
Ya Allah, ulat bulu jenis lain lagi muncul. Shafa memperhatikan perempuan yang baru saja menghampiri mereka. Jika dilihat sepintas dari penampilannyania lebih mirip tante -tante yang hendak pergi kondangn dengan lipstik merah menyala dan pakaian kekecilan yang menonjolkan tonjolah tubuhnya membuat Shafa menggeram. Terlebih gayanya yang kemayu yang sejak tadi mesam mesem.
"Waalaikum salam" Jawab Rayyan yang cukup terkejut melihat salah satu tetangga rumah Abah muncul di pinggir sungai.
"Matanya dijaga atau aku colok!" Bisik Shafa yang sudah melotot menggegat giginya geregetan. Rayyan hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar ancaman istrinya.
"Punten kang, saya mau minta tolong. Boleh?" Ucapnya dengan wajah melas minta di gilas.
"Minta tolong apa teh Uni?" Balas Rayyan.
Oh namanyaa Uni. Ulet genit! Eleh palingan cuma modus. Hapal gue sama cewek modelan kaya gini.
"Panggil Uni aja atuh kang" Balasnya malu-malu.
"Em... Itu, tadi si Maman motornya bocor. Kebetulan saya lihat akang disini. Uni mau minta tolong di anterin pulang kang. Kaki uni Sakit" Ucapnya dengan nada memelas sambil memejang lututnya. Shafa memutar bola matanya malas mendengar ucapan Uni yang begitu manja.
Mata lo nggak ngeliat gue disini? Enak aja mau minta anterin suami orang. Ni ulet pasti ngikutin kita. Shafa mulai berhipotesa dengan pikirannya sendiri. Kalau difikir benar juga yang di fikirkan Shafa. Tempat mereka saat ini sekitar 100 meter dari jalan utama. Rasanya mustahil jika ia beralasan tak sengaja melihat Rayyan di tempat itu.
"Aduh gimana yaa teh?" Rayyan menggaruk kepalanya bingung. Ia tidak mungkin mengantarkan Uni pulang saat Shafa sedang di dekatnya. Toh, sekalipun Shafa tidak ada, ia akan berfikir seribu kali untuk berboncengan dengan wanita yang jelas-jelas ada hati dengannya. Satu-satunya wanita yang pernah ia bonceng hanya Aisyah, itupun karena tak ada pilihan lain.
"Udah anter aja mas, kasian tuh udah cantik gitu masa di biarin jalan kaki. Ntar bedaknya luntur lagi" Sahut Shafa setengah meledek.
"Ini teh saha kang?" Tanya Uni sambil menunjuk Shafa. Tatapannya menunjukkan tatapan tak suka pada ibu 3 anak yang masih terlihat muda seperti remaja.
"Oh iya, kenalin teh. Ini Shafa istri saya" Rayyan mencari aman dwngan mengenalkan Shafa secara langsung. Lirikan sinis mommy Am tersebut berhasil membuatnya ketar ketir akan kemarahan sang istri yang bisa membuat kesejahteraannya di atas ranjang terganggu.
"Ha? Istri?" Uni membelalak terlihat sangat syok. Shafa menyunggingkan senyum sambil mengulurkan tangannya. Yang di sanbut sekilas.
"Shafa Azura, Istrinya mas Rayyan" Ucap Shafa dengan seulas senyum yang ia buat semanis mungkin. Ulet jenis ini harus segera di singkirkan sebelum melangkah terlalu jauh.
"Rayyan?" Wajahnya nampak semakin b*doh. Ia masih tak memahami ucapan dari Shafa.
"Nama asli saya Rayyan teh. Alhamdulillah saya sudah bertemu keluarga saya, ini adalah istri saya. Anak-anak saya juga ada disini, mereka sedang memangcing sama abah" Terang Rayyan. Tangannya tanpa ragu merangkuk bahu Shafa. Bukan maksud pamer tapi untuk menahan tubuh Shafa yang bisa bangkit dan mengamuk. Ingatan Rayyan saat Shafa mengikuti kelas kehamilan dan ribut dengan salah satu peserta tiba-tiba muncul. Dan karena itu iaa bisa menyimpulkan bahwa Shafa bisa menjadi hilang kendali saat sesang cemburu berat, meskipun pada waktu itu Sinta duluan lah yang mencari masalah.
"Anak?" Keterkejutan Uni bertambah.
"Benar, anak kami ada 3 dan sekarang sedang proses yang ke 4" Sahut Shafa dengan bangganya. Ada kesenangan tersendiri melihat wajah cengo para penggemar suaminya.
"Oh gitu ya. Memangnya kang Andi sudah ingat?"
Belum menyerah rupanya!
"Belum sepenuhnya teh tapi--
__ADS_1
"Oh... Uni kira akang udah ingat sama istrinya." Potongnya sambil kembali tersenyum manis. Ia tanpa malu mendekat dan mencondongkaan tubuhnya kepada Rayyan.
"Hati-hati kang sekarang teh banyak penipu modus macem-macem" Bisiknya mencoba memberikan pengaruh.
