
Gw berdiri di depan gerbang kost menunggu pak Rohmat datang dengan tangan kanan memegang rokok yang telah gw sulut dan tangan kiri yang mengandeng Amora mesra.
Setelah Acara makan malam dan berpelukan di kamar lantai 2 tadi Amora memaksa ikut keluar dan mau temani gw nunggu grab pak Rohmat datang, tentu saja gw kagak bisa nolak tapi sebelum ikut keluar gw suruh Amora untuk ganti pakaian dulu.
Kagak akan gw biarkan cewe gw keluar memakai kostum haram kek gitu, sekuat apapun iman seseorang pasti akan ngelirik dan memandang jika ada cewe cakep setengah t.e.l.a.n.j.a.n.g di hadapannya.
"Sayang dingin". Amora disebelah kiri gw berucap lembut sambil memeluk lengan gw erat, kepala dia bersandar di pundak gw seperti anak kucing mencari kehangatan.
"Siapa suruh ikut keluar, namanya udara malam ya dingin". Jawab gw santai sambil menghembuskan asap rokok dari mulut.
"Jawaban kamu lebih dingin dari udara malam ini sayang, disini kan aku temani kamu biar gak kesepian nunggu grab harusnya kamu bersyukur dong punya cewe yang begitu perhatian seperti mbak Amora ini". Amora berucap manja dan semakin mempererat meluk lengan gw.
"Perhatian kamu berlebihan mbak Amora, jangan sampai kamu lebih merhatikan aku daripada dirimu sendiri, aku enggak mau kamu terluka".
"Terluka pun jika itu untuk lindungi dan mempertahankan kamu aku siap kok, jika ada 2 peluru yang mengarah ke kamu aku siap berdiri di depan kamu". Amora tampak serius dan gw mulai merinding mendengar itu.
"Ngaco kamu! Ngomong apaan sih? gak suka aku dengarnya". Gw mencoba melepaskan diri tapi kagak bisa dan Amora masih memeluk lengan kiri gw.
"Iya sayang maaf aku enggak akan bicara seperti itu lagi, tadi itu kan wujud dari keseriusan aku karena aku udah terlanjur sayang dan cinta banget sama kamu".
Ungkapan perasaan Amora yang tiba-tiba buat gw semakin aneh dan merinding, bingung gw mau jawab apaan. Sangat jelas terlihat bahwa gadis bernama Amora ini sangat tergila-gila dengan Abimana Pramono yang sangat mempesona ini.
Derungan suara mobil dan cahaya sorot lampu gw lihat dari kejauhan dan semakin mendekat.
"Itu seperti mobil grab pak Rohmat deh". Gw segera mengalihkan pembicaraan dan merubah suasana.
"Cepet banget sih datangnya sayang, aku kan masih pengen peluk kamu seperti ini". Amora tampak kesal dan melepas pelukannya di lengan gw berbarengan dengan mobil yang berhenti tepat di depan kami.
"Maaf nak Bimo baru sampai bapak, macet tadi jalannya enggak telat kan bapak?". Pak Romat segera membuka kaca sebelah kemudi dan berucap memandang gw dan Amora.
"Enggak kok pak santai aja" Jawab gw dengan senyum sambil membuang puntung rokok ke tanah dan menginjaknya.
"Selamat malam neng Amora". Pak Rohmat menyapa Amora dengan senyumnya.
"Iya pak selamat malam". Amora menjawab sopan dan halus.
"Mbak Amora sayang, abang Bimo jalan dulu ya? Kamu cepetan masuk dan istirahat besok pagi aku bakalan temui kamu lagi". Pelan gw membujuk Amora dengan lembut.
"Iya kamu masuk ke mobil dulu nanti baru aku masuk ke kost, aku mau lihat kamu pergi dulu".
Gw usap rambut Amora pelan dan gw mendekatkan diri untuk cium kening dia lembut, Amora memejamkan mata menikmati kecupan sayang dari bibir gw di keningnya.
"I love U mbak Amora". Gw berbisik pelan di telinganya dan segera berjalan membuka pintu mobil belakang dan masuk, gw buka kaca jendela dan melihat muka Amora yang memerah dan berdiri kek patung dia.
