Preman Campus

Preman Campus
BIANCA DAN BIMO


__ADS_3

"Auu! Sakit Bie pelan-pelan dong sayang".


"Ini udah pelan Bimo sayang".


"Kamu gesekinnya kekecengan Bianca sayang, nanti kalau lecet malah tambah sakit".


"Ini udah menyamping dan pelan sayang, mau pelan gimana lagi sih?".


"Olesin minyaknya yang banyak kalau gitu biar licin dan peret juga jangan menyamping tapi maju mundur aja biar enakan".


"Plaaakk!!".


"Adooohhh! Sakit Bie.. itu punggung aku bukan triplek main tampol aja kamu".


"Kamu itu yang nakal dan rewel, mana ada kerokan maju mundur.. Kamu sengaja ya mancing-mancing aku". Bianca di belakang punggung gw bertanya.


"Sengaja mancing-mancing apa sih cantikku?". Gw tersenyum kecil, aman karena Bianca kagak ngeliat karena gw memunggungi dia.


"Ya mancing itu". kalimat Bianca terhenti.


"Itu apa? kalau ngomong yang jelas dong biar cowo kamu yang lugu ini ngerti".


"Itu tadi kenapa kamu lepas celana? Kan yang dikerokin punggung? Sengaja pasti kamu kan?".


"Mana mungkin gitu, kan aku enggak tau.. Kamu kan cuma bilang suruh lepas saja enggak ada kata baju, ya aku bingung dong".


"Kan harusnya kamu udah tau sayang, logikanya kerokan kan di punggung mana ada kerokan di bawah tubuh".


"Namanya orang enggak tau ya wajar dong salah, aku kan enggak pernah kerokan".


"Alasan aja kamu ini, emang paling pintar ngelesnya.. Mau dilanjut enggak? merah-merah ini 2 garis yang aku buat, benar-benar masuk angin kamu ini". Bianca membelai bekas kerokannya yang langsung buat gw begidik geli.


"Lanjut Bie tapi pelan-pelan ya kamu goyangin itu koin.. Coba pakai perasaan".


"Ini aku akan pakai perasaan yang paling dalam, awas kalau kamu teriak-teriak lagi". Bianca mengancam.


"Auuu!".


"Belum aku kerok sayang! Kenapa teriak dulu sih kamu?".


"Belum ya? Sorry-sorry terbawa suasana aku".


"ihhhh.. Gemesin banget sih kamu".


Gw mengerenyit menahan sakit saat Bianca kembali melakukan kegiatan ngerokin punggung gw, baru ini gw kerokan dan rasanya kulit punggung gw kek disileti.


Detik demi detik berlalu dan sudah 10 menit Bianca membelai punggung gw dengan koin.


"Bie udah belum lama banget? Kamu lagi kerokin punggung aku apa lagi ngelukis sih sebenarnya?".


"Baru separuh ini sayang, sabar dong.. Yang bagian bawah belum ini".


"Punggung aku kaku Bie duduk kek gini terus, pindah ke ranjang aja ya?".


"Ya udah ayok tadi disuruh diranjang enggak mau". Bianca berdiri.

__ADS_1


Tanpa menjawab gw juga beranjak dari sofa membawa baju gw dan berjalan ke atas ranjang.


"Ahhhh, gini kan nyaman". Gw tengkurep di ranjang Bianca.


"Geser ke tengah sedikit sayang, masak aku ngerokinnya sambil berdiri sih". Bianca mendorong kecil tubuh gw.


Gw bergerak sedikit ke tengah dan memberi ruang Bianca untuk duduk menyamping di sisi ranjang dan kegiatan kerok mengerok pun berlanjut


"Bie ranjang kamu empuk banget ya? Pasti bisa nyenyak kamu bobonya". gw membuka pembicaraan disaat Bianca masih fokus dengan koin dan punggung gw.


"Biasa saja sayang, mungkin ranjang kamu lebih mewah kan dari ini?". Sambil memainkan koinnya Bianca menjawab.


"Ranjang mana? Di kost apa dirumah?".


"Emang ada bedanya ya?"


"Beda dong kalau di kost itu bukan ranjang tapi batu ditumpuk-tumpuk jatah dari ibu kost".


"Hehehe.. Mana ada seperti itu". Dari suaranya tampak tidak percaya Bianca.


"Serius Bie, kerasnya minta ampun itu.. berasa tidur di atas batu aku".


"Salah kamu juga sih pilih kost seperti itu, dari lingkungannya aja udah terlihat enggak nyaman banget, kok bisa sih kamu pilih tinggal di tempat yang hampir roboh gitu?".


"Bisa aja Bie, cowo kamu kan ingin hidup sederhana dan cari pengalaman hidup, juga lumayan kok itu tempat tidak semengerikan yang kamu kira".


"Memang ya cuma kamu sayang, tuan muda yang paling aneh".


"Aneh tapi kamu sayang kan?".


