Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Khawatir


__ADS_3

"Assalamualaikum!"


Suara cempreng Aisyah mengalihkan perhatian 3 bocah yang sedang asyik nonton serial Upin dan Ipin. Ketiganya kompak bangkit dan berlari menuju pintu depan.


"Tante Aish" Teriak Am yang lebih dulu sampai di depan pintu disusul Zizi dan Zaf di belakangnya.


"Tante Aish di suruh ayahku ya?" Tanya Zafran yang sudah mengetahui perihal kedatang Aisyah.


"He em" Aisyah mengangguk. Kepalanya menoleh kebelakang menunggu dokter tampan yang sejak tadi mengkhawatirkan ibu dari 3 bocah yang ada di hadapannya.


"Hai boys, princess" Malvin segera menyapa anak-anak Shafa begitu ia turun dari mobilnya.


"Om doktel... Om doktel!!!" Teriak Am dan Zizi kegirangan. Sudah lama mereka tidak bertemu dan bermain bersama dokter tampan yang dulu selalu berada di sisi mommynya. Bahkan jika di hitung-hitubg frekuensi kebersamaan mereka dengan Malvin jauh lebih banyak di banding dengan Rayyan.


"Uuh... Om rindu kalian" Malvin berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan mereka sembari memeluk Zaf, Am dan Zifara.


"Atu juga lindu om" Jawab Am.


"Acu uga" Sahut Zizi.


"Oh ya Zaf, dimana mommy mu?" Tanya Aiisyah. Tujuan utamanya kerumah Rayyan, selain menemani anak-anak adalah untuk melihat dan memastikan kondisi Shafa.


"Mommy ada di kamar tante"


"Ya udah, tante lihat mommy dulu ya. Kalian di sini, bareng pak dokter" Ucap Aisyah.


"Tunggu!" Seru Malvin membuat Aisyah yang sudah melangkah beberapa langkah menoleh.


"Biarkah saya melihat kondisinya" Ucap Malvin, dari tatapannya jelas tergambar kekhawatiran yang mendalam.


"No, dokter!" Tolak Aisyah mentah-mentah. Ia tentu tak ingin menyulut api yang dapat memicu pertengkaran Rayyan dan Shafa.


"Saya dokternya, saya harus tahu kondisinya." Ucap Malvin dengan penuh paksaan. Sementara Am dan Zi yangbtidak mengerti akan arah pembicaraan dua orang dewasa itu hanya bisa menatap Malvin dan Aisyah bergantian.


"Huh" Aisyh memutar bola matanya malas. Haruskah ia berdebat di saat seperti ini.


"Itu dulu dokter. Sekarang dia sudah menemukan obatnya. Dokter tunggulah di sini. Kalau ada sesuatu yang genting pasti aku panggil dokter. Lagian ya dok nggak baik masuk ke dalam kamar wanita yang sudah bersuami. Dosa! Udah dokter tunggu di sini aja. Nggak usah baper gitu dok. Jelek tau!" Akhirnya apa yang ada di dalam hati Aisyah ia keluarkan tanpa ada filter. Ia sudah tak tahan lagi melihat Malvin yang masih tenggelam dalam kebodohannya mencintai milik orang lain. Meskipun tanpa sepengetahuan Aisyah, lambat laun hati Malvin sudah mulai berpindah.

__ADS_1


Meninggalkan Malvin bersama anak-anak di ruang tamu, Aisyah segera melangkah menuju kamar Rayyan. Dan tanpa mengetuk ia langsung menarik hendel pintu yang tidak terkunci.


"Assalamualaikum, kak?" Panggilnya pelan, takut mengagetkan sang empunya kamar.


Shafa yang memang tidak tidur, menoleh ke arah pintu begitu mendengar suara memanggilnya.


"Waalaikum salam, Aish? Kok kamu disini?" Ia sedikit terkejut dengan kedatangan Aisyah yang tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Aisyah bahkan masih mengenakan seragam perawat yang menandakan ia belum sempat mengganti baju.


"Kak, kakak sakit apa?" Aisyah mendekat, duduk di pinggir ranjang Shafa.


Mata Shafa menyipit, dari mana Aisyah tau dirinya sedang sakit?


"Ah, ini cuma kecapean aja kok" Ucapnya sembari memperbaiki posisi bersandarnya agar lebih nyaman.


"Kakak demam? Biar Aish cek tekanan darahnya ya kak" Aisyah menempelkan punggung tangannya di leher Shafa yang terasa hangat. Ia membuka tas ranselnya yang berisi tensimeter untuk mengecek tekanan darah Shafa.


"Ini udah mendingan Syah. Tadi kakak sudah minum paracetamol" Ucap Shafa yang tak ingin Aisyah khawatir.


"Tekanan darah kakak rendah, kakak harus banyak istirahat dan minum susu" Ucap Aisyah setelah memeriksa tekanan darah Shafa.


