
Enggak gw kira bulan feb abis di tgl 28๐ญ sekedar flashback di part terakhir jagoan kita lagi nyebrang jalan dan akhirnya sampai juga dan kisah ngawur ini akhirnya berlanjut tanpa arah dan tujuan, enjoy reading guys i HATE u all๐
***
"Bim memang mbak anak kecil apa? Nyebrang jalan pakai digandeng". Mbak Suci protes melepaskan tangannya yang gw gandeng saat kita telah sampai di depan Rumah makan.
"Kan bahaya mbak, lagian kan sekarang marak penculikan.. Kalau mbak Suci nyebrang sendiri terus tiba-tiba ditarik orang masuk dalam mobil box gimana? Kan aku lagi lapar enggak ada tenaga buat ngejar". Ada saja jawaban yang keluaran dari mulut gw.
"Iya kan itu penculikan anak Bimooo, mana ada penculikan orang dewasa. Qlasan aja kamu ini".
"Sama saja mbak, anak-anak sama wanita itu harus wajib dilindungi. Udah deh cuma pegang tangan ini, enggak bakalan bunting juga kan? jadi makan gak ini? Protes mulu.. Harusnya mbak Suci bangga tau aku gandeng". Gw terus berdalih tanpa rasa malu.
"Bangga kenapa? Karena kamu lahir di London ya? Hehehe". Mbak Suci tampak ngece gw lagi.
"Gak mood tertawa aku mbak, masuk dulu ya aku? kalau mbak Suci mau tunggu dan jadi kang parkir di sini ya silahkan". Gw berucap acuh tak acuh dan melangkah cepat menuju pintu masuk Rumah Makan.
"Bimoo tunggu!". Teriak mbak Suci dari belakang.
Gw melenggang masuk ke Rumah makan di ikuti sama mbak Suci, entah kita ditakdirkan bertemu atau apa yang pasti gw dan mbak Suci sudah lumayan akrab satu sama lain walau belum tau sepenuhnya tentang masing-masing.
Rumah makan yang gw masuki tampak ramai akan pelanggan tapi karena ruangannya begitu luas masih banyak tempat duduk tersisa dan gw milih tempat di dekat jendela agar bisa kena angin dikit-dikit.
"Langkah kamu lebar amat sih Bim, sampai harus lari mbak ngejarnya". Mbak Suci protes dan menarik kursi, duduk di depan gw dengan meja kotak ditengah sebagai penghalang.
"Kenapa emangnya mbak kok di kejar, takut kehilangan ya?". Gw mnjawab datar sambil mengambil tissue di atas meja, kek pembantu gw saat ini, ngelap meja agar lebih bersih buat gw makan nanti.. Kendala makan di tempat tidak asal ya gini kurang higenis.
"Takut kamu nyasar Bim, kan nanti mbak sendiri yang repot". Mbak Suci berkelah, dia tampak ngeluarin hp nya dan dia taruh di meja.
"Selamat pagi mbak, mas. Ini menunya silahkan dilihat". Belum sempat gw berbicara, muncul wanita setengah baya dari belakang gw, dengan ramah dia bertutur dan menaruh menu di atas meja yang langsung di ambil sama mbak Suci.
"Bimo kamu mau makan apa?". Mbak Suci bertanya sambil membalik-balik menu.
"Seperti tadi yang aku bilang mbak, rawon sama sate sapi".
__ADS_1
"Kalau minumnya? Disini banyak banget ini pilihannya".
"Aku udah bawa minum sendiri mbak di dalam tas ini, enggak usah pesen lagi". Gw mengangkat tas yang gw taruh disamping, menunjukannya ke mbak Suci.
"Bawa minum berapa kamu Bim? Kalau banyak mbak minta sama kamu dan pesan makanan aja". Mbak Suci berucap dan melihat tas gw yang masih tertutup.
"Lumayan sih mbak, di dalam tas ada beberapa kaleng dan 2 botol besar". Jawab gw jujur.
