
Semilir angin sore hari menerpa pori-pori kulit gua.
Saat ini gua duduk di tanah kek dukun dengan segala macam minuman dan makanan ada di depan gua, yang sudah seperti sesajen saja.
Makanan dan minuman yang diberikan oleh para penumpang bus saat gua udah tenang dan kagak mencoba serang musuh lagi.
Tadi itu dengan takut-takut beberapa orang penumpang pria dewasa datang dan kasih gua berbagai nasehat.
Stamina gua juga sudah habis dan gua hanya bisa diam dan mengangguk doang, dengar dari kuping kiri dan gua keluar kan dari kuping kanan.
Bus masih berhenti di pinggir jalan sebagain penumpang udah pada masuk dan sebagain termasuk supir dan kondektur memeriksa dan mengangkat musuh gua yang akhirnya pingsan juga setalah gua sikat.
Itu orang di angkat dan disandarkan di bawah pohon yang tidak jauh dari bus.
Gua kagak tau apa yang dibicarakan mereka yang berkerumun dan gua bodo amat juga, mau call polisi ya silahkan.. Mau call ambulance ya silahkan.
Sambil memulihkan stamina dengan minum dan makan makanan ringan, gua clingak-clinguk mencari keberadaan manusia gua tadi gua beri amanah untuk pegang rokok.
Kampret! Sepertinya itu bocah udah naik bus, awas saja kalau rokok gua rusak atau patah. Gua bergumam sendiri dan tidak lama datang ke arah gua kondektur Bus.
"Mas mari silahkan masuk ke dalam bus kembali, perjalanan akan segera lanjut ke Jogja". Dengan senyum ramah dan sedikit waspada jaga jarak dia bicara.
"Itu orang gimana pak? sepertinya saya tidak bisa satu bus dengan dia lagi". Jawab gua enteng sambil ngemil Q tela rasa ayam panggang.
"Dia sudah siuman mas".
"Oh udah sadar? kuat juga ya?!". Gua langsung bangkit berdiri.
"Mas jangan mas". Kondektur itu langsung berdiri di depan gua mencegah dengan merentangkan kedua tangannya, "Dia sudah memutuskan untuk tidak ikut naik bus.. Saya rasa sudah mengaku kalah, jadi tolong masnya jangan membuat masalah menjadi besar kembali saya mohon".
"Ok kalau gitu pak, silahkan anda dan para penumpang yang lainnya masuk dulu ke dalam Bus, saya mau kesana bukan untuk berantem lagi tapi hanya sekedar bicara".
Kondektur depan gua tampak diam dan melihat gua seperti tidak percaya, dia masih kekeh berdiri halangi jalan.
"Tenang saja pak, ada 3 bagian tubuh saya yang bisa dipercaya.. Satu adalah tinju saya ini, dua adalah ini". Gua menunjuk mulut, "Dan yang ketiga cukup para wanita saja yang tau".
"Hehehehe, mas nya biasa saja.. kalau soal itu juga saya bisa dipercaya mas". Kondektur itu tampak terpancing dengan candaan gua.
__ADS_1
"Ya sudah kalau mas nya cuma mau bicara, saja tunggu di dekat bus".
Dia langsung menyingkir memberi gua jalan.
Dengan langkah pasti gua berjalan santai menghampiri pahlawan negara, samar gua bisa melihat para penumpang bus melihat gua dari balik kaca.
Sialan! Mau gak mau harus tampil keren dong gua ditatap banyak pasang mata.
Kedua tangan segera gua masukkan saku, dagu gua angkat dan lanjut melangkah.
Saat ini gua merasa kek Jerry Yan ( Pemeran Tao Ming Tse di drama Taiwan meteor garden)
Musuh yang telah terkapar di bawah pohon langsung duduk bersandar dengan waspada.
Ekspresi wajahnya masih sama datar dengan aksesoris darah yang sudah mengering di sana.
"Bunuh saja saya daripada kamu suruh merangkak, setidaknya saya mati dengan membawa harga diri". Dia bicara sambil terbatuk menyambut kedatangan gua
Gua diam untuk sesaat berdiri 5 meter di depan dia.
