
Sepanjang perjalanan Jakarta-Bandung pak Madi dan Rayyan tak henti-hentinya bercerita tentang masa lalu mereka. Mulai dari zaman pengantin baru sampai Am berusia 7 bulan hingga kehamilan dan kelahiran Zizi. Dan karena cerita itu pula Rayyan jadi tahu betapa mereka berdua saling mencintai satu sama lain. Hal ini membuat rasa canggungnya sedikit berkurang. Shafa tadinya nguping pura-pura tidur tak tahan karena lehernya sudah mulai pegal akibat berbaring miring akhirnya membuka matanya.
"Mas?" Panggilnya sambil mengucek-ngucek matanya.
"Shafa sudah bangun?" Rayyan membantu Shafa bangun dari posisi berbaringnya.
"Jam berapa sekarang? Apa masih lama perjalanannya?" Tanyanya sambil menoleh ke luar jendela mobil.
"Sekitar 30 menit lagi sampai, ini sudah masuk wilayah Jawa Barat. Pak Madi 1 kilo dari sini sebelah kiri ada Masjid. Kita istirahat dulu sekalian sholat duhur" Ujar Rayyan pada pak Madi yang berada di balik kemudi.
"Siap pak"
Sejak satu jam yang lalu handphone Rayyan terus berdering, panggilan dari abah dan ambu silih berganti. Mereka berdua sudah tak sabar ingin bertemu dengan istri dan anak-anak Rayyan. Ambu bahkan sudah memasak banyak untuk menyambut kedatangan mereka.
"Ayaaah..." Am segera berlari menghampiri ayahnya begitu mobil berhenti di pelataran Masjid.
"Atu mau pipis ayaaah" Ucapnya sambil menangkupkan tangan di bagian depan celananya.
"Tuh kan, mommy bilang pakai pampers aja biar enak, Am nggak mau!" Sahut sang mommy yang tengah menggendong Zifara.
"Atu udah betang mommy, udah mau punya adik jadi nda mau pake popok" Ucapnya membela diri.
"Memangnya siapa yang mau buatin adik?" Ledek Shafa pada putranya sekaligus sindiran buat sang suami yang tingakat kepekaannya berada pada level kronis.
"Ayah, Iya tan ayah?" Ia mendongak pada ayahnya yang tengah menggulung lengan jaketnya.
"Iya, Ayo ke kamar mandi" Ajaknya pada Am yang telihat sedang menahan kencing.
"Tu tan, ayah tu mau buatin adik Am" Ucapnya berbangga diri pada sang ibu.
"Oh ya? Mommy nggak percaya tuh" Shafa melirik Rayyan dengan sudut matanya.
"Iya! Ayah mommy nakal" Rengeknya sambil menunjuk sang ibu yang sejak tadi meledeknya.
"Iya... iya sudah. Nanti ayah buatin adik Am ya? Sekarang ayo pipis, nanti malah ngompol" Rayyan menggendong tubuh Am membawanya ke tempat kamar mandi masjid.
__ADS_1
"Ayah janji?" Ucap Am yang merasa kurang puas dengan jawaban ayahnya. Rayyan menoleh ke arah Shafa yang tengah memberi susu pada Zifara.
"Apa?" Jawab Shafa yang merasa di tatap dengan tatapan aneh.
"Mommy beneran sudah siap hamil lagi kan?" Tanyanya di sertai senyuman lembut yang membuat Shafa hampir menjatuhkan botol susu Zifara.
"Mommy jawab!" Timpal Am yang melihat mommynya bengong.
Gluk! Hamil lagi?
Sebenarnya Shafa masih ngeri kalau ingat sakitnya saat melahirkan meski sudah dua kali mengalami. Tapi kalau ia menjawab tidak, itu artinya akan semakin memperlama proses kedekatan antara mereka berdua.
"Oh itu, Mommy siap kok. Am mau adik berapa sih?" Jawabnya entengbseolah melahirkan anak seperti buang ingus.
"Yeyeye... Mommy mau ayah" Sorak Am kegirangan. Tak tahu hati mommynya yang sedang cenat-cenut memikirkan antara malam pertama yang bukan pertama kali dan hamil lagi. Hal yang menurutnya sama beratnya tapi tidak sama enaknya.
