
Setelah mengantar Aisyah pulang, kedua orang tua Malvin menunggunya di ruang keluarga. Ada banyak pertanyaan yang harus di jawab Malvin seputar hubungannya dengan Aisyah.
"Duduk!" Titah mama yang terlihat begitu serius.
"Ada apa sih ma?" Malvin menanggapi malas tatapan tajam sang ibu.
"Apa maksud kamu berpacaran dengan adik suami Shafa? Kamu punya niat yang enggak-enggak kan Vin?" Tuduh mama Malvin yang langsung pada intinya. Tentu bukan kebetulan semata, Malvin yang sempat tergila-gila dengan Shafa, bahkan rela pulang dan menetap di Indonesia demi wanita itu tiba-tiba memabawa wanita lain yang ia kenalkan sebagai kekasih. Jika saja bukan Aisyah, mungkin mereka tak masalah. Tapi, ini adalah Aisyah, adik dari laki-laki yang telah membuat Malvin patah hati karena kedatangannya. Tak salah jika Mama Malvin menganggap Malvin hanya bermain-main dengan Aisyah.
"Mama ini bicara apa?"
"Jawab Vin! Apa benar kamu hanya bermain-main dengan Aulia?" Sela papa yang tak kalah serius.
Malvin meenghela nafas, tak menyangka jika kedua orang tuanya bisa dengan mudah menebaknya. Benar, awalnya Malvin hanya ingin meluapkan kemarahannya pada Aisyah dengan menjadikannya asisten pribadi. Tapi kini, entahlah, ia sendiri bingung dengan perasaannya, yang pasti ia saangat menikmati perannya sebagai pacar bohongan bagi Aisyah.
"Mama terlalu sering nontong serial ikan terbang. Jadi drama kan" Ucapnya yang tak ingin membenarkan ucapan sang ibu.
"Aulia gadis baik Vin, kakak tidak rela jika gadis sebaik dan sepolos itu kamu permainkan" Ucap kakak Malvin yang juga ikut memberikan komentar, sebelum beranjak pergi ke kamarnya.
"Ma...Pa, Please dengerin Malvin, jangan berspekulasi sendiri. Malvin sungguh tidak berniat buruk pada Aulia. Untuk apa Malvin membawanya ke hadapan mama dan papa kalau Malvin hanya main-main?" Kilahnya yang tak ingin di salahkan.
"Bisa saja, untuk menghindari pertunanganmu dengan Angela" Sinis sang mama.
Bener-bener deh ini ibu-ibu, udah kaya sutradara yang tau segalanya.
"Tidak ma, tidak" Ucap Malvin mencoba tenang. Prediksi mamanya memang selalu benar.
"Kalau begitu, kapan kamu akan melamarnya? Jika semua tuduhan mama salah, berarti kamu sudah siap meminangnya Vin?" Suara tegas papa kembali terdengar. Dengar susah payah ia menelan liurnya. Lagi-lagi papanya menanyakan hal yang paling tidak ia harapkan.
"Aulia masih kuliah pa, biarkan dia selesaikan kuliahnya dulu" Alasan Malvin.
"Cih, kamu jangan coba-coba ngeles ya Vin!" Papa dan mama Malvin menatapnya dengan wajah sinis. Mereka sudah hapal betul tabiat Malvin yang selalu menghindar jika membahas perihal pernikahan.
"Pah, Aulia itu anak tunggal. Kedua orang tuanya sudah meninggal saat dia kecil. Dia tinggal dengan kakak mendiang ayahnya sebagai anak satu-satunya. Papa bisa bayangkan, harapan mereka tentu melihat Aulia menyelesaikan kuliahnya. Apa jadinya jika ia menikah sebelum selesai kuliah. Mereka pasti kecewa pa. Jadi, tolong hargai itu. Keluarga Aulia itu hanya petani biasa Ma, pasti mereka berharap banyak pada Aulia." Ucap Malvin berusaha meyakinkan sang ayah. Untung saja tadi di jalan Aisyah sempat bercerita tentang keluarganya, sehingga Malvin tak perlu berbohong mengenai kondisinya.
"Astaga? Jadi dia yatim piyatu?" Wajah Mama terlihat begitu prihatin. Malvin hanya mengangguk.
Yes, berhasil.
__ADS_1
Papa Malvin menghela nafas berat. Ia tidak akan tertipu lagi oleh trik putranya yang selalu menghindar dari pertunangan. Papa merogoh ponselnya mengetik sesuatu di ponselnya.
Cari tau tentang keluarga gadis bernama Aulia yang datang bersama Malvin di pesta kemarin. Dia Asisten Malvin di klinik sekaligus mahasiswa tingkat akhir dikampus kami. Cari tau sedetail-detailnya tentang kedua orang tua dan asal usulnya!
Bunyi pesan yang di kirim Papa Malvin pada orang kepercayaannya. Kali ini ia tidak boleh gagal menikahkan Malvin. Jika tidak dengan Aulia, ia harus menikah dengaan Angela.
"Papa pegang omonganmu Vin. Ayo ma" Papa dan Mama beranjak meninggalkan Malvin yang tersenyum penuh kemenangan. Ia tak tahu bahawa orang suruhan papanya tengah menyelidiki latar belakang Aisyah.
