
"Zaf yakin mau ikut pulang Opa?" Shafa membantu Zafran memperbaiki kerah kaos yang di pakainya. Pagi ini, kedua orang tua Shafa dan Rayyan harus kembali ke ibu kota karena pekerjaan mereka yang tak bisa di tinggalkan terlalu lama.
"Aku harus sekolah mommy, aku kan mau ikut lomba" Ujar Zafran. Sekolah dan lomba-lomba merupakan hal yang tak bisa ia tinggalkan.
"Zaf nggak pengen ikut mommy ke Villa?" Rasanya tak rela jika mereka harus tetap tinggal semntara Zaf pulang.
"Enggak mommy, nanti kalau liburan lagi kan bisa kesini" Jawabnya santai.
"Ya udah, abang baik-baik dirumah opa ya? Kalau sudah sampai langsung telfon mommy, oke?"
"Siap mommy"
"Am...?" Shafa memanggil putranya yang tengah asyik bermanja dengan sang ayah di depan televisi, tempat dimana mereka tidur semalam. Niat awal ingin sesuatu yang lebih, lagi-lagi harus buyar saat anak-anak meminta mereka ikut bergabung tidur di depan televisi beralaskan karpet tebal.
"Iya mommy?"
"Am mau ikut pulang sama Opa dan Kakung?" Tanyanya menggoda si kecil yang super aktif itu.
"Nda mau! Atu mau sama ayah tu" Am meraih pipi Rayyan dan menciumnya.
"Ayah tu!" Zizi tiba-tiba ikut bersuara sambil tangannya ikut memeluk Rayyan.
"Astaga kalian ini. Ck!" Shafa berdecih melihat bapak dan anak yang begitu akrab. Padahal belum sebulan Rayyan kembali. Ikatan batin seorang ayah dengan anaknya memang benar benar kuat.
"Zaf sini nak" Rayyan menepuk tempat kosong di sebelahnya.
"Zaf yakin mau ikut pulang opa?" Tanyanya sambil mengusap lembut kepala Zafran.
"Iya ayah. Aku udah 2 hari nggak sekolah ayah, nanti raporku banyak absennya" Jawabnya.
"Abang kan pintal, bial ga sekolah pasti dapat juala" Sahut Am.
Rayyan tersenyum kecil melihat dua orang anak yang berbeda sifat dan karakter ini. Yang satu disiplin dan bertanggung jawab sedang yang satu cenderung susah di atur dan semau-maunya. Untung saja si kecil Zifara adalah tipe anak penurut dan tak banyak tingkah.
"Nak, pintar saja tidak cukup. Kalau mau berhasil harus jujur dan disiplin. Tidak boleh sering bolos sekolah"
"Zaf, di rumah nanti jangan lupa sholat ya nak. Jangan kemana-mana kalau tidak ada yang menemani" Ujarnya memberikan nasihat. Meskipun ia tahu, tanpa di beri tahu sekalipun Zaf akan melakukan apa yang ia ucapakan. Tapi sebagai orang tua, kewajibannya adalah selalu mengingatkan anak-anaknya.
"Iya ayah"
Setelah selesai sarapan pagi, kedua orang tua Shafa dan Rayyan berpamitan kembali ke rumah mereka. Shafa memeluk Zafran cukup lama. Betapa balita yang dulu hampir kehilangan nyawanya saat masih seusia Am kini telah tumbuh menjadi anak yang sehat dan sangat cerdas. Beberapa tahun ke depan anaknya ini akan tumbuh menjadi remaja, dan saat itu ia tak bisa lagi sedekat dan se leluasa ini pada Zaf. Zaf yang notabennya hanyalah anak adopsi, tetap bukanlah mahram Shafa, meski sejak kecil ia yang mengurusnya. Andai saja usia Zaf saat itu masih dalam usia menyusui (0-2 tahun) pasti ia akan menjadikan Zaf sebagai saudara sepersusuan bagi anak-anaknya sekaligus menjadikannya mahram baginya.
"Sudah Fa, anak mau pulang mau sekolah kok malah di gandolin" Ucap ibu yang melihat menantunya tersebut berat melepaskan Zaf.
__ADS_1
"Iya bu... Iya. Hati-hati ya nak. Jangan lupa telfon mommy ya"
"Iya mommy"
Cairan bening itu tak sengaja lolos saat mobil mereka telah meninggalkan halaman rumah juragan Amir.
"Sudah jangan nangis" Rayyan mengusap bahu Shafa lembut.
"Aku sedih mas, Selama ini aku nggak pernah jauh dari anak-anakku."Ucapnya semakin sedih.
"Walaupun nakal kaya gimanapun aku berat kalau jauh dari mereka. Apalagi ini nih satu, yang selalu buat aku darah tinggi" Imbuhnya sambil menunjuk Am yang tengah menggandeng ayahnya.
"Masa sih anak ayah ini nakal, perasaan enggak kok." Rayyan mengangkat tubuh kecil Am dalam gendongannya.
"Iya ayah, atu tan nda nakal. Mommy aja yang suka malah-malah sama Am ayah." Adunya pada sang ayah.
"Bagus ya!!! nanti kalau Am mau makan minta sama ayah, kalau mau bobo minta di kelonin sama ayah saja, kalau mau dinyanyiin suruh ayah am yang nyanyi" Jawab Shafa kesal.
