Preman Campus

Preman Campus
SIDANG LAGI


__ADS_3

Gw terlelap dan saat gw membuka mata terbangun, Pesawat sudah berada di Udara.


Gw masih berbaring dan malas untuk bangun, gw melihat ke samping disana ada Reza dan Udin yang melihat awan dengan kagum dari kaca kecil di badan pesawat.


Gw kembali keposisi semula tiduran dan melihat ke atas. Entah apa yang gw rasakan saat ini.


Cuma dalam kurun waktu beberapa jam saja gw yang kemarin masih sehat-sehat aja dan masih bisa gelut dengan Anggota Rohis di Campus. Pengamen gila di tempat makan dan tentu saja pasangan aneh di bioskop.


Sekarang tidak berdaya dan harus terbang ke negeri tetangga hanya gara-gara usus buntu, Sungguh ironi sekali.


Apa ini sebuah pertanda ya, kalau gw harus tobat dengan segala tindak tanduk jahanam gw selama ini.


Tapi kan gw kagak pernah sakiti orang yang kagak salah, gelut pun cuma sama sampah-sampah masarakat yang meresahkan.


Gw tau sekarang, mungkin ini pertanda kalau kerja gw bagus selama ini, dan ke Singapura ini adalah hadiah supaya gw jauh dari kota Jogja sementara waktu.


Kota yang sangat tidak bersahabat sekali sama gw, di Jakarta jujur gw suka berantem dulu sama anak-anak basis.


Tapi di kota ini kebangetan, masak tiap hari gw gelut mulu. Gak apa-apa kalau sehari 1 kali.


Ini udah kek makan, gelut sehari bisa 3 sampai 4 kali.


Rasanya seperti diperas otak dan tenaga gw. Niat kesini kan mau belajar malah belok lanjut jadi Preman gini.


Untung aja disini gw kenal sama cewe-cewe cakep dan seksi, bisa sedikit menghibur gw di sela-sela aktifitas gelut yang melelahkan.


"Udah bangun dirimu cak?". Reza berbicara membunyarkan lamunan gw.


"Iya nyet lagi ngapain lu berdua?". Gw menjawab sambil menguap


"Lagi iri kita Bim, melihat burung-burung yang bisa terbang bebas tanpa beban". Udin menjawab dengan puitis sekali.


"Iya cak, andaikan manusia seperti kita punya sayap". Reza berandai-andai


"Serakah amat lu berdua nyet! kalian harusnya bangga sudah diciptakan jadi manusia".


"Serakah gimana Bim kita kan cuma ingin seperti burung dan punya sayap, ya kan dek Za?".


"Iya, ta kita tidak serakah tak ye, cuma ingin merasakan terbang bebas di angkasa aja cak".


"Manusia emang seperti ini, persis seperti kalian udah dikasih lebih masih saja kurang dan masih iri dengan yang lain".


"Ingat lu berdua harus tetap bersyukur nyet dengan apa yang lu punya saat ini". Entah dapat ilham dari mana gw bisa berkata kalimat penuh akan nasehat seperti itu.


Udin dan Reza saling berpandangan dengan raut wajah tidak percaya.

__ADS_1


"Cak kan kita berdua yang anggota rohis kenapa jadi dirimu gini yang nasehati kita soal agama".


"Lagak lu nyet, baru aja sehari jadi anggota Rohis lu! pada belagu dan sok, ingat ketua Rohis yang kalian puja-puja itu bentar lagi juga bakalan nanyain gw sama kalian". Gw bicara dan tersenyum penuh arti.


"Tidak mungkin itu cak, ketua rohis kita kan kebal akan pelet".


"Iya Bim ilmu loe enggak bakal mempan sama gadis taat agama seperti ketua rohis kita".


"Bimo sayang kamu udah bangun?". Bunda membuka pintu pemisah kabin dan berbicara.


Saat gw mau adu argumen dengan 2 anak cebong.


"Udah bunda ini lagi ngobrol sama temen-temen".


"Gimana sayang, masih sakit banget ya? tahan sebentar lagi ya, enggak ada 2 jam kita sampai kok". Bunda duduk di ranjang dan membelai rambut gw.


"Iya bunda cuma nyeri aja kok ini, masih bisa Bimo tahan".


"Ayah dimana bun kok gak ikut kesini?".


"Ayah tertidur sayang capek banget kelihatannya dia, bunda enggak tega mau bangunin".


