Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Merasa Tak Berarti


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju Villa Am tak henti-hentinya mengoceh membuat Shafa pening mendengarnya. Mereka berangkat menuju Villa bersama juragan Amir dan juga istri yang membersamainya. Zifara nampak sudah mulai akrab dengan nenek barunya.


"Atok, mommy tatanya mau mancing buaya atok. Hiii atut atu" Ocehnya pada juragan Amir yang ia panggil atok.


"Disini mah nggak ada buaya Am, adanya ikan. Am nanti ikut atok mancing mau?" Tawarnya, beliau bahkan sudah menyiapkan alat panjing dan jaring kecil untung Am menangkap ikan.


"Mau atok... Mau. Tuh mommy dengal disini nda ada buaya mommy"


Shafa menghela nafas pendek.


Ada Am, ad. Ini nih buaya darat yang mau mommy pancing. Apa mungkin amnesia bisa menghilangkan ketertarikan seseorang pada sesuatu? Udah hampir dua minggu loh ini gue di anggurin. Gumamnya sambil melirik Rayyan yang tak bergeming di depan kemudi.


Mobil mereka mulai melaju menuju sebuah jalan mendaki yang kiri kanannya di penuhi dengan pepohonan teh dan juga pohon-pohon tinggi yang rindang.


"Ini semua punya abah?" Tanya Shafa menyapukan pandangannya ke hamparan hijau yang menenangkan mata.


"Iya, punya abah dan almarhum orang tuanya Aisyah, setelah mereka wafat semuanya abah yang pelihara termasuk bagian mereka, nanti setelah Aisyah menikah akan menjadi milik Aisyah" Jawab abah. Pantas saja dia di sebut juragan, kebunnya seluas ini. Meskipun begitu baik juragan Amir maupun Aisyah naampak sederhana tak seperti anak-anak orang kaya pada umumnya. Sebut saja Shafa, yang semasa muda hidupnya begitu glamour dengan aneka barang branded di tubuhnya.


"Waaaaaah...Atook atu suka disini" Teriak Am setelah tiba di Villa yang di tuju. Villa tersebut terletak di atas bukit, tak jauh dari pekampungan. Tempatnya sangat sejuk dan dingin.


"Am jangan lari-lari!" Tegur Shafa saat snag anak berlari kesana kemari menikmati pemandangan yang begitu indah.


"Mommy ada kelloppi" Teriaknya girang saat melihat katak yang tengah melompat di kolam kecil villa tersebut.


"Keroppi sih naon Ndi?"


"Kodok abah, anak kota mah tahunya keroppi" Jawab Rayyan.


"Oh, Am... disana teh bukan cuma ada kopi, ada ikan sama bebek juga" Ujar abah menarik perhatian bocah kecil itu.


"Bukan kopi atok, kellopi" Ucapnya membenarkan membuat mereka terkekeh geli.


Tak jauh beda dengan dirumah juragan Amir, di villa inipun mereka disambut dengan hidangan makan siang yang sudah tertata rapi di meja makan. Abah dan ambu sengaja menyuruh pengurus Villa untuk memasakkan makan siang untuk mereka.

__ADS_1


Mata Shafa tak beralih pada satu hidangan yang baru pertama kali ia lihat. Sejenis kerang, tapi jika di amati lebih mirip keong dan sejenisnyam


"Ini apa bu? Keong?" Shafa menunjuk mangkuk besar di hadapannya.


"Ini tutut nak, keong sawah. Sok di coba, enak loh" Ujar Ambu mempersilahkan mereka menyantap hidangan di depannya.


Shafa ragu-ragu mengambil hidangan di depannya tapi tidak dengan Rayyan, ia sudah terlebih dahulu mengambil semangkuk tutut santan yang siap santap.


"Mas suka itu?" Tanya Shafa, seingatnya ia tidak pernah memasakkan Rayyan makanan itu sebelumnya.


"Suka" jawabnya singkat sambil mulai menghisap isi daribkeong sawah yangbmasih berada di cangkangnya.


Shafa beralih melihat ke arah Zizi yang begitu nyaman dalam gendongan ambu. Sejak pagi ambu menggendong Zizi dengan jarik khas yang biasa digunakan ibu-ibu di kampung untuk menggendong anak mereka. Sedangkan Am begitu anteng memakan daging ikan gurame yang telah abah pisahkan dari tulangnya. Abah dan Ambu sungguhnmemperlakukan mereka bak cucu sendiri.


"Ambu, biar Zi saya suapi. Ambu silahkan duduk dan makan" Ucap Shafa yang tidak enak melihat ambu berdiri sambil menyupi Zizi di gendongannya.


