi orang.. nunggu sebentar aja udah gatel tangan loe".
"Cari kesibukan Jon, siapa tau gua nemu musuh yang tangguh disini". Jawab gua cuek tanpa ekspresi.
"Yang namanya nemu itu, nemu duit dan nemu dompet... Bukan nemu musuh! enteng banget ya kata-kata loe itu".
"Kalau berat ma dosa gua Jon, ngomong-ngomong udah kelar kalian bicara?". Gua bertanya dan melirik Mbak Suci di belakang sana yang masih berdiri di samping mobil menatap gua khawatir tapi kagak mau mendekat.
Jono terdiam sesaat dan tampak bingung untuk memulai bicara dari mana, "Gini Bim gimana kalau kita pergi ke delear Honda saja? Motor Honda tidak kalah baik dan bagus kok dengan Yamaha".
__ADS_1
Jono memberi membujuk dan memberi pendapat tapi gua bisa melihat dan mencium ada kagak beres dan mencurigakan disini.