Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Anak Siapa?


__ADS_3

Shafa menggeliat berusaha melepaskan diri dari dekapan suaminya. Beberapa kali ia memukul lengan Rayyan yang dengan posesivnya melingkar di pinggangnya. Rayyan yang tak tahu harus menanggapi seperti apa ucapan istrinya memilih diam dan mencoba menyelami isi hati wanitanya itu.


"Mas nggak cinta lagi kan sama aku?" Lirihnya saat usahanya melepaskan diri gagal. Ia tak tahu Rayyan sekuat ini sekarang.


"Shafa ngomong apa? Siapa yang tidak cinta lagi?" Ia menatap Shafa dengan mata tenangnya.


"Mas!" Ucapnya ketus penuh penekanan.


"Sssttt... Jangan keras-keras nanti Zizi bangun" Katanya sambil menepuk-nepuk bokong Zizi yang tertelungkup di dadanya.


"Lepasin!" Ucap Shafa brlerusaha menjauhkan lengan Rayyan dari perutnya.


"Nggak!"


Mendengar jawaban Rayyan Shafa memilih untuk menunduk meresapi tiap perih yang dirasakan. Harusnya saat ini ia bahagia, harusnya ia bersenang-senang tapi malah sebaliknya.


Kenapa kamu nggak jujur saja mas?


Melihat istrinya yang hanya diam saja, Rayyan melonggarkan tangannya hingga terlepas sempurna dari pinggang Shafa. Shafa tak juga beranjak, ia malah bengong dalam dugaan-dugaannya.


Rayyan dengan hati-hati meletakkan tubuh Zifara di atas kasur, kemudian bangkit dari posisi berbaringnya. Di rengkuhnya tubuh Shafa yang membatu disebelahnya.


Pelukan hangat itu langsung menyadarkannya dari lamunannya. Ia tak sadar bahwa tangan Rayyan kini berubah mendekapnya dari belakang.


"Jangan bergerak!" Titah Rayyan saat ia mencoba melepaskan dirinya.


Shafa berusaha menahan agar air matanya tak jatuh. Rasanya lama sekali ia baru merasakan pelukan yang seperti ini. Apakah untuk di peluk seperti ini harus menangis dulu?


"Tidak ada yang berubah, semuanya masih sama hanya saja saya belum mengingatmu sepenuhnya" Ucap Rayyan.


Keduanya larut dalam hening yang menciptakan tanya di fikiran masing-masing. Hingga sebuah ketukan pintu menyadarkan mereka sudah hampir setengah jam dalam posisi itu.


Tok...Tok...Tok...


"Ndi, ada neg Risa" Ucap Ambu dari balik pintu.


Rayyan segera melepaskan dekapannya dan turun dari ranjang membuka pintu. Kembali ada luka yang tak berdarah disini. Shafa menekan dadanya yang terasa begitu nyeri. Baru saja ia percaya akan ucapan Rayyan, kini ia harus dihadapkan oleh kenyataan yang sama sekali tak berpihak padanya. Rayyan yang dengan spontan bergerak saat nama itu disebut membuatnya semakin yakin bahwa Risa memiliki tempat khusus di hati Rayyan.


"Ada neng Risa di depan" Ulang Ambu saat pintu sudah terbuka.


"Saya segera keluar ambu" Ucapnya.


Shafa beberapa kali mendongak menahan cairan bening itu agar tak jatuh. Malang sekali nasibnya.


"Ayo!" Ucap Rayyan menyentuh bahu Shafa.

__ADS_1


"Hah... Apa?" Shafa nampak bingung dengan ucapan Rayyan barusan.


"Di luar ada teman saya, ayo saya kenalkan padanya" Ucap Rayyan membuat Shafa mendelik.


Gue mau dikenalin sama gebetan dia? OMG!!! Apa tadi? Teman? Teman tapi demen!


Shafa mengangguk kecil dalam hati ia juga penasaran dengan sosok bernama Risa itu. Ia berjalan pelan di belakang Rayyan menuju ruang tamu yang berada di bagian terdepan.


"Assalamualaikum" Sapa Rayyan dengan begitu ramah.


"Waalaikum salam warahmatullah" Jawab suara merdu yang tak lain adalah suara Risa.


Shafa mengangkat wajahnya dan langsung bersitatap dengan mata bening gadis cantik di hadapannya yang juga sedang menatap Shafa.


"I...ini siapa kang?" Tanyanya ragu-ragu.


Jadi mas Ray belum mengatakan bahwa dia telah beristri?


