Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Pacar?


__ADS_3

Tepat Pukul 13.45 WIB, pesawat yang di tumpangi Rayyan mendarat dengan mulus di bandar udara Soekarno Hatta. Kepulangan Rayyan kali ini lebih awal di bandingkan beberapa rekannya yang harus mengikuti kegiatan closing ceremony. Alasannya tak lain karena dirinya tak ingin terlibat lebih lama dengan dosen bernama Dewi yang telah berhasil membuat hubungannya dengan Shafa sedikit bermasalah.


Rayyan menoleh ke kiri dan kanan mencari keberadaan Aisyah yang pagi tadi ia beritahu untuk menjemputnya.


"Ayaahh..." Rayyan menoleh kesamping tak kala suara cempreng Amr Sya'ban Ar-Rayyan terdengar memanggilnya.


Seulas senyum tersungging saat melihat Am dan Zaf berlari ke arahnya.


Grep!


Am langsung menubrukkan tubuh kecilnya pada sang ayah.


"Kangen ayah. Ayah pelginya lama"


"Ayah juga kangen Am dan Zaf" Ucap Rayyan sambil mensejajarkan tubuhnya dengan Am, mencium kening kedua anaknya secara bergantian.


"Hai Om," Suara lain terdengar menyapa Rayyan membuatnya menoleh.


"Ah, Hai Aira cantik. Aira ikut juga ya?" Tanyanya sambil mengusap kepala gadis cantik berdarah Tionghoa tersebut.


"Iya, aku kan Bff nya Zaf, jadi harus sama-sama." Jawabnya penuh percaya diri sementara Zafran terlihat biasa saja.


"Bff?" Rayyan mengernyit tak paham dengan istilah sahabat putranya tersebut.


"Bes pen polepel ayah, ayah nda gaul ih" Cetus Am.


Rayyan hanya bisa geleng-geleng mendengar ocehan putranya tersebut.


"Ya Udah, ayo buruan pulang, entar Aira di cariin emaknya" Ujar Aisyah yang baru muncul.


"Mami tante, bukan Emak!" Protes Aira tak terima.


"Iya...iya terserah kalian deh. Lihat nih kang tagihan jajannya mereka. Pokoknya kudu ganti 3 kali lipat," Aisyah menunjukkan bon makanan yang dimakan mereka selama menunggu Rayyan. Yah, tau sendiri kan, makanan di bandara itu harganya berkali-kali lipat dengan di luar Bandara.


Akhirnya Rayyan beserta pasukan kecilnya meninggalkan bandara menuju ke rumah mereka. Sepanjang perjalanan, mereka ngobrol dengan seru terutama Am sangat antusias menceritakan oleh-oleh pemberian dari Abah. Sementara Aisyah hanya memejamkan mata sambil menutup telinganya dengan menggunakan earphone. Suara berisik anak-anak Rayyan membuat konsentrasinya terganggu, pasalnya ia sendiri sedang galau memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Malvin.


Nasib...Nasib... Giliran ada yang mau, eh taunya cuma bohongan.


.


.


.


.


Sesampainya di rumah Rayyan segera menyalami abah dan ambu yang sudah menunggunya di teras depan. Begitu pun dengan Zifara yang kini tak lagi malu-malu memeluk sang ayah. Tapi ada yang tidak ada saat itu, Shafa. Seperti dugaannya, istri cantiknya itu pasti tidak akan menyambutnya.


"Shafa lagi atas di tadi," Seolah mengerti dengan isi hati Rayyan, Ambu kembali mengambil Zizi dan mengajak mereka bermain.


"Terimakasih Ambu" Rayyan segera menyusul Shafa ke lantai dua. Tak lupa ia membawa paper bag yang berisi oleh-oleh untuk sang istri yang tak pernah terfikir sebelumnya.


Klek,


"Sayang?"


Seperti dugaannya, saat ini Shafa pasti sedang berada di balkon kamarnya di lantai dua. Diliriknya sebuah piring yang sudang kosong di atas meja kecil.


Shafa masih tak bergeming. Ia seolah dengan benda pipih yang tengah di pegang nya.


"Maafin mas, ya?" Sebuah pelukan hangat dari belakang berhasil mengusik Shafa. Ah, dia yang niatnya ngambek dan mogok bicara jadi tak berdaya dengan perlakuan lembut suaminya.

__ADS_1


"Ngapain pulang?" Nadanya masih ketus meski hatinya sudah mulai berbunga. Sebenarnya ia sudah tak begitu kesal setelah mendengar penjelasan dari abah dan juga ibu Rayyan tentang kejadian di hotel malam itu.


"Karena kangen dengan istri Mas, yang paling solehah ini" Ucapnya sambil mengecup pipi sang istri yang sudah bersemu merah.


Tahan Shafa, jangan mudah luluh dengan rayuannya.


"Ck! Masih ingat punya istri? Aku kira udah lupa karena ada yang lebih menggoda di sana!" Ucapnya masih ketus tapi tak menolak pelukan dari sang suami.


Rayyan hanya bisa mengulum bibirnya melihat sang istri yang ngambek tapi butuh ini.


"Shafa pasti sudah tau jawabannya"


"Nggak tuh!" Shafa mencoba bangkit dari posisi duduknya, Rayyan hanya mengekor di belakang sang ratu yang beralih duduk di sofa kamar sambil menyilang kan tangan di dada.


"Ini oleh-oleh buat Shafa" Rayyan menyerahkan sebuah paper bag sambil mengambil tempat di samping sang istri.


