
Shafa mengerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk di retinanya. Tubuhnya masih terasa lemas. Air matanya kembali meleleh meratapi kisah hidupnya yang begitu pahit. Setelah ini mungkin ia akan memilih untuk pergi meninggalkan dunia ini, ia tak sanggup jika harus kehilangan untuk yang ke dua kalinya.
"Ahh, Lepasin gue!!!" Teriaknya begitu menyadari kedua tangannya terikat pada besi ranjang yang saat ini ia tempati. Dokter Malvin pun masih berada di tempat itu bersama dengan ayah dan ibu Rayyan. Tempat Shafa di rawat hanya tersekat tirai dengan tempat Am di rawat.
"Shafa, tenangkan dirimu nak" Ibu mengelus kepala Shafa. Saat seperti ini tenaga Shafa akan jauh lebih besar sehingga membuatnya harus di ikat agar tenang dan tidak mengamuk atau melakukan percobaan bunuh diri.
"Aaaaaammmm!!!" Teriaknya lagi-lagi menggema di ruangan itu di sertai isak tangis.
"Am baik-baik saja nak, Shafa tenang ya? Semuanya sudah berakhir sekarang" Ucap ibu.
"Apa maksud ibu berakhir? Apa Am juga sekarang meninggalkan Shafa? Iya?"
"Tidaaaaaakkk.... Am ga boleh mati!!! Am ga boleh mati!!! Lepasin tanganku" Teriak Shafa semakin histeris.
"Tidak nak, Am baik-baik saja. Dia sudah pulih kembali, dia..."
"Bohong!!! Kalian semua bohong!!! Vin tolongin gue Vin tolong buka" Shafa memelas sambil menatap dokter Malvin. Ia tak lagi memanggil dokter melainkan lo gue yang menandakan kondisinya benar-benar tidk stabil. Wajah Malvin tak kalah sendu dari Shafa, ada kenyataan pahit yang beberapa waktu lalu mengiris hatinya.
"Saya akan lepaskan, tapi kamu tenang yah?" Ucap Malvin lembut.
"Lo cinta kan sama gue Vin, tolong lepasin gue!!! Lepasiiiin" Teriaknya dan tangisnya kian menggema. Emosinya benar-benar sudah tak terkendali. Malvin sengaja tak memberikan suntikan obat karena Shafa sudah mulai terbiasa tanpa obat. Ia takut akan membuat Shafa kemabli tergantung pada obat dan sulit untuk di sembuhkan.
Ya, aku cinta sama kamu Shafa, sangat cinta!!!
"Tenang Fa, Anak kamu baik-baik saja. Dia sedang bersama dengan ayahnya" Ucap Malvin pelan.
"Apa kalian mencoba menghiburku? Ha.ha.ha tapi aku sama sekali tidak terhibur! Vin please aku pengen lihat anakku Vin, aku mommynya, Aku ingin ketemu Am" Ucap Shafa memelas, bahkan untuk bertemu Am pun ia harus memohon padahal dialah ya g mengandung, melahirkan dan membesarkan Am sendirian.
"Tapi kamu tenang dulu yah?" Malvin berucap lembut agar bisa sedikit menurunkan emosi Shafa. Karena mempertemukan Shafa dengan Rayyan dalam keadaan Shafa yang tidak stabil bisa menimbulkan dampak buruk yang di luar prediksi semuanya.
__ADS_1
"Aku baik baik saja Vin"
"Iya aku tahu, tapi kamu harus tenang" Malvin berucap sambil memeriksa denyut nadi Shafa. Denyut nadinya sangat cepat menandakan dia belum tenang.
Malvin mencoba melepas kuncian pada lengan kanan Shafa, dan benar saja Shafa segera berontak hendak melepas selang infus di tangan kirinya jika tidak cepat di tahan oleh Ayah.
"Lepasin!!! Daddy...Mommy lepasin Shafaaaa atau Shafa akan bunuh diri" Teriaknya lagi di sertai ancaman.
"Nak, tenang Shafa. Kamu harus tenang jika ingin bertemu dengan Am. Am pasti sedih melihat mommynya sedih seperti ini" Ujar ayah yang begitu sedih melihat menantunya kembali histeris seperti dua setengah tahun yanh lali.
"Tahu apa kalian tentang rasa sedih ku. Yang kalian rasakan tidak ada apa-apanya dibanding dengan yang aku rasakan. Tahu apa kalian??? Ha???" Amarahnya semakin menjadi, seakan minta untuk di luapkan.
