Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Mirip


__ADS_3

Andi terus memandangi foto yang tadi sempat di ambilnya di warung bakso. Pertama kalinya ia ber-selfie bersama bocah lucu yang tengah memegang tusuk bakso sambil menunjukkan gigi depannya yang ompong. Ia tersenyum mengingat ucapan dan tingkah lucu bocah tersebut. Jarinya menggeser foto berikutnya, dimana Am mengatupkan bibirnya sambil tersenyum tipis. Andi menajamkan penglihatannya menelisik wajah bocah yang mulai mencuri perhatiannya itu. Beberapa kali ia men zoom bagian wajah Am dan juga wajahnya.


Terlihat mirip! Apa ini kebetulan? Ah tidak, dia hidungnya sangat mancung.


Iseng iseng Andi membuka salah satu aplikasi yang bisa membuat wajah seseorang nampak lebih muda dan lebih tua hingga beberapa puluh tahun. Ia menguji cobakan yang pertama dengan memakai foto Am, ia ingin melihat bagaimana wajah Am 25 tahun kedepan versi aplikasi tersebut. Dan benar saja, Andi langsung membelalakkan matanya tak percaya. Wajahnya sangat persis dengan wajah disampingnya yang tak lain adalah foto dirinya. Di foto itu mereka terlihat seperti pinang di belah dua, sangat mirip bak saudara kembar. Andi segera menutup aplikasi tersebut dan memejamkan matanya. Kepalanya mendadak pusing. Sepertinya hari ini ia terlalu banyak berfikir.


Apa mungkin aku memiliki hubungan dengan anak itu? Ah, tapi apa mungkin. Bukannya dia dari kota, dan di lihat dari penampilannya dia seperti bukan orang biasa.


Andi membangunkan tubuhnya dari pembaringan dan berjalan menuju sebuh lemari kaca tempat penyimpanan pakaiannya. Ia mengambil sesuatu dari dalam lemari tersebut. Sebuah jam tangan yang masih utuh dan nampak berkilau, jam tangan dengan merk Mount Blanc yang selama ini disimpannya. Jam tangan itu merupakan salah satu benda yang melekat di tubuhnya saat kecelakaan terjadi dua setengah tahun yang lalu.


Sebelum beranjak, ia memandangi wajahnya sendiri di depan cermin. Suara Am lagi-lagi terngiang di kepalanya.


"Iya, tapi ayah Am pake taca mata. Om enggak"


Ia mengeryitkan dahinya. Mencoba mencerna kembali ucapan bocah kecil itu. Ia juga merasa penglihatannya bermasalah, terutama saat membaca tulisan yang kecil atau melihat objek jarak jauh.


Apa ini kebetulan lagi?


Andi keluar dari kamarnya mencari keberadaan Aisyah di ruang keluarga. Ia nampak sedang asyik mendengarkan musik dari earphonenya.


"Syah!" Panggil Andi. Ia duduk di sofa sebelah Aisyah.


"Eh kang, Naon?" Tanyanyaa sambil membuka earphonenya.


"Syah, coba kamu cekkan jam ini, kira-kira harganya berapa? Kamu kan sering belanja online" Ucap Andi sambil memberikan jam tangan berwarna hitam tersebut.


"Wah, Mount blanc. Ini teh KW atau Ori? Di lapak langganan aku juga ada, tapi KW nya...He.he.he" Aisyah membolak-balik kan jam tangan milik Andi.


"Menurut Ais itu asli atau palsu Syah? Saya nggak pernah apa-apain jam itu"


"Kalau di lihat-lihat sih Asli kang, ini kacanya saja anti gores. Ini juga jam sama tanggalnya masih on." Jawab Aisyah.


"Ya sudah cepat kamu cek, siapa tahu mahal kan bisa di jual buat berobat" Ujar Andi. Aisyah menatap Andi tajam.

__ADS_1


"Akang, pasti abah ga ngebolehin. Karena bisa jadi ini benda berharganya kang Andi. Memangnya akang pikir abah nggak punya duit buat berobat? Duit abah banyak kang, sampe tujuh turunan juga nggak bakal habis" Untuk juragan sekelas juragan Amir, kalau hanya berobat ke HS Clinic bukanlah masalah besar. Apalagi juragan Amir tidak memiliki anak, hanya Aisyah seorang yang ia biayai saat ini.


"Tunggu ya, Aisyah tanya teman di Jakarta dulu. Orang tuanya penjual jam tangan mahal siapa tau aja dia tau" Ujar Aisyah sambil memotret jam tangan milik Andi dari segala sisi. Tak lama kemudian Aisyah nampak heboh membaca chat dari temannya yang berada di ibu kota.


"Wooow...woow...wowww.... Kang, ini teh ori kata teman Aisyah" Ujarnya setelah mendapatkan jawaban dari temannya di Jakarta.