🥀
🥀
🥀
🥀
Sudah seminggu Shafa tidak keluar rumah guna menjaga stamina tubuhnya yangbsempat menurun. Rayyan pun sudah mulai mahir membantu mengurus anak-anaknya yang super aktif. Seperti biasa, pagi hari Rayyan berangkat ke kampus sesuai dengan jadwal.
"Mas, apa nggak di antar pak Madi aja? Nanti balik ngantar mas, baru ngantar aku" Ucap Shafa yang tengah menyuguhkan teh.
"Ayah mau naik motong betal?" Tanya Am yang duduk di sebelah ayahnya.
"Iya, dong"
"Atu itut! Atu mau bayap-bayap kaya lossi" Ucapnya senang.
"Nggak boleh balap-balap nak, berdosa." Jawab Rayyan.
"Kalau balap-balap nanti di tangkap polisi kan ayah? Itu melanggar aturan dek" Sahut si bijak Zaf yang mendapat acungan jempol dari sang ayah.
"Ayah, belitan atu motol kecil kaya punya bobby ayah" Rengek Am. Kemarin ia baru saja di pameri Bobby motor listrik miliknya yang berharga hampir setara dengan motor matic orang dewasa.
"Adek Am, pake motor-motor abang waktu kecil aja. Masih ada kok di gudang" Sahut Zaf.
"Nda mau. Atu mau yang kaya punya Bobby. Ayo ayah kita beli motol-motol" Ajaknya penuh semangat.
"Am, beli sepeda saja ya nak? Am kan belum bisa naik sepeda, gimana mau naik motor. Jadi, beli sepeda dulu, kalau udah pintar naik sepeda baru naik motor. Gimana? Nanti kalau hari minggu kita sepedaan bareng keliling kompleks" Bujuk Rayyan yang ternyata mendapat respon baik dari Am. Apapun yaang di ucapakan sang ayah, bagaikan ultimatum yang langsung di angguki Am.
__ADS_1
Setelah sarapan, Shafa mengantar Rayyan sampai ke halaman, di ikuti ketiga anaknya. Hari ini Zaf pun ikut berangkat bersama ayahnya.
"Ayahtu kelen" Seru Am saat Rayyan memakai jaket kulit hitam lengkap dengan sarung tangannya.
"Awas ya mas kalau lirik-lirik ciwi-ciwi di jalan" Ancam Shafa. Harusnya ia meminta Rayyan memakai motor matic berwarna pink yang ada di garasinya. Penampilan Rayyan dengan jaket kulit hitam dan helm senada di tambah dengan motor sport hitam yang ia beli saat masih bujang dulu membuatnya terlihat sangat menawan.
"Iya, Mas selalu jaga mata dan hati buat momny dan anak-anak" Jawabnya sambil menggendong tas ranselnya.
"Ati-ati yayah" Teriak Zifara.
"Dada ayah... dada abang" Am dan Zifara melambaikan tangannya saat motor yang di tunggangi Rayyan mulai meninggallkan halaman rumah mereka.
Pukul 9 tepat Shafa dan kedua anaknya bertolak menuju sekolah Zaf untuk menghadiri rapat. Shafa mengenakan dress putih dengan lengan balon yang senada dengan yang di kenakan Zifara. Begitu pun Am, ia mengenakan kemeja tanggung berwarna putih dengan celana jogger dan sepatu kets hitam.
"Hai mommy Zaf, apa kabar" Sapa salah satu ibu-ibu yang cukup mengenal Shafa.
"Alhamdulillah, baik bu Nisa. Ibu sendiri apa kabar?" Sapanya balik.
"Baik dong. Oh ya, selamat ya bu, atas kepulngan ayahnya anak-anak. Saya sampai nangis loh bu, pas dengar ceritanya" Ujarnya.
"Alhdulillah, saya jug nggak nyangka bu Nisa. Allah memang maha baik"
Sebelum rapat dimulai Shafa dan beberapa ibu yang lain ngobrol ala ibu-ibu. Mereka semua cukup penasaran dengan kembalinya suami Shafa yang selama ini di kabarkan meninggal. Perasaan salut dan terharu begitu dirasakan oleh para ibu-ibu yang mendengar langsung penuturan Shafa perihal suaminya. Tak hanya cerita Shafa yang menarik perhatian para ibu-ibu di ruangan itu, tetapi juga outfit yang di kenakan Shafa dan anak-anaknya.
"Ini bajunya beli dimana bu? Cantik, simple tapi elegan" Sahut bu Sarah yang sejak tadi memperhatikan penampilan Shafa.
"Brand sendiri bu, cuma belum sempat di pasarkan udah kena musibah" Sahut Shafa.
"Tapi serius, ini keren banget lo bu. Saya pengen kalau bisa order" Jawab bu Sarah.
"Saya juga, ini dressnya Zizi juga cantik"
"Am juga keren banget"
Tanggapan dari beberapa ibu-ibu tersebut seketika menimbulkan ide brillian di kepala Shafa.
Ya Allah, inikah petunjuk darimu?
__ADS_1