Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Haruskah Menyerah?


__ADS_3

Shafa yang baru saja sampai di villa lngsung mencari keberadaan anak-anaknya. Ia berencana membawa mereka semua pulang ke Jakarta hari itu juga. Apa yng dilihatnya tadi cukup meyakinkan dirinya bahwa jauh di dalam lubuk hati Rayyan mungkin tak menginginkannya lagi.


"Am?" Shafa menghampiri Am yang baru kembali dari halaman belakang. Nafasny anampak ngos-ngosan tapi wajahnya begitu berbinar bahagia.


"Atu haus mommy"


Shafa meraih air di atas pantri dan memberikannya padaa Am.


Nampak abah dan ambu menyusulnya di belakang.


"Abah, ambu istirahat saja." Shafa meraih Zifara dari gendongan ambu.


"Atook, ayo main lagi" Ajak Am yang sekan tidak merasa lelah.


"Jangan! Kasian atoknya Am, mainnya nanti lagi, sekarang temani mommy bobok yuk?" Ujar Shafa dengan tatapan memohon pada sang anak.


"Ya udah deh. Atok, atu mau bobo dulu ya, nanti main lagi ya atok" Ucap Am. Ia segera mengekor sang ibu masuk ke dalam kamar.


Shafa membaringkan Zifara di sebelah kirinya sedang Am disebelah Zizi. Ia menghela nafas dalam memandangi satu persatu malaikat kecilnya dengan mata berkaca-kaca.


"Mommy" Am bergeser ke sebelah kanan Shafa dan memeluknya, seakan mengerti apa yang tengah dirasakan ibunya.


Shafa mengusap lembut kepala Am, setidaknya kalau Rayyan sudah tak mencintainya lagi, masih ada anak-anaknya yang mencintainya. Janjinya untuk berjuang, mencintai Rayyan terlebih dahulu sepertinya harus ia mentahkan kembali. Bukan ia tak sanggup tapi ia tak mungkin berjuang jika ada orang lain yang di inginkan suaminya. Banyangan Rayyan yang tersenyum hangat pada wanita di perumahan masjid itu membuat hatinya benar-benar dirundung bimbang.


"Atu sayang Mommy" Ucap Am sambil mengeratkan pelukannya.


"Acu uga" Sahut suara kecil yang langsung naik ditubuh sang ibu ikut memeluknya.


"Mommy juga sayang kalian" Ucap Shafa memeluk kedua anaknya. Ia memejamkan matanya saat buliran bening itu kembali mengucur.


Aku nggak boleh cengeng! Aku tidak sendiri, aku masih punya mereka.


"Mommy tenapa nangis?" Am mengusap pipu Shafa dan menatap wajahnya.

__ADS_1


"Mommy nggak nangis sayang, ini cuma keringatan" Ucapanya.


"Am, Zi... Kita pulang yuk ke rumah kita?" Am langsung mengangkat kepalanya menatap lekat-lekat wajah Shafa.


"Tenapa? Atu cuka di tini mommy, atu kan mau mancing" Tolak Am, yang merasa keberatan dengan permintaan Shafa.


"Nanti kita mancing di pemancingan sama Opa yah?" Bujuk Shafa namun Am menggeleng.


"Atu mau mancing cama atok mommy" Kilahnya. Ia tak tahu bahwa perasaan ibunya sedang kacau balau. Memaksa Am pun rasanya percuma justru akan membuat bocah kecil itu semakin menjadi jika keinginannya tak di penuhi.


Klek,


Shafa terlonjak saat seseorang membuka pintu kamarnya. Rayyan masuk dengan senyum lembut yang terasa menyakitkan bagi Shafa yang melihatnya.


"Ayaaah" Am langsung berlari melompat dalam pelukan Rayyan. Shafa tertegun sejenak. Jika ia menyerah, apakah anak-anaknya akan sebahagia ini? Jika bertahan, apakah Rayyan akan bahagia?


"Haloo, anak cantik ayah" Cup! Ia mendaratkan tubuhnya di sebelah Shafa yang tengah memangku Zizi dengan bersandar pada kepala ranjang.


"Ayah, ayah, mommy to ajak atu puyang tapi aku nda mau" Adu Am. Tidak seharusnya ia memberitahu keinginannya untuk pulang pada Am yang sudah pasti akan melapor pada ayahnya. Ah, Shafa tidak sampau berfikir sejauh itu.


