Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Pertemuan


__ADS_3

Tiga hari setelah kedatangan Dian di rumah Shafa, Shafa memutuskan untuk kembali ke kantornya di ZR centre yang menjadi pusat brand lokal tersebut. Setelah mengatongi izin dari suaminya ia membawa Zifara sedangkan Am yang kini sudah menjadi idola baru di kampus tentu lebih memilih ikut dengan sang ayah.


Sejak kepergian Rayyan, Shafa turun tangan langsung menggantikan posisinya sebagai owner dan direktur di tokonya yang sudah memiliki cabang di beberapa kota besar di Indonesia. Saat itu, di tengah kondisinya yang terkadang down ia tetap berusaha bangkit menjalankan apa yang selama ini di rintis suaminya. Shafa sadar, ia tidak mungkin meminta bantuan daddy dan ayah Rayyan untuk menghidupi anak-anaknya, disitulah awal mula ia belajar berbisnis. Ia bahkan berhasil mendapatkan kontrak kerja sama dengan beberapa perusahaan besar yang membuat brand miliknya semakin bersinar.


Namun, siapa sangka disaat brand ZR ini sedang melambung, Edwin Sanjaya berniat memutuskan hubungan kerja sama yang selama dua tahun ini di jalinnya. Sudah bisa di pastikan usaha Shafa akan mengalami penurunan omset drastis bahkan collapse jika hal itu sungguh terjadi.


"Apa mbak Dian sudah menghubungi Edwin Sanjaya?" Tanya Shafa saat Dia baru saja masuk di ruangannya.


"Sudah. Dia mengajak bertemu di Cloudy Cafe pada saat jam makan siang" Ucap Dian.


"Ck dia pasti sengaja mencari kesempatan" Gumam Shafa. Ia tahu ini pasti buntut dari penolakan yang sering kali Shafa tunjukkan. Harusnya dulu ia berfikir dua kali saat Edwin menawarkan kerja sama itu. Bukankah dalam bisnis tak ada yang gratis?


"Fa?" Panggil Dian menyadarkan Shafa yabg tengah melamun.


"Ah, ya mbak?"


"Kamu akan menemuinya? Tidak kah kamu membicarakan ini dengan Rayyan terlebih dahulu?"


"Mas Ray tahu mbak kalau Sanjaya Corp akan menghentikan kontrak, tapi aku tidak brani menceritakan semuanya termasuk konsekuensi dari pemutusan kontrak tersebut padanya. Aku takut kondisinya memburuk. Dikter menyarankan agar dia jangan stress dna berfikir berat dulu" Ucap Shafa. Suaranya terdengar begitu berat.


"Tapi ini terlalu beresiko Fa. Kau tahu baagaimana Edwin Sanjaya bukan? Dia tidak hanya cerdas tapi juga licik" Ujar Dian kembali.


Bisnis itu kejam mbak. Kau harus siap membunuh atau di bunuh. Itulah yang ku baca dari beberapa buku.


"Fa? Kenapa tidak minta tolong daddy mu? Beliau pasti memiliki banyak kolega yang bisa membantu" Dian mebarik kursi dan duduk menghadap Shafa. Ibu muda itu nampak sedang berfikir keras.


"Daddy juga dalam masalah mbak. Keluarga Mommy dari Jepang mengklaim HS Clinic dan berusaha untuk mengambil alih. Aku tidak mungkin menambah beban daddy dengan masalah ini. Begitupun kak Jeff, Saat ini Daddy lebih membutuhkannya." Ujar Shafa dengan wajah sendu. Di balik kebahagiaannya bertemu kembali dengan Rayyan, Allah menghadirkan ujian lain kepadaa keluarganya.

__ADS_1


Seperti kata pepatah. Roda itu berputar, tak selamanya kita berada di atas, mungkin ini bagian dari ujian yang harus di hadapi keluarga Shafa. Selama puluhan tahun mereka hidup dalam kemewahan. Kini, apa yang mereka miliki tengah dipertaruhkan. Karena tak ada yang abadi di dunia ini. Semoga saja HS Clinic yang selama ini menjadi sumber kekayaan keluarga Shafa masih menjadi rejekinya.


Shafa terlihat mondar mandir di ruangannya. Hatinya bimbang harus menemui Edwin Sanjaya atau tidak. Ia seperti makan buah simalakama.


Kalau mas Ray tahu bisnis yang di rintisnya dari 0 sedang memburuk pasti dia akan semakin kepikiran. Ya Allah apa yang harus aku lakukan?


Shafa mendudukan dirinya di atas kursi yang menghadap ke jendela. Ia tengah menimbang-nimbang untung dan rugi dari keputusan yang akan di ambilnya.


