Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Kopi Pahit


__ADS_3

Di sudut sebuah kamar bertirai putih seseorang tengah termenung menatap jauh keluar jendela. Setiap sudut kota menampakkan pemandangan malam yang begitu indah. Gemerlap lampu di setiap sisi kota, menghidupkan suasana malam yang gelap.


Shafa menoleh memandang 3 orang bocah yang tengah tertidur pulas. Am tertidur di ranjang rumah sakit dengan piyama bermotif bulan dan bintang sedangkan Zifara dan Zafran tidur berdampingan di sebuah bed yang di siapkan khusus oleh opanya. Shafa sendiri sulit untuk terlelap. Hampir seminggu ini keluarga besarnya menghabiskan waktu di klinik untuk menemani Am. Sepulang dari kampung pak Ali, tubuh Am demam hingga sulit bernafas, membuatnya di rawat lebih lama di klinik.


Mas kapan kamu pulang? Aku nggak sanggup menjawab pertanyaan-pertanyaan Am lagi mas. Aku nggak sanggup kalau harus berbohong lagi!


Seakan ingin menyerah dengan keadaan. Shafa tak bisa lagi menyembunyikan cairan bening yang meleleh di pipinya. Kalau saja bisa, ia ingin sekali pergi menyusul Rayyan. Ia menoleh kembali menatap buah hatinya yang tengah lelap. Shafa menghampiri rajang di mana Am berada, menatap lamat-lamat wajah Rayyan kecil yang terlihat damai. Nafas Am masih terdengar berat. Sesak! Itulah yang wanita muda itu rasakan melihat putra yang selalu ia sebut sebagai kesayangan Ayahnya itu kesakitan. Dulu, saat usia Am baru 2 setengah tahun, ia kerap bertengkar dengan anak tetangga yang akan berakhir dengan sakit, entah deman atau meriang. Dan satu-satunya hal yang bisa menyembuhkannya dengan cepat adalah dengan mengatakan bahwa ayahnya akan pulang.


Namun kali ini sepertinya Am pun sudah lelah atau sudah tidak percaya lagi dengan ucapan mommynya. Ia terus saja merengek ingin bertemu ayahnya sekalipun Shafa mengatakan ayahnya masih di perjalanan.


Shafa mengucup lama kening putra pertama dengan Rayyan "Am harus jadi anak yang kuat, seperti Amr bin Ash yang pernah ayah ceritakan. Am harus buat ayah bangga memiliki Am" Bisiknya. Nampaknya Shafa benar-benar akan menyerah dengan penantiannya. Ia menguatkan hati untuk menerima kenyataan meski otaknya mengatakan tidak.


Ia beralih ke Ranjang Zifara dan Zafran. Ia mengusap lembut kepala Zafran. Anak yang hampir 4 tahun ini menemaninya, mengisi hari-harinya. Ia tak pernah membedakan Zafran dan anak-anaknya yang lain. Ia tahu, diam-diam Zafran sudah mulai memahami keadaannya, ia sempat bertanya "Apakah ayah pergi seperti abi meninggalkan Zaf?". Diantara dua saudaranya yang lain Zafran yang paling memahami Shafa, setelah menanyakan hal itu, ia tak pernah lagi bertanya tentang ayahnya. Namun, Shafa tak sengaja pernah mendengar Zaf berdoa sambil menangis. Ia berdoa agar ayahnya segera kembali atau jika tidak, ia meminta agar ayahnya di tempatkan bersama orang-orang yang shaleh.


Berbeda dengan Am dan Zafran. Zifara bahkan tidak pernah tahu seperti apa rupa ayahnya, ia tak pernah tahu bagaimana pelukan hangat dan merdunya suara ayahnya, bahkan ketika ia masih berada di dalam kandungan. Kamu beruntung nak, kamu tidak merasakan rindu seperti mommy dan kakak-kakakmu, tapi kamu juga malang, karena tidak pernah merasakan hangat pelukan seorang ayah. Meski selama ada Jeffri yang menggantikan peran seorang ayah bagi Zifara, tapi tetap saja posisi Rayyan takkan pernah tergantikan sampai kapan pun. Karena darah lebih kental dari pada air.


Tepat pukul 6 pagi itu Yola dan tante Lilis sudah berada di rumah sakit. Yola harus membawa Zafran pulang, mengantarnya ke sekolah dan saat siang kembali mengantarnya ke klinik. Sedang tante Lilis setiap pagi membantu mengurus Zifara, karena saat pagi adalah saat yang paling merepotkan bagi Shafa terutama saat Am dalam keadaan sakit. Tak sedetikpun ia mau di tinggal, dan Shafa pun tidak bisa beerpisah dari ketiga anaknya.


Biasanya, Ibu Mertua akan datang satu jam lagi dengan membawankan sarapan, sedangkan mommy Shafa 30 menit lagi akan sampai dan pasti akan langsung memeriksa kondisi Am. Seperti itulah kegitan mereka berlangsung selama beberapa hari ini. Bahkan sejak pergi berlibur, Shafa tidak pernah lagi datang ke gerai miliknya, dia hanya memantau semua aktifitas di gerai itu dari jauh.


