Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Wajah Asli


__ADS_3

Malvin mengambil kantong yang di pesannya tadi dari cafetaria klinik. Rapat dadakan yang baru saja di adakan mengharuskan ia untuk menunda pembebasan perawat cantik yng tengah di kuncinya di dalam ruangan.


Waktu sudah menunjukkan pukul 3.15, sudah memasuki waktu Ashar. Harusnya Aisyah sudah waktunyabpulang, karena jadwal magangnya hanya sampai jam 3 siang jika ia shift pagi. Malvin penasaran apa yang sedang di lakukan Aish di dalam ruangannya.


"Astaga!!!" Malvin segera meletakkan kantong yang dibawanya di atas meja sesaat setelah membuka pintu. Ia cukup terkejut mwlihat Aisyah yang terbaring masih mengenakan mukena. Nampaknya ia baru selesai melaksanakan Sholat. Malvin berjongkok berusaha mencari tahu apakah ia pingsan atau ketiduran.


"Hei... Bangun!" Ia mencoba menggoyangkan bahunya namun tak ada pergerakan. Di sebelah Aisyah terdapat 2 botol jus dan sebuah botol air mineral kosong yang tergeletak begitu saja di lantai.


"Aulia...!!! Bangun" Malvin mencoba membangunkan tubuh Aisyah yang terkulai lemas.


"Ya Tuhan!!!" Keterkejutan Malvin bertambah saat melihat wajaah pucat Aisyah. Ia menempelkan punggung tangannya di kening Aisyah yang terasaa dingin.


Dia kelaparan!


Malvin segera mengangkat tubuh Aisyah ynag masih berbalut mukena menuju ranjang tempat istirahatnya. Setiap ruangan dokter di klinik ini memiliki tempat khusus untuk istirahat yang tersekat oleh sebuah tirai putih. Malvin mencarikan posisi nyaman untuk Aisyah berbaring. Dengan cekatan ia mengambil stetoskop dan pengukur tekanan darah untuk memeriksa kondisi Aisyah. Tanpa ragu ia melepas mukena yang menghalangi pergerakannya. Malvin sempat tertegun sesaat setelah mukena Aisyah benar-benar terlepas. Wajah imut bak boneka barbie yang selama ini tertutup kerudung kini nampak jelas di hadapannya.


Jadi foto itu bukan hasil dari kamera tipuan?


Tiba-tiba ia merasa canggung setelah melihat penampakkan asli Aisyah. Beberapa helai rambut yang menutupi wajahnya is singkirkan perlahan. Aisyah di hadapannya ini sungguh sangat berbeda dengan Aisyah yang biasa ia lihat. Mungkin karena rambut lurus nan jatuh yang terbuka menambah kecantikan alami tanpa polesan make up itu berkali-kali lipat lebih cantik. Tak ingin memandangnya lama-lama, Malvin segera memasang selang infus di lengan Aisyah. Ada perasaan bersalah yang terbersit di hatinya melihat Aisyah sampai pingsan seperti itu.


Apa aku begitu keterlaluan pada anak ini?


Karena rasa kecewanya pada kenyataan yang membuatnya jauh dari Shafa membuat Malvin bersikap semena-mena pada Aisyah yang tak tahu apa-apa. Egonyanmembuatnya mennjadi kejam dan tak ber hati pada gadis lemah yang datang bersama Rayyan beberapa minggi lalu. Dan karena itu pula ia melupakan sikap profesionalisme nya dalam bekerja dengan mencampur adukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Terlebih ia sampai menggunakan kekuasaannya sebagai anak dari pemilik kampus untuk mengintimidasi Aisyah.


Beberapa kali terdengar panggilan dari ponsel Aisyah yang tak lain berasal dari Rayyan yang di abaikan begitu saja oleh Malvin. Ia tetap berada di kursi sebelah ranjang mengamati pergerakan yang menghantarkan Aisyah pada kesadaran. Matanya seseklai menatap wajah Aisyah, ia harus mengakui bahwa gadia di depannya ini sungguh cantik dan natural. Meski hidungnya tak semancung Shafa, matanya tak selentik milik Shafa dan tubuhnya tak seideal tubuh Shafa tapi Aisyah memiliki ciri khas nya sendiri.


"Astaga apa yang aku fikirkan?" Malvin menggelengkan kepalanya saat fikiran liar itu mulai menyusup di kepalanya. Bisa-bisanya ia membandingkan Aisyah dengan wanita yang dicintainya.

__ADS_1


"Ssshh hhhh" Terdengar deru nafas Aisyah di sertai desisan yang menandakan kesadarannya telah pulih. Perlahan ia membuka matanya yang terasa berat, belum lagi rasa nyeri di punggung tangan kirinya membuatnya sedikit meringis.


