
Binar bahagia memancar dari wajah pasangan suami istri yang berdiri di teras rumah menanti kedatangan tamu dari jauh. Mereka seperti tengah menanti anak dan cucu yang lama tak jumpa. Nyatanya memang benar, Rayyan atau Andi sudah mereka anggap seperti anak sendiri.
Dua buah mobil berwarna hitam mulai memasuki halaman rumah besar mereka. Juragan Amir dan istri segera turun dari teras rumahnnya menuju halaman menyambut kedatangan Rayyan dan keluarga.
"Assalamualaikum abah, ambu" Rayyan berjalan cepat menghampiri dua orang yang sudah berusia lanjut namun masih terlihat segar bugar. Ia mencium tangan kedua orang tua angkatnya tersebut dengan penuh hormat.
"Waalaikum salam Ndi. Alhamdulillah kamu bertemu dengan keluargamu nak" Ucap Ambu dengan mata berkaca-kaca sambil mengusap lembut punggung Rayyan.
"Ini istri saya abah" Rayyan menunjuk Shafa yang berada di belakangnya. Shafa memberikan Zizi pada Rayyan agar ia bisa bersalaman dengan kedua orang tua tersebut.
"Nama saya Shafa abah, bu" Ucapnya sopan sembari menyalami mereka.
Setelah menyalami istri haji Amir, Shafa langsung memeluknya. Air matanya tak bisa lagi terbendung.
"Terimaksih bu, terima kasih sudah menolong suami saya. Hiks...Hiks..."
"Sudah nak, sudah. Alhamdulillah Allah memberikan kami kesempatan bertemu dengan suami mu. Kami bersyukur, karena dia bersedia tinggal disini membantu abah dan ambu." Ucap istri haji Amir sambil mengusap bahu Shafa.
"Alhamdulillah kalian sudah berkumpul. Kami turut bahagia" Timpal haji Amir yang juga berkaca-kaca.
Kedua orang tua Shafa dan Rayyan yang baru saja turun turut memghampiri mereka. Ibu Rayyan terlebih dahulu langsung memeluk istri haji Amir.
"Mbak... Terima kasih sudah menolong anak saya. Saya tidak tahu kalau tidak ada kalian apa jadinya Rayyan sekarang. Kami berhutang budi pada kalian. Terima kasih" Ucap ibu sambil terisak. Bagi seorang ibu, anak adalah harta yang paling berharga melebihi apa pun. Kembalinya Rayyan membuat ibu merasa hidup kembali. Sebagai anak tunggal kepergian Rayyan kala itu sangat menyisakan duka mendalam di hati ibu meski tak selalu ia tunjukkan, namun ibu adalah orang yang sangat merasa kehilangan.
"Alhamdulillah, semua kuasa Allah bu, kami hanya perantara saja" Ucap Ambu.
"Abah, ambu, ini orang tua Andi, dan ini mertua Andi bah" Ucap Rayyan sambil memperkenalkan kedua orang tuanya juga mertuanya.
"Ayah ko namanya Andi. Tan nama ayah atu ayah Layyan" Protes Am yang sejak tadi bingung melihat para orang dewasa saling peluk dan menangis
"Anakmu Ndi?" Tanya Ambu yang baru menyadari keberadaan 3 orang bocah lucu di situ.
"Iya ambu, ini anak-anak Rayyan. Nak ayo salim sama kakek dan nenek" Ujar Rayyan yang langsung di ikuti oleh kedua anaknya.
"Assalamualaikum kek, aku Zaf" Ucapnya sambil mencium tangan haji Amir dan istri.
__ADS_1
"Atu Am kakek" Am yang berada di belakang Zaf ikut menyalami.
"Masya Allah, ini cucu kita ganteng pisan bah. Ini yang kecil persis kamu Ndi" Ucap istri haji Amir, sambil menciumi Am yang terlihat sangat lucu dengan rambut ikan yang sengaja di panjangkan bagian atasnya.
"Masih ada yang paling kecil Ambu, ini dia" Rayyan menunjukan balita lucu dalam gendongannya.
"Zi, salim nak sama kakek dan nenek" Ucap Shafa pada putri kecilnya yang memeluk erat leher ayahnya.
"Salim dulu sayang" Rayyan mengarahkan Zifara pada kedua orang tua angkatnya.
"Masya Allah. Cantik! Namanya siapa nak?" Tanya Abah sambil menatap gadis kecil yang nampak lucu tersebut.
"Zizi" Jawabnya. Ia menerima uluran tangan abah dan menciumnya.
"Uluh uluh, ini geulish pisan. Mirip ibunya ya?" Istri haji Amir mencoel pipi Zizi gemas.
"Oh, ya mari masuk-masuk. Sampai lupa. Jang, Udin tolong bantu bawa tasnya si bapak ke dalam" Ucapa haji Amir pada dua orang pekerjanya.
