Preman Campus

Preman Campus
CEMBURU


__ADS_3

"Sayang kok dari tadi kamu diam saja kan aku yang harusnya marah karena kamu tinggal lari gitu aja tadi". Bianca yang duduk di samping gw di dalam taksi berbicara menggoyang lengan gw karena dari tadi diam saja dan melihat ke luar.


Gw dan Bianca sekarang dalam perjalan ke rumah dia naik taksi dari campus, gw ngantar Bianca pulang dan 2 anak uler pada balik ke kost masing-masing untuk berganti pakaian.


Kita akan bertemu lagi di cafe dekat Campus untuk melakukan hal yang sempat tertunda yaitu wawancara Ayam Campus untuk dipakai Reza dan Udin.


Untungnya hubungan gw sama Bianca masih aman dan terjaga dari para pencari gosip di campus karena gw yang berlari dan kagak gendong Bianca.


"Sayang jawab dong kamu marah ya sama aku?". Bianca tampak sedih melihat gw yang masih terdiam dan kagak berbicara.


Gw bukannya kagak mau ngejawab tapi tenggorakan gw rasanya kering banget dan lengket karena haus jadi males ngomong.


"Siapa yang marah Bie, cuma lagi ngatur nafas aja ini abis lari tadi. Tenggorokan aku kering banget". Gw menjawab dan tersenyum kecil agar cewe gw kagak salah paham.


"Pak supir itu di depan ada mini market tolong berhenti sebentar saya nanti". Bianca berbicara ke depan tepatnya ke sang supir taksi.


"Iya mbak saya akan berhenti nanti disana". Jawab sang supir di belakang kemudi.


"Bie mau ngapain kamu ke mini market bukannya kita langsung balik saja dan kamu istrihat biar cepat sembuh". Gw bertanya dan memandang Bianca yang tanpa riasan tapi tetap saja cantik dia.


Mungkin dia tadi terburu-buru dan kawatir saat dengar gw berkonflik dengan Dio.


"Sayang katanya kamu haus, ya mau beliin kamu minum lah aku". Bianca menjawab dengan perhatian yang dia tunjukan ke gw.


Auto gw tersenyum senang mendapat perhatian lebih dari Bianca.


"Terima kasih sayang". Gw mengusap rambut Bianca lembut dan Bianca tampak menikmati belaian tangan gw.


Dia segera masuk di pelukan gw dengan sendirinya dari samping dan dengan cepat tangan kanan gw naik untuk pemegang pundak dia.


"Bie manja banget kamu? Malu itu dilihatin supir". Gw berucap pelan sambil memencet hidung Bianca.


"Aku kan mau manja-manja an sama kamu sayang, merasa tenang dan damai aku kalau ada di pelukan kamu seperti ini". Bianca mempererat pelukannya.

__ADS_1


Udah kagak kaget lagi gw dan sudah biasa benda bulat dan kenyal itu nempel di dada samping gw karena pengalaman dipeluk yang semakin banyak juga jadi gw bisa merespon dengan tenang.


"Sayang kamu enggak bertanya ke aku tentang Dio? Aku takut kediaman kamu tadi karena marah dan cemburu karena aku enggak cerita soal dia". Bianca bicara pelan dengan mata terpejam menikmati aroma tubuh maskulin gw.


"Marah? Cemburu? Siapa? Aku? Hehehe, gak ada dalam camus manapun seorang Abimana Pramono cemburu Bie". Gw dengan percaya diri menjawab.


"Ihh sayang harusnya kan kamu cemburu dan tanya ke aku tentang hubungan aku sama Dio, kok malah datar-datar aja kamu?". Mata Bianca terbuka dan malah suruh gw cemburu, salah makan ini keknya cewe gw.


"Cemburu itu bukan tanda cinta sayang, tapi penyakit hati yang tercipta dari sifat posesif dan ketidak percayaan kepada pasangan kita dan aku percaya sama kamu ngapain juga cemburu". Gw menjawab setenang mungkin karena memang kagak cemburu gw.


"Terkadang aku dengar bicara kamu seperti ini aku tidak percaya sayang kamu baru pertama kali ini pacaran". Bianca masih di pelukan samping gw melihat ke atas wajah gw dengan tatapan curiga.


"Ngaco kamu Bie, tingkat kedewaan seseorang kan kagak di ukur dari pengalaman pacaran doang, masih banyak hal di dunia ini yang masih kita pelajari agar bisa tumbuh menjadi lebih dewasa". Otak gw dalam keadaan waras jadi bisa ngomong kek gitu.


