
Waktu masih menunjukkan pukul 03.10 dini hari. Rayyan terjaga akibat bunyi alarm yang dipasangnya di smartphone miliknya. Waktunya melaksanakan ibadah sunnah yang paling utama di sepertiga malam yang paling akhir, yaitu waktu yang baik untuk bermunajat pada sang pemilik hidup.
Diliriknya Shafa masih terlelap begitu pulasnya dengan tangan kanannya yang melingkar diperutnya. Ia baru tidur kira-kira 3 jam yang lalu setelah melaksanakan salah satu kewajiban utamanya sebagai seorang istri. Sebuah ibadah yang cukup menguras tenaga.
"Cantik" Gumamnya sambil merapikan anak rambut yang menutupi wajah ayunya.
Rayyan masih terus memandangi wajah sang istri yang terpahat begitu indah dan sempurna tanpa cela. Bahkan jerawat dan flek pun seakan enggan untuk sekedar lewat di wajah mulusnya. Betapa Allah telah menciptakan pasangan yang menyejukkan mata, pengobat lelah dan pelengkap dalam hidup Rayyan yang selalu ia syukuri setiap di waktu.
Rayyan memakai kembali kaos dan celana pendeknya sebelum membersihkan dirinya di kamar mandi. Tak lupa ia menengok sng putri kecil yang juga masih terlelap di kasur bayi miliknya.
Balita yang tak kalah cantik dari sang ibu tersebut tengah tidur lelap dengan memeluk boneka Hello Kitty kesayangannya. Sepertinya Rayyan harus extra ketat menjaga Zizi kelak saat dewasa. Sudah bisa di pastikan ia akan menjadi primadona di zamannya nanti. Dalam kondisi tidur seperti itu, Zizi sangat mirip dengan momnynya bahkan jauh lebih cantik dengan wajah khas jepang yang di turunkan dari nenek garis keturunan Shafa. Hampir tak terlihat jejak Rayyan di wajah cantiknya, kecuali saat ia membuka mata. Mata teduh nan menenangkan itu sangat serupa dengan sang ayah.
Selesai membersihkan diri dan melaksanakan Shalat Malam, Rayyan beranjak menuju walk in closet di kamarnya. Di raihnya koper berukuran sedang yang berada di atas lemari. Ia bahkan belum memberi tahu sang istri jika dirinya harus menghadiri seminar internasional yang di selenggarakan di salah satu kampus terbesar di Indonesia bagian Timur. Ia sendiri baru menyetujui undangan tersebut kemarin, saat dirinya tengah di landa emosi menghadapi Shafa. Namun, di balik semua itu, ada keuntungan yang cukup besar untuk menambah modal usaha sang istri.
"Sayang, bangun" Rayyan menepuk lembut pipi sang istri yang tengah lelap setelah selesai menyiapkan koper yang akan di bawanya.
"Shafa... Banguun"
CUP!
CUP!
CUP!
Rayyan mengulangi lagi, kali ini dengan kecupan bertubi tubi yang di daratkan di wajahnya membuat sang empunya tubuh mulai terusik.
"Emmmh... Mas, ganggu ih. Masih capek tau" Gerutunya dengan suara yang sedikit bergumam. Shafa kembali menenggelamkan wajahnya kedalam guling yang tengah di peluknya. Tubuhnya benar-benar lelah setelah kegiatan panas yang menguras tenaga semalam.
"Sayang, sudah hampir subuh. Mas mau ke Masjid," Rayyan menggoyang bahu Shafa agar ia terjaga dan tak kesiangan melaksanakan Shalat subuh.
Akhirnya dengan mata yang masih berat Shafa bangkit dari tidurnya sembari menarik selimut untuk menutup tubuh polosnya. Dengan langkah terseok-seok dan mata setengah terpejam Shafa berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sepulang dari Masjid Rayyan mendapati Shafa tengah meringkuk di atas sajadah, masih menggunakan mukena. Mungkin ia benar-benar mengantuk.
"Sayang, jangan tidur di bawah," lagi, Rayyan menggoyangkan bahu sang istri agar terjaga.
__ADS_1
"Hmmm," hanya gummaman kecil yang lolos dari bibirnya.
"Hari ini Mas harus berangkat ke Kendari, ada seminar Internasional selama beberapa hari" Akunya pada Shafa.
Sontak ucapan Rayyan barusan membuat kesadaran Shafa terkumpul sepenuhnya. Ia refleka membuka mata, bangkit dan langsung menatap tajam wajah suaminya.
CUP!
"Jangan ngeliatin Mas kaya gitu" goda Rayyan melihat ekspresi sang istri.
"Mas mau kemana tadi? Maunke Kediri?"
