
Sudah pukul 9 lewat 5 menit, namun belum ada tanda-tanda Aisyah pulang. Rayyan berulang kali menghubungi nomornya namun tak ada jawaban.
"Ck... Kenapa tidak di angkat sih?" Gumamnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Sejak tadi ia sudah mondar-mandir di depan pintu menunggu Aisyah pulang.
"Biasa aja kali, Mas. Aisyah toh pergi sama teman-temannya" ucap Shafa yang mulai jengah melihat suaminya.
"Shafa nggak ngerti, dia itu perempuan. Bagaimana kalau ada yang ganggu dia? Gimana kalau dia ikut-ikut temannya yang enggak-enggak?" Balas Rayyan. Menjaga anak gadis itu nyatanya lebih sulit dari pada menjaga peliharaan. Apalagi Aisyah yang masih polos, begitu sangat mengkhawatirkan.
"Zi, lihat ayahmu. Kayaknya Zizi nanti kalau besar bakalan di jagain ayah 24 jam deh" Ucap Shafa pada sang putri yang tengah berbaring di sisinya.
"Tentu. Karna Zizi, harta berharga ayah" Rayyan menghampiri mereka yng sedang berbaring santai di depan televisi. Rayyan mendekap Zizi dan memberinya ciuman sayang bertubi-tubi.
"Mommy, atu bobo cama mommy ya?" Tanya Am sembari merapatkan tubuhnya memeluk ibunya dari samping.
"Aku juga Mommy. Nanti kalau mommy mau minum, Zaf ambilkan" Sambung si sulung yang tengah memijat kaki Shafa.
"Iya...Makasih sayang-sayangnya Mommy. Kayaknya Mommy besok langsung sembuh deh, kalau di temani kalian"
"Ayah, ayah bobo di kamaltu aja yah"
"Iya ayah, nanti ranjangnya nggak muat" Timpal Zafran yang sependapt dengan adiknya. Sejak ayahnya datang, mereka jadi jarang tidur bersama Mommynya, kecuali Zifara yang masih tidur bersama Shafa meski di dalam ranjang yang berbeda.
"Enak aja. Mommy kan istrinya ayah. Jadi harus sama-sama ayah terus" Jawab Rayyan yang tak terima dengan ide sang anak.
"Tapi atu tan kesayangannya mommy" Sahut Am tak mau kalah.
"Am? Kamu mau adik enggak? Kalau mau adik, Am dan abang harus bobo sendiri" Bujuk Rayyan.
"Ayah bohong. Tatanya mau ada adik Am, tapi kok pelut mommy enggak betal. Pokoknya atu mau bobo sama mommy" Am semakin mengeratkan pelukannya pada sang ibu.
"Acu uga" Begitu pun Zifara yang tak mauu kalah dengan ke dua kakaknya.
Rayyan terkekeh melihat polah anak-anaknya yang begitu kompak dalam hal memperhatikan mommynya. Ia mengandai-andai, Apakah akan sama jika itu dirinya yang sakit.
"Ayah, kita nanti bobonya hadap kesana aja biar muat ber lima" Tukas Zafran memberikan idenya.
"Ah, iya. Tapi ayah nunggu tante Aish pulang dulu ya" Ucap Rayyan. Perasaannya masih belum tenang sebelum ada kabar dari Aisyah.
"Mas, Mbak Aisyah sudah datang" Bi Lastri yang saat itu masih terjaga memberi tahu kedatangan Aisyah.
"Assalamualaikum semua" Sapa Aisyah. Wajahnya terlihat begitu senang malam itu.
"Wa'alaikum salam. Kamu terlambat Syah." Tanya Rayyan dengan tatapan menyelidik.
"Ish, cuma terlambat setengah jam ini. Jalanan macet kang, macet!" Jawab Aisyah memberikan alasan yang cukup masuk akal.
"Kenapa telfon nggak di angkat?" Tanya Rayyan lagi.
Aisyah memutar bola matanya malas. Rayyan sudah seperti abah yang selalu menginterogasinya setiap pulang dari acara apapun itu.
"Hape aku silent kang. Sumpah deh Aish nggak ngelayap. Cuma ke acara ulang tahun, makan terus pulang." Ujar Aisyah sambil mengangkat dua jarinya.
"Ya sudah, kamu masuk kamar gih, ganti baju kamu! Besok mau ke klinik kan?" Seru Shafa menghentikan perdebatan Aisyah dan Rayyan.
"Zi... Kamu mau bobo sama tante?" Aisyah melirik Zifara yang sedang memeluk lengan mommy nya.
__ADS_1
"Nda mau" Jawab Zifara singkat.
"Ya udah. Aku naik dulu kak" Aisyah melangkah menuju kamar yang ada di lantai dua.
"Jangan lupa Shalat isya Syah!" Seru Rayyan mengingatkan.
"Yuhuuu" Jawabnya santai.
Setelah kepulangan Aisyah, Rayyan mengajak anak dan istriny untuk pindah ke dalam kamar. Mereka yang tadi khawatir tempat tidur mommynya tidak akan muat untuk berlima, nyatanya masih muat bahkan masih ada space untuk orang ke 6.