"Kalau mau bengong dan lonjat-lonjat bahagia di dalam kamar aja mbak Amora, cepat masuk di luar dingin".
Amora tampak salting dan buru-buru tersadar dan dengan cepat masuk ke dalam kost.
Gw menghela nafas panjang dan berat saat melihat punggung Amora menghilang, doakan abang ya mbak Amora semoga kagak khilaf dan kehilangan keperjakaan malam ini. Gw berucap dalam diam.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Melunjur sekarang kita nak Bimo?". Pak Rohmat berucap dari depan dan kesadaran gw mulai kembali.
"Gas pak!". Jawab gw bersemagat.
"Siap!". Pak Rohmat tidak kalah bersemangatnya.
Mobil Avanza hitam melaju dengan kesepatan sedang membelah malam di jalanan kota Jogja.
Hingar bingar lampu jalan dan kegiatan malam warga Jogja bisa gw lihat dengan jelas dari dalam mobil.
Walau Jogja tidak semegah Jakarta dengan segala macam hiburannya, Disini tetap punya ciri khasnya sendiri.
Kesantunan penunduknya dan adat istiadat jawa yang sangat jelas masih terjaga dan di lestarikan.
Jogja istimewa, istimewa orangnya dan istimewa negeri nya.. Sepenggal lirik lagu yang sering gw dengar setelah datang kesini, awalnya gw kira yang ciptakan lagu itu adalah orang yang terlalu sombong tapi setelah melihat dan mengalami sendiri hidup di kota ini memang benar Jogja ini sangat istimewa sekali.
__ADS_1
"Nak Bimo ngomong-ngomong kita ini mau meluncur kemana? Kok bapak lupa nanyain tujuannya?". Pak Rohmat bertanya dari depan yang buat gw tersenyum seketika.
"Hehehe, iya ya pak saya belum ngomong ya tadi mau minta dianterin kemana". Sejak berpisah dengan Amora di depan kost tadi berasa jadi bego gw.
"Bapak juga lupa nanya dari tadi, sama-sama enggak konsen kita". Pak Rohmat tampak tersenyum di depan sana.
"Melunjur aja ke hotel JambuWuluk pak". Gw segera berucap memberi arah dan tujuan.
"Ok siap tanpa Gps pun bapak tau lokasi hotel bintang 5 itu". Pak Rohmat menambah kecepatan laju mobil.
"Bapak enggak penasaran kenapa saya minta diantar kesana?". Gw melihat pak Rohmat yang mengemudi dengan tenang.
"Bapak enggak mau lancang nak nanti enggak enak kalau tanya macam-macam, nak Bimo kan udah banyak bantu bapak.. Saya percaya nak Bimo orang yang baik dan punya fikiran jauh kedepan".
"Seperti iklan motor ya pak jauh di depan". Gw menanggapi pujian pak Rohmat dengan bercandaan.
"Nak Bimo bisa aja, oya nak Bimo kan udah beli mobil kenapa enggak keluar dan nyetir sendiri?".
"Mobil apa pak? Mana ada saya beli mobil". Jawab gw cepat.
"Lagian saya enggak bisa nyetir pak, mana mungkin beli mobil".
"Serius nak Bimo enggak bisa nyetir?", pak Rohmat tampak tidak percaya.
"Serius pak mana mungkin saya bohong emang saya tidak bisa nyetir".
"Kalau gitu mobil mewah warna putih di parkiran kost nak Bimo tadi punya siapa? bapak kira milik nak Bimo, bapak melihat sekilas tadi".
"Oh itu mobil Amora pak, baru beli dia hari ini".
"Oh milik neng Amora". Pak Rohmat mengangguk mengerti dan kembali fokus mengendari mobil.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul 18:50 mobil mulai masuk ke wilayah hotel JambuWuluk dan berhenti di parkiran yang begitu luas.
"Iya pak berapa ongkos di aplikasinya?". Gw bertanya sambil ngeluarin dompet.