"Mommy" Panggil Am begitu membuka matanya.


"Iya nak, mommy disini" Shafa mendekat, mencium anak tampannya yang masih kuyu.


"Apa ayahtu udah datang mommy?" Lagi-lagi saat membuka mata tak ada lain ya g di tanyakan selain ayahnya. Shafa menggeleng dengan seulas senyum manis yang menyimpan kepahitan di dalamnya.


"Mesir itu jauh Am, jadi nggak bisa sehari langsung sampai"


"Belapa hali talo gitu mommy" Ujarnya.


"Emmm... Satu minggu" Kalimat itu lolos lagi dari bibir Shafa. Entah apa yang akan ia katakan kepada Am satu minggu yang akan datang.


"Satu minggu itu belapa hali mommy?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Tujuh hari Am"


Am nampak sedang berfikir.


"Belalti sebental lagi ayah am datang. Atu tan udah lam di tini" Ucapnya sambil mamandang mommynya. Shafa hanya mengangguk kecil, berharap ada keajaiban yang tiba-tiba membawa Rayyan kembali di hadapannya.


"Am bersih-bersih dulu yuk sama mommy supaya harum. Tuh lihat adek Zizi sudah cantik. Shafa menunjuk putrinya yang tengah didandani oleh tante Lilis.


Setelah memandikan dan memastikan Am sarapan serta meminum obatanya, Shafa membaringkan tubuhnya di sebelah Am. Mommy dan ibu mertua Shafa saat ini sudah berada di ruangan itu. Mereka sedang bermain dengan cucu cantik fotocopyan sang mommy.


"Am cepat sembuh ya nak, supaya bisa cepat pulang" Bisik Shafa sesekali mengecup pipi anaknya. Terlalu lamaa di klinik membuat bibir Am sedikit kering dan terkelupas. Shafa mengusapnya dengan lembut.


"Atu ga mau puyang talo ayah belum datang" Jawabnya. Shafa hanya bisa menghela nafas.


Andai saja mommy tahu dimana ayahmu Am. Ke ujung dunia pun akan mommy cari dan membawanya pulang.


"Mom"


"Iya?"


"Boleh ya mommy" Ucapnya dengan tatapan memohon.


"Mommy tanya Oma dulu yah?"


"Kenapa Fa?" Sahut mommy yang mendengar namanya di sebut.


"Am ingin makan roti coklat mom, apa boleh?" Tanya Shafa.


"Tama es klim oma" Sahut Am.


"Roti coklat boleh, es krim belum boleh." Jawab Mommy.


"Nanti kalau Am sudah sehat baru boleh makan es krim ya" Ujar Ibu.

__ADS_1


"Kalau gitu mommy belikan roti coklat dulu ya?" Am mengangguk "Yang banyak toklatnya mommy" Pesannya sebelum mommynya beranjak.


"Iya, yang banyak coklatnya untuk anak ompong mommy" Shafa mencubit pipi Am dengan gemas.


Shafa keluar dari ruangan Am, menuju vafetaria yanga da di lantai dua. Ia memesan kue coklat kesukaan Am yang juga tersedia di cafe itu. Sambil menunggu pesanannya ia duduk di sudut cafe sambil memandang ke arah luar. Sejak kepergian Rayyan, tak ad ayang menarik dari setiap sisi tempat yang ia lewati. Semua terasa hambar.


"Jangan melamun, nanti kesambet!" Suara itu berhasil mengalihakan pandangannya. Ia tersenyum kecil mendapati seorang tengah berdiri di depannya dengan dua cangkir kopi di tangannya.


"Minum! Untuk menyegarkan jiwa yang haus" Ucapnya.


Seorang pria tinggi, gagah dan tampan dengan setelan kemeja berwarna telor Asin kini tengah duduk berhadapan dengan Shafa.


"Thanks" Shafa mengambil cangkir yang ada di depannya dan mulai meminumnya.


Ia nampat mengeryit merasakan rasa white coffe yang sedikit hambar.


"Why?"


"Tawar, agak pahit. Nggak enak!" Ucapnya sambil meletakkan kembali cangkir di hadapannya.


"Really?" Gantian ia yang meminum cangkir miliknya.


"Not bad! cara terbaik menikmati kopi adalah dengan menikmati rasa aslinya. Tidak selamanya yang pahit itu tidak enak Shafa" Ujarnya yang tengah menikmati cecapan demi cecepan kopi miliknya.


"Itu pahit dok, saya tidak suka"


"Tidak"


"Lidah dokter bermasalah"


"Karena ada kamu yang manis di hadapan saya" Ujarnya sambil menatap Shafa dengan senyuman manisnya.


"Sayangnya hidup saya sudah pahit, sekalipun ada dokter manis yang kini duduk di depan saya" Balas Shafa.

__ADS_1


"Then, Biarkan saya membuatnya menjadi manis kembali!"


__ADS_2