"Ini pasti nyogok kan?" Tuduh Shafa, yang hanya melihat sekilas sebuah box yang di duga sepatu atau sendal dari salah satu brand ternama.


CUP!


Satu kecupan di bibir untuk menghentikan ocehan sang istri.


Dengan perasaan tanpa dosa Rayyan merebahkan kepalanya di pangkuan Shafa yang masih dalam mode galak. Ia tahu istrinya hanya galak di luar saja.


"Ayah pusing mom" Keluhnya sambil memejamkan mata.


Kini, Shafa yang di buat bingung. Ingin rasanya tangannya membelai kepala sang suami yang tengah berbaring di pangkuannya, namun gengsinya ikut andil menahan tangan yang hampir terulur itu.


"Semalam saya tidak tidur memikirkan Shafa, sampai lupa makan siang juga" Ucap Rayyan menambah ke khawatiran Shafa.


"Jadi belum makan?" Tanya Shafa datar meski hatinya tak menentu.


Sekitar 5 menit keduanya terdiam dalam keheningan, tiba-tiba.


Kruuuk...Kruuuuk


Ternyata Mas Ray nggak bohong.


Kini, tak ada lagi gengsi yang di rasakan oleh ibu muda ini. Ia menepuk pipi rRayyan yang terlihat lelap di pangkuannya.


"Mas, bangun Mas. Ayo makan dulu" Ucapnya mencoba membangunkannya.


Rayyan menahan kedutan di bibirnya agar tak tersenyum, melihat kepanikan sang istri.


"Shafa masih marah?" Tanyanya tanpa membuka mata.


"Kita bicara nanti, sekarang makan dulu"


"Saya tidak bisa makan sebelum Shafa berhenti marah" Balas Rayyan dengan suara yang terdengar lemah.


"Iya...iya nggak marah! Buruan bangun" Balas Shafa yang terdengar kesal.


Rayyan segera membuka matanya dan tersenyum penuh kemenangan, "Thanks Mom".


Cup!


"Yuk Makan" Ajaknya sambil menarik tangan sang istri.


Alhamdulillah, terimakasih ya Allah.


Rayyan memakan makanan yang ada di hadapannya dengan sangat lahap. Masakan Ambu memang selalu berhasil membuatnya nambah, padahal hanya sayur asem, ikan mujair goreng, lalapan dan sambel terasi namun rasanya tak kalah nikmat dengan makanan yang ada di restoran.

__ADS_1


"Ayah atu minta ail nya ya?" Am menghampiri sang ayah, meminta izin mengambil air putih yang ada di hadapannya.


"Minumnya duduk ya Nak, Adab minum dala. Islam adalah dengan duduk dan menggunakan tangan kanan, jangan lupa baca basmallah" Ucap Rayyan menegur sang putra yang tengah ngos-ngosan.


"Bismilahilohmanilohim"


Gluk,


Gluk,


Gluk,


Dan dalam sekejap gelas tersebut sudah kosong.


"Alhamdulillah" Am bangkit dan meletakkan kembali gelas di atas meja.


"Am sudah makan Nak?"


"Tudah ayah. Ayah, ayah masa to tadi Mommy jadi kambing" Ucap Am sambil melirik sang ibu yang tengah memelototinya.


"Nggak usah di dengerin Mas. Udah Am sana main lagi jangan ganggu ayah makan" Usir Shafa. Selalu saja ada ocehan anaknya ini yang kadang tak masuk di akal.


"Nda, Mau. Ayah tadi to Mommy makan daun kaya embek" Adunya lagi.


"Daun selada mas, sama daun pepaya dan daun ubi yang udah di rebus. Enak banget tau mas" Jawab Shafa menjawab tatapan penuh tanya dari sang suami. Yang bener aja dia mau makan daun mentah seperti yang di sangkakan Am.


Sore itu Rayyan dan keluarga berkumpul di ruang tengah sambil menikmati olahan mete yang di bawa Rayyan dari kota Kendari.


"Kamu kapan wisuda Syah?" Tanya Rayyan pada sang adik yang tengah sibuk berbalas chat.


"Lusa kang, besok baru geladi" Jawabnya


"Aish di tanya, malah sibuk ngebales sms. Saha Syah? Pacar nyak?" Tegur Ambu.


"Bener Syah? Saha? Kenalin sama abah atuh"


Belum sempat Aisyah menjawab abah sudah menambahi.


"Bu... Bu-"


"Kok mukanya merah? Jadi beneran Aisyah sudah punya pacar?" Kini Rayyan yang jyga ikut bertanya.


"Bukan pacar mas, tapi--"


"KAKAK!" Aisyah menatap Shafa dengan wajah penuh permohonan.


Please! Jangan sekarang kak. Aku belum siap.


"Aish! Kunaon teriak-teriak? Ah ini si Aish mah pasti sudah punya pacar Bah"


"Enggak bah, Enggak" Aisyah meencoba membela diri.


"Awas ya kalau sampai ketahuan pacaran yang enggak-enggak. Abah potong uang jajanmu" Ancam abah yang di jawab anggukan cepat oleh Aisyah.


"Oh ya Ndi, besok neng Risa sama pak Ustad mau mampir, apa boleh? Kebetulan paak Ustad sedang nganter istrinya kontrol kesehatan" Tanya Abah yang membuat hati Shafa berdesir tak enak.


"Tentu boleh Bah, Iya kan Mom?" Rayyan menoleh pada sang istri minta persetujuan.


"Iya, boleh kok abah"


Kok perasan gue nggak enak ya? Dia nggak mungkin kaya Nisa kan?

__ADS_1


__ADS_2