
Kalau saja aku tahu bahwa mencintaimu akan membawa banyak luka, takkan ku biarkan aku jatuh hingga sedalam ini. Berjuang ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan... Aku baru sadar bahwa bahagiamu bukanlah bahagiaku. Bahagiamu adalah lukaku Shafa!
Malvin menatap nanar sebuah pintu kaca bertirai putih yang kini berada di depannya. Merasakan sakit yang menghimpit di dasar hatinya. Menerima penolakan Shafa yang berkali-kali ternyata tak lebih sakit dari melihat kenyataan yang ada di depan matanya sekarang. Mereka yang hingga pagi tadi masih menyemangatinya untuk terus berjuang mendapatkan Shafa, kini berbalik menguatkan dan membesarkan hatinya untuk melupakan. Hei, Jatuh cinta tak sesederhana itu, ada hati yang harus kau kuatkan, ada harapan yang harus kau pupuskan dan ada luka yang harus kau sembuhkan.
Sampai malam tiba ia belum juga kembali ke rumahnya. Ia memilih duduk di sebuah balkon yang malam sebelumnya ia gunakan bersama dengan Shafa, menatap jajaran gedung-gedung tinggi yaang menjulang. Fikirnnya kembali berkelana kemana-mana, salah satunya adalah menerka nerka apa yang sepasang sumi istri yang baru saja bertemu itu lakukan. Malvin membuka botol kopi instant di genggamannya dan mulai meneguknya. Beberapa kali ponselnya berdering, panggilan dari sang mama yang ia abaikan. Entah mengapa langkahnya begitu berat untuk meninggalkan klinik itu. Padahal, berada di tempat itu hanya akan menambah pedih hatinya saja.
Cukup lama ia bersandar pada kursi kecil yang berada di depan balkon tersebut. Tangannya terus menggeser satu demi satu foto Shafa yang ia ambil secara sembunyi-sembunyi di ponselnya. Tak tahu kapan tepatnya, yang pasti sudah sejak lama ia menaruh hati pada ibu beranak 3 itu. Dimatanya Shafa benar-benar sosok wanita yang sangat berbeda. Dia tangguh, penyayang dan jiwa keibuannya yang begitu lembut membuat hatinya menghangat setiap kali melihat Shafa dan anak-anaknya.
Ah, aku bahkan sudah membanyangkan si cantik dan si tampan itu memanggilku daddy.
Melajang hingga usia 34 tahun membuat seorang Malvin sangat susah berpaling. Mungkin selama ini ia terlalu serius dengan karirnya yang begitu gemilang sebagai dokter muda dengan segudang prestasi dan pencapainnya. Padahal usia segitu harusnya ia sudah berumah tangga dan memiliki anak. Namun apa daya, sepertinya jodohnya begitu jauh dan semakin terasa jauh.
"Ehm" Deheman itu membuat Malvin menoleh ke samping. Seseorang Kini ikut duduk menyandarkan diri di sebelahnya. Seseorang yang tidak pernah ia harapkan muncul kini ada di sebelahnya. Ia tak terlalu menghiraukan kedatangan Rayyan yaang tiba-tiba duduk di sampingnya seperti dua orang yang sudah saling mengenal.
Rayyan meengulurkan tangannya yang di balas tatapan penuh tanya dari Malvin. Tak urung, ia pun meraih tangan Rayyan dan saling menjabat.
__ADS_1
"Terimakasih banyak dok" Ucap Rayyan tulus pada pria yang ia tahu menyimpan perasaan pada istrinya. Saat berada di belakangnya tadi, tak sengaja ia melihat Malvin tengah memandang foto istrinya. Geram, kesal, sudah pasti. Tapi ia bukan tipe laki-laki yang mudah terprovokasi dan berbuat nekat.
"Terima kasih untuk?" Malvin menoleh sekilah sebelum membuaang kembali pandangabnya jauh ke depan.
"Terima kasih telah membatu istri saya melewati traumanya." Rayyan mengulas senyum tipis untuk dokter berparas tampan tersebut. Melihat Malvin dari dekat membuat Rayyan sedikit khawatir, dokter muda yang menyimpan hati untuk istrinya memang sangat tampan dan berkharisma.
Malvin menghela nafas berat dan kembali menoleh ke arah Rayyan.
