Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Kesibukan Baru


__ADS_3

Terhitung mulai hari ini, Risa sudah mulai bekerja di HS Clinic milik orang tua Shafa. memang the power of orang dalam, masih menduduki peringkat teratas dalam dunia kerja. Apalagi jika menggunakan jalur langit seperti Risa, bahkan debu pun tak akan mampu untuk menghalangi.


Sebelum menandatangani kontrak kerja, sebelumnya Risa sudah dibekali oleh pengetahuan dasar tentang aturan juga tugas yang akan ia emban. Ia tidak serta merta menjadi bidan utama di Klinik ternama tersebut melainkan sebagai bidan pendamping yang memungkinkan ia untuk bekerja sembari belajar pada yang lebih profesional.


Selama hampir seminggu masa pendampingan , sudah banyak informasi yang ia kantongi mengenai seluk beluk kisah percintaan sang pewaris Shafa Azura dan sang suami Zidane Ar-Rayyan. Entah mengapa, informasi tentang keduanya menjadi topik bahasan menarik yang selalu ingin ia gali, lagi dan lagi. Meski jauh di dalam hatinya ia sudah menyerah akan cintanya terhadap Rayyan yang sudah tentu bertepuk kedua tangan, namun selalu saja setan memiliki celah untuk meracuni otak gadis berparas lembut tersebut.


"Sebenarnya kalau di lihat-lihat, dokter Malvin jauh lebih tampan dibandingkan suami nona Shafa, tapi kenapa dia lebih milih suaminya ya?" Bisik Lita pada dua orang bidan di depannya yang salah satunya adalah Risa.


Dr. Malvin baru saja masuk cafetaria untuk makan siang, sudah menjadi bahan pergosipan para bidan muda di sudut tempat itu.


"Namanya cinta kan nggak bisa di paksakan. Walaupun tak setampan Dr. Malvin, mungkin di mata Shafa suaminya adalah yang paling tampan, bukan kah tampan itu relatif?" Risa memberikan pendapatnya.


"Ia sih, tapi kan biasanya cinta datang karena terbisa. Masa sih selama lebih 2 tahun nggak ada gitu getar-getar asmara. Secara gue yang baru 6 bulan kerja bareng di Dio udah mulai tumbuh tuh benih-benih kecambah." Sahut Ayu.


"Emang sudah selama itu ya?" Risa mencoba mencari tau. Sudah dikatakan, bahwa segala sesuatu tentang Shafa dan Rayyan adalah sesuatu yang menarik untuk ia gali.


"Iya, selama itu. mulai dari nona Shafa masih langsing, sampai tiba-tiba hamil dan melahirkan putri bungsunya. Banyak loh yang ngira itu anak dokter Malvin. Secara Dokter Malvin so sweet banget sama nona Shafa sejak dia hamil sampai anaknya gede." Wika, sang bidan yang paling lama bekerja di HS Clinic membuka sebuah fakta baru yang membuat Risa semakin menguatkan dugaannya.


"Apa cuma perasaanku saja ya, anak bungsu Shafa itu mirip sekali dengan dokter Malvin. Astagfirullah" Risa segera meralat ucapannya yang memiliki makna tersirat.


"Ember" Sahut Lita sambil menyeruput bakmi yang sudah selesai ia bumbui.

__ADS_1


Disela-sela makan siang mereka yang tenang, tiba-tiba pandangan mereka terfokus pada sosok wanita cantik yang tengah menggendong balita cantik.


"Umur panjang, baru aja di cerita udah muncul." Bisik Lita. Pandangan mereka mengikuti arah kaki Shafa yang ternyata menuju sebuah meja di pinggir jendela, dimana dokter Malvin berada.


Risa, mencuri-curi pandang pada tiga orang yang nampak seperti keluarga bahagia. Dokter Malvin yang menyambut kedatangan Zifara dengan pelukan hangat bak seorang ayah, semakin mengusik hati Risa untuk terus berprasangka. Terlebih keduanya nampak begitu akrab bak ayah dan anak.


"Apa kang Andi tahu istrinya berduaan dengan dokter Malvin" Risa membatin. Sayang, ia tak bisa mendengar apa yang sedang mereka bicarakan, karena jarak mereka yang cukup jauh. Tapi dari tempatnya duduk, ia bisa melihat bahwa keduanya tengah terlibat perbincangan serius.