"Bunda kok malah disini, temani Ayah dong harusnya. Kalau ada nyamuk yang gigit gimana?".


"Oya sayang bunda mau tanya sama kamu dijawab ya?". Bunda menampakan raut wajah serius, perasaan gw jadi kagak enak.


Sepertinya bunda bakalan tanya pertanyaan yang sulit ini. Insting gw memberi saran untuk segera menghindar.


"Bisa ditunda dulu gak bunda, pertanyaan itu?".


"Enggak bisa sayang, bunda penasaran sekali sama hal yang akan bunda tanyakan sama kamu ini".


"Tanya sama Ayah aja gimana?". Gw coba memberi solusi aneh pada bunda karena otak gw udah kagak bisa cari alasan lain.


"Aneh-aneh saja kamu, ini kan tentang kamu. Ayah mana tau".


"Udah ah jangan cari alasan lagi, cukup jawab aja pertanyaan Bunda".


"Udin dan Reza jika Bimo bohong sama tante nanti bilang ya?". Bunda berbicara pada 2 cebong yang duduk dengan tegak melihat kami.


"Siap tante, kami berdua paling mengenal Bimo". Udin menjawab tegas.


"Semua kartu Bimo ada di tangan kami tante, jika dia berbohong diriku siap untuk mengoreksi nantinya". Reza ikut menjawab


"Nyet lu berdua sebenarnya teman siapa sih? harusnya kan kalian ada di pihak gw".

__ADS_1


"Sorry Bim, berbohong kepada orang tua itu tidak baik dan berdosa. Bukan begitu dek Za?".


"Tul betul itu kak Din, ingat cak surga ada di telapak kaki Ibu jangan lah dirimu berani berbohong". Ustad Reza berbicara


"Kalian berdua pinter banget, beruntung anak saya punya teman seperti kalian". Bunda memuji 2 cebong, yang membuat mereka semakin besar kepala.


Pinter apaan, coba aja bunda kenal sama mereka lebih dari 1 hari. Pasti langsung terkena darah tinggi karena keblangsakan mereka. Gw mengerutu dalam hati pinter banget 2 cebong cari perhatian.


"Ya udah deh bunda mau tanya apa sama Bimo?". Gw bicara pasrah karena kagak ada yang dukung gw disini.


Satu-satunya penyelamat gw malah dengan nyaman tidur di kabin depan.


"Vanesha sama Putri siapa diantara mereka yang jadi kekasih kamu?!".


Pesawat yang gw naiki seakan-akan bergoyang setelah bunda mengutarakan pertanyaannya.


Gw merasa de ja vu dengan situasi ini, ini seperti sidang yang bunda lakukan tempo hari saat gw di butil dia sama Sasa.


"Bunda jangan berfikir yang aneh-aneh ya? mereka itu teman Bimo dan belum menjadi kekasih". Gw menjawab jujur.


Bunda menyipitkan matanya seakan-akan mencari kejujuran lewat ekpresi wajah gw.


"Reza Udin, apa anak tante bicara jujur?". Bunda beralih bertanya kepada dua sekutu barunya untuk menyerang gw.


"Jujur tante, mereka berdua teman dekat Bimo tapi menurut saya tinggal menunggu waktu saja untuk dua-dua nya menjadi calon menantu tante". Udin memberikan pendapatnya.


"Iya tante, diriku rasa sekarang ini ada 4 kandidat yang bisa menjadi kekasih ananda Bimo".


"Apa 4?!". Bunda tampak terkejut.


"Nyet lu kagak usah ember! bohong itu bunda Reza". Gw segera mengklarifikasi.


"Kamu yang bohong sama Bunda, cepat bilang siapa 2 wanita yang lainnya?".


Gw liat Udin dan Reza tersenyum lebar, emang temen bangs@t! pada turah banget itu lambe.


"Sayang kok melamun cepat bilang, Bunda cuma ingin tau saja kok dan enggak akan marah". Bunda kembali ke mode ramah dan penyanyangnya.


"Bukan 2 lagi bunda tapi 4 lagi". Gw jujur aja sekalian udah basah ini, nyebur aja sekalian.


"Apaa?!". Bukan bunda yang terkejut tapi 2 cebong yang teriak dan berdiri dari duduknya menatap gw.


Bunda malah tersenyum dan tidak terkejut lagi.


"Cepat bilang siapa mereka, bunda penasaran?".

__ADS_1


__ADS_2