"Apa ada keluahan lain kak?" Tanyanya sambil merapikan alat tensinya.


"Apa?" Aisyah menatap wajah Shafa lekat-lakat. Beneran cantik, seperti artis. Batin nya yang untuk pertama kali melihat Shafa tanpa balutan hijab.


"Kangen mas Ray" Ucap Shafa sambil terkekeh. Sontak wajah tegang Aisyah menjadi cerah kembali. Ia menghembuskan nafas lega mengetahui Shafa yang baik-baik saja.


"Ntar sore dia balik kak. Puas-puasin deh kangennya"


"Oh ya, kamu tau dari mana kakak sakit" Shafa masih penasaran, setaunya hanya Zaf dan bi Lastri yang *** dirinya tidak enak badan.


"Siapa lagi kalau bukan bapaknya si bocah yang ngasi tau aku"


"Mas Ray?" Aisyah berujar tak percaya.


"Yaialah kak, emang siapa lagi yang bisa memerintah aku secepat kilat untuk segera sampai disini. Astaga! Aku lupa, di depan ada dokter Malvin kak." Aisyah baru ingat jika ada orang lain yang begitu mengkhawatirkan waanita cantik di depannya ini.


"Malvin? Sedang apa dia disini?"

__ADS_1


"Buat nengokin kakak lah. Mana bisa aku izin lebih awal kalau bukan karena aku bilang kakak sedang sakit. Buruan ganti baju kak sebelum dia maksa masuk" Ujar Aisyah. Sambil membantu Shafa bangkit dari tempat tidurnya.


"Aish tolong ambilin mukena kakak itu" Tunjuknya pada mukenah bermotif bunga-bunga yang tergantung di dalam lemari kaca transparant.


Dengan cekatan Aisyah mengambil mukena dan mengekori Shafa keluar dari kamar. Pandangannya menyapu ke segala penjuru ruangan tersebut.


"Dia di ruang tamu kak" Seru Aisyah.


Mengetahui kemunculan Shafa dari dalam, Malvin segera meletakkan box kue yang tengah di pegangnya dan buru-buru menyapa Shafa.


"Are you okay Fa?" Tanyanya penuh kekhawatiran.


"I am Okay Fin" Balas Shafa dengan seulas senyum kepada pria yang banyak menolongnya itu. Ia memilih duduk di samping Am sedang Zifara tengah asik memakan kue di sebelah Malvin.


"Apanya yang sakit?" Tanyanya lagi, masih tak puas dengan jawaban Shafa.


"Kak Shafa kecapean dok, tekanan darahnya juga rendah, tapi demamnya udah berkurang" Sahut Aisyah yang memang sudah memeriksanya lebih awal.


Mendengar mommynya sakit, Am segera meletakan kue coklat yang tengah di pegangnya dan langsung merangkak naik di pangkuan Shafa dan memeluknya dari depan.


"Mommy nggak papa sayang" Bisiknya pada Am. Ia tahu benar bahwa putranya yang satu ini akan sangat manja saat dirnya sedang sakit. Bahkan pernah suatu ketika ia tak mau mandi dan makan jika bukan mommynya yang menemaninya.


"Kamu harusnya jangan beraktifitas terlalu berat. Saya sudah pesankan vitamin dan obat untukmu. Stay health Fa." Ucap Malvin. Sebisa mungkin ia menghalau perasaannya, namun bayangan saat-saat sulit itu kembali melintas di ingatannya. Apakah ini cinta? Atau hanya simpati semata. Yang ia tahu saat ini ia hanya tak ingin melihat Shafa sakit. Karena sakitnya wanita cantik itu, adalah sakitnya ketiga anak-anaknya.


"Thanks dok" Ucap Shafa tulus. Jauh di dalam hatinya ia berdoa agar Malvin segera mendapatkan wanita terbaik yang bisa menjadi teman hidupnya.


"Di minum dok" Aisyah meletakkan segelas minuman berwarna merah di hadapan Malvin.


"Terima kasih. Apa kamu akan tinggal?" Malvin melirik Aisyah yang dengan telaten membersihkan belepot yang ada di bibir Zizi.


"Ya, dokter izinkan kan?" Aisyah mengerjap-ngerjapkan matanya menampilkan puppy eyes yang terlihat menggemaskan.


"Hem" Jawab Malvin singkat.


Ditengah obrolan mereka, tiba-tiba Zafran muncul dengan tablet memegang tablet di tangannya.


"Ini Momny ayah" Iya mengarahkan tabletnya ke arah mommynya yang tengah mendekap Am. Nampaknya sang ayah sedang melakukan video call untuk mengetahui kondisi sang mommy.

__ADS_1


"Ini om doktel" Ucapnya lagi, sambil mengarahkan tablet pada Malvin yang sedang memangku Zifara. Sedang Aisyah sendiri tak nampak karena sedang mengambil air untuk Shafa minum obat.


__ADS_2