"Bisa saja kan wanita itu pura-pura menjadi istri akang untuk mengambil keuntungan dari akang. Akan kan nggak ingat dia" Imbuhnya yang tanpa sengaja terdengar oleh Shafa. Uni ini pasti salah satu pengikutbserial ikaan terb
"Insha Allah enggak teh. Ini beneraan istri saya. Saya ingat kok waktu saya nikahin dia, juga saat kelahiran anak saya" Balas Rayyan sambil menahan tangan Shafa yang hendak bangkit. Uni tersenyum kecut mendapati kenyataan pahit di hadapannya. Harusnya sejak dulu saja ia pepetin terus si Andi. Kalau sudah seperti ini pasti akan sulit apalagi jika melihat istrinya yang begitu cantik membuatnya harus mundur alon-alon.
"Ya udah kalau gitu, Uni permisi" Ucapnya balik badan dan berjalan cepat meninggalkan mereka. Terlihat beberapa kali ia menghentakkan kakinya. Misinya pagi itu rupanya gagal total.
"Tuh kan cuma modus, tadi katanya kakinya sakit. Itu apa, sakit kok jalannya kenceng gitu, pake di sentak sentakkin lag...ck.ck.ck" Shafa menggeleng melihat perempuan yang baru saja meninggalkan mereka.
.
.
.
.
.
"Am, bobo sama mommy ya nak" Bujuk Shafa. Ini kali ketiga ia merayu Aam agar mau tidur bersamanya malam ini tapi ia tetap menolak.
"Nda mau mommy, atu mau bobo tamaa atok dan nenek. Iya tan Zi" Ucapnya kekeh yang kini bersekutu dengan sanga adik.
M*mpus gue kalo ini bocah-bocah nggak mau tidur bareng sama gue.
"Sekali aja, ya nak ya. Besok kita jalan-jalan ke time zone deh. Atau mommy buatin kue yang buanyak buat Am dan Zi. Gimana?" Shafa menaik turunkan alisnya menvoba mengambil hati kedua buah hatinya.
"Nda mau mommy" Jawabnya sambil menggeleng.
Ayolah Am, bantu mommy. Ayahmu pasti ngabisin mommy lagi nanti. Tadi ada udah main rab*-raba padahal masih sore.
"Amm..."
"Ayaaah... Atook" Shafa menghembuskan nafas kasar saat Am dan Zi berlari menghampiri ayahnya dan juragan Amir yang baru pulang dari masjid. Si kecil Zi sekarang makin lengket saja dengan Rayyan. Ia tak lagi malu-malu seperti beberapa waktu lalu.
"Atok...atok nanti atu bobo cama atok lagi ya?" Ucapnya sambil memeluk pria bertubuh gemuk bak kakeknya sendiri.
"Oh iya. Harus itu! Am kan besok mau pulang jadi harus bobo sama atok dan nenek. Atok punya cerita bagus untuk Am" Ucapnya yang di tanggapi anggukan antusias sama om.
"Anak cantik ayah mau bobo sama atok juga?" Rayyan menanyai gadis kecil dalam gendongannya.
__ADS_1
"Ia... acu uga bobo cama atok ayah" Ucapnya membuat sebuah senyuman terbit di wajah ayahnya.
"Ayah, tapi to mommy tadi suluh Am bobo sama mommy. Tatanyaa mommy mau di temani bobo sama Atu dan adek. Iya tan Zi?" Ucap Am mengadu pada sang Ayah. Rayyan menoleh pada Shafa yang nampak masa bodo, pura-pura tak mendengar ucapan Am.
"Terus Am mau?"
"Nda mau ayah, atu tan mau bobo tama atok" Jawabnya, kali ini ia turun dari gendongan haji Amir dan mendekati mommy nya yang tengah bermain dengan ponselnya.
"Bagus! Am anak pinter" Ucap Rayyan. Anak-anaknya ini memang tau apa yang Rayyan inginkan. Ia ikut mendekat ada Shafa yang bersantai ria di depan televisi.
"Mommy" Am memeluk Shafa dari belakang.
"Hmmm"
"Apa becok kita puyang?" Tanyanya sambil bergelayut maanja di punggung momnynya.
"Iya"
"Atu cuka ditini mommy" Balasnya.
"Am tinggal disini aja kalau gitu. Mau?"
"Mau tapi tama mommy dan abang juga" Jawabnya.
"Nanti ya lain kali, kalau libur lagi kita kesini"
"Ya udah deh mommy, Atu mau cama atok dulu" Ucapanya sambil melenggang pergi menghampiri juragan Amir yang tengah ngeteh di teras samping.
"Acu ituuuut" Zi pun melompat dari pangkuan ayahnya menyusul sang kakak.
Yes!!!
Rayyan menggeser tubuhnya mendekat pada sang istri yang tengah fokus pada layar pipih di depannya.
Grep!
"Mas!" Pekik Shafa saat Rayyan tiba-tiba menyahut ponselnya.
"Mas ngantuuk. Bobo yuk!" Ajaknya dengan wajah yang di buat lesu.
Modus. Bilang ngantuk ujung-ujungnya bikin orang nggak tidur!
"Beneran ngantuk?" Tanya Shafa memicingkan matanya. Iya yakin ini akal-akalan Rayyan saja.
__ADS_1
"Iya.. Ni lihat mata mas udah berair" Ucapnya meyakinkan.
"Ya udah, ayok!" Shafa bangkit dari duduknya menuju ke kamar mereka. Ia tak lagi khawatir dengan anak-anaknya yang kini bersama atok dan neneknya. Ia justru khawatir dengan dirinya yang rasa-rasanya akan mendapat serangan ke 3.