"Shafa tenang, Am sudah baik-baik saja" Daddy muncul dari balik tirai karena mendengar teriakan putrinya yang kian tak terkendali.
"Shafa baru akan tenang setelah melihat Am dengan mata kepala Shafa sendiri."
"Iya, tunggu sebentar lagi sampai kondisimu membaik" Ujar Daddy sambil mengusap kepala anaknya.
Disisi lain, Seorang yang tengah memeluk erat putranya yang baru saja membuka mata ikut meneteskan air mata. Ia sengaja menutup telinga Am dengan telapak tangannya agar ia tak mendengar jerit tangis sang mommy.
Maafkan aku Shafa, selama ini kamu telah banyak menderita. Terimakasih telah menjaga dan membesarkan mereka.
Tak terdengar lagi jerit dan teriakan Shafa, sepertinya dia sudah bisa menenangkan dirinya setelah menumpahkan uneg-unegnya. Rayyan kembali mencium kepala putranya, membayangkan bagaimana anaknya di olok-olok membuat hatinya sangat sakit.
Setelah ini tidak ada lagi yang akan mengejekmu Am. Ayah akan selalu berada di sisi Am, tidak akan meninggalkan Am dan abang lagi.
"Am... Bangun nak, ini ayah. Ayah rindu sama Am" Ucapnya sambil memandag wajah putranya itu.
"A...ayah" Panggil Am lirih namun masih bisa terdengar. Dokter dan perawat segera mengecek kembali kondisi Am yang semakin membaik, nafasnya kembali teratur. Menurut dokter Am sempat mengalami syok yang membuatnya gagal bernafas, sudah bisa di tebak pasti gara-gara mendengar percakapan kakek dan neneknya perihal Rayyan yang tidak akan kembali. Dan sesaat setelah kedatangan Rayyan yang terus memeluk dan memanggil namanya, Am perlahan sadar dan membaik.
__ADS_1
Kekuatan doa dan cinta memang lebih besar di bandingkan apapun. Cinta Shafa kepada Rayyan, telah berhasil membuktikan bahwa kekuatan doa dan cinta itu benar adanya. Siapa yang menyangka bahwa Rayyan akan kembali. Doa Shafa dan anak-anaknya benar-benar di jawab Allah hari itu. Dia mengembalikan Rayyan di tengah-tengah mereka meskipun dengan ketidak sempurnaan ingatannya, yang mungkin akan menjadi ujian berikutnya bagi keduanya. Apapun ujiannya, jika cinta masih bersemi di hati mereka yakinlah bisa melalui semuanya.
"Am, bisa dengar ayah nak? Iya ini ayah Am. Ayah pulang" Ucapnya menahan tangis saat tangan mungil Am menyentuh wajahnya. Ada senyum tipis yang tergambar di wajah putih Am.
"A...ayahh" Panggilnya lagi seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Am tak pernah melepaskan pandangannya dari wajah Rayyan.
"Iya... Ayah disini. Ayah janji tidak akan pergi lagi" Rayyan mencium wajah Am dan membawanya dalam pelukannya. Pelukan hangat yang selama ini dirindukannya.
"Ayaahh" Suaranya kembali terdengar manggilnya.
"Iya"
"Atu lindu" Ucapnya lirih.
"Ayah juga rindu. Rindu sekali" Balas Rayyan semakin mengeratkan pelukannya pada Am. Sebuah rasa kepemilikan yang tiba-tiba muncul. Mungkin inilah yang di sebut ikatan batin antara ayah dan anak.
"Mommy" Rengek Am saat berada di pelukan ayahnya.
"Mommy" Ia menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan mommynya. Bagaimana pun juga Am adalah seorang anak yang di besarkan oleh mommynya. Sudah pasti ia akaan mencari mommynya yang selama ini menjadi malaikat pelindungnya.
Kreeek
Suara tirai terbuka, Shafa nampak berjalan dengan di papah oleh ibu dan daddynya. Matanya nampak sembab tapi tak mengurangi kecantikannya. Ia sudah lebih tenang setelah mendengarkan nasihat dari ayah mertuanya.
Am sedang bersama siapa?
Batinnya saat melihat Am berada dalam dekapan seseorang.
_______________
__ADS_1
Hai..hai... Author is back setelah buat mewek...😭 Aku juga mewek tau nulisnya.
Aku cuma pengen bilang, Sampai eps 20 aku upnya mungkin seribuah kata lebih... Setelah eps 20 baru deh... Aku panjangin. Jangan tanya kenapa? Cukup baca like❤️👍 and vote.