Dia langsung tampak terkejut dan tidak percaya mendengar kalimat yang baru saja gua katakan.
"Gua tau loe pasti dendam sama gua, jadi sekarang gua akan bicara dan dengar baik-baik".
"Gua Abimana Pramono, jika loe kagak terima dengan luka yang gua kasih dan ingin duel ulang datang saja ke UGM, datang sendiri atau satu kompi terserah loe.. Gua kagak akan gentar". Dengan senyum sombong gua akhiri ucapan.
Tanpa melihat dan mendengar ekspresi beserta respon dia, gua langsung berbalik badan dan melangkah pergi.
"Ok Bimo loe keren tadi itu". Gua bergumam, puji dan bangga pada diri sendiri.
Gua segera masuk ke dalam bus tapi langsung di buat terkejut gua dengan sambutan dan para penumpang yang malah bertepuk tangan meriah.
Sialan! Dari jadi Tao Ming Tse kenapa malah berubah jadi kek topeng monyet gini gua.
Mau marah kagak enak banyak orang tua yang ikut tepuk tangan, mau joged nanti malah semakin kencang tepuk tangannya.
Gua menunduk saja dan berjalan cepat ke bangku.
__ADS_1
Tepuk tangan berhenti dan Bus kembali melanjutkan perjalanan.
"Tong mata loe minta di colok ya? Kenapa dari gua masuk loe tatap gua sambil senyum kek gitu? Kagak takut lagi loe sama gua?".
Idiot sebelah gua langsung salah tingkah dan menunduk, "Maaf mas, mas keren sekali tadi". Sambil menatap lantai dia mencicit.
Kenapa ini bocah malah puji gua? jadi kagak enak kan gua mau bully dia lagi.
"Udah kagak usah sok muji loe, rokok sebatang yang gua titipkan tadi mana? Jangan bilang hilang atau patah".
"Masih ada kok mas, masih ada". Jawab dia dengan cepat dan membuka tasnya.
Mau apa coba ini bocah, gua tanya rokok malah buka tas.. untuk saat ini gua amati saja, kalau bertingkah gampang tinggal ludahi saja entar.
Dia mengambil kotak bekal unyu-unyu warna pink dengan gambar Barbie yang langsung dia membukanya dan tampak kosong cuma ada rokok sebatang milik gua, ternyata di simpan di sono.
"Ini mas rokoknya masih aman dan utuh". Dia menyodorkan kotak bekalnya.
"Ok bagus, bisa jaga amanah ternyata loe". Gua mengambil rokok dan segera menyulutnya.
Mendapat pujian dari gua itu bocah langsung tersenyum lagi, mana kaku banget lagi itu senyum.
"Beli dimana itu kotak bekel? Cocok itu sama loe". Gua tersenyum kecil menghina sambil senderan nyaman sedot batang rokok dalam.
"Cocok ya mas ini sama saya? Terima kasih".
"Uhuk-uhuk". Gua terbatuk kecil dan hampir saja tersedak asap.
Ini bocah bego apa benar-benar sakit sih sebetulnya, masak kata gua yang menghina malah di jawab terima kasih dengan mata berbinar lagi.
"Sebenarnya kotak bekal ini hadiah dari adik perempuan saya mas, dia masih kelas 5 SD menyisihkan uang sakunya untuk memberi kakaknya kado ulang tahun". Dia kembali bicara dan malah memeluk itu kotak bekal.
Sialan, benar-benar plot twist ini keknya.. Entah kenapa malah kebayang Mika dan Mila gua setelah dengar cerita ini bocah.
Mau lanjut bully malah jadi Melo dan simpati gini, lemah banget hati ini sumpah.. dengar kisah dan cerita haru langsung lumer kek ice cream yang di taruh dibawah sinar mentari.
Gua kira gua kagak punya kelemahan ternyata tanpa gua sadari hati gua lah yang paling lemah.
__ADS_1