"Ok kalau gitu, mbak kami pesan 1 porsi rawon, 1 porsi sate sapi.. Kalau aku pesan ikan Nila bakar 1 porsi nasinya sedikit saja dan banyakin sambal dan lalapannya". Mbak Suci memesan dan mengembalikan menu ke pelayan yang sabar berdiri di samping meja.
"Baik mbak, semua pesanannya sudah saya catat.. Mohon tunggu sebentar, saya permisi dulu". Pelayan wanita itu melangkah pergi dengan cepat.
Suasana damai sejenak saat kami menunggu pesanan datang, mbak Suci tampak memeriksa Hp dan gw cuma mendengarkan live musik, bukan dari radio atau TV tapi dari obrolan bacot pengunjung Rumah makan yang kebanyakan gunain bahasa jawa yang gw kagak ngarti artinya apa. Soal bahasa jawa gw cuma familiar dengan kata t.e.m.p.e.k dan k.o.n.t.o.l doang yang tau artinya dan juga k.e.n.t.h.u karena pernah dijelasin sama Reza dan Udin.
"Bim, mana minumannya cepat keluarin". Mbak Suci meletakkan Hpnya dan berbicara saat gw merem menikmati hembusan angin yang masuk dari jendela.
"Mau yang kalengan apa botol mbak? Kaleng rasanya hambar dan sedikit pahit kalau yang botolan manis dan rasa anggur". Gw bertanya sambil membuka tas.
"Aku kan tadi bilang bawa minuman mbak, gak bilang bawa air putih.. Ini pilih sendiri aja mau yang mana?". Gw mengambil 1 kaleng bir dan 1 botol anggur merah di atas meja.
"Astafirlah! Apa itu Bimo!?". Mbak Suci langsung terkejut plus kedua netranya membesar melotot melihat minuman di atas meja.
"Yang kalengan ini minuman energi dengan merk lokal mbak, tau kan dari namanya.. BINTANG. Kalau yang botolan ini juga made in Indo produk dari Orang Tua ini namanya anggur merah". Gw nerangin satu persatu, soal sejarah miras gw paling fasih kalau jelasinnya.. Walau kagak di ajarin di sekolah gw bisa ngerti dan belajar secara otodidak seiring dengan banyaknya air setan berbagai merk yang pernah bersilahturahmi dengan usus dan lambung gw.
"Iya mbak tau tapi itu kan Miras Bimo, Miras..! Kamu mau ajak mbak minum itu? Yang benar saja kamu!" Suara mbak Suci masih seperti orang yang tidak percaya dengan mata nya yang masih menatap tajam gw.
"Clangg!". Gw buka kaleng bir.
"Cessss!". Busa putih langsung naik ke atas dan segera gw cucup dan minum beberapa teguk, untuk sementara gw abaikan teguran dari kalimat mbak Suci.
"Aaaahhh Seger.. Ini memang miras mbak tapi kandungan alkoholnya enggak banyak kok, dan juga ralat ya kan mbak Suci sendiri yang minta dan aku enggak ngajak itu". Jawab gw datar dengan entengnya.
"Ya ampun Bimo.. Kamu malah santai banget minum itu". Mbak Suci menggelengkan kepalanya tidak percaya, "Harusnya mbak tau dari kamu yang berani ludahin bus tadi pasti udah aneh-aneh barang yang kamu bawa, terbukti kan sekarang. Kalau dari awal kamu bilang itu miras pasti aku pesan minuman aja tadi". Mbak Suci tampak kesal dan mengerutu melihat gw.
__ADS_1
"Tenang saja mbak gak usah terlalu berlebihan gitu, ini adalah minuman keseharian adikmu ini. Cuma 1 bir ma apa, 1 drum aja kagak bakalan mabuk aku paling cuma bolak-balik kamar kecil aja dan juga aku masih bisa berfikir rasional setelah minum, kagak yang ngelakuin aneh-aneh". Gw menyakinkan mbak Suci.
