
Sepeninggal Risa, berjuta tanya menggantung di kepala Shafa. Gadis itu cantik, lembut dan baik tapi ia merasa ada yang lain dari caranya menatap Rayyan. Shafa masih termenung di kursinya, ia tak menyadari sepasang mata mengamatinya dari tadi.
"Andi tidak ada hubungan apa-apa dengan neng Risa" Suara lembut itu menyadarkannya. Ia menoleh, Ambu sudah duduk di sebelahnya.
"Ambu"
"Ambu tahu, kamu pasti memikirkan Andi dan Risa. Mereka memang dekat, tapi hanya sebatas teman. Pak Ustad dulu juga ikut membantu pemulihan Andi. Neng Risa dan ibunya juga baik. Nak Shafa jangan berfikir yang tidak-tidak ya?" Ucap Ambu mengusap bahu Shafa. Shafa hanya mengangguk pelan, dia memang baik tapi bukan berarti dia tidak menyukai Rayyan bukan. Karena saat kita bicara perasaan, makan tidak ada orang baik atau jahat. Orang baik pun bisa menjadi jahat karena sebuah rasa, begitupun sebaliknya.
"Kalian disini untuk bersenang-senang, jadi manfaatkan sebaik baiknya. Semoga setelah dari sini nanti Am langsung mendapatkan adik" Ambu berucap dengan raut bahagia.
Adik? Sepertinya hanya akan jadi mimpi panjang yang tak kunjung usai. Saat ini cukup aku tahu seperti apa perasaan mas Ray padaku. Perlakuannya membuatku berfikir dia tidak menginginkanku lagi.
Sore itu, langit yang tadinya cerah berubah menjadi mendung, angin berhembus cukup kencang menerbangkan dedaunan yang berada di halaman, sepertinya malam ini akan turun hujan. Mereka yang berada di gazebo halaman depan harus masuk kedalam Villa karena dingin yang mulai mengusik.
"Nak, disini kalau malam dingin lebih baik ganti pakaian Am dan Zifara dengan yang hangat" Ucap Ambu. Di sini ambu beralih peran menjadi pengasuh Zifara. Pasalnya Zizi yang biasa digendong dengan tangan terbuka baru merasakan sensasi digendong menggunakan jarik membuatnya ketagihan. Selain itu perhatian ambu kepadanya membuat Zizi betah.
"Tasnya ada di dalam ambu, Shafa ambil dulu" Shafa memilihkan sweeter berbahan hangat dan celana panjang untuk Am, beggitu juga dengan Zifara, ia mengambil sweeter hangat beserta celana dan kaos kakinya.
"Atu nda mau pake pampes mommy!" Tolak Am saat Shafa hendak memakaikannya pampers.
"Nanti ngompol!"
"Enggak!" kekehnya.
"Am?" Panggil Shafa sedikit keras. Ia kerap sekali hilang kesabaran menghadapi kekeras kepalaan Am yang sudah pasti diturunkan dari sifatnya.
Lagi-lagi Am menggeleng tak mau.
"Kalau nggak mau pake pampers, mommy nggak mau bobo sama Am" Ucap Shafa menakuti sang putra. Bukannya takut, Am malam meringis.
"Bialin. Atu tan mau bobo cama atok. Atok dongengnya bagus-bagus mommy" Jawab Am membuat Shafa menghela nafas sembari beristigfar.
"Biar nanti Mommy nya Am di ambil Zizi" Ujar Shafa tak mau kalah.
"Zizi juga mau bobo sama atok dan nenek, iya tan Zi, kita bobo di kasul yang tadi" Ucap Am yang di angguki oleh Zifara.
"Acu au bobo ama tata Am" Oceh Zifara.