.


.


.


.


"Hei, ngelamun aja. Kaya anak perawan mau di kawinin aja sih Syah." Shafa melempar bantal bermotif kepala burung tepat mengenai wajah Aisyah yang terlihat melamun.


"Iiiiih.... Kakak!!! Orang lagi mikir juga," Dengusnya sambil mengerucutkan bibir, persis seperti Am saat merajuk.


"Mikirin dokter Malvin? Udah, nggak isah di pikirin. Kamu cukup bilang "SIAP" aja kalau tiba-tiba orang tuanya datang melamar." Balas Shafa asal. Ia tahu bahwa adiknya ini sedang dilema dengan perasaannya sendiri.

__ADS_1


"Apaan sih lamar - lamar. Orang masih kecil juga." Aisyah kembali mengamati layar laptop di hadapannya.


Saat ini, Shafa sedang mulai merintis usaha barunya. Setelah mengantongi izin dari sang suami ia mulai kembali menata usaha yang telah gulung tikar akibat musibah yang tak di pernah disangka-sangka. Atas saran dari sang suami dan juga survei lapangan. Shafa mulai memutar haluan untuk menarik konsumen kelas menengah kebawah. Targetnya bukan lagi kalangan elit, melainkan golongan mahasiswa, pelajar juga ibu-ibu muda. Di bantu dengan Aisyah, sepertinya mereka sudah mulai menemukan pasarnya tersendiri.


"Kak, untuk model anak-anaknya mending pake anak-anak kak Shafa aja. Kayanya lucu deh." Ungkap Aisyah. Pasalnya ia bingung jika harus mencari model anak untuk mempromosikan pakaian anak.


"Kakak sih, mikirnya gitu. Lebih hemat budget juga kan. Tapi nanti deh ijin sama ayah mereka dulu. Tau sendirikan Mas Ray gimana?" Sungguh, ide itu sudah jauh hari ada di benak Shafa.


"Sekalian aja, ajak kang Andi buat jadi model baju-baju couple. Serius pasti keren banget kak. Pasti banyak mahasiswa yang tertarik apalagi modelnya dosen mereka. Aaaa asti keren banget kak." Aisyah begitu semangat membayangkan keluarga kecil Shafa menjadi model brand Fashion yang akan mereka luncurkan.


"Nggak yakin, sih Syah. Eh, tapi kalau kamu sama dokter Malvin juga kayanya cocok jadi model kakak." Shafa melirik Aisyah sambil menaik turunkan alisnya menggoda Aisyah.


" Bukan Muhrim kak! Bukan Muhrim! Yang ada Aisyah bakal di cekek sama ayahnya si Am yang baik hati dan tidak sombong itu" Meskipun Jauh di dalam hatinya, ia membayangkan dirinya dan dokter Malvin sedang berpose bak pasangan yang saling mencintai. Cinta?


"Tenapa tante sebut sebut ayah tu Mommy" Am yang tak sengaja mendengar perbincangan dua orang wanita yang mengklaim diri mereka sebagai wanita Sholehah itu pun ikut nimbrung.


"Nah kan, titisan juragan Andi ini paling nggak bisa denger ayahnya disebut sedikit aja, langsung peka" Ejek Aisyah.


"Ayah tu namanya Layyan tante, bukan Andi. Tenapa tante ganti-ganti nama ayah tu. Atu nda suka!" Balasnya kesal, sambil menggebrak meja dihadapan Aisyah. Sepertinya jiwa bar-bar bocah yang belum genap berusia 4 tahun ini mulai terusin.


"Am, nggak sopan ih sama tante Aish." Shafa menarik Am dan mendudukannya di pangkuannya.

__ADS_1


"Ayah Rayyan, kalau di kampung abah kan memang panggilannya Andi. Jadi Andi juga nama ayah sayang." Terang Shafa dengan lembut.


"Huh, Sungguh sangat tidak kelen sekali mommy." Bocah tampan itu membuang muka pertanda tak setuju dengan ucapan sang ibu, membuat dua wanita di dekatnya geleng-geleng menahan tawa.


__ADS_2