
Hari yang di nantikan pun tiba. Hari pelulusan Aisyah yang akan menyandang gelar Almadia Kesehatan atau AMK. Sejak pukul 5.30 Aisyah di make up oleh MUA pribadinya, siapa lagi kalau bukan Shafa Azura. Orang kedua yang sangat antusias dengan kelulusan Aisyah.
"Cantik banget Syah, kalau gini kan nggak mirip dengan pelakor yang ada di tivi itu" Shafa cekikan sendiri membayangkan wajah Aisyah dengan penyanyi yang sempat viral beberapa waktu lalu.
"Ih, kakak apaan sih? Amit-Amit deh kalau muka ku mirip dia" Sahutnya. Aisyah memperhatikan wajahnya di cermin dengan takjub.
"Kakak kenapa nggak buka salon aja sih? Ini beneran kaya aku di make up ama Make Up Artis terkenal loh"
"Ayahnya Am mana bolehin. Oh ya Syah beberapa produk di toko udah siap launching beberapa hari ke depan. Kamu bantuin promoin ya" Pinta Shafa yang masih merapikan aksesoris di bagian kepala Aisyah.
"Emang kakak udah dapet duit? Kata aku juga pake uang Aisyah dulu aja"
"Udah dong, Ayahnya Am kan pinter nyari duit...he.he.he" Jawabnya Asal. Shafa tidak tahu saja bahwa suaminya harus bekerja ektra di luar jadwalnya untuk bisa memenuhi keinginan sang istri.
Tok...Tok...Tok
"Aisyah buaruan, sudah jam 7, saya sudah terlambat" Teriak Rayyan dari arah luar.
"Iya...Iya"
Aisyah keluar dari kamar dengan mengenakan gaun panjang lengkap dengan toganya. Abah dan Ambu yang menunggu di ujung tangga sampai terpukau dan terharu melihat anak yang mereka besarkan hampir 20 tahun ini telah berhasil menyelesaikan sekolahnya.
"Masya Allah, anak abah" Abah meraih tangan Aisyah dengan mata berkaca-kaca.
"Semoga setelah ini Aisyah jadi semakin dewasa dan bijak dalam mengambil keputusan. Aish sudah besar sekarang. Semoga Aisyah nanti berjodoh dengan laki-laki yang baik dan sayang sama Aisyah" Ucap abah sambil menatap Aisyah yang juga hampir meneteskan air mata.
Ucapan abah yang terkhir berhasil mengoyak hatinya. Abah nya mengharapkan ia berjodoh dengan laki-laki baik, namun ia sendiri kini terjebak dalam permainan lelucon dokter Malvin.
Buru-buru Aisyah menyusul Rayyan yang terlebih dahulu keluar rumah. Iaa tak ingin terlarut dalam pembahasan seputar jodoh yang kian menyudutkan dirinya.
Sekitar 20 menit, Aisyah beserta keluarga tiba di gerbang kampus. Puluhan karangan bunga sudah memenuhi halaman kampus. Ucapan selamat dan sukses datang dari berbagai pihak untuk peserta wisuda terutama mereka yang berasal dari kalangan pejabat dan konglomerat.
Aisyah berjalan dengan anggunnya di dampingi kedua orang tuanya menuju gedung tempat acara di gelar.
__ADS_1
Hari itu, semua mahasiswi tampil beda deengan make up dan baju terbaik mereka. Begitupun dengan Aisyah. Ia berjalan di dampingi abah dan juga ambu memasuki gedung Auditorium yang sudah di sulap sedemikian rupa.
"Aulia?" Suara seorang sangat dikenal Aisyah menghentikan langkahnya. Ia berbalik ke arah sumber suara. Ya, itu adalah mama Malvin atau istri direktur utama kampus tempat Aisyah menimba ilmu.
"Eh, tante" Sapa Aisyah yang tersenyum canggung. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok yang sedikit ia rindukan.
"Selamat ya sayang, kamu cantik sekali" Puji mama Malvin sambil memeluk gadis yang ia harap menjadi menantunya itu.
Senggolan tangan Ambu menyadarkan Aisyah akan keberadaan kedua orang tuanya. Ia terlalu gugup hingga tak menyadari bahwa abah dan ambu nya sejak tadi memperhatikan Aisyah.
"Saha Syah?" Bisik ambu yang terdengar oleh mama Malvin.
"Oh, astaga. Ini orang tua kamu Aulia?" Tanya mama Malvin yang juga tak menyadari keberadaan dua orang tersebut.
