
"Gimana Di?" Rayyan menerima telefon dari Dian, langsung meluncur ke Gerai miliknya. Saat ini mereka tengah berbincang serius di ruangan Rayyan. Tak hanya mereka berdua, beberapa orang memiliki peran penting dalam perkembangan usahanya pun hadir di ruangan itu.
"Sanjaya, benar-benar memutus kontrak kerja sama dengan kita," Ucapnya sambil menyodorkan sebuah map.
"Jadi mereka serius," Rayyan membuka map berwarna kuning tersebut dengan kening berkerut.
"Edwin tidak pernah main-main dengan hal seperti ini Ray," Dian tak lagi berbicara formal. Ia berbicara layaknya seorang teman.
"Mana laporan keuangan terakhir ZR?" Tanyanya pada dua orang yang berada di belakang Dian. Mereka menyerahkan map yang berisi laporan keuangan terakhir gerai nya. Rayyan membacanya dengan teliti, dan dari laporan tersebut memang nampak perkembangan yang begitu signifikan sejak dua tahun terakhir, tepatnya setelah Shafa menerima kontrak kerja sama dengan perusahaan besar tersebut.
"Jadi ini triknya?" Gumam Rayyan, menutup kembali laporan tersebut. Ia menghembuskan nafas kasar sambil membuka kaca matanya dan meletakkan di atas meja . Ia harus sedikit berfikir jernih untuk mengambil tindakan selanjutnya.
"Ray," Panggil Dian hati-hati. Rayyan nampak bersandar pada kursi putarnya sambil memijat pelipisnya.
"Kamu baik-baik saja kan Ray? Apa ada yang sakit?" Dian mulai khawatir, jangan sampai kesehatan Rayyan menurun, mengingat kondisinya yang belum stabil.
"Aku baik-baik saja Di" Ia kembali menegakkan duduknya dan memakai kaca mata bening miliknya.
"Apa kamu tidak mau mencoba bernegosiasi dengan mereka Ray? Bagaimana kalau Shafa..."
"Tidak!" Potong Rayyan dengan cepat.
"Tapi Ray, ini akan sangat fatal untuk bisnismu"
"Sekali aku bilang tidak tetap tidak! Kamu tahu apa yang dia mau Di. Aku tidak akan pernah mengijinkan istriku bertemu dengannya untuk alasan apapun" Ucapnya begitu tegas.
Dasar posessive!
"Please Ray! Dengar, Sejak minggu lalu mereka telah bekerja sama dengan brand lain yang menjadi saingan kita selama ini, Tingkat penjualan mereka sekarang melonjak naik, sedang kita? Tolong jangan egois. Pikirkan nasib kariyawanmu," ujar Dian, mencoba memberikaan pengertian pada Rayyan.
"Aku akan berusaha, tapi tidak dengan mengorbaankan istriku."
"Shafa tidak mungkin selingkuh Ray!" Sahut Dian yang mulai kesal dengan ke kekehan Rayyan.
"Tetap, aku tidak akan menggunakan istriku untuk berurusan dengan Edwin" Ucapnya mantap.
Dian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil menatap Rayyan dengan gelengan kepala. Benar-benar susah menggoyahkan hati bosnya ini jika sudah berhubungan dengan istrinya.
"Jadi apa yang akan kamu lakukan?" Suara Dian mulai merendah. Menurutnya percuma membujuk Rayyan, lebih baik ia menunggu langkah apa yang akab di ambil oleh laki-laki yang mulai mendapatkan kembali ingatannya.
"Seperti yang kamu fikirkan. Tidak ada pilihan lain selain menutup gerai kita di luar kota. Aku akan kembali fokus di ZR Centre. Tarik semua barang yang adaa di sana. Kita mulai dari awal kembali," ucapnya, membuat Dian membelalak tak percaya.
"Kamu gila Ray!"
"Tidak ada pilihan lain Di!"
__ADS_1
"Ada, tapi kamu..."
"Cukup! Aku tidak mau membahas hal itu lagi!" Ucapnya datar.
"Tolong urus semuanya secepatnya!" Titah Rayyan yang hanya di respon dengan tatapan jengkel dari Dian.
"Aku percaya kamu Di. Aku pulang dulu, istriku sudah menunggu di rumah. Assalamualaikum" Ucapnya sebelum meninggalkan Dian dan dua orang wanita di ruangan itu.
"Waalaikumsalam".
Meski kesal, Dian akan tetap melakukan apa yang diperintahkan Rayyan. Ia sangat mengenal sosok Rayyan sejak sekolah dulu. Apapun yang ia lakukan pasti sudah ia fikirkan matang-matang. Ia selalu memiliki jalan keluar tersendiri dari setiap masalahnya. Namun, kali ini ia sedikit ragu karena kondisinya saat ini bisnisnya di ambang kebangkrutan.
Sepanjang perjalanan Rayyan terus berfikir bagaimana keluar dari masalah yang saat ini menimpa bisnisnya. Bisnis yang ia rintis sejak menjadi mahasiswa dulu kini di ambang kehancuran. Keputusannya untuk menutup gerai cabang miliknya mungkin tidak tepat tapi ia tak punya pilihan lain. Karena, akan lebih banyak biaya oprasional yang harus di keluarkan dari pada pemasukan yang di terima.
"Bapak ndak apa-apa?" Tanya pak Madi yang melihat majikannya termenung.
"Saya tidak apa-apa pak, kita langsung pulang saja," ucapnya.
"Ah, kita singgah di toko kue biasa pak" Imbuhnya. Tiba-tiba ia teringat anak-anaknya yang selalu menagih oleh-oleh setiap Rayyan bepergian.
"Buat anak-anak ya pak?"
"Iya pak Madi, semoga mereka belum tidur."
