
"Kamu bodoh atau t*lol hah?" Bentak Malvin saat Aisyah dan dirinya berada di depan anak tangga.
"Apa lagi dok? Saya salah apa lagi?" Ucap Aisyah dengan mata berkaca-kaca-kaca. Hatinya begitu sesak, menghadapi orang-orang tak berakhlak.
"Kamu terlalu bod*h!"
Tes!
Satu tetes air mata Aisyah jatuh di pipinya. Ucapan Malvin kali ini sungguh sangat menyakitinya. Tak ada angin tak ada hujan tiba-tiba di Katai bodoh, di bentak dan begitu di rendahkan. Sungguh miris batin Aisyah.
"Kalau dokter cuma mau menghina saya lebih baik---"
"Bod*h!!! Harusnya kamu melawan atau pergi saat mereka mulai nyinyir, bukan malah bertahan sambil memohon seperti orang bod*h! Naiklah ke atas, kau bisa berwudhu bahkan berendam sesuka hatimu di dalam!" Ujar Malvin dingin kemudian berlalu meninggalkan Aisyah.
Aisyah yang berdiri sambil memeluk mukenanya seakan tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
Apa dokter Malvin sedang membelaku.
Sebuah senyum manis terbit dari sudut bibir mungilnya. Meski ucapannya terdengar pedis di awal tapi jelas dokter Malvin menunjukkan rasa simpatinya pada Aisyah.
Tak ingin membuang waktu, Aisyah segera berlari menaiki anak tangga menuju kamar Malvin yang terdapat tempelan kertas bertuliskan "Pembina" pada bagian daun pintunya.
"Wah..." Aisyah cukup takjub melihat penampakan kamar yang begitu luas dengan ranjang king size lengkap dengan televisi dan ornamen lainnya.
Sultan mah bebassss
Aisyah segera masuk kedalam kamar mandi yang di lengkapi dengan Bath Up dan shower itu. Sepertinya pihak pemerintah benar-benar memberikan service penuh pada putra pemilik yayasan tempat Aisyah kuliah itu. Setelah selesai berwudhu Aisyah memutuskan untuk sholat di kamar itu mengingat waktu yang kian mepet. Ia shalat dengan begitu khusuk hingga tak menyadari kalau Malvin sudah berada di dalam lamar yang sama tengah mengamatinya dari sebuah sofa yang ada di belakang Aisyah.
Dan lagi-lagi Aisyah melakukan keteledoran dengan langsung membuka mukena begitu saja hingga nampak lah rambut jatuh lurusnya mengurai indah. Bayangan wanita berwajah Barbie yang tak sengaja di lihat Malvin di layar ponsel Aisyah waktu itu tiba-tiba melintas di fikirannya.
__ADS_1
"Ehm" Deheman Malvin menyadarkan Aisyah bahwa dirinya tak sendiri di ruangan itu. Dan dengan gerakan secepat kilat ia kembali memasang mukenanya untuk menutupi bagian kepalanya.
Ampuni Aish ya Allah!
Ia terus merutuki kebodohannya yang dengan sengaja memamerkan auratnya ada laki-laki yang bukan mahramnya.
"Dokter nggak sopan!" Cetus Aisyah setelah mukenanya terpasang sempurna.
"Salah kamu sendiri kenapa teledor" Jawab Malvin santai.
"Dokter harusnya tahu bahwa tidak boleh berduaan dengan seorang yang bukan mahramnya di dalam tempat tertutup! D O S A!" Ucap Aisyah dengan penuh penekanan di akhir kalimatnya. Ia segera menuju pintu keluar sebelum ada orang lain yang melihatnya dan salah paham terhadapnya. Malvin malah terkekeh melihat tingkah Aisyah yang kadang pasrah, kadang begitu polos dan kadang galak seperti tadi. Jika perempuan lain akan menyerahkan dirinya di atas ranjang Malvin maka lain hal dengan Aisyah yang jangankan menyerahkan tubuhnya. Di lihat rambutnya pun ia tak kan sudi.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Bi Lastri, tolong ambilin gunting" Pintanya pada bi Lastri.
"Oke mbak"
"Sayang, ini nanti kalau Shafa ngidam nggak perlu beli buah-buahan lagi, semuanya sudah ada di sini" Ujar Rayyan sambil tersenyum lembut pada sang istri.
"Mas kok, bahasnya hamil terus sih? Pantesan mas semangat banget nyetak Rayyan Shafa junior, sampai lupa waktu" Sindir Shafa agar Rayyan ingat kembali betapa ganas nya dia siang tadi.