"Atu mau bobo di tengah" Ucap Am. Ia mengambil posisi di antara Shafa dan Rayyan. Sementara Zizi di sebelah kiri Shafa, Zafran tepat berada di sisi ayahnya di bagian pinggir.
"Ayah, dongeng" Rengek Am. Sebelum tidur biasanya Rayyan selalu menceritakan kisah-kisah tokoh muslim ataupun cerita anak sebagai penghantar tidur. Bedanya dengan Shafa, untuk hal seperti ini, Rayyan lebih ahli.
"Iya mas, aku jugaa pengen dengerin cerita Mas Ray. Zizi juga kan nak?" Tanyanya pada Zizi.
"Oke, em... Sebelum ayah cerita. Ayah mau tanya, siapa nabi, yang diberi julukaan nabi yang paling sabar?" Tanyanya sebelum memulai cerita.
"Nabi ayub ayah." Jawab Zafran cepat.
"Betul! Jadi ayah akan ceritakan kisah nabi Ayub. Sebagai pelajaran untuk kita semua bahwa hidup itu tak selamanya mudah. Tapi ingat, sesulit apapun hidup kita, yakinlah bahwa pertolongan Allah itu dekat" Ucap Rayyan. Baik Shafa maupun ke tiga anaknya sudah memasang telinga baik2 untuk mendengarkan cerita dari sang ayah.
"Nabi Ayub adalah salah satu nabi yang wajib diketahui oleh umat muslim. Nabi Ayub ini dikenal karena kepribadiannya yang sangat sabar. Kisah Nabi Ayub ini bisa kita jadikan pelajaran jika kita sedang mendapatkan suatu permasalahan yang berat. Dikisahkan Nabi Ayub adalah seseorang yang diberikan banyak nikmat oleh Allah SWT. Dirinya diberkahi dengan banyak anak. Dalam satu kisah dikatakan anaknya berjumlah 12 dan kesemuanya adalah laki-laki. Selain itu Nabi Ayub juga diberi nikmat oleh Allah SWT berupa harta kekayaan yang melimpah, memiliki berbagai ternak, dan juga diberi istri cantik yang soleh serta setia. Dengan semua nikmat yang diberikan tidak menjadikan Nabi Ayub pribadi yang sombong."
"Kaya ayah tan ayah? Ayah anaknya tan banyak. Mommy tu juga cantik" Potong Am.
"Adek Am, diam dulu, kalau ayah sedang cerita." Tegur Zafran.
"Ayah lanjut ya?" Rayyan memandang kedua putranya bergantian. Respon mereka hanya mengangguk pertanda setuju.
"Setelah pernikahan nabi Ayyub berjalan selama 20 tahun, tidak ada cobaan Allah SWT yang berat untuk Nabi Ayub, sampai usia 50 tahun. Ketika usia 51 tahun, ujian pertama dari Allah SWT muncul. Kulit Nabi Ayub tiba-tiba terkena penyakit yang menyebabkan keluarnya nanah dari kulitnya dari kepala hingga kakinya, hingga rambutnya pun rontok. Penyakit ini dikabarkan adalah penyakit yang menular."
"Hari ketiga, Allah SWT mendatangkan hama dan badai sehingga semua ternak yang dimiliki Nabi Ayyub mati seluruhnya seketika, begitu juga dengan kebunnya yang ikut hancur. Namun, atas kuasa Allah SWT, orang-orang di sekitar Nabi Ayub tidak ada yang terkena dampak ini. Hanya dalam 3 hari, Nabi Ayub yang sebelumnya memiliki banyak kenikmatan seketika kehidupannya berubah 180 derajat. Bahkan Nabi Ayub harus pindah dari rumahnya, ke pinggiran negeri yang jauh karena orang-orang takut akan penyakit yang dideritanya." Rayyan menghentikan sejenak ceritanya. Ia tersenyum melihat ekspresi anak dan istrinya yang terlihat prihatin. Hanya Zifara yang tak bereaksi apa-apa.
"Kasihan nabi Ayyub Ayah. Apa Allah akan menolongnya? Kenapa nabi Ayyub nggak berdoa minta kesembuhan pada Allah ayah?" Tanya Zafran.
"Tentu, Allah akan menolong orang yang menolong agamanya" Rayyan melanjutkan kembali ceritanya.
"Dikatakan bahwa Nabi Ayub diberi cobaan oleh Allah SWT seperti itu selama 18 tahun. Namun, luar biasanya, selama itu juga Nabi Ayub tidak pernah sekalipun mengeluh atau mengadu kepada Allah SWT. Dia terus bersyukur dan bersabar, tapi tetap berikhtiar, dengan cara tetap berobat dan beribadah."
"Di pinggiran negeri, Nabi Ayub hanya tinggal berdua bersama istrinya. Istri Nabi Ayyub memang bisa dijadikan contoh yang baik. Dirinya tidak peduli dengan kondisi suaminya yang berpenyakitan, bangkrut, hingga jatuh miskin. Ia tetap setia menemani Nabi Ayub, mengurus keperluannya, bahkan pergi mencari nafkah." Rayyan melirik Shafa sekilah sembari tersenyum pada wanita cantik itu.