"Bisa-bisanya lho kamu bangga akan hal itu Bim, kamu Muslim kan? Walau kamu bisa menjaga kesadaran tapi tetap saja Itu minuman haram di agama kita, kamu tau itu kan?". Mbak Suci memandang gw serius dan menegaskan ucapannya.
"Saya Muslim mbak dan saya juga tau ini dosa tapi mau gimana lagi? Memang aku begini adanya, dosa memang selalu mengiringi setiap langkah.. Tapi walaupun aku berdosa enggak merugikan orang lain juga, sesimpel itu sih fikirian aku". Gw bicara santai memegang kaleng bir dan menerawang jauh keluar melalui jendela, berasa keren gw kalau lagi pegang kaleng bir kek gini.
"Ya walau kamu enggak merugikan orang lain kan tetap saja itu merugikan diri kamu sendiri Bimo, daripada uang kamu buat beli seperti itu hanya untuk menambah dosa mending sumbangkan untuk orang yang membutuhkan dan dapat pahala, bukannya itu lebih baik ya?". Halus mbak Suci berbicara, mungkin dia mau menasehati gw dengan bicara baik-baik.
"Aku enggak mau sombong mbak takut Ria entar, biarlah malaikat yang nyatet amal perbuatan dan pahala yang aku peroleh dari berbuat baik.. tidak perlu gembor-gembor kasih fakir miskin dengan bawa kamera biar bisa dilihat semua orang, itu bukan gayaku". Gw mencecap dan meneguk bir kembali setelah berucap panjang penuh percaya diri.
Mbak Suci tampak terdiam untuk sesaat dan memandang gw lekat, lentik bulu matanya bergerak berkedip berirama, gw kagak tau apa yang dia fikirkan tentang gw saat ini.
"Maksudnya kebaikan dan amal yang kamu lakukan tidak kamu tunjukan gitu? Dan malah membiarkan orang-orang melihat dosa dan sisi buruk kamu saja?". Mbak Suci langsung menebak.
"Tul betul itu!". Jawab gw singkat ketularan gaya bicara anak rantau Madura.
"Bener-benar aneh kamu ini, kenapa malah kebalik gitu? Harusnya kan dosa yang disembunyikan dan amal baik yang ditampakkan, udah keblinger sepertinya kamu Bim. Mbak gak bisa nebak itu jalan fikiran kamu seperti apa".
"Jalan fikiran aku sebenarnya simpel lho mbak jika menyangkut pembahasan kita ini, contoh mudahnya sih misalkan jika dosa dan amal bisa dihitung perhari.. 100 dosa aku untuk hari ini akan aku imbangi dengan 101 amal kebaikan".
"Ngaco kamu! Mana ada dosa dan amal bisa dihitung sama manusia". Mbak Suci menyela cepat.
"Aku kan tadi bilang misalkan mbak, buat contoh agar mbak Suci ngerti".
"Jadi kamu berfikir sangat nyakin amal kamu lebih besar dan dosa yang kamu lakukan gitu?".
"Tidak berani nyakin mbak tapi jika itu berusaha aku berani, beramal tidak harus dengan uang atau memberi sesuatu ke fakir miskin kan? munggut kulit pisang di jalan aja itu sudah dikategorikan amal baik. Orang itu beda-beda mbak dan punya prinsip hidupnya masing-masing jadi slow aja". Gw tersenyum lebar dan mengoyangkan kaleng bir.
"Slow apanya yang slow! Cepat masukan itu botol anggur kamu, enggak mau liat aku kamu minum itu.. Setidaknya jangan minum di depan aku". Mbak Suci mendorong Botol ke arah gw.
"Ok jika mbak gak jadi minta aku masukin lagi, biar diminum sama teman aku aja entar.. udah nunggu juga di terminal ngawen jika enggak aku bawain oleh-oleh marah entar dia". Gw berucap dan mengambil botol, memasukan lagi ke dalam tas.
"Oleh-oleh kok miras sepertinya sama-sama gak bener itu teman kamu". Mbak Suci mencibir dan gw hanya bisa tersenyum mendengar itu.
__ADS_1