"Oh ya, kenalin ini Shafa istri saya"


Bagai disambar petir di siang hari, Risa langsung membelalak, sepersekian detik ia ngeblank mendengar ucapan pria di hadapannya itu. Shafa bisa melihat jelas raut terkejut dan kecewa di mata gadis berhijab putih itu.


"Shafa Azura" Ucapnya Dengan tegar Shafa mengulurkan tangannya pada Risa.


"Ri..risa" Jawabnya gugup.


"Silahkan duduk" Ucap Rayyan mempersilahkan.


"Jadi, kang Andi sudah bertemu dengan keluarga?" Tanya Risa yang menatapnya dengan tatapan sendu. Rayyan mungkin tak menyadari, tapi Shafa sebagai seorang wanita yang peka ia bisa melihat luka di mata Risa.


"Alhamdulillah saya sudah bertemu keluarga saya di Jakarta"


"Yang waktu itu berarti Aisyah tidak bohong ya?" Ia ingat betul waktu Aisyah mengatakan akan mencari anak Rayyan.


"Benar neng, waktu itu ternyata insting saya benar. Anak itu adalah anak saya" Jawab Rayyan.


Risa beralih menatap Shafa. Sejenak merasa rendah diri melihat penampilan Shafa yang begitu cantik.


"Jadi akang sudah mengingat semuanya" Tanya Risa memastikan.


Rayyan menggeleng, "Belum sepenuhnya".


"Termasuk istri akang?" Risa langsung mengatupkan bibirnya saat tatapan tidak suka Shafa menyorotnya. Apa maksudnya menanyakan Rayyan ingat atau tidak pada Shafa? Sekalipun Rayyan tak ingat, tidak akan mengubah statusnya. Ia tetaplah nyonya Zidane Ar-Rayyan.


"Maaf" Cicitnya yang merasa salah bicara.

__ADS_1


Rayyan menoleh sekilas pada Shafa "Tidak apa-apa, saya memang belum ingat sepenuhnya. Insha Allah dengan izin Allah saya akan segera mengingatnya" Ucap Rayyan.


Risa hanya mengangguk-angguk. Jika benar dia teman Rayyan, harusnya ia senang Rayyan menemukan keembali istrinya, tapi ini ia justru terlihat sedih dan terluka.


"Mommy... Mommy... huu... Mommy" Suara teriakan Am yang disertai rengekan mengalihakan perhatian tiga orang dewasa yang tengah menahan gejolak dihati masing-masing. Shafa segera berdiri saat melihat Am berjalan menggandeng Zizi sambil menangis.


"Ya Allah nak!" Shafa berlari menghampiri mereka.


"Mommy..." Am dan Zizi langsung memeluk Shafa dan menangis sesunggukan.


Melihat hal itu Rayyan tidak tinggal diam ia segera mengendong Am mengabaikan tamunya yang tertegun dengan pemandangan pahit di depannya.


"Am... Kenapa nak?" Rayyan mengusap lelehan air mata di wajah putranya. Beberapa kali ia melayangkan kecupan di kening putranya agar berhenti menangis. Sementara Shafa sendiri sudah berhasil menenangkan Zifara.


"Atut atut mommy pelgi" Ucapnya sambil sesunggukan.


"Mommy nggak kemana-mana sayang"


"Tapi tan tadi mommy bilang mau puyang, atu nda mau ditinggal mommy" Ucapnya sambil kembali menangis


"Cup...cup... Mommy tidak kemana-mana, sudah jangan menangis" Rayyan membawa Am untuk duduk di kursi ruang tamu.


"Maaf ya neng, jadi di tinggalin"


"Nggak papa kang. Jadi ini anak-anak akang?" Tanya Risa berusaha tegar.


"Iya, nak salim dulu sama tante" Rayyan menurunkan Am yang langsung menyambut tangan Risa untuk di salami.


"Masya Allah, ganteng! Namanya siapa dek?" Tanya.


"Am!" Jawab Am singkat. Ia masih merasa sedih atas kejadian barusan. Ia sempat mengira mommynya benar-benar pulang dan meninggalkannya.


"Mirip banget sama akang" Ucap Risa setelah memperhatikan Am dengan seksama.


Ya ialah, bapaknya kok! Gumam Shafa.


"Kalau yang itu namanya siapa?" Ia beralih memandang Zifara. Balita cantik titisan sang ibu.


"Ini namanya Zifara" Shafa berusaha ramah.


"Wah, cantik...Seperti ibunya" Puji Risa.


"Terimaksih"


*Kok tidak mirip dengan kang Andi. Apa benar dia anaknya? Bukankah tidak mungkin memiliki anak seusia ini l, sedangkan kang Andi sudah hampir 3 tahun disini.

__ADS_1


Anak siapa dia ini*?


__ADS_2