"75 ribu nak". Pak Rohmat menjawab canggung.
Gw tersenyum dan membuka dopet mengambil 100 ribu dan memberikannya ke pak Rohmat".
"Oh iya nak, bentar ya bapak ambilin kembaliannya dulu". Pak Rohmat merogok saku baju batiknya dan ngeluarin uang.
"Enggak usah pak, seperti sama siapa aja pak Rohmat ini. Saya keluar dulu pak Rohmat hati-hati kalau kerja malam seperti ini". Gw membuka pintu dan melangkah keluar.
"Terima kasih nak Bimo, kalau butuh bapak langsung hubungi saja.. Mobil ini akan selalu siap mengantar nak Bimo kemana saja". Pak Rohmat tersenyum ramah.
"Iya pak pasti itu, nanti seterusnya saya akan ngerepotin pak Rohmat terus.. Jangan kapok ya?".
"Mana mungkin kapok, malah terhormat saya punya langganan seperti nak Bimo ini".
"Nak Bimo silahkan masuk bapak enggak mau ganggu terlalu lama, saya jalan dulu".
"Iya pak Rohmat hati-hati". Senyum tipis tercetak di bibir gw mengiringi menjauhnya mobil pak Rohmat dan keluar dari kawasan hotel.
Gw masih berdiri di tempat menguatkan hati dan fikiran melihat bangunan hotel megah di depan gw dan dalam hati gw berdoa semoga malam ini kagak terjadi hal aneh apapun.
Pelan dengan percaya diri gw melangkahkan kaki menuju pintu masuk hotel yang tidak terlalu jauh.
Gw bisa melihat banyak orang yang keluar masuk dengan pakaian formal dan mewah, sudah bisa gw tebak yang menginap di hotel ini pasti orang-orang kaya dan orang-orang penting semua.
Kagak ada orang bodoh yang mau nginep disini dengan menghabiskan beberapa juta semalam kecuali orang-orang yang kelebihan duit dan orang-orang yang mencari privasi.
Kagak ada ceritanya dan beritanya hotel bintang 5 digrebek ataupun di sweping sama aparat, sudah rahasia umum juga setiap pengusaha pasti punya bakingan orang kuat di belakangnya.
"Selamat datang di hotel kami, selamat beristirahat". Sapaan lembut pria muda di pintu mengiringi langkah kaki gw.
__ADS_1
Senyum cerah terpancar dari wajahnya dan membuka pintu saat gw akan masuk.
Sedikit iba gw liatnya, entah sudah berapa kali dia berucap kek gitu hari ini.. seperti robot selamat datang, setiap ada orang yang masuk hotel pasti akan dia sambut dengan kalimat yang sama dengan senyum yang sama pula, mungkin di punggung dia ada baterai ABCnya.
Gw berdiri kek orang bego di tengah luas dan megahnya lobi hotel JambuWuluk, mungkin jika dibuat ngerumpi ibu-ibu PKK bisa muat 500 orang ini lobi.
Gw clingak-clinguk melihat ke kiri dan kenanan di tengah-tengah tatapan setiap orang yang melihat.
Mungkin dimata mereka gw adalah orang kampung yang sedang terkagum-kagum dengan megahnya bangunan ini.
Pandangan gw berhenti dan tertuju di sudut kiri lobi disana banyak sofa dan kursi yang berjejer dengan rapi dan disana pula gw melihat satu orang anak manusia duduk dengan gagahnya dengan kaki disilangkan seperti tuan muda yang sedang menyombongkan dirinya.
Gw geleng-geleng kepala meliat anak Madura yang terlihat sangat jumawa duduk disana, ya anak manusia itu adalah anak cebong yang baru aja tadi pagi berevolusi menjadi anak uler.
Anak rantau dari Madura tuan muda juragan sate yang bernama Reza Rahardian, sungguh nama dan tampang kagak singkron sama sekali. Entah dapat keberanian dari mana bokap dan nyokapnya kasih nama itu mungkin terlalu percaya diri bahwa anaknya akan tumbuh dengan tampan dan mempesona tapi mungkin saja menyesal setelah ngelihat hasil pertumbuhan anaknya setelah dewasa ini karena tidak sesuai ekpetasi.
