
Setelah sempat khawatir sejenak melihat gua, mbak Suci beralih menatap temannya sekaligus sahabat gua si kang tatto kampret.. ekspresi dari mbak Suci bisa gua liat sedikit prihatin saat ini.
"Jono aku udah dengar tentang keluarga Kamu, aku ikut prihatin dan jika kamu butuh bantuan jangan sungkan untuk berbicara.. Kita udah berteman sejak kecil dan sudah seperti saudara". Mbak Suci berucap halus menatap Jono, menawarkan bantuan.
Sepertinya mbak Suci juga tau masalah Jono, di kampung seperti ini memang tidak ada privasi sama sekali dan semua bisa menyebar dengan cepat.
Jono terdiam untuk sesaat dan dia langsung tersenyum kecil dan berbicara, "Makasih Ci atas perhatian kamu tapi semua sudah baik-baik saja kok dan besok mungkin udah terselesaikan masalah keluarga aku jadi kamu enggak perlu khawatir".
Ekspresi mbak Suci tampak berubah bingung saat ini, "Maaf Jon aku bukannya meremehkan kamu atau tidak percaya.. Sumpah aku tidak bermaksud seperti itu tapi 300 juta uang yang besar darimana kamu bisa mendapatkan uang begitu banyak dalam waktu 1 hari? kamu jangan berbohong dan biarkan aku membantu, walau tidak banyak tapi jika separuh dari itu aku ada".
Gua masih diam mendengar drama persahabatan yang tersaji di dekat gua, kagak mau meyela ataupun berkomentar.. Lagian dari tadi perasaan gua rada aneh seperti ada banyak orang yang sedang memikirkan gua.
Gua auto melamun dan terpikirkan 4 cewe yang mengisi sela-sela hati, nanti jika udah sampai rumah Jono dan keadaan tenang akan gua video call mereka satu persatu, gua udah memutuskan dalam hati.
"Bener Ci masalah aku udah terselesaikan kok dan besok udah aku lunasi semua itu hutang, memang uang 300 juta bagi orang seperti kita itu sangat besar dan perlu beberapa tahun bekerja untuk memilikinya tapi bagi pemuda yang lagi bengong melamun di sebelah kamu itu 300 juta cuma uang kecil buat beli permen lolipop". Jono menunjuk gua dengan mengangkat dagunya.
Sial! Gua mengumpat dalam hati tapi diluar bibir gua melengkung tersenyum bisa juga itu bocah muji gua di depan betina, mau gak mau gua langsung bersikap keren dong saat ini... Kaki langsung gua silangkan dan kedua tangan gua berada di belakang leher dan muka mendongak ke atas jumawa seperti bajingan penjahat di film-film yang lagi pamer.
"Bimo maksud kamu Jon?". bukannya terkejut mendengar perkataan Jono, janda 1 anak itu malah melihat gua aneh dan tidak percaya. "Jono kalau kamu berbohong yang masuk akal dikit dong, udah terlalu putus asa ya kamu? Bimo kan mahasiswi miskin biasa".
"Glodak!!". Suara gua yang hampir aja jatuh dari kursi, sikap keren gua langsung pudar seketika, gua auto menatap mbak Suci tajam, enggak percaya banget ini betina.. padahal kan di perjalanan bareng dari Solo tadi udah berkali-kali gua bilang jika gua ini kaya.
"Bim enggak usah menatap mbak seperti itu, mbak lagi bicara serius ini sama Jono.. Lebih baik kamu diam mendengarkan sambil minum itu soda gembira". Mbak Suci langsung berbicara dengan perintahnya yang serius tapi tetap saat bicara sama gua bibirnya selalu tersenyum kecil.
Gua cuma bisa diam dan mengambil gelas di atas meja dan meminum sambil memainkan sedotan dengan bibir.
"Hahahaha, muke loe kagak enak banget Bim dipandangnya.. Kenapa? baru ini ya loe gak bisa membalas karena diremehkan wanita". Jono ngakak melihat gua yang lagi sebal.