Setelah selesai melaksanakan Sholat dzuhur mereka kemabali melanjukan perjalanan. Am Zi dan Zafran kini berpindah mobil bersama Rayyan dan Shafa karena perjalanan yang sudah dekat.
"Zi..zi, ini siapa?" Am menunjuk Rayyan.
"Yah" Jawabnya singkat.
"Tata Am" Jawabnya smbil tertawa lebar menunjukkan gigi putihnya yang bersih tak seperti milik Am.
"Mommy Zizi udah pintal mommy" Ucap Am kegirangan karena adiknya tidak lagienyebut namanya.
"Pintar dong, kan mau punya adik. Iyakan Ziiiii" Rayyan mencubit gemas pipi putrinya yang cantik dan menggemaskan itu.
Rayyan bisa melihat dengan jelas rona merah di pipi Shafa ketika ia mendekatkan wajahnya pada Zifara yang ada di dalam pelukan istrinya. Sepertinya ia sudah mendapatkan kesenangan baru sekarang, yaitu melihat wajag merona Shafa, yang baginya lebih indah dari sun set di ujung barat.
Mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki kawasan pegunungan yang di tumbuhi oleh tanaman teh yang hijau nan menyejukkan mata.Mereka menurubkan kaca jendela mobil agar dapa menikmati secara langsung pemandangan yang begitu menyejukkan. Semilir angun yang masuk menyapa mereka pun terasa begitu berbeda.
"Ayah itu sungai, atu mau main ke tana ayah" Am menunjuk anak sungai yang mengalir di atas bebatuan berwarna hitam dan putih.
"Am?" Suara sang mommy mengingatkan.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, di belakang rumah abah ada anak sungai yang dangkal, nanti kita main di sana ya?" Ucap Rayyan tak ingin mengecewakan putranya.
"Ayah nanti cari betta fish ya ayah?" Ucap Zafran yang duduk di bangku depan.
"Betta fish apa nak? Ikan Mujair atau ikan Lele? Tanya Shafa yang baru mendengar istilah baru dari sang anak.
"Bukan Mom, Betta Fish itu ikan ****** yang warna warni" Balas Rayyan.
"Oh, ******" Shafa nampak berfikir sejenak.
Such a kissmark! Astagfirullah, otak gue mulai deh.
"Kok namanya Betta Fish?" Tanya Shafa.
"Ih mommy, itu bahasa latin loh mommy, aku baca di ensikolopedi hewan yang ada di perpustakaan opa" Jawab Zafran.
"Masya Anak ayah ini pintar ya, mau jadi apa sih?" Puji Rayyan. Zaf memang masuk kategori anak jenius di usianya yang baru 7 tahun.
"Jadi dokter ayah kaya opa, biar bisa ngobati mommy kalau sakit" Ucapnya dengan penuh semangat.
"Bukan hanya mommy sayang, tapi semua yang membutuhkan. Rasulullah pernah bersbada Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no:3289).
"Khoirunnaasi angfauhum linnaas, iya kan ayah" Sahut Zafran, menyebutkan lafaz hadia tersebut dalam bahasa arab.
"Benar, Zaf hafal? Masya Allah ayah bangga sama Zaf" Ucap Rayyan sambil memandang bangga Zaf yang duduk anteng di bangku depan.
"Abang memang pintal ayah. Abang seling dapat hadiah dali sekolah. Sama pak ustad juga seling di kasi buku. Iya tan bang?" Sahut Am.
"Iya, kan kata mommy kalau mau jadi dokter harus pintar"
"Kalau Am mau jadi apa?" Tanya Rayyan pada putranya yang sedang makan coklat di pangkuannya.
"Atu mau jadiiii... " Ia nampak berfikir keras.
"Atu mau jadi Bos" Ucapnya sambil terkekah.
__ADS_1
"Mau jadi apapun yang penting selalu ingat Allah ya nak" Pesan Rayyan pada anak-anaknya.
Rayyan menoleh pada istrinya, hatinya merasa hangat melihat wajah Shafa yang selalu menawan di matanya. Salah satu nikmat terbesar dari Allah adalah memiliki istri secantik dan se setia Shafa.