Ya Allah berilah aku jalan keluar, hanya Engkaulah sebaik-baik tempatku bergantung.
"Ayaah..." Seru Am, Zi dan Zaf begitu panggilan di terima. Seperti biasa mereka akan bertanya kapan Rayyan pulang, padahal ia baru pergi 2 jam lamanya. Mereka yang kini telaah terbiasa akan hadirnya seorang ayah, menjadi begitu lengket dan tak ingin berpisah lama dengan ayahnya. Hal yang sama tentu dirasakan Rayyan, terlebih saat ingatnya berangsur membaik. Setiap detik baginya adalah rindu yang tak jua hilang meski kini mereka telah bersama.
Baru saja mobil Fortuner hitam itu memasuki halaman rumah, ketiga anaknya sudah menyambut riang di teras depan. Hanya ada mereka bertiga yang berteriak kegirangan terlebih saat mereka melihat kantong bertuliskan nama salah satu toko kue langganan mommynya, senyum mereka semakin melebar.
"Mommy di mana Zaf?" Tanyanya pada si sulung yang berjalan duluan sambil membawa kantong berisi kue. Sedangkan Zifara dan Am tengah nemplok pada punggung dan dada ayahnya bak cicak yang menempel di dinding.
"Mungkin di dapur ayah" Jawabnya. Ia langsung menuju ruang tenngah yang ada dirumahnya.
"Mas," Panggil sang ratu yang muncul dari arah dapur dengan membawa cangkir berisi teh di tangannya. Rayyan menyambutnya dengan senyuman hangat. Ia tak tahu, bagaimana menjelaskan kepada Shafa tentang kondisi usahanya saat ini. Istri cantiknya itu pasti akan syok, tapi cepat atau lambat ia pasti akan mengetahuinya. Dan besar harapannya Shafa bisa bertahan dalam kondisi yang mungkin tak pernah di banyangkannya.
"Mas, beliin mereka kue lagi?" Ekspresi wajah Shafa terlihat kesal. Rayyan hanya mengedikkan bahunya kemudian menarik lengan istrinya untuk duduk di sampingnya.
"Hari ini, mereka sudah terlalu banyak makan manis mas. Lihat saja gigi Am pasti akan makin habis," Ucapnya sambil menunjuk Am yang paling semangat makan aneka kue coklat yang ada di box.
"Nggak papa, sekali-kali," Jawab Rayyan santai. Ia begitu bahagia melihat anak-anaknya begitu lucu ketika makan kue yang membuat bibir mereka belepotan. Berbeda dengan sang istri yang mulai gusar saat Am dan Zizi mulai mengelap lelehan coklat di baju miliknya.
"Disini saja, biarkan mereka makan!" Rayyan menahan tubuh Shafa yang hendak beranjak dari sisinya.
"Tapi, mas..."
__ADS_1
CUP!
Dengan cepat Rayyan melayangkan kecupan singkat pada pipi istrinya. Tak disangka hal itu tertangkap oleh indra penglihatan bocah tampan super kepo di hadapan mereka.
"Cie... Ayah sama mommy pacalan... Abang, ayah cium-cium mommy loh" Teriak Am membuat Shafa malu bukan main. Ia melotot ke arah suaminya yang justru di tanggapi senyum.
Pukul sembilan lewat sepuluh menit, Rayyan melangkah keluar dari kamar Zaf dan Am.
Rutinitas malam yang hampir yak pernah ia lewatkan yaitu menidurkan kedua putranya dengan menceritakan cerita muslim ataupun fabel.
Sebelum menutup kembali pintu kamar itu, di tatapnya dengan lekat dua bocah yang tengah terlelap di ranjang.
Semoga kelak kalian jadi anak-anak sholeh penolong ayah dan mommy di yaumul akhir. Doanya dalam hati.
Rayyan membuka pintu kamarnya hati-hati, khawatir membangunkan Zifara. Ia melihat Zifara sudah berada di kasurnya, yang menandakan ia sudah tertidur pulas. Sedangkan sang istri tengah sibuk dengan berbagai macam perawatan wajah dan tubuhnya sebelum tidur. Rayyan sangat hafal dengan aroma wangi yang setiap malam melekat pada tubuh sang istri.
Setelah mengganti pakaiannya dengan kaos dan celana pendek, Rayyan mendekati Shafa yang masih belum tertidur.
"Aku lagi dapet ya, Mas. Jangan macem-macem" Sergahnya saat Rayyan mulai naik ke atas Ranjang.
"Dapet?" Ia tampak mengeryit sebelum paham akan maksud ucapan sang istri.
"Jadi adiknya Am belum ada di sini ya?" Tanganya terulur mengusap perut rata berbalut piyama kuning itu.
"Mas udah pengen banget ya, ada adiknya Zizi?" Shafa menoleh memandang wajah teduh nan rupawan yang di sebelahnya.
Rayyan mengangguk samar, "Tapi semua kita serahkan pada Allah. Allah tahu kapan saat yang tepat adiknya Zizi ada di sini" Tangannya masih tak berpindah dari perut Shafa.
"Sayang?" Panggil Rayyan pelan.
"Hmm"
"Mas mau nanya"
"Apa Mas?"
Rayyan berfikir sejenak untuj mengatur kosa kata yang akan ia ucapkan pada sang istri.
❤️❤️❤️❤️
Assalamualaikum Semua... Ada yang rindu aku ga?
Maafkan aku yang jarang up... You know why? Saya sedang berada di penghujung kuliah profesi yaang menyita waktu dan pikiran. Di waktu yang bersamaan pun harus mengurus berkas2 yang sangat penting...
Jadi, harap maklum ya... Doakan semoga semuanya cepat kelar dan bsa up seerti semula...
__ADS_1
Love you All❤️