Gw melangkah dan menghampiri Reza yang duduk sendirian, keknya belum pada datang itu Udin dan Rio.
"Ehemm, selamat malam manusia s.a.n.g.e an". Gw berucap saat jarak diantara gw dan Reza tinggal beberapa langkah.
Reza tampak terkejut mendengar suara gw dan langsung menengok ke samping, senyum lebar dan menjijikan dia tunjukan saat kedua mata bulatnya ngelihat gw.
Reza langsung berdiri tapi senyum lebar di wajah tembemnya itu kagak ilang-ilang dari tadi.
"Selamat datang saudaraku, bagaimana perjalanan kamu kesini? Apa menyenangkan". Reza dengan otak dia yang konslet berucap dan langsung memeluk gw tiba-tiba, belum hilang rasa terkejut gw anak uler ini malah nepuk-nepuk punggung gw dengan pelan.
Gw melihat kesamping dan di tidak jauh ada meja resepsionis dengan 3 betina muda yang berjejer melihat gw dan Reza berpelukan dengan senyum kecil di sudut bibir mereka bertiga.
Mungkin ada 2 kemungkina di dalam otak 3 wanita itu, yang pertama adalah gw dan Reza saudara yang baru bertemu setelah berpisah lama dan kemungkinan kedua adalah mereka mengira kita pasangan H.o.m.o, dari pandangan yang mereka tunjukan kemungkinan kedua adalah hal yang pasti mereka fikirkan.
Gw jambak rambut Reza seketika dan dorong dia kebelakang.
"Aaa.. Sakit cak.. Sakit". Reza meronta dengan raut wajah meringis memegangi tangan gw yang masih menjambak rambut dia.
"Udah sadar belum lu nyet! Udah kagak kesurupan lagi kan lu?!".
"Iya cak iya, udah sadar diriku udah sadar.. Lepas sakit, ini sakit". Reza menjawab cepat dan menepuk-nepuk tangan gw di atas kepala dia.
Gw lepas dan langsung duduk di sofa dengan nyaman.
Reza langsung menggosok-gosol kepalanya dengan cepat. "Sungguh tega dirimu cak, hampir aja berdarah ini kulit kepala diriku". Reza ngedumel dan menatap gw sinis.
"Siapa suruh lu main peluk tiba-tiba, masih untung yang gw jambak rambut pala lu bukan rambut J.e.m.b.u.t lu". Jawab gw santai.
"Mana mungkin bisa, tadi sore sebelum kesini kan udah cukuran diriku". Reza tampak berucap dengan percaya diri.
"Jijik gw bego! Kenapa malah lu jelasin segala, cepet duduk malu dilihatan banyak orang". Gw tarik tangan Reza dan dia jatuh duduk di samping gw.
"Jangan main kasar dong cak dirimu, hobi banget aniaya diriku". Reza sedikit mengeser duduknya menjauh dari gw.
"Lu juga yang over acting udah kagak usah cemberut mulu, ngomong-ngomong 2 saudara lu mana si Udin dan Rio?".
"Belum datang mereka tadi gw chat masih dalam perjalanan, Udin naik taksi dan Rio naik gojek".
"Kalau para pecun belum pada datang juga?".
"Ya belum lah cak, kan dirimu liat sendiri diriku duduk disini sendirian".
"Gw kan nanya kenapa masih sewot aja sih lu!".
"Dirimu nanya enggak penting, udah tau jawabannya masih nanya".
"Oh seperti itu, Ok sekarang gw nanya hal yang penting ke elu". Gw berucap serius dan fokus ngeliat Reza.
"Hal penting apa?". Reza tampak penasaran.
"Gw cuma pengen tau aja, lu kesini mau rapat pemegang saham apa mau n.g.e.n.t.o.t ayam. Kenapa lu pakai jas dan dasi kek gini, dan juga itu sepatu pantofel yang lu pakai, nyolong dari mana itu? Lu mau wawancara kerja apa mau jadi sales ansuransi?".
__ADS_1