Tahukah kamu seberat apa traumaa istrimu dulu?
"Apa saya membuat anda tidak nyaman dokter?" Tanya Rayyan yang merasa aneh dengan tatapan Malvin.
"Bagaimana anda bisa kembali setelah hampir tiga tahun menghilang? Tidak kah anda merasa asing dengan Shafa? Bukankah anda tidak ingat semuanya?" Malvin melontarkan pertanyaan itu dengan lancar seolah ingin menunjukkan pada Rayyan akan kesalahannya yang menghilang tanpa kabar.
Rayyan tersenyum mendengar pertanyaan Malvin yang terdengar sangat tidak mengharapkannya kembali.
__ADS_1
"Qadarullah dokter. Saya tidak bisa menjawab kenapa saya harus menghilang meninggalkan anak dan istri saya. Sebagai hamba, saya hanya mengikuti skenario yang Allah tuliskan untuk saya. Bahkan saat kembali dalam kondisi seperti ini pun saya tidak berhak bertanya kenapa? Karena saya yakin ini adalah bagian dari ujian Allah untuk saya dan Shafa. Satu hal yang pasti, saya mungkin tidak ingat kapan dan bagaimana saya bertemu dengan Shafa, wajahnya memang asing di mata saya tapi tidak di hati saya. Memori bisa saja lupa dokter, tapi tidak dengan hati ini. Dia tahu siapa pemiliknya" Balas Rayyan dengan tenang. Ucapan nya barusan seakan menampar Malvin yang lama mengejar Shafa tapi belum jua mendapatkan hatinya. Apa benar dia mencintai wanita yang salah?
"Apa anda yakin hatinya masih berdebar untuk anda? Anda tahu seberapa besar lukanya yang lalu?" Malvin menyunggingkan senyum di sudut bibirnya menutupi rasa hancur yang kini tengah ia hadapi.
"Jika tidak, saya akan membuatnya berdebar kembali untuk saya. Saya tidak tahu sebesar apa lukanya kemarin. Yang saya tahu dia terluka karena kepergian saya, sekarang saya telah kembali. Maka, tidak akan saya biarkan dia terluka kembali." Balas Rayyan tak mau kalah, egonya tiba-tiba muncul saat pria tampan yang di sampingnya itu seperti memprovokasinya.
Malvin melirik jam di pergelangan tangannya, kemudian berdiri hendak pergi dari tempat yang membuatnya kehilangan akal. Terlalu lama di tempat itu terlebih bersama Rayyan bisa-bisa ia hilang kendali. Ia selalu berharap ini hanya mimpi.
Baru saja ia melangkah suara berat Rayyan membuatnya terhenti.
"Bukan hanya Shafa dan Anda. Saya juga terluka dokter. Berpisah dari istri dan anak-anak saya. Saya bahkan tidak bisa melihat Zifara lahir dan tumbuh kembang bersama dengan kakak-kakaknya." Ucap Rayyan. Ia melihat raut sendu dari dokter berparas tampan itu. Tanpa di jelaskan ia pun sudah tahu bahwa Malvin kecewa dengan kehadirannya.
"Luka anda bukan urusan saya. Berusahalah Ray! Saya hanya takut hati Shafa perlahan telah berpindah. Bukankah waktu bisa mengubah segalanya. Anda tahu berapa banyak waktu yang ia habiskan bersama saya? Berusahalah! Karena aku pun akan berusaha dengan caraku!" Kali ini Malvin benar-benar telah kehilangan akal sehatnya. Ia seperti tengah menabuh genderang perang terhadap Rayyan yang jelas-jelas berstatus sebagai suami sah Shafa. Sekali pun 2 tahun lebih merekaa terpisah, tidak pernah ada kata talak dari Rayyan dan tidak pernah terlintas kata cerai dalam benak Shafa. Keduanya masih sah dalam ikatan pernikahan baik dalam negara maupun agama.
Keras kepala!
__ADS_1
Rayya mengepalkan tangannya, menatap punggung lebar itu perlahan menghilang dari pandangannya. Sisi gelap dari dirinya mulai muncul. Katakan ia egois, tapi mempertahankan keluarganya adalah tujuan utamanya kini.
Aku tidak akan pernah melepaskan Shafa untuk alasan apapun..!!! Aku harus membuat Shafa tidak bisa berpaling lagi!!!