"Nggak papa nak, ambu senang kok. Akhirnya kami merasakan juga punya cucu ya bah ya?"


"Ia, Kamu makanlah, mereka berdua biar kami yang urus" Ucap abah yang tak kalah bahagia. Anak-anak Shafa telah memiliki tempat tersendiri di hati mereka.


"Pengen, tapi nggak tau cara makannya" Ucap Shafa. Ia hanya bisa menikmati kuah santan yang gurih tanpa tahu rasnya keong sawah tersebut.


"Sini, saya ajari" Rayyan mengambil sebuah keong kemudian mencontohkannya di depan Shafa. "Ini di hisap baagian kepalanya sampai dagingnya keluar" Slruup!


"Mudahkan? Sekarang Shafa coba!"


Shafaa mengambil sebuah, dan mulai memperagakan seperti yang Rayyan lakukan.


Sruup!!! Sruuup!!! Sruuup!!!


Hingga percobaan ketiga ia tak berhasil mengeluarkan dgaing keong yabg tersembunyi dari cangkangnya. Setelah ini sepertinya Shafa harus kursus menghis*p keong.


"Males ah, Aku nggak bisa" Ucap Shafa kesal, ia meletakkan keong itu asal di tempat cangkang. Ia menyerah karena tak juga berhasil melakukannya. Lagi pula untuk apa bersusah payah demi daging yang tak seberapa. Enakan juga makan ikan gurame bakar yang dagingnya tebal dan menggoda.l

__ADS_1


Mending juga h*sapin bibir kamu mas, dari pada keong sawah.!


Setelah makan siang, Rayyan berpamitan hendak melaksanakan Sholat duhur di masjid tak jauh dari Villa, sedangkan Shagmfa beristirahat di kamar yang telah di sediakan. Kamar yang ia tempati kali ini cukup nyaman dan luas. Salah satu sisi.dindingnya terbuat dari kaca yang terhubung dengan balkon, menawarkan pemandangan hijau yang sangat menyejukkan mata.


Dikamar itu ia hanya sendiri mengamati detail kamarbernuanda putih daa coklat kayu.


Beruntung sekali kamu mas, bertemu orang-orang baik seperti abah dan ambu. Sudah menjadi hukum alam bahwa kebaikan akan selalu membawa kebaikan. Selama ini Rayyan tak pernah berbuat jahat pada orang lain, hingga pada saat seperti ini Allah pun mempertemukannya dengan orang-orang baik.


Shafa melirik jam di pergelaangan tangannya, sudah jam 2 lewat tapi Rayyan belum kembali. Ia memutuskan untuk keluar menanyakannya pada abah dan ambu yang sedang bermain dengan Am dan Zizi.


"Abah, mas Ray kok belum pulang ya?" Ia takut terjadi sesuatu pada Rayyan, tadi kan pamitnya hanya pergi shalat saja. Tapi sudah sejam lewat ia tak kunjung tiba.


"Mungkin sekalian ngontrol pekerja nak" Jawab abah tenang. Rayyan tak mungkin hilang, ia sudah sangat mengenal seluk beluk daerah itu bahkan dengan warganya sekalipun.


"Masjidnya jauh abah?" Shafavtak bisa menyembunyikan raut khawatir di wajahnya.


"Dekat kok, di bawah sana! Shafa mau nyusul Andi? Tanya Abah. Ia tak merubah panggilannya kepada Rayyan, bukan hanya sudah terbiasa tapi karena sudah terlanjur nyaman, dan Rayyan pun tak keberatan akan hal itu.


Aakhirnya, dengan di temani seorang pekerja wanita Shafa dibonceng dengan sebuah motor matic menuju ke masjid di kampung tersebut. Suasana masjid tampak sepi tak terlihat ada orang yang sedang melaksanakan sholat, motor yang dipakai Rayyan pun tak nampak di situ. Tapi tunggu--


Ekor mata Shafa menangkap sebuah penampakkan yang tak asing baginya. Ia berjalan perlahan kearah samping masjid.


Ya Allah mas Ray


Matanya membola, iaa menutup bibirnya dengan telapak tangannya. Ada sakit yang tiba-tiba mengusik.


Apa karena ini kamu selalu menghindariku mas?


Shafa berjalan mundur dan menjauh. Rayyan yang tengah asik berbincang dengan seorang wanita cantik berhijab putih membuat hatinya tercubit.


"Mbak kita kembali saja" Ucapnya pada wanita yang menemaninya.


Mungkin benar, aku sudah tak ada artinya lagi dimatamu mas. Ternyata waktu telah berhasil mengikis rasamu padaku.

__ADS_1


Tak terasa cairan bening itu mulai menggenang dan tumpah membasahi pipi mulusnya.


__ADS_2