"Jono? Kenapa malah godain Bimo sih kamu? Mana rekening kamu nanti biar aku transfer 150 juta dari tabungan aku, setidaknya bisa sedikit meringankan beban kamu". Mbak Suci masih tampak kekeh ingin membantu teman sepermainan nya.
"Jon kasih gua juga rekening tabungan loe! Nanti gua transfers 1 milyar, 300 buat bayar utang dan sisa 700 buat bisa loe pakai buat beli kuaci". Gua berucap dengan cemberut masih dengan gigit sedotan.
"Bimo! please deh jangan bercanda dulu kamu, mbak lagi serius ini". Sambil mencubit lengan gua gemas mbak Suci menegur gua.
"Aucchhh! sakit mbak? Main cubit aja sih, aku bales cubit mendesah nanti kamu". lidah gua mulai kumat lagi memandang 2 gunung kembar mbak Suci yang begitu dekat terbungkus kaos.
"Apa kamu bilang? Coba ulangi lagi". Mbak Suci melebarkan mata nya menatap gua dan bersiap untuk mencubit lagi.
__ADS_1
"Udah Stop!". Kalian berdua ini ya, baru kenal 1 hari udah pada main cubit-cubitan.. Gimana kalau udah kenal 1 bulan".
"Ya main dokter-dokteran Jon". Jawab gua cepat, sambil mengedipkan satu mata ke mbak Suci untuk menggodanya.
"Adik gila! mulut kok enggak ada remnya, kamu jangan salah paham Jon". Mbak Suci mencoba mejelaskan.
"Rem di mulutku udah aku buang saban hari mbak sama itu seperti rem di mulut si Jono".
"Udah deh Bim kamu diam dulu".
"Tenang aja Ci cuma bercanda kok aku, Bimo emang seperti itu orangnya dan dia sudah cerita tentang hubungan saudara bertemu jalan kalian". Jono berucap datar.
"Dan juga walau Bimo tampak seperti mahasiswa kere yang amburadul seperti itu, sebenarnya dia". Jono berhenti bicara dan tampak malas.
"Sebenarnya apa? Sebenarnya di anak orang kaya no 1 dia Asia? Atau sebenarnya dia lahir di Inggris dengan sendok berlian di mulut?". Mbak Suci menjawab sambil bibir menahan tawa.
Jono yang mendengar itu langsung melongo tidak percaya, "Nah itu kamu tau Ci? Kenapa gak percaya dari tadi sih? Bimo memang sengaja datang kesini buat bantuin aku, untung kamu yang yang bicara sebenarnya sih aku males puji-puji orang narsis itu".
Suasana berubah hening, mbak Suci yang dari tadi mengulum senyum sekarang ekspresinya berubah drastis menatap Jono dengan serius yang seakan-akan sedang mencari kebohongan ataupun omong kosong candaan.
"Sebenarnya sih aku ingin bercanda Ci tapi sialnya memang begitu faktanya, cowo yang lagi gigit sedotan seperti orang idiot di sebelah kamu itu memang bukan pemuda sembarangan.. Jika Indonesia berbentuk kerajaan mungkin dia adalah pangeran pewaris tahta yang tersembunyi". Jono mengakhiri kata-katanya dengan kalimat yang buat gua sangat bahagia.
Sedotan langsung gua tiup dan terbang ke depan, "Gua kagak tau Jon loe pinter banget muji.. Sipp nanti gua beliin 1 krat anggur merah kesukaan loe, hahaha". Gua tertawa lebar.
Belum kelar gua ketawa rasa sakit di gigit semut terasa lagi di lengan gua dan itu karena ulah janda sebelah gua yang kembali mencubit manja ini lengan. "Apa yang satu krat! kamu mau racuni teman aku?". Mbak Suci tampak sudah tidak terkejut lagi.
"Bercanda mbak, bercanda aku". Gua segera mengklarifikasi sebelum lengan gua gosong.
"Aku kira saat kamu ngomong kaya di mobil cuma bercanda ternyata beneran". Mbak Suci berucap sambil melepaskan cubitannya.
"Hehe.. Gimana mbak terkejut kan kamu? Berasa dapat durian runtuh ya punya adik seperti aku ini?". Gua bertanya dan tersenyum menggoda.