"Mereka suka tidur di kasur kapuk nak, di kamar khusus abah kasurnya memang dari kapuk, karena kami tidak terbiasa pakai spring bed" Ucap ambu. Ya..ya..ya Shafa hanya bisa mengangguk. Lagi-lagi anak-anaknya mengalahkannya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
Setelah selesai makan malam, Am dan Zifara sudah berada di dalam kamar Abah. Kamar yang tadinya mereka sangka hanya berisi tempat tidur dan lemari ternyata benar benar di luar dugaan. Kamar itu sangat berbeda dengan kamar lain. Dari segi ukuran jauh lebih luas dari kamar yang di tempati Shafa dan Rayyan. Di sana juga terdapat televisi jumbo dan beraneka macam mainan anak. Ambah dan ambu selalu memimpikan memiliki anak atau cucu, sehingga mereka menyimpaan semua itu di dalam lemari kaca yang tersedia di sana. Hal itu tentu menjadi keberuntungan buat Am dan Zi, karena merekalah yang pertama kali menikmati semuanya.
Beberapa kali Shafa bolak balik ke kamar abah hanya untuk memastikan anak-anaknya tidak mencarinya. Dan seperti yang ia lihat sekarang, Zizi sedang asyik bermain boneka dengan ambu yang tengah berdongeng sementara Am sedang bermain sulap dengan abah.
Shafa beralih melangkahkan kakinya menuju pintu utama. Pandangannya menyapu lurus kedepan menunggu Rayyan pulang dari masjid.
Diluar masih gerimis, mungkin mas Ray nunggu hujan reda.
Shafa memeluk erat kedua lengannya saat hembusan angin yang begitu dingin menyapu kulitnya wajahnya.
Saat ia hendak melangkah masuk, suara motor yang baru saja tiba menghentikan langkahnya. Ia bergegas menuju terass untuk menyambut Rayyan. Ditangannya ia sudah memegang handuk untuk mengelap tubuh Rayyan yang mungkin basah terkena air hujan.
"Assalamualaikum"
"Waalaikum salam" Jawab Shafa.
"Tunggu sebentar ya!" Ucap Rayyan pada Risa dan temannya. Ia buru-buru masuk kedalam rumah melewati Shafa. Membuat hatinya sakit dan semakin merasa terabaikan.
"Ini" Ucapnya sambil memberikan sebuah kantong berwarna hitam kepada Risa.
"Hatur nuhun kang" Ucap Risa yang terlihat mengusap wajahnya yang basah terkena air hujan.
"Boleh pinjam handuknya?" Rayyan mebyadarkan Shafa berdiri dalam diamnya.
"Oh iya ini mas!" Ia menyerahkan handuk berwarna putih tersebut pada Rayyan, namun lagi-lagi hatinya tercubit saat Rayyan begitu saja memberikan handuk terseebut pada Risa.
"Pakai ini neng, supaya tidak masuk angin" Ucapnya sambil menyerahkan handuk tersebut.
__ADS_1
What the hell! Apa-apaan kalian. Hati Shafa memanas melihat kejadian itu. Apakah ini yabg disebut selibgkuh di depan mata? Seperti serial ikan terbang, dimana seorang istri di abaikan demi perempuan lain. Sungguh Miris!
Risa menyunggingkan senyum menerima handuk tersebut dan memakainya bergantian dengan temannya.
"Terimakasih kang, neng, kami permisi dulu" Ucap teman Rissa sambil mengangguk pada Shafa yang keberadaanya sempat terabaikan. Sepenting itukah wanita itu baagi Rayyan hingga ia terlihat sangat antusias.
"Hati-hati, kalau ada apa-apa bisa hubungi saya" Ucap Rayyan tulus.
Mereka mengangguk kemudian pergi meninggalkan Villa di tengah guyuran hujan yang belum juga reda.
Shafa masih terdiam ditempatnya mencerna kembali apa yang baru saja di lihatnya. Begitu perhatiannya Rayyan pada wanita itu hingga mengabaikan Shafa yang sejak tadi menunggunya.
"Ayo masuk!" Ucap Rayyan. Tangannya meraih handuk yang tadi di gunakan Risa dan temannya yang tersampir di atas kursi kayu. Secepat kilat Shafa mengambil handuk tersebut dan membuangnya keluar teras.
