Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Pertanyaan Am


__ADS_3

Datang ke klinik jam 7 tepat! Terlambat 1 detik terima konsekuensinya!!!


Bunyi pesan WhatsApp yang baru saja masuk membuat Aisyah yang masih nyaman dalam tidurnya melompat dari kasur empuknya. Diliriknya jam hello Kitty yang menempel di dinding kamarnya. Waktu menunjukan pukul 06.20.


"Astaga!!!" Ia menjerit melemparkan boneka yang masih dipeluk dan langsung berlari menuju kamar mandi. Aisyah melakukan mandi singkat dan dengan terburu-buru mengenakan seragam putihnya. Ia harus tepat waktu atau menerima ucapan pedas dari dokter berparas tampan itu. Jika tidak mengingat ini adalah tahap akhir sebelum dirinya menyandang gelar A.Md. Kep tidak sudi ia menjadi asisten dokter galak yang bisa memperpendek umurnya.


Sabar Aish... Hanya 6 bulan. Sabar!!!


Drrt....Drttt


Getar ponsel Aisyah beberapa kali membuatnya menghentikan mengikat tali sepatunya.


Dr. Malvin is caliing...


"Ha----"


"Datang sekarang atau out!!!" Gertaknya membuat Aisyah berjengit. Mimpi apa ia hingga berada di situasi seperti ini sekarang. Diliriknya jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 06.55. Aisyah berlari menyambar kunci mobil yang tergeletak di meja. Dengan terpaksa ia harus membawa mobil sendiri untuk mempercepat gerakannya.


"Neng, tunggu mang Ucup! Nggak lama lagi dia datang" Tahan mak Das saat melihat Aisyah membuka garasi dengan terburu-buru.


"Saya buru-buru mak Das!"


"Tapi, Neng. Abah larang non Aish bawa mobil sendiri. Atau panggil den Andi saja neng"


Dia lagi enak-enakkan sama istrinya di Villa mak Das. Aish yang jadi tumbal. Mana masih ngutang 10 juta lagi. Awas aja kalau bohong!!!


Mak Das nampak khawatir karena selama ini Aisyah tidak di izinkan membawa mobil sendiri meski ia sudah mahir menyetir. Alasanya, menurut abah ibu kota sangat padat dan berbahaya. Tapi apalah dayanya, Aisyah yang begitu terburu-buru membuatnya tak mampu berbuat banyak.


"Hati-hati neng" Teriaknya saat honda Jazz putih berstiker Hello Kitty itu meninggalkan halaman rumah.


Aisyah memukul-mukul stir mobilnya saat lampu jalan tak kunjung berwarna hijau. Diliriknya jam di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 07.05. Ia menggigit bibirnya, ia harus menyiapkan mental karena sudah pasti akan mendapat semprotan dari dokter tampan yang kini berubah menjadi dokter galak.


Drt...Drt...Drt...


Getar di ponsel semakin menbah kacau pikirannya. Ia merogoh ponselnya dalam saku dan membuka pesan yang baru saja masuk.


Kamu mau main-main dengan saya Aulia! Saya tunggu di ruangan SEKARANG!!!


"Aaaaa... Dokter S*taaaaaaaan, Isk...isk" Teriak Aisyah sambil terisak. Ingin rasanya ia pulang atau pindah tempat atau sekalian pindah kuliah. Tapi mana ada kampus yang mau menerima mahasiswa dalam tahap akhir. Ah, sepertinya awal dari kehidupan barunya baru saja akan di mulai.


🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃


Hujan gerimis yang sejak sore kemarin mengguyur daerah pegunungan di Jawa Barat itu masih terdengar rintiknya. Sepasang suami istri nampak tengah sujud dengan khusuk menghadap sang Khaliq. Ini adalah Shalat berjamaah pertama mereka sejak kedatangan Rayyan kembali. Biasanya subuh begini ia sudah berada di Masjid namun kali ini ia memutuskan berjamaah di kamar bersama Shafa. Selain tak tega meninggalkan Shafa yang tadi meringis menahan perih karena ulahnya, Gerimis yang masih tersisa membuatnya untuk tetap di kamar ajah.

__ADS_1


Setelah selesai dzikir dan berdoa, Rayyan berbalik yang langsung di sambut oleh tangan Shafa yang mengulur hendak menyalami.


Shafa meraih tangan Rayyan dwngan kedua tangannya dan menciumnya. Cukup lama ia menempelkan wajahnya di punggung tangan Rayyan. Hatinya tak henti-hentinya mengucap syukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya.


Rayyan membalas dengan mengecup lama ubun-ubun Shafa yang berbalut mukenah. Ada doa dan harapan yang terucap dalam hati di setiap sapuan lembutnya pada kepaa istrinya. Rayyan berharap semua ujian yang telah mereka hadapi menjadi penguat hubungan mereka menuju keluarga yang Sakinah.


"Terimakasih Shafaku" Ucap Rayyan sambil mendekap Shafa dalam pelukannya. Bahagianya saat itu tak bisa digambarkan dengan apapun juga. Shafa, Zaf, Am dan Zi adalah harta paling berharga yang ia miliki, Ia akan melalukan apapun agar keutuhan keluarga tetap terjaga.


Subuh itu, sambil menunggu pagi sepasang pengantin lama rasa baru itu menghabiskan waktu untuk saling bermanja manja di dalam kamar. Mumpung pengganggu cilik belum pada bangun. Shafa berselonjor kaki dengan punggung bersandar pada dada Rayyan yang berada dibelakangnya.