"Iya terkejut tapi cuma sebentar aja itu, semua orang kan punya takdir masing-masing dan kebetulan kamu dilahirkan dari keluarga mampu". Mbak Suci berkata tenang tapi dia berpaling tidak berani menatap wajah gua.
"Udah mbak segitu doang tanggapan kamu? enggak mau minta maaf ini karena mengira aku sebagai pembohong saat di mobil tadi?".
"Emang kamu mau mbak menanggapi seperti apa? Terkejut sambil membuka mulut gitu? hehehe.. Kamu terlalu banyak nonton drama Bimo.. Lagian mbak udah tua dan udah sering mengalami kejutan yang lebih dari ini". Mbak Suci tampak memaksakan senyum.
__ADS_1
Benar juga mbak Suci kan Janda pasti saat bercerai dengan suaminya merupakan kejutan besar dalam hidupnya dan juga pasti selama ini pasti hidupnya kagak mudah sebagai single parent.
"Tua apa sih mbak? Lha umur kamu aja sama itu sama Jono, lagian.. Wiiiuu-wiittt". Gua bersiul pelan, "Masih terlihat kencang gitu pasti yang lain juga masih rapet banget".
Gua dengan baik menghibur mbak Suci tapi entah kenapa mbak Suci kagak tersenyum atau berterima kasih tapi malah melotot ke gua dengan wajahnya yang bersemu merah, begitu juga dengan si kampret yang dari tadi mengamati dan mendengarkan, itu kang tatto malah melongo melihat gua.
Anjing! Apa kata-kata menghibur gua terlalu menyentuh ya? Sepertinya berbakat ini gua buat menghibur orang, terutama spesialis penghibur janda.
Kami bertiga sempat terdiam tapi hanya untuk sesaat sebelum ada suara laki-laki yang berteriak keras.
"JONO!". Suara terdengar dari arah jalan dan auto kami bertiga mengalihkan perhatian ke sumber suara.
Seorang pemuda kekar berkulit sawo matang dengan rambut gondrong di ikat dengan sangat tergesa-gesa turun dari sepeda yang dia kendarai dan langsung menghampiri kami.
"Sastro?! Ada apa?". Jono segera berdiri dari duduknya.
Pemuda yang dipanggil Sastro sama Jono itu Ter engah-engah seperti orang yang sedang terburu-buru.. "Jon udah pulang? Aku hampir aja susulin kamu ke ngawen".
"Susulin aku? Ada apa emangnya?".
"Cepat pulang Jon, Adik Kamu! Adik Kamu". Sastro berbicara panik sambil menunjuk ke arah jalanan.
Mata Jono langsung melebar dan untuk sesaat rasa panik bisa gua liat dari ekspresi wajahnya, tanpa berbicara apapun Jono langsung berlari dengan sangat cepat, meninggalkan gua yang masih belum ngeh dengan apa yang terjadi.
"Suci aku susulin Jono dulu". Tanpa menunggu jawaban dari mbak Suci, Sastro langsung ikut pergi membawa sepedanya ke arah lari si Jono.
"Jontor! Tunggu gua kampret!! mbak aku pergi dulu". Gua langsung tancap gas berlari tapi baru 10 meter gua teringat akan sesuatu dan berbalik badan.
"Ada apa Bimo? Cepat bantu Jono jika ada sesuatu dengan adiknya.. nanti aku kesana setelah menutup menutup toko dan pintu, orang tua dan anak mbak lagi jalan-jalan ke kecamatan soalnya".
"Enggak apa-apa mbak, cuma aku lupa ingin kasih tau kamu". Gua berjalan lagi menghampiri mbak Suci.
"Kasih tau apa Bimo? lebih penting dari masalah adik Jono ya?".
Gua enggak ngejawab tapi langsung meraih gelas soda gembira di atas meja, masih ada separuh dan langsung gua tenggak abis. "Mbak kamu tau gak kenapa aku suka sama es soda gembira? itu karena soda gembira ada susunya dan aku suka sekali sama susu".
Gua mengedipkan satu mata ke mbak Suci dan langsung lari kencang mengikuti jejak si kampret.
__ADS_1