"Kan ikhtiar Mom" Jawabnya enteng. Ikhtiar sih ikhtiar tapi kalau keseringan, itu bukan lagi ikhtiar tapi napsuu. Walau demikian Shafa tak menolak, meski selalu berakhir dengan keluhan yang meluncur dari bibirnya, tapi sepanjang prosesnya ia pun sangat menikmatinya. Inilah yang di sebut setelah kenikmatan ada kesakitan.
"Alesan! Mas Ray aja yang mesum. Nggak usah ngeles ya, aku sudah paham sifat mas Rayku ini" Shafa menuju tempat pencucian tangan, membersihkan tangannya dan berjalan menuju ayunan yang berada di sudut teras belakang. Rayyan menyusulnya dan ikut duduk di sebelah sang istri.
"Mas hanya ingin menikmati momen yang hilang pada saat kehamilan Zizi dulu. Apa dulu Shafa ngidam seperti waktu hamil Am?" Rayyan menyandarkan kepalanya di bahu Shafa. Tangannya menggenggam erat tangan istrinya.
"Enggak mas, Zizi sejak di dalam perut sangat pengertian dan tidak menyulitkanku. Mungkin dia tau bahwa ayahnya tidak di bersamanya jadi dia tidak mau menyusahkan ibunya" Jawab Shafa.
__ADS_1
"Shafa tidak pernah ngidam apapun?" Rayyan masih belum puas dengan jawaban Shafa. Yah, kalau di lihat-lihat sifat tenang dan karakter Zizi itu diwarisi dari Rayyan meskipun wajahnya dominan mirip Shafa. Sama seperti Am yang wajahnya dominan mirip Rayyan tapi sifat dan karakternya warisan dari Shafa.
"Ehmmm apa ya? Oh iya, aku waktu hamil Zizi nggak suka makanan asem, sukanya yang manis-manis dan kadang tiba-tiba ingin beli barang-barang yang baru launching, seperti tas, sepatu dan lain-lain. Dari situ aku yakin bahwa adiknya Am perempuan bahkan sebelum USG" Terang Shafa.
"Pasti berat ya sayang..." Rayyan meraih tangan Shafa dan menciumnya lama. Ujian itu memang berat di awal, tapi jika dijalani dengan iklas akan menjadi manis dan indah di akhirnya.
"Semua sudah beralalu mas, semoga di kehamilan berikutnya mas bisa terus ada di sampingku"
"Insha Allah sayang, semoga Allah senantiasa memberkahi pernikahan kita, menyatukan kita sampai ke Jannah Nya" Rayyan menatap manik mata istrinya, terlantun doa dan harapan di setiap menatap wajah cantik yang sudah bertahan dalam penantian.
"Amiiin"
"Permisi mbak Shafa, ada bu Dian di depan" Seru bi Lastri dari arah pintu. Shafa dan Rayyan segera beranjak menemui Dian, orang kepercayaan sekaligus teman Rayyan yang bekerja di gerai fashion miliknya.
"Eh mbak Di, silahkan duduk" Sapa Shafa ramah pada wanita yang seusia dengan suaminya.
"Terima kasih, Kalian apa kabar? Ray, apa kamu ingat aku?" Tanya Dian pada Rayyan yang duduk di samping Shafa.
Ia hanya tersenyum menandakan ia belum mengingat siapa wanitandi depannya ini.
"Its okay kalau belum ingat, jangan di paksakan. Oh ya Fa, kamu sudah baca email yang aku kirim?"
"Email? Belum deh mbak. Soalnya aku belum sempat buka-buka soal toko lagi. Masih fokus honeymoon" Ujar Shafa dengan santainya.
"Astaga! pantasan" Dian menghembuskan nafas kasar melihat bosnya yang begitu santai.
"Kamu tahu, Sanjaya Corp berniat menghentikan kontrak dengan kita" Ucap Dian yang membuat Shafa terlonjak seketika.
"Apa mbak Di? Menghentikan kontrak? Tapi kenapa?" Wajah Shafa mulai terlihat gusar. Sanjaya Corp merupakan perusahan besar yang bergerak di bidang fashion dan entertain yanh selama ini menjadi promotor fashion berlabel ZR milik Rayyan yang berhasil melambungkan namanya hingga berkembang pesat selama hampir 3 tahun terakhir ini.
__ADS_1
"Soal kenapa dan mengapa lebih baik kamu tanyakan langsung pada tuan Edwin Sanjaya"
Edwin Sanjaya...