"I... iya tante. Ini abah dan ambu saya" Dalan hati Aisyah berdoa semoga mama Malvin tidak keceplosan.
"Wah kenalkan saya mamanya Malvin" Ucap wanita itu dengan percaya diri sembari menyalami kedua orang tua Aisyah.
"Malvin saha Syah? teman kuliah?" Tanya Abah. Rasanya agak aneh ada wanita paruh baya yang terlihat begitu akrab dengan Aisyah.
"Dokter Malvin, dokterna kang Andi bah, pembimbing Aisyah juga di klinik" Aisyah segera memotong ucapan mama Malvin. Ia takut kedua orang tuanya mendengar yang tidak seharusnya mereka dengar.
"Oh, gitu. Ini teh mamanya pak dokter nyak?" Raut wajah abah terlihat begitu ramah menyambut mama Malvin.
"Benar"
"Masya Allah, baik pisan. Kami sekeluarga sangar berterimakasih pada pak dokter yang telah membantu anak kami," Ucap abah tulus. Anak yang di maksud oleh abah adalah Andi, namun mama Malvin tak menyadari hal itu.
"Sama-sama pak, kami juga senang bisa membantu. Bukankah kita akan menjadi keluarga?"
Aisyah hampir tersedak mendengar ucapan mama Malvin. Beruntung suara pengumuman oleh MC kegiatan yang barusan terdengar berhasil mengalihkan perhatian mereka.
Ya Allah, bagaimana ini?
__ADS_1
Sepanjang berlangsungnya acara Wisuda, Aisyah sama sekali tidak fokus. Ia begitu gelisah terutama saat matanya menangkap sosok tampan berkharisma yang duduk di jajaran kursi undangan paling depan bersama kedua orang tuanya. Ia belum siap menjelaskan apapun kepada orang tuanya. Ia bahkan berharap kepura-puraan hubungannya dengan Malvin segera berakhir agar ia bisa bernafas lega meski ia tahu itu akan menyakitkan. Tapi, bukankah lebih sakit hidup dalam bayang-bayang kepalsuan?
Di luar gedung, Rayyan bersama istri dan ketiga anaknya menunggu selesainya ceremoni wisuda di warnai dengan keributan kecil yang di buat sang anak. Am yang sejak tadi tak mau diam membuat sang ibu kehabisan kesabaran. Pasalnya ia berlari kesana kemari di tengah padatnya orang-orang yang berada di tempat itu. Ada beberapa penjual, kerabat wisudawan juga mahasiswa yang ingin menyaksikan moment yang menjadi tujuan akhir mereka berada di kampus itu.
"Mommy lepas, atu mau ke tana," Tunjuknya ada penjual balon yang berada di sisi jalan.
"Nggak! Biar ayah aja yang kesana kalau Am mau balon. Disana banyak penculik!" Ujar Shafa sambil mengeratkan dekapannya pada sang anak yang sejak tadi bergerak-gerak ingin bebas.
"Iya adek Am, kamu masih kecil nggak boleh jauh-jauh dari orang tua" Sambung si sulung yang jauh lebih bijak dan penurut.
"Atu butan anak kecil! Atu udah betal dan mau punya adik lagi," Teriaknya tak terima.
"Amiiin"
Suara tenang itu membuat Shafa menoleh. Suaminya sedang tersenyum manis sambil menggendong Zifara yang tengah menikmati wafer coklat.
Shafa sedikit termenung memikirkan sesuatu. Ia nampak berfikir sambil sesekali mengerutkan keningnya.
Ya Allah. Terakhir aku haid kapan ya?
Ia mencoba mengingat-ngingat kembali. Jantungnya mulai berpacu kencang. Ia sangat yakin bahwa jadwal haidnya sudah lewat beberapa minggu. Mungkinkah ia sedang hamil? Tapi, tidak ada gejala aneh yang ia alami seperti saat mengandung Am dulu.
"Mas!" Shafa menoleh kepada sang suami dengan perasaan gusar.
"Iya?"
Gimana ngomongnya? Apa aku tes dulu aja yah?
"Mas, kayaknya aku..."
"Tante Aish! Tante Aish! Atoook"
Am berteriak kegirangan saat melihat Aishah dan kedua orang tuanya berjalan menghampiri mereka. Berarti Wisuda telah usai.
__ADS_1
"Nanti saja di rumah" Ucap Shafa. Rasanya waktunya tidak pas untuk menyampaikan dugaannya. Toh, semuanya baru dugaan.