"Oya sayang kamu enggak lupa sama pesanan aku kan?".


"Pesanan apa Bie?".


"Itu oleh-oleh dari Blora yang kamu janjikan kemarin".


"Ulat itu ya?".


"Ungker sayang sama belalang goreng makanan khas Blora".


"Iya ingat kok aku, nanti biar Jono aku suruh cari". Jawab gw sambil menguap karena terlalu nyaman rebahan.


"Udah selesai sayang, udah aku kerokin semua ini punggung kamu dan merah-merah semua".


"Udah kelar ya? Sip kalau gitu teng kiu".


"Tunggu sayang kamu jangan berbalik dulu!". Bianca mencegah gw saat mau bangkit.


"Apa lagi Bie? Masak aku tengkurep terus gini, katanya udah kelar?".


"Iya udah selesai tapi aku ingin foto punggung kamu untuk aku jadikan wallpaper, hehehe.. Tunggu bentar ya aku ambil HP dulu".


"Aneh-aneh aja kamu ini, ya udah cepat". Gw turuti aja apa mau cewe gw yang manja ini.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


Setelah selesai memotret punggung gw lebih dari 10 kali, akhirnya Bianca puas dan mengizinkan gw untuk duduk dan memakai baju.


Gw duduk di tepi ranjang dan Bianca duduk di sebelah gw.


"Gimana sayang, apa kamu akan berangkat ke blora sekarang?". Bianca menatap aneh ke gw dari samping.


"Iya Bie, udah setengah 12 siang ini.. Pasti malam ini aku sampai bloranya?". Gw bangkit berdiri.


"Ayo keluar dan antar aku". Gw melangkah dan langsung terhenti karena tiba-tiba Bianca peluk gw erat dari belakang.


Dua melon dia yang besar itu terasa banget nekan punggung gw.


"Bie kamu ngapain?". Gw auto terkejut.


"Tolong sayang biarkan seperti ini beberapa saat". Ucap Bianca lirih.


"Kamu kenapa Bie? Kok jadi melo gini? Tadi kan kita masih ketawa bareng". Gw berasa aneh dengan perubahan suasana yang tiba-tiba ini.


"Enggak apa-apa aku cuma ingin memeluk kamu sebentar, kamu akan ke Blora dan pasti nanti aku bakalan kangen banget sama kamu".


"Aku kan enggak lama sayang, kan bisa video call nanti kamu".


"Iya kan beda liat langsung sama liat di layar hp, kamu pasti entar enggak bakalan rindu sama aku kan?". Bianca mempererat memeluk gw dari belakang.


"Siapa bilang? Aku akan selalu rindu sama kamu pasti, kalau Jono enggak aku anggap saudara sendiri pasti akan disini aja aku dan meluk kamu terus.. Cowo mana yang enggak mau manja-manja an sama cewenya".


Gw berbalik badan dan langsung mendekap Bianca, kali ini gw yang menarik dia masuk ke dalam hangat pelukan.


Wajah Bianca bersandar di dada dan kedua tangannya melingkar di pinggang gw.


"Bie jangan nakal ya selama Bimo di Blora, kalau enggak ada kegiatan di rumah saja dan jangan kelayapan". Gw berucap lembut dan membelai rambut panjang Bianca.


"Iya sayang kamu juga jangan nakal disana, kalau udah selesai masalah Jono cepat kembali ke sini dan peluk aku lagi". Bianca mengosokan pipinya di dada gw sambil terpejam, dia terlihat sangat nyaman sekali.


"Iya Bie pasti itu, sekarang kita turun ya?". Gw mendorong pelan tubuh Bianca keluar dari pelukan.


Bianca menunduk meraih kedua tangan gw dan dia goyang-goyang pelan.


"Sayang kenapa lagi? Ada yang mau kamu bicarakan?".


Bianca menunduk dan diam, kek anak kecil ini cewe gw.. Manja banget.


"Bie liat aku Bie".


Bianca dengan wajah sendu memerah mendongak dan memandang gw.


Gw tersenyum kecil dan membelai wajah cantik Bianca.


Kepala gw pelan-pelan bergerak maju mendekat dan seakan sudah mengharapkan ini, Bianca langsung menutup kedua matanya.


Tidak lama bibir gw sudah melekat di bibir ranum Bianca, pelan-pelan tangan Bianca naik dan melingkar ke belakang leher gw.


Ciuman romantis kami semakin dalam dan dalam, tidak ada nafsu saat ini.. Gw dan Bianca hanya saling mencurahkan cinta dan kasih kami yang terdalam, saat ini dan detik ini.. Gw kagak peduli dengan hal lain.


Gw kagak peduli Jono yang karatan nunggu di terminal ngawen dan gw juga kagak peduli dengan 3 manusia bodoh yang mungkin sekarang sedang gelut.

__ADS_1


Di fikiran gw cuma ada Bianca dan mencoba membahagiakan dia dengan skill ciuman yang gw punya.


__ADS_2