"Mas! Ini ngapain ngelus-ngelus perut aku? Jangan bilang mas minta lagi ya?" Shafa mendelik memperingatkan.


Sorry mas Ray ku sayang, nggak ada jatah ke 3 untuk hari ini. Yang bener aja, bibir gue udah berasa jontor, yang di tengah juga udah pada bengkak apalagi yang di bawah. Sumpah gue nggak bisa bayangin.


"Siapa tahu adiknya Am sudah berkembang disini" Jawabnya asal.


"Mana ada kaya gitu? Yang ada cebongnya mas masih berenang renang ria." Balas Shafa tak kalah asal. Rayyan malah terkekeh mendengar ucapan sang istri.


"Shafa nggak papa kan kalau hamil lagi?" Tanyanya yang sedang mendekap Shafa dari belakang.


"Yang penting mas selalu di sampingku" Shafa menyandarkan kepalanya di dada Rayyan. Jika mengingat kehamilan Zizi, rasanya berat sekali melaluinya seorang diri


"Insha Allah sayang" Lagi lagi Rayyan menvium puncak kepala istrinya.


"Sakit!" Jawab Shafa.


"Sekali?"


"Hmm"


"Tapi Shafa menikmatinya kan? Buktinya tadi Shafa---"


"Mas Ray ih, mesum! Nggak usah di bahas!" Potong Shafa dengan ketus. Kan malu, kalau sekarang ngeluh sakit padahal tadi mendesah manja menikmati sensai nikmat di setiap sentuhannya.


Keduanya bertukar cerita dan bercengkerama hingga tak terasa Pagi mulai menyapa. Semburat kuning telah nampak di ujung barat. Sebentar lagi anak-anak mereka pasti akang bangun. Dengan cepat Rayyan membereskan sisa-sisa tissu yang masih berhamburan juga melipat selimut yang habis mereka gunakan.


"Mas ngelakuin itu juga dimalam pertama kita" Ucap Shafa yang dibiarkan selonjoran di atas karpet tebal berbulu lembut itu.


"Mas tau, nyuci seprei juga kan?" Jawabnya. Kali ini ia membiarkan seprei putih itu tetap terpasang karena tak ada noda yang melekat di atasnya.


"He.em..." Shafa mengangguk malu-malu.


dog...dog...dog...

__ADS_1


"Mommy... Mommy buta pintuna!" Keduanya sontak melihat ke arah pintu. Jagoan dan princess kecilnya pasti sudah menunggun mereka. Rayyan segera menghentikan kegiatannya dan melaangkah menuju pintu.


Ceklek,


"Mommy...." Am dan Zifara yang sudah harum berlari menghampiri Shafa yang tengah duduk merilekskan tubuhnya. Mereka berdua memeluk dan menciumi ibunya tanpa menghiraukan keberadaan ayahnya. Kebiasaan yang tidak berubah meski kini Rayyan pun ada bersama mereka.


"Atu kangen mommy"


"Acu uga" Zifara ikut mengoceh dalam pelukan ibunya.


"Jadi nggak ada yang kangen sama ayah?" Rayyan ikut mwndaratkan tubuhnya di antara mereka.


"Atu...atu..." Am melompat gantian memeluk Rayyan, pun mencium pipinya. Sementara Zizi hanya melongo menatap sang ayah yang sudah dalam kuasa kakaknya.


"Zizi mau sama ayah juga?" Tanya Shafa yang mengerti tatapan iri putrinya.


"Sini, anak solehah ayah." Rayyan meraih tubuh putrinya dalam dekapannya.


"Atu tama mommy aja deh" Am beralih skembali memeluk Shafa seperti bayi koala.


"Mommy... Tenapa lehel mommy melah-melah ini?" Tanyanya sambil meraba bagian tulanhg selangka Shafa.


Shafa mendelik mendengar pertanyaan Am. Ia langsung menoleh pada Rayyan yang terlihat salah tingkah.


"Em Am, ayo jalan-jalan pagi sama ayah?" Rayyan mencoba mengalihakan perhatian putra kecilnya itu.


"Nda mau ayah, mommy tu takit. Ini lehelnya melah-melah" Jawabnya tak mau beranjak dari pangkuan mommynya.


Shafa mendelik ke arah Rayyan yang, tersenyum canggung dari gerakan bibirnya bisa terbaca ia mengatakan "Sorry".


"Tuh kan apa aku bilang! Mas sih nekat!!!" Omel Shafa sambil menggegat giginya. Tangannya mendarat sempurna di pinggang Rayyan, mencubitnya keras.


"Awww... Ampun mommy" Desisnya yang kembali menarik perhatian Am dan Zizi.


"Ayah tenapa minta ampun sama mommy?" Ucapnya polos membuat Rayyan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Eh... Anu itu"


"Itu apa ayah?" Tuntut Am yang tak sabar.


"Ayah...Ayah em..." Rayyan jadi bingung sendiri menjawab pertanyaan putranya. Ia menoleh pada Shafa seolah meminta bantuan tapi Shafa malah menjulurkan lidahnya mengejek.


Rasain! makanya kalau nafsu lihat-lihat juga. Udah di ingatin malah sak karepe dewe! Selamat menikmati pertanyaan dari anak kesayanganmu mas Ray!!!

__ADS_1


__ADS_2