Jika Shafa mundur dan Edwin benar-benar mencabut kontraknya. Ia harus menutup beberapa cabang untuk menekan pengeluaran yang sudah pasti lebih besar dari pemasukannya. Belum lagi, akan ada banyak orang yang kehilangan pekerjaannya. Disatu sisi jika Ia menemui Edwin dan berusaha menahannya mencabut kontrak ia tak tau tawaran apa yang akan Edwin ajukan sebagai gantinya.


Shafa memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


Ah, harusnya aku dulu tidak usah terjun ke dunia bisnis. Sesalnya. Dulu sebelum Rayyan kecelakaan, yang ia tahu hanya mengurus anak, suami dan ATM yang tak pernah kosong.


Shafa menarik laci mejanya dan mengeluarkan kalkulator kecil dari dalam meja. Saat ini ia tengah menghitung total pengeluarannya selama satu bulan secara teliti. Termasuk untuk membayar sekolah Zaf, ART, supir dan security.


"25 juta!" Ia menggigit bibir bawahnya.


"Tak ada jalan lain, aku harus bertemu Edwin" Gumam Shafa. Dengan langkah pasti ia menuju arah lift menuju lantai 1. Dilihatnya Zifara sedang bermain dengan beberapaa kariyawan muda yang sudah lama di kenalnya.


"Mommy" Panggilny saat melihat Shafa mencul. Ia segera berlari kepada mommynya


"Kamu yakin Fa?" Tegur Dian sekali lagi saat melihat Shafa merogoh kunci mobilnya yang menandakan ia akan pergi.


"Good luck" Dian menepuk bahu Shafa, berharap semua akan baik-baik saja.


Siang itu Shafa melajukan mobilnya ke cafe yang telah di sebutkan Edwin sebelumnya. Ia keluar dari mobil dengan menggendong Zifara layaknya ibu-ibu pada umumnya. Ia sempat menoleh ke kiri dn kanan sebelum mennagkap sosok yang tak kalah tampan dari suaminya melambai dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Laki-laki yang banyak memberikan hadiah pada Shafa meaki berulang klai di tolaknya.

__ADS_1


"Hai cantik apa kabar?" Sapanya pada Zifara.


"Maaf pak Edwin, saya tidak bisa berlama-lama. Bisakah kita langsung pada inti pembicaraan? " Tanya Shafa yang sangat tidak nyaman dengan pertemuan ini.


Edwin tersenyum lembut, sangat kontras dengan apa yang akan di lakukannya terhadap bisnis Shafa. Sekilas ia nampak seperti pria baik dan penuh kasih sayang. Edwin memanggil salah salah satu waitress untuk menyiapkan kursi anak buat Zifara agar Shafa bisa duduk dengan nyaman.


"Kamu mau pesan apa?" Tanyanya mengalihkan topik pembicaraan utama yang ingin segera Shafa mulai.


Menyadari tatapan tak suka Shafa Edwin mengalah "Okey, kita bicara tapi setelah kita makan siang. Kasian Zifara jika hanya duduk tak makan apa-apa" Ucapnya.


Mereka bertiga makan siang dengan tenang. Shafa tak banyak bersuara, hanya sesekali menjawab pertanyaan Edwin dengan jawaban singkat. Sedang pria itu terus berusaha menarik perhatiannya dan Zifara. Sekarang Shafa semakin yakin bahwa aancaman yang ia layangkan hanyalah alasan untuk Edwin bertemu dirinya atau bahkan bagian dari usahanya mendapatkan perhatiannya.


"Jadi? Shafa memulai pembicara membersihkan sisaa makanan pada bibir Zifara.


Edwin menghembuskan nafas berat, tatapannya berubah datar "Sebenarnya saya tidak ingin melakukan semua ini. Tapi... Hanya ini yang membuatmu mau menemuiku" Edwin menatap dalam manik mata Shafa yang segera memalingkan wajahnya


"Anda egois tuan Edwin Sanjaya. Tidak seharusnya anda memasukkn masalah pribadi dalam kerja sama kita" Sahut Shafa yang cukup mengerti akan maksud Edwin.


"Saya egois?" Ucapnya terdengar begitu dingin.


"Lalu bagaimana denganmu Shafa Azura?Selama ini apakah pernah sedikit saja kau hargai pemberianku, atau sejenak saja menoleh padaku?" Ucap Edwin dengan wajah memerah menahan emosinya.


"Apa yang anda harapkan dari seorang wanita bersuami tuan Ed?" Balas Shafa lantang. Ia seakan lupa tujuannya bertemu Edwin. Ucapan Edwin sungguh mengusik hati terdalamnya.


"Suami? Suami yang mana? Suami yang menghilang selama bertahun- tahun meninggalkan anak dan istrinya dalam kesedihan? Iya?"


"Yayah...mommy yayah!" Zifara menarik lengan Shafa menunjuk ke arah samping.

__ADS_1


"Astaga!" Mata Shafa membola, wajahnya mendadak pucat melihat tatapan tajam yang tertuju padanya. Ia menoleh pada Edwin yang justru tersenyum sinis.


Dasar licik!


__ADS_2