"Kamu pintar banget sayang jadi makin sayang aku". Bianca mempererat pelukannya lagi.


"Ya udah sekarang kamu cerita tentang Dio itu kenapa sampai tergila-gila gitu sama kamu sampai nekad culik Reza yang cuma makan 1 meja sama kamu, apa jangan-jangan kamu pernah pacaran dan jatuh hati ya sama dia?".


"Sayang siapa yang bilang tadi Abimana Pramono enggak akan cemburu? Siapa juga yang bilang cemburu itu penyakit hati?".


"Aku yang bilang, memangnya kenapa?".


"Pertanyaan kamu tadi itu adalah cemburu sayang, kamu jangan sok polos deh". Bianca mencubit pipi gw gemes.


"Bie aku kan ingin tau doang, ingin tau kan beda sama cemburu". Jawab gw santai.


"Jika pun kamu enggak mau cerita ya udah aku gak maksa juga, semua terserah kamu dan nanti jika hal serupa terjadi sama aku kamu juga jangan maksa aku untuk cerita".


"Sayang kok gitu, aku ngerasa kamu saat ini marah deh dan kamu tutup-tutupi. Dio itu keponakan kak Anton sayang dan aku kenal dari kecil karena sering dibawa main ke rumah".


"Kita sering main bersama dan kita pun berada di SMP dan SMA yang sama tapi kami tidak ada hubungan apa-apa kok". Bianca menjelaskan panjang lebar.


"Tapi dia pernah kan nembak kamu?".

__ADS_1


Untuk sesaat Bianca terdiam mendengar pertanyaan gw. "Jujur dia pernah menyatakan perasaannya sama aku tapi itupun langsung aku tolak secara halus karena aku tidak suka sama dia dan cuma menganggapnya teman aja enggak lebih".


"Oh seperti itu". Gw menganguk kecil mengerti.


"Respon kamu kok seperti itu sayang? Kamu enggak percaya ya sama omongan aku? Perlu bukti? Ayo kita kembali dan tanya ke orang itu apa aku pernah bilang suka dan pacaran sama dia". Suara Bianca meninggi melihat respon gw yang acuh tak acuh.


"Aku percaya sama kamu Bie, kenapa kamu jadi marah gini sih?".


"Ekpresi wajah kamu itu Bimo, seakan-akan menertawakan penjelasan aku dan seakan-akan tidak percaya. Yang aku sayang itu cuma kamu seorang tidak ada tempat bagi pria lain".


"Ya ampun sayang ekpresi wajah aku emang dari dulu emang gini kan, kalau berubah nanti gw buka Bimo dong". Gw mencoba merubah ekpresi yang tadi datar-datar aja sekarang gw tempelin senyum kecil.


"Serius kamu percaya sama aku dan gak curiga lagi?". Bianca menyipitkan matanya menatap gw.


"Dari awal aku tidak curiga Bie, aku cuma ingin tau aja kok dan kamu sendiri yang panik duluan dan menganggap aku cemburu".


"Ya kan kamu juga sedikit aneh sayang, biasanya aja bercanda sepanjang waktu dan godain aku terus dan kali ini kamu tampak serius dan misterius banget aku kan kawatir kamu akan marah sama aku".


"Ya ampun sampai segitunya kamu takut aku marah, sini-sini masuk ke pelukan abang lagi biar tenang". Gw bicara dan menampilkan senyum selebar mungkin.


"Plaak!". Bianca memukul pundak gw pelan dan mengulum senyum melihat gw.


Dia angkat lengan kanan gw dan dia kembali masuk ke dalam pelukan gw dengan sendirinya.


"Kamu takut banget ya aku marah dan enggak percaya sama kamu?".


"Iya sayang aku takut, kamu itu bagai dunia aku. Entah apa yang terjadi jika kamu pergi ninggalin aku". Bianca bicara dengan pelan tapi keserius dari kalimat itu buat gw sedikit merinding.


Pelan-pelan rasa Bianca ke gw seperti bola salju yang menglinding ke bawah, semakin hari semakin besar dan buat gw kawatir.


Akan kah gw bisa membuat pondasi yang kokoh agar rasa yang semakin besar itu tidak hancur saat mencapai dasar?.


Gw melamun untuk sesaat dengan Bianca yang ada di pelukan gw.

__ADS_1


__ADS_2