"Satu lagi, kalau pengen puding strawberry suruh ayah yang bikin, jangan minta sama mommy"
"Nda mau, atu mau sama mommy" Ucapnya beralih meraih tubuh mommy nya untuk di peluk. Dasar Am, selengket lengketnya ia pada Rayyan, tetap saja posisi Shafa sebagai mommy siaga yang selalu menuruti keinginannya apalagi dalam hal makanan dan per kuean tak bisa dengan mudah di gantikan oleh Rayyan.
Setelah drama anak dan ibu di halaman rumah mereka masuk ke dalam untuk mempersiapkan diri menuju Villa yang ada di sebelah barat kampung tersebut. Shafa menyiapkan bawaan yang akan ia gunakan selama di Villa tersebut. Meski hanya semalam, ia harus memastikan tak ada barang yang tertinggal terutama kebutuhan anak-anaknya.
"Tunggu" Jawab Shafa singkat.
"Mas, di sana ada laki-laki nggak?" Shafa menoleh pada sang suami yang sedang membaca artikel di ponselnya.
"Ada, tukang kebun dan security, kenapa memangnya?"
"Mereka kerjanya di luar kan?" Tanya Shafa lagi.
"Iya, memangnya kenapa kok Shafa tanya ada laki-laki atau enggak?" Rayyan mengalihkan pandangannya pada wanita cantik berhijab hitam itu.
"Ya kan, aku harus waspada. Soalnya kalau di dalam rumahkan panas mas kalau mau kudungan terus" Jawabnya.
"Oh itu, nanti di sana biar nggak pakai kerudung nggak papa kok, pakai baju yang seperti di lemari shafa di kamar atas juga boleh" Balas Rayyan dengan seulas senyum di bibirnya.
"Yakin? Ntar mas tergoda lagi aku bawa beberapa loh." Balasnya dengan tatapan nakal.
"Masa sih?" Jawab Rayyan dengan ekspresi polos membuat Shafa ingin mengumpat.
Digenitin malah sok polos!
__ADS_1
"Mas kan imannya kuat, jelas nggak tergoda lah. Apalah dayaku menggoda mu wahai bapak Zidane Ar-Rayyan" Ucap Shafa sambil berdiri setelah selesai menyiapkan barang.
Rayan tertawa mendengar ucapan istrinya yaang begitu merendah. Padahal tanpa Shafa memakai baju minim bahan yang ada di lemarinya itupun hatinya sudah tergoda.
"Mommy atu mau puding cekalang!" Pinta Am yang sudah tidak sabar.
"Iya...Iya" Shafa segera bergeser ke dapur sebelum putra kecilnya itu semakin merajuk.
"Mommy atu pinjam hapenya mommy" Teriaknya. Ia paling senang bermain game ular-ular di ponsel milik Shafa.
"Di dalam tas mommy" Jawab Shafa. Dengan segera Am mencari keberadaan benda pipih di dalam tas sang ibu.
"Ayah...Ayah! Ayah mau lihat foto Am wattu tecil?" Tanyanya pada ayah setelah mendapatkan handphone Shafa.
"Mana?" Rayyan terlihat antusias kapan lagi ia bisa melihat isi ponsel wanitanya. Bukan hanya penasaran dengan foto lama mereka, ia juga penasaran dengan isi lain dalam benda pipih berwarna rose gold tersebut.
Rayyan cukup tertegun saat membuka layar ponsel Shafa yang menampakkan foto dirinya sebagai layar pembuka.
"Sini Ayah aku tunjukan tempatnya" Am dengan lincahnya mencari folder tempat Shafa menyimpan koleksi foto-foto mereka.
"Ini dia" Am memberikan ponsel tersebut pada Rayyan dan langsung duduk di pangkuannya. Untung saja Zifara sedang bermain bersama Ambu di kebun belakang, membuatnya leluasa menguasai Rayyan seorang diri.
"Anak ayah lucunya waktu bayi" Rayyan berulang kali mencium pipi Am, Rasa bersalahnya perlahan muncul saat melihat jajaran foto foto putranya tersebut. Pasti berat menjalani hari tanpa adanya sosok ayah di sampingnya.
"Ayah?"
"Iya nak?
Am mendekatkan bibirnya di telinga Rayyan dan membisikkan sesuatu yang membuat Rayyan menahan tawa.
Ayah, ada foto ayah lagi pacalan sama mommy lo ayah. Ucapnya. Persis serperti yang pernah ia ucapkan di bukit waktu itu setelah membuka ponsel Shafa.
"Mana?" Tanya Rayyan berbisik. Am kemudian kembali mencari folder penyimpanan tersebut.
"Ini"
"Am ga boleh lihat ya?" Ucap Rayyan pada anaknya tersebut. Am mengangguk setuju.
"Atu mau minum dulu Ayah" Ucapnya kemudian melompat dan berlari menuju dapur.
Rayyan mulai membuka folder tersebut dan ia cukup terlonjak saat melihat isi dari folder bertuliskan emotikon ❤️.
Satu persatu ia membuka foto yang menjadi bukti romantisnya hubungan mereka dulu. Bibirnya tersungging, hatinya berdesir hebat melihat sebuah foto yang menampakkan dirinya dan Shafa dalam balutan selimut sendang tersenyum lebar menatap kamera. Entah apa yang telah mereka lakukan yang jelas, tubuh bagian atas Rayyan terkspos tanpa menggunakan sehelai kain pun sedang merangkul istrinya yangbtengah tersenyum bahagia.
__ADS_1
Aku kah ini?