Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Berakhir Sudah


__ADS_3

Pukul 12.30, setelah selesai melaksanakan Sholat Dzuhur, Rayyan segera pulang menuju kediamannya. Sejak sejam yang lalu, Shafa berulang kali menelpon menanyakan Zifara. ia takut Zifara rewel karena baru pertama kali ikut sang ayah ke tempat kerja.


Di ruangan tadi, setelah berhasil membujuk ibu hamil itu agar tidak melapor pada sang istri, Rayyan mencari keberadaan Dewi untuk memperjelas semuanya. Sayangnya, si tersangka sudah tidak ada di sekitar ruangannya.


Dari penuturan Sonya dan Benni, Rayyan baru tau bahwa Dewi merupakan salah satu dosen yang penuh dengan skandal perselingkuhan. Salah satunya dengan seorang dekan di universitas itu. Sepak terjangnya di dunia perselingkuhan sudah tidak di ragukan lagi. Bermodal wajah cantik, dan penampilan modis membuatnya lupa bahwa dirinya adalah seorang pendidik yang harus memberikan contoh yang baik bagi generasi muda penerus bangsa. Dewi yang di ketahui di terima di kampus itu karena adanya pengaruh orang dalam itupun sudah di mutasi beberapa waktu lalu, dan entah mengapa tiba-tiba ia muncul di hadapan Rayyan mengaku sebagai kekasihnya dengan memanfaatkan amnesia yang di derita Rayyan. Rayyan sendiri mana mungkin bisa berpaling dari Shafa yang cantiknya berkali-kali lipat dari Dewi. Bukan hanya cantik wajahnya namun hatinya pun demikian.


Am dan Zifara yang di dudukkan di bangku depan nampak tenang tak bersuara. Zifara terlihat beberapa kali terjaga karena menahan kantuknya.


"Ayah, Zizi bobo" Ucap Am sambil menahan bahu sang adik yang hampir sama tinggi dengan dirinya.


Rayyan segera menepikan mobilnya, kemudian memindahkan Zizi ke dalam gendongan di depan tubuhnya agar ia bisa tidur dengan nyaman.


Gadis kecil itu begitu tenang memeluk ayahnya yang sambil menyetir.


Di sebuah rumah berlantai 2 dengan halaman yang luas dan hijau, seorang wanita cantik dengan dengan kerudung yang di sampirkan di bahunya tengah menjemur pakaian di halaman belakang. Ia bahkan tidak menyadari anak dan suaminya sudah pulang.


Rayyan tersenyum melihat istrinya yang dengan semangat melakukan pekerjaan rumah. Ini mungkin adalah kali pertma ibu 3 anak itu menjemur pakaian sebanyak itu sendirian. Meski begitu, ada sedikit rasa sedih di hati Rayyan melihat Shafa. Wanita yang dibesarkan sebagai Putri tunggal dengan segala kemewahan dan fasilitas yang lengkap harus menjalani hari-hari sulit seperti saat ini. Sebenarnya bisa saja ia mengambil satu ART lagi, jika sang istri tidak menolak.


"Mommy... Atu kangen" Seru Am, begitu mendapati sang ibu di halaman belakang.


"Ya, ampun anak mommy udah pulang rupanya" Shafa segera menyingkirkan keranjang pakaian yang sudah kosong dan menghampiri Am yang berlari kearahnya. Bagaimanapun juga, Am juga anak mommy yang akan nemplok bak cicak-cicak di dinding pada ibunya.


"Zizi tidur mas?" Pandangan Shafa beralih pada Zizi yang berada di gendongan depan Rayyan.


"Iya, aku pindahin dulu di kamar ya"


"Apa mereka sudah makan mas?" Shafa harus memastikan anak-anaknya sudah makan atau belum.


"Udah mommy. Atu cama Zizi matan banyak lo mommy. Atu tadi pelgi cama tata-tata di cekolah ayah. Iya tan ayah?" Dengan antusias Am memamerkan kegiatannya bersama mahasiswa Rayyan tadi.


"Nggak makan sembarangan kan, Mas?" Tanya Shafa penuh selidik. Pasalnya ia sangat hati-hati dengan makanan yang di makan anak-anaknya. Terutama Am, yang paling suka makan sembarang tapi paling sensitif.

__ADS_1


"Enggak Shafa, mereka makan mie organik dan olahan ikan dari hasil PKM mahasiswa" Terang Rayyan.


"Iya cafa," Sahut Am yang langsung mendapat tabokan di bokongnya.


PUK!


"Nggak sopan!" Tegur Shafa sambil melotot pada Am.


"Atu tan, itut-itut ayah" Jawabnya enteng. Itulah pentingnya menjaga lisan di hadapan anak, karena mereka cenderung meniru orag dewasa di sekitarnya.