"Ada apa?" Tangan Rayyan menyentuh punggung tangan Shafa. Ia tahu istrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Tidak apa-apa" Jawabnya.


"Kenapa? Shafa tidak suka disini?" Tanyanya berusaha mencari tahu penyebab kediaman istrinya.


Shafa mengangkat wajahnya menatap wajah Rayyan yang begitu tenang namun menghanyutkan. Wajah kalem itu telah berhasil menghanyutkan perasaannya sejauh ini.


Bukan aku tidak suka disini. Tapi aku tidak suka melihatmu dengan orang lain. Maaf kalau aku egois!


Shafa kembali menunduk, mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. Rayyan cukup dibuat bingung dengan sikap Shafa yang tiba-tiba diam, padahala baru saja ia ingin memulai semuanya.


"Aku buatkan Zizi susu dulu ya?" Ia meletakkan Zizi di sebelah Rayyan kemudian turun dari ranjangnya menuju dapur.

__ADS_1


"Ambu tidak istirahat?" Tanyanya saat mendapati ambu tengah membersihkan jambu air dari tangkainya.


"Ini, ambu lagi bersihkan jambu supaya bisa langsung dimakan"


"Wah, boleh minta ambu? Dulu waktu hamil Am, Shafa suka sekali makan jambu air. Ini dapat dari mana ambu?" Tanyanya sambil memilih jambu yang berwarna paling merah untuk ia coba.


"Ini di kasi neng Risa, tadi Andi yang bawa"


Risa? Jadi perempuan itu ...


Shafa meletakkan kembali jambu air itu di atas nampan.


"Kenapa tidak jadi di makan?"


"Em... Saya lupa mau buatin susu Zizi, nanti dia nangis" Ucapnya cepat cepat bergeser mengambil gelas Zizi dan membuatkan susu.


Nggak salah lagi. Pasti perempuan yang tadi. Yang semalam mas Ray tanyain. Hhh pantaslah dia suka, perempuan itu anak ustad.


Mungkin terlalu lama membuat susu, saat kembali ke kamar ia mendapati anak-anaknya sudah tertidur. Zifara malah tidur dalam dekapan ayahnya. Perasaan Shafa semakin miris. Mungkin sekarang bukan hanya Rayyan yang tidak membutuhkannya, tapi juga anak-anaknya. Rayyan dapat dengan mudah mencuri perhatian kedua buah hatinya tersebut. Bahkan dengan sekali ucap Am yang yang paling bandel dan susah di atur pun akan langsung tunduk padanya.


Ia meletakkan susu yng baru saja dibuatnya di atas nakas sebelah Rayyan. Saat hendak berbalik tangannya di tahan oleh sebuah lengan yang menggenggam erat pergelangannya. Shafa menoleh, Rayyan yang telah membuka matanya menatapnya dengan sejuta tanda tanya. Ia merasa tak asing dengan situasi seperti ini, apa sebelumnya Shafa pernah mendiamkannya seperti ini? Ia terus saja bergumam, menerka - nerka apa yang terjadi.


Dengan sekali tarik tubuh ramping Shafa terduduk di sebelah tubuh Rayyan. Rayyan melingkarkan tangannya di perut Shafa menahannya untuk tidak berdiri dan pergi.


"Shafa kenapa?" Tanyanya lirih agar tak membangunkan Zizi dalam dekapannya.


Cukup lama Shafa menatap Rayyan hingga ia bersuara "Apa mas Rayyan bahagia bersamaku?" Tanyanya, tak melepaskan pandangannya dari mata teduh berbingkai tersebut. Kening Rayyan mengeyit mendengar pertanyaan dari Shafa.


Ada apa dengan mu Shafa?


"Kenapa tiba-tiba--"


"Cukup jawab ya atau tidak!" Potong Shafa yang tak suka mendengar jawaban bertele-tele dari suaminya.

__ADS_1


Rayyan menghembuskan nafas berat, baru saja ia akan bersuara, lagi-lagi Shafa yang tidak sabar memotong ucapannya.


"Jika tidak, mas bisa mencari kebahagiaan mas sendiri. Aku ikhlas" Ikhlas ucapnya di bibir namun tidak dengan hatinya. Sampai kapanpun hatinya tak pernah iklas Rayyan dimiliki oleh orang lain. Egonya menjerit Rayyan hanya miliknya milik Shafa Azura seorang, dulu sekarang bahkan nanti.


__ADS_2