"Shafa!" Rayyan sangat terkejut dengan apa yang barusan di lakukan istrinya.
"Jangan harap mas pakai handuk yang sudah tersentuh kulit wanita lain!" Sarkasnya menatap tajam pada Rayyan.
"Shafa kenapa?" Rayyan masih bingung dengan sikap Shafa yang berubah menakutkan. Ia merasa tak melakukan kesalahan apapun. Tapi istrinya begitu terlihat marah. Ia hendak melangkah mengambil handuk yang di buang Shafa, namun lagi-lagi Shafa mendahuluinya mengambil handuk tersebut dan membuangnya lebih jauh lagi. Ia tak peduli lagi tubuhnya yang basah terkena tetesan air hujan.
"Shafa kenapa? Ayo masuk!!" Ucap Rayyan yang setengah berteriak lantaran khawatir melihat Shafa yang seperti kesetanan belum lagi tubuhnya yang ikut basah. Rayyan menarik lengan Shafa untuk masuk ke dalam teras.
"Mas tanya kenapa? Mas pernah nggak mikirin perasaanku? Mas tega sama aku! Bilang kalau mas udah nggak cinta sama aku kan? Aku tahu mas hilang ingatan, tapi kenapa mas bisa baik dan perhatian sama perempuan itu sedangkan sama aku mas selalu menghindar. Kenapa Mas!!!" Lelehan air mata bercampur air hujan mengalir bebas dari pelupuk mata Shafa.
"Apa sekarang setelah mas amnesia aku jadi nggak ada artinya di mata mas Ray? Iya? Mas suka kan sama perempuan itu? Iya kan?" Shafa tak bisa lagi menahan uneg-unegnya terlalu lama, baginya apa yang dilihatnya siang tadi dan barusan semakin menguatkan dugaannya bahwa ada perempuan lain di hati Rayyan.
"Shafa ini bicara apa? Siapa yang suka dengan siapa?"
"Cukup ya mas! Mas nggak usah pura-pura lagi. Aku tahu semuanya mas! Aku tahu! Aku lihat mas ngobrol sama dia di samping masjid dengan begitu akrabnya sementara sama aku mas selalu diam, aku ini istrimu mas!!! Kenapa sama dia kamu perhatian sementara aku selalu mas acuhkan? Kalau semuanya memang sudah berubah lebih baik kita--
Grep!
Rayyan segera menarik Shafa dalam pelukannya, memeluknya erat agar ia berhenti mengucapkan kata-kata yang tidak baik untuk kesehatan hati mereka berdua. Ia tak tahu istrinya akan semarah ini, ternyata benar yang di katakan orang-orang terdekatnya bahwa Shafa sangat pencemburu. Ia terlambat menyadari semuanya. Termasuk kediaman Shafa siang tadi yang merupakan buntut dari pertemuannya dengan Risa diperumahan Masjid. Rayyan tak sengaja bertemu Risa sekaligus menanyakan jambu air yang berada di samping rumah bibi Risa. Rayyan ingat bahwa Shafa menyukai jenis buah yang sulit ditemui di kota dan ia ingin membawakannya untuk Shafa, namun yang terjadi malah salah paham.
"Hiks...Hiks... Kenapa mas tega? Tidak cukupkah mas meninggalkanku selama ini?" Ucapnya disertai tangis. Untung tak ada yang melihat mereka sekarang karena Abah dan ambu sudah berada di kamar berasama anak-anak mereka.
"Ayo masuk, jangan disini" Ucap Rayyan mencoba membujuk istrinya.
"Enggak!" Ellaknya keras kepala.
__ADS_1
"Masuk!" Suara tegas disertai tatapan tajam itu membuat nyalinya menciut seketika. Rayyan mode galak adalah hal yang menakutkan untuk Shafa.
"Masuk sekarang!" Ulangnya sambil menggiring Shafa masuk ke dalam villa mengabaikan tatapannya yang sudah berkaca-kaca.