"Bukan kediri sayang, tapi Kendari. Ibu kota Sulawesi Tenggara" Jawabnya dengan tatapan mata yang masih belum beralih dari wajah sang istri.
"What? Sulawesi Tenggara? Nggak... Nggak... Ngak. Mas Ray nggak boleh pergi! Pokoknya nggak boleh!" Ucapnya mulai gusar.
Shafa meraih tangan Rayyan dan mengapitnya erat. Takkan ia biarkan suaminya beranjak dari sisinya meski sedetik saja.
"Sayang, Mas sudah janji sama pak Rektor. Lagian nggak lama kok perginya. Nanti mas akan sering-sering telfon Shafa" Rayyan merendahkan suaranya sembari mengusap sayang kepala sang istri yang sudah tenggelam di dadanya.
"Nggak!"
"Aku ikut!" Shafa mengangkat kepalanya. Matanya masih terus saja mengalirkan air. Entahlah, yang ia mendadakan cengeng seperti inu.
"Kalau Shafa ikut bagaimana dengan anak-anak? Zaf kan harus sekolah. Nanti saja ya, liburan sekolah nanti kita liburan ke Mesir." Ucap Rayyan membujuk. Semoga saja Shafa bisa luluh dengan iming-iming liburan ke negear timur tengah tersebut.
"Nggak! Aku nggak mau ke Mesir. Maunya ke Kediri" Sahut Shafa yang masih kekeh dengan pendiriannya.
"Kendari sayang bukan Kediri" Rayyan membenarkan.
"Whatever lah mau Kediri mau Kendari pokoknya aku ikut titik! Kalau enggak mas Ray nggak boleh pergi!" Katakan ini egois, tapi Shafa hanya ingin terus berada di sisi suaminya. Ia bahkan lupa kalau kemarin dirinya telah membuat Rayyan naik pitam akibat ulahnya yang mengcover lagu-lagu hingga menjadi viral.
Rayyan menghela nafas berat, menghadapi sifat keras kepala Shafa.
"Oke! Mas nggak pergi, apa Shafa puas sekarang?" Jawab Rayyan dingin.
__ADS_1
Semoga berhasil! Batinnya berdoa.
"Mas serius?" Shafa menghentikan isaknya seketika.
"Apa mas terlihat sedang bercanda?" Rayyan masih menunjukan ekspresi datarnya membuat Shafa menggigit bibir bawahnya. Ia tahu suaminya terpaksa melakukan semua ini.
"Mas?" Panggil Shafa lirih saat melihat suaminya menarik kembali kopernya masuk ke dalam ruang ganti. Shafa buru-buru beranjak mengikuti Rayyan dari belakang dengan mengangkat bagian bawah rok mukenanya.
"Mas Ray ngapain?" Tanyanya saat melihat Rayyan membuka kopernya.
"Inikan yang Shafa mau. Shafa ingin mas tetap dirumah dan tidak pergi bekerja" Jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan pakaian yang kembali ia letakkan pada tempatnya.
Hati Shafa terasa sakit mendengar ucapan Rayyan yang seakan menuduhnya menjadi orang paling egois di muka bumi ini. Tak terasa lelehan bening itu kembali menetes.
Cengeng banget sih gue! Batinnya sambil mengusap kasar matanya.
Shafa mendekati Rayyan. Tangannya meraih pakaian yang hendak di letakkan kembali ke dalam lemari.
"Mas siap-siap aja. Biar aku yang packingkan barangnya" Ucap Shafa. Well, kamu harus kuat Shafa, hanya beberapa hari saja bukan? Ia mencoba menguatkan dirinya.
"Maksudnya?" Rayyan menatap wajah sang istri. Sepertinya rencananya kali ini berhasil.
"Mas Pergilah, aku nggak papa kok" Ucapnya sembari menunduk.
Rayyan mengulum senyumnya, ia tahu Shafanya bukanlah wanita yanh egois meski ia cukup keras kepala.
"Terima kasih sayang!" Rayyan menarik tubuh sang istri kedalam pelukannya.
"Mas janji akan segera pulang, dan kita akan liburan bersama" Ucapnya sambil mengecup kening Shafa.
"Nggak Mas!" Shafa menggeleng. Bukan liburan yang ia inginkan.
"Aku nggak butuh liburan. Cukup mas pulang kembali dengan selamat ke rumah ini. Ingat selalu, ada kami yang selalu menunggumu pulang"
________________
__ADS_1
Hai..Hai... Author is back stlah 18 hari yang melelahkan. Jadi aku baru selesai mengikuti Diklatsar dan baru balik semalam. Terimakasih yang sudah setia menungguku❤️❤️❤️
I Love you all...