"Kamu sudah sadar?" Tanyanya sambil bangkit dari duduknya. Aisyah tak menjawab, memalingkan wajahnya lantaran sakit hati dengaan dokter di hadapannya itu. Hampir saja ia mati kelaparan gara-gara ulah Malvin.


"Bangunlah, saya sudah memebelikan makanan untukmu" Ucap Malvin. Mendengar kata makanan, mata Aisyah langsung terbuka sempurna. Lebih baik ia makan dari pada harus di infus seperti ini. Tapi tunggu, Aisyah mulai menyadari sesuatu.


"Aaaaaaa......!!! Dokter apain Aish, Dokter mesum! Dokter jurig!!!" Aisyah berteriak dengan kencang saat menyadari ia tidak memakai penutup kepala.


.


.


.


.


.


Di kamar Shafa saat ini tengah terjadi kehebohan kecil yanga berasal dari anak-anaknya. Mereka sangat antusias untuk pergi ke time zone malam ini. Meski bukan kali pertama bagi mereka menginjakan kaki di wahana bermain itu, namun ini adalah kali pertama mereka pergi bersama sang ayah.


"Ayah atu udah ganteng?" Tanya Am sambil tersenyum lebar memperlihatkan penampilannya dengan kaos putih dan celana hitam juga sepatu kets barunya. Tak lupa sebuah jam tangan imo melingkar di pergelangan tangan kecilnya.


"Masya Allah anak ayah, udah ganteng" Rayyan mengacungkan dua jempolny untuk Am.


"Aku mau pake kemeja panjang aja mommy" Pinta Zaf saat Shafa tengah menyiapkaan pakaiannya. Berbeda dengan Am, Zaf yang lebih tua ini memiliki karakter yang tenang dan kalem.


"Iya, ini udah mommy siapin. Mas tolong bantu Zaf, aku mau gantiin baju Zizi dulu" Ucap Shafa sambil menggendong putri kecilnya. Ia memilihkan sebuah atasan cantik dengan leher model sabrina yang di padukan dengan rok mini yang begitu cantik. Rambut tipis Zi di pasangkan bandana berwarna senada dengan rok yang di pakainya.

__ADS_1


"Mom, Zi kenapa di pakaikan pakaian seperti ini?" Tegur Rayyan saat melihat putri cantiknya telah selesai di dandani.


"Kenapa mas? Cantik kan?" Ucapnya bangga dengan ke ahliannya me matching kan sesuatu.


"Am dan Zaf tunggu di luar ya nak" Titah Rayyan kepada dua orang putranya masih menunggunya di dalam kmar.


"Iya ayah, ayo dek kit tunggu di depan tv" Ajak Zaf kepada sang Adik.


Rayyan memangku Zifara yang sudah cantik dengan outfit pilihan sang mommy.


"Sayang, kita harus menghargai aurat anak" Ucap Rayyan pada Istrinya yang tengah memasang kerudung segi tiga di kepalanya.


"Maksudnya?" Shafa menoleh. Tak paham dengan perkataan snag suami.


"Zizi kan masih kecil mas, belum wajib menutup aurat" Imbuh Shafa.


"Tidak wajib bukan berarti harus di umbar mom. Kita tidak tahu di luar sana apakah semua orang sehat atau tidak. Mas hanya tidak ingin putri mas menjadi korban mata-mata jahil yang mungkin memiliki kelainan. Sebagai orang tua kitalah yang harus menjaganya" Terang Rayyan. Bukan tak beralasan ucapannya barusan, nyatanya banyak ditemukan kasus pelecehan pada anaak di bawah umur bahkan balita oleh orang-orang tak bertanggung jawab demi memuaskan kelainan dalam dirinya. Oleh sebab itu sebagai orang tua sudah sewajarnya ia waspada.


"Ooh---" Shafa hanya bisa ber O ria, karena jawaban Rayyan benar adanya. Ia kemudiaan bangkit mengambil sebuah sweeter anak dan leging untuk menutupi bagian tubuh Zifara yang terbuka.


"Nah, begini lebih cantik!" Ucapnya setelah Shafa selesai mengenakan leging dan sweeter tersebut pada Zizi.


"Kalau penampilanku? Ada yng mas nggak suka?" Shafa memutar tubuhnya di hadapan Rayyan. Rok tutu panjang berwarna hitam dengan taburan beberapa mutira yang di padukan dengan atasan dengan potongan lengan balon berwarna putih tulang cukup membuat penampilan Shafa terlihat elegan.


Rayyan mendekat, " Mas nggak suka---" Ucapnya menggantung membuat Shafa khawatir.


"Mas nggak suka, jika ada laki-laki lain yang memandang Shafa selain Mas!" Bisiknya membuat rona merah itu terbit di wajah Shafa.

__ADS_1


Apakah kamu sedang menjelaskan bahwa kamu cemburu mas?


__ADS_2