"Am, nggak boleh lagi ya nak, panggil mommy kaya tadi"


"Tapi ayah kok boleh?" Pertanyaan Am membuat Rayyan bingung harus menjawab apa.


"Ayahmu lagi khilaf nak! Ya udah mas, buruan tidurin Zi, gih. Aku siapin makan dulu," ucapnya tak ingin memperpanjang masalah.


"Atu mau makan lagi mommy"


Setelah meletakkan Zifara di kamar, Rayyan kembali ke meja makan untuk menyantap makan siang. Ia memperhatikan jajaran menu 4 sehat yang ada di atas meja.


"Ini, Mommy yang masak semua?" Tanyanya.


"Iya" Jawab Shafa sambil menyendok kan nasi ke piring Rayyan.


"Masya Allah, istri solehah" Pujinya membuat sang empunya merona. Padahal hanya pujian kecil saja.


"Biasa aja kali mas. Emang tugas istri kan?"


Rayyan mengangguk sambil mengamati wajah cantik istrinya yang semakin cantik saat ia tersipu.


"Mommy nyuci juga?" Tanyanya lagi. Pasalnya tadi ia melihat Shafa menjemur pakaian yang tak sedikit jumlahnya.

__ADS_1


"Enggak mas, aku cuma nyuci pakaian dalam dan punya Zizi aja. Selebihnya bi Lastri yang ngerjain. Aku bantuin jemur saja kok tadi" Jawabnya yang kembali di angguki oleh Rayyan. Soal pakaian, Shafa memang selalu mencuci pakaian dalam miliknya, suami serta anak-anaknya sendiri.


"Masya Allah, *Anna uhibbuki Lilla**h, ummu Am"


"Love you too, dad*" Jawab Shafa. Dua pernyataan cinta yang menggunakan dua bahasa berbeda.


Di tengah-tengah kegiatan santai mereka setelah makan siang, Rayyan di kejutkan dengan kedatangan Dia ke rumahnya. Dari raut wajahnya nampak sesuatu yang buruk tengah terjadi.


"Ada apa mbak Di? Kok kayak di kejar maling gitu?" Tanya Shafa sambil meletakkan segelas air di hadapan Dian yang sedang mengatur nafasnya.


"Minum dulu Di" Rayyan mendekatkan gelas berisi cairan berwarna kuning tersebut ke hadapan Dian. Dan sekali tegak, air tersebut kandas tak bersisa.


"Kamu kemana saja sih Ray, di hubungi nggak jawab?" Dian mulai membuka suara.


"Handphone ku di kamar. Memangnya ada apa?" Rayyan semakin penasaran. Sepertinya ini ada hubungannya dengan bisnisnya yang sedang terpuruk.


"Ray... Gudang tempat produksi kita terbakar" ucap dian dengan ekspresi sedih. Berbeda dengan Dian, Rayyan dan Shafa yang mendengar hal itu hanya diam terpaku. Rayyan memejamkan matanya sembari menghela nafas panjang. Sementara sang istri terlihat jelas matanya yang sedang berkaca-kaca.


Kuatkan kami ya Robb.


"Semuanya sudah berakhir Ray. Kita nggak mungkin melanjutkannya," ucap Dian lirih sambil tertunduk. Ia tahu pejuangan keras Rayyan saat merintis bisnisnya ini hingga berkembang dan kini terpuruk hingga ke dasar. Berapa banyak kerugian dan biaya yang harus di tanggungnya.


"Terima kasih Di. Suruh orang-orang kita membereskan semuanya. Besok kita kembali adakan rapat untuk menyelesaikan semuanya." Ucapnya datar.


Setelah kepergian Dian, Rayyan tak banyak bicara ia memilih masuk ke kamar bersama Shafa. Shafa pun sama, ia cukup mengerti perasaan Rayyan, hingga tak berani menanyakan sepatah katapun. Pandangan Rayyan jatuh kepada dua orang buah hati yang tengah tertidur lelap di atas kasur. Tiba-tiba ketakutan akan masa depan sang anak muncul dalam benaknya. Ia segera beristigfar menyadari bahwa imannya mungkin sedang lemah hingga setan dengan mudahnya masuk dan mempengaruhi fikirannya hingga lupa bersyukur.


"Kita hadapi bersama mas, kamu nggak sendiri kok" Suara lembut Shafa berhasil menerbitkab kembali senyumnya.


"Nggak apa-apa ya, hanya jadi istrinya ASN biasa?" Ucap Rayyan sambil mengusap lembut kepala istrinya.


"Nggak papa Mas, yang penting jadi satu-satunya. Nggak ada yang ke dua ataupun ke tiga" Jawab Shafa yang di sambut tawa renyah Rayyan.

__ADS_1


"Shafa selalu jadi satu-satunya. Kemarin, hari ini hingga maut memisahkan" Jawabnya sambil mendekap tubuh hangat Shafa.


__ADS_2