"Suatu hari, istri Nabi Ayub berkata kepada suaminya, 'Wahai Nabi Allah, sudah 18 tahun engkau tidak berdakwah. Bagaimana jika engkau memohon kepada Allah SWT untuk disembuhkan penyakit ini. Itu saja. Cukup kesembuhan engkau, lalu engkau bisa pergi berdakwah lagi.'"
Lalu Nabi Ayub menjawab,
“Wahai istriku berapa lama dulu kita dalam keadaan nikmat?”
Istrinya menjawab,
“20 tahun.”
Kemudian Nabi Ayub kembali bertanya,
“Berapa lama kita sekarang diuji oleh Allah seperti ini?”
__ADS_1
Istrinya kembali menjawab,
“18 tahun.” Lalu Nabi Ayub berkata,
“Aku masih malu untuk minta kepada Allah.”
Setelah 20 tahun, Nabi Ayub berdoa kepada Allah SWT. Beliau berdo’a dengan bahasa yang sopan dan santun kepada Allah,
“Wahai Tuhanku Penciptaku Pemilikku, sesungguhnya aku sedang ditimpakan penyakit. Dan Engkaulah Dzat yang Maha Penyayang.”
Do’a Nabi Ayub ini menunjukkan bagaimana dirinya ikhlas atas apa yang akan diberikan Allah SWT nantinya. Entah akan disembuhkan atau tidak, Nabi Ayub tetap akan ikhlas dan sabar dalam menerima ketentuan Allah SWT.
Bahkan Allah SWT juga berfirman,
“… Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah).” (Q.S Shad: 44).
"Setelah melewati 20 tahun cobaan, di usia 71 tahun, dimunculkan oleh Allah SWT di bawah tempat tidur Nabi Ayub berupa mata air. Dikisahkan juga bahwa Allah SWT memerintahkan Nabi Ayub untuk menghentakkan kakinya ke tanah sehingga muncul mata air dari tempat hentakan itu. Dari mata air itulah Allah SWT memerintahkan Nabi Ayub untuk mandi dengan air itu."
Setelah mandi dengan air tersebut, Nabi Ayub menemukan bahwa tubuhnya sembuh dan bahkan kondisi fisiknya menjadi lebih baik dari pada 20 tahun yang lalu. Kemudian Allah SWT mengirimkan berita kepada masyarakat di negeri tersebut bahwa Nabi Ayub sudah sembuh.
Kemudian dikisahkan bahwa Allah SWT menyuruh Nabi Ayub untuk berjalan keluar sehingga masyarakat dapat melihat bahwa Nabi Ayub benar-benar sudah sembuh.
"Besoknya, masyarakat di seluruh negeri datang membawakan Nabi Ayub hadiah. Saking banyaknya hadiah yang diterima oleh Nabi Ayub, dikatakan bahwa saat itu juga kekayaan Nabi Ayub menjadi dua kali lipat lebih banyak dibandingkan 20 tahun yang lalu."
Kemudian di hari ketiga, istri Nabi Ayub hamil, dan sejak saat itu setiap tahun istri Nabi Ayub melahirkan anak kembar, sehingga Allah SWT memberikan kepada Nabi Ayub 24 orang anak laki-laki. Allah SWT juga menggambarkan bagaimana kisah Nabi Ayub ini dalam Al-Qur’an,
“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya, “(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.” Maka Kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah,” (Q.S Al-Anbiya: 83-84).
Tidak ada yang mustahil bagi Allah SWT. Hanya perlu keimanan, yakin kepada Allah SWT, dan sabar sebagai pegangan hidup kita.
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S Az-Zumar: 10).
Akhirnya, kisah kesabaran nabi Ayyub, menghantarkan anak-anak Rayyan ke alam mimpi.
"Mas?" Panggil Shafa yang belum tertidur. Kata-kata Rayyan perihal istri nabi Ayyub yang membantunya mencari nafkah selama beliau sakit, masih terngiaangbjelas di ingatannya.
"Ya sayang?"
"A... aku boleh bekerja tidak, biar bisa bantu mas Ray?" Tanyanya ragu-ragu.
"Boleh" Jawab Rayyan singkat.
"Beneran mas?" Shafa yang merasa mendapat lampu hijau tersenyum bahagia.
"Tentu! Pekerjaan yang cocok buat Shafa adalah, mendidik anak-anak kita agar menjafi anak yang sholih dan sholihah. Selebihnya, mas tidak mengizinkan" Ujar Rayyan membuat binar bahagia di wajah Shafa hilang seketika.
Istri nabi Ayyub aja di izinkan bekerja. Masa aku enggak. Tujuannya kan baik. Aha. aku ada ide. Sepertinya aku bisa bantu mas Ray menghasilkan uang tanpa harus keluar rumah dan tanpa sepengetahuan mas Ray!
Ci Baby udah bobo ya...
Hadapi semua dengan senyuman
__ADS_1
Cantiknya Mommynya Am... 🤭