Siang itu mereka semua menikmati sajian makan siang yang telah di siapkan haji Amir dan Istri. Semua sajian yang di hidangkan merupakan makanan kesukaan Rayyan yang kerap Ambu masak. Ada berbagai macam olahan ikan air tawar mulai dari bakar, goreng hingga rebus. Juga berbagai sayuran dan lalapan juga hidangan ayam kampung turut melengkapi jamuan makan siang spesial mereka. Mereka semua menikmati makan siang dengan berlesehan di teras belakang rumah haji Amir yang sejuk dan asri. Pantaslah bila Rayyan terlihat gemuk dan sehat selama tinggal di sini.
"Bapak ibu, pasti lelah habis perjalanan jauh. Mari saya antar ke kamar untuk istirahat" Ujar istri haji Amir dengan Ramah.
"Am dan Zaf mau ikut bobo sama uti atau Opa?"
"Atu mau sama Ayah!" Ucap Am menolak ajakan mereka.
"Aku mau sama opa. Opa aku pinjam hapenya ya?" Tanya Zaf. Ketertarikannya pada dunia medis memang sudah nampak sejak kecil. Itu mengapa ia sangat senang saat berada di rumah besar Opanya yang memiliki lab dan tenpat praktik khusus.
"Iya, ayo kita istirahat" Balas Daddy Shafa.
"Atu kalo gitu sama kakung aja. Nanti aku di dongengin kancil ya kakung" Ucap Am tak mau kalah dari sang abang.
"Iya, nanti kakung dongengin Am" Jawab Ayah yang paham akan mau cucunya tersebut.
"Kalian istirahatlah nanti sore kakek ajak jalan-jalan anik motor mau?"
__ADS_1
"Mau...Mau...Mau" Jawab mereka serempak.
"Ya sudah, kamu juga istirahatlah Ndi, ajak istrimu ke kamarmu. Kamarnya sudah di bersihkan sama teh Ani tadi" Ucap abah. Cuaca teduh dengan angin sepoi-sepoi begini memang bikin ngantuk.
"Ayo kita istirahat di dalam" Ajak Rayyan menarik lembut lengan Shafa.
Deg!
Jantung Shafa tiba-tiba berpacu cepat saat dirinya di giring masuk ke sebuh ruangan berukuran 4 x 5 meter persegi tersebut. Terdapat sebuah tempat tidur besar yang terbuat dari kayu jati, lemari dan kursi yang kesemuanya terbuat dari kayu Jati. Plafond dan meja riasnya pun semua terbuat dari jati membuat ruangan itu nampak klasik dan unik.
Baru saja Shafa hendak meletakkan Zizi di atas kasur ia sudah merengek.
"Mommy... Mau tata Am" Ucapnya mencari sang kakak.
"Kakak Am lagi sama uti nak. Zizi sama mommy dan ayah disini ya?"
Zifara malah menggeleng "Mau ke tata Am" Ucapnya. Beginilah mereka, kalau sama-sama kadang berantem kalau tidak bersama mencari.
"Ayo ayah antar sama kakak Am" Rayyan mendekat dan mengambil Zifara.
"Biar saya antar sama ibu. Oh ya, kalau Shafa mau mandi, sabun dan sikat giginya ada laci sana" Tunjuknya pada laci bagian bawah meja rias yang hanya berisi sebuah vas bunga di atasnya.
Setelah kepergian Rayyan Shafa segera berlari masuk ke kamar mandi dengan dada berdebar-debar.
Kok pas banget ya anak-anak lagi pengen sama opa dan kakungnya? Apa mereka lagi sekongkol untuk kelancaran proses pembuatan adiknya? Oh My God otak gue kenapa jadi mesum mulu sih.
Shafa segera keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk. Ia lupa membawa pakaian ganti masuk ke dalam. Ia berjalan mengendap endap untuk melihat situasi. Kan malu keluar dengan penampilan seperti ini, apa lagi handuk yang ia kenakan hanya bisa menutup setengah pahanya saja. Semoga saja Rayyan masih di kamar ibu
"Sudah selesai mandinya?" Suara berat itu berhasil membuatnya hampir melompat lantaran kaget. Rayyan yang ia kira masih di kamar ibu ternyata baru saja masuk dan kini tengah berhadapan dengannya. Tatapannya memindai tubuh Shafa dari ujung kaki sampai ujung kepala membuat Shafa merinding.
"Ke - Kenapa?" Tanyanya sambil megang erat bagian depan handuknya. Rayyan mengulas senyum lembut.
"Cantik!"
CUP!
__ADS_1
Ia melabuhkan sebuah kecupan di pipi sebelum berlalu masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Shafa yang mematung dengan perasaan yang tengah membuncah di hatinya.