"Harganya Syah?"


"Bentar dia masih mengetik" Ujarnya sambil fokus menatap layar ponselnya.


"Waaahh... Kang!!!" Teriaknya sambil menutup mulut memandang Andi.


"Kenapa Syah?"


"Harganya 49 Juta kang. Jam tangan keluaran 2 tahun lalu. Akang orang kaya!!!" Aisyah menepuk bahu Andi.


Apa benar aku sekaya itu?


"Akang punya barang apa lagi yang masih ada? Sini biar Ais cek, siapa tahu dengan itu ada petunjuk" Ujar Aisyah dengan semangat.


"Assalamualaikum" Suara juragan Amir yaang baru pulang dari rapat di rumah kepala desa menghentikan diskusi mereka.


"Wa'alaikum salam" Jawab mereka bersamaan.


"Kalian lagi ngobrolin apa?


"Nggak ada bah, cuma ngobrol biasa" Jawab Andi padahal Aisyah sudah semangat 45 hendak memberi tahu abah tentang jam tangan milik Andi.


"Oh ya Ndi, kamu di suruh jalan-jalan ke rumah pak Ustad. Siapa tahu saja ada rejeki lain disana" Ujar abah.


"Rejeki naon bah?" Tanya Aisyah.


"Kamu nggak usah ikut-ikut. Anak kecil belum waktunya!" Balas Abah.

__ADS_1


"Eleh..eleh si abah. Jangan mau deng kang. Paling juga mau di jodohin sama si Risa anak pak ustad" Ujar Aisyah.


"Hush! Sana masuk di kamar!" Usir abah.


"Jangan mau kang, siapa tau akang sudah punya calon atau istri, ntar nyesel lo" Bisik Aisyah sebelum masuk ke dalam kamarnya.


"Aisyah!!!"


"Iya bah... iya... Jangan suka marah-marah atu bah, nanti cepat...!!!


"Masukk!!!" Teriak abah membuat Aisyah, ngacir ke kamarnya.


"Jadi gimana Ndi? Pak Ustad sepertinya sungguh-sungguh ingin menjodohkan kamu denga Risa" Ujar Abah.


"Maaf bah, saya belum bisa menjawabnya sebelum saya mengingat semuanya. Saya takut kalau ternyata saya sudah memiliki calon istri, atau mungkin istri" Jawab Andi sopan. Tak bisa di pungkiri bahwa Risa anak pak Ustad adlah sosok yang begitu sempurna di mata kaum adam, dia cantik, solehah dan seorang bidan.


"Ini sudah lebih dua tahun Ndi, bagaimana jika seandainya kamu memiliki istri tapi istrimu sudah menikah lagi atau kekasih yang juga sudah berkeluarga?" Tanya Abah.


"Saya serahkan semua pada Allah bah. Jika memang demikian, mungkin itu baagian dari taqdir Allah yang harus saya lalui." Ujarnya.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Bagaimana kalau bulan depan kita pergi ke Jakarta, ke tempat yang Ais sebutkan tadi?" Abah menepuk bahu Andi.


"Insha Allah bah, terima kasih abah sudah mau membantu saya sejauh ini" Andi menatap abah dengan wajah teduhnya.


"Abah juga senang bisa menolong kamu nak, Abah dan ambu senang kamu ada di sini, kami seperti memiliki anak laki-laki. Jika nanti kamu telah bertemu keluargamu, tolong sering-seringlah kemari menjenguk kami" Ujar Juragan Amir dengan wajah sedih. Ia dan istrinya sangat menyayangi Andi seperti anak mereka.


"Pasti abah"


Kecelakaan 2 setengah tahun yang lalu, mereka anggap sebagai anugrah, karena akibat kecelakaan beruntun yang terjadi di Banten itu, ia di pertemukan dengan sosok laki-laki sholeh yang ia panggil Andi.


Dua setengah tahun yang lalu pesisir Banten di landa Tsunami hebat menyebabkan kecelakaan beruntun di jalan utama. Semua orang panik menyelamatkan diri, Juragan Amir yang saat itu berada di lokasi tak tega melihat korban kecelakaan yang lama mendapatkan pertolongan, salah satunya Andi yang mengalami luka parah di bagian kepala dan patah tulang. Abah dan rombongan pekerjanya saat itu segera membawa Andi ke rumah sakit terdekat, namun karena padatnya jumlah pasien yang di rawat membuat rumah sakit tersebut kewalahan, sampai akhirnya juragan Amir memutuskan untuk membawa Andi ke Bandung keesokan harinya.


Dan di kampung juragan Amir itulah Andi memulai proses penyembuhannya. Butuh waktu sekitar 6 bulan hingga fisiknya benar-benar pulih total meski ingatannya belum pulih.

__ADS_1


__ADS_2