
Shafa masih kesal dan sakit hati dengan kedatangan Risa yang katanya meminjam sesuatu untuk pasiennya harus ditambah kesal dengan sikap diam Rayyan yang tidak berusaha untuk menjelaskan dan meyakinkan istrinya tersebut.
"Masih mau duduk disitu? Nanti masuk angin!" Rayyan yang baru saja dari dapur mengambil air hangat menegur Shafa yang masih duduk termenung didepan jendela, menatap bulir bulir air yang jatuh dari langit. Hatinya bimbang, terlalu banyak bisikan setan yang memenuhi kepalanya membuatnya ragu pada laki-laki berstatus suaminya itu.
Rayyan menghembuskan nafas panjang sebelum mendekati Shafa yang telah membuka hijabnya. Atasan pakaiannya nampak basah terkena air hujan saat membuang handuk tadi belum juga di gantinya.
"Ayo mandi, nanti sakit. Saya sudah siapkan air hangat" Ucap Rayyan dengan suara lembut. Menghadapi perempuan marah dan cemburu tidak bisa dengan kekerasan, karena perempuan itu hatinya rapuh, maka bersabarlah.
Shafa menoleh menatap Rayyan dengan tatapan kesal.
"Atau mau dimandikan?" Tawarnya lagi agar sang istri mau beranjak.
Shafa mencebikkan bibirnya. Ucapan Rayyan yang memprovokasi pun hanya ia anggap sebagai angin lalu. Ia tetap tak bergeming hingga ia di kejutkan oleh Rayyan yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya begitu saja membawanya menuju kamar mandi. Mau tak mau Shafa harus berpegang pada tubuh Rayyan.
Apa yang dilakukan Rayyan saat ini, mengingatkan kembali pada kenangan mereka di waktu lalu yang hanya tertinggal dalam memori Shafa.
Rayyan menurunkan Shafa di dalam kamar madi berukuran luas yang di lengkapi dengan bathup yang telah terisi air hangat.
Ceklek,
Shafa tercekat saat melihat Rayyan mengunci pintu kamar mandi tersebut. Tanpa banyak bicara ia menggulung lengan kemeja koko panjangnya sebatas siku.
"Buka atau saya yang bukakan?" Tanyanya datar sambil menatap wajah Shafa membuat Shafa ingin berteriak dan menghabisi laki-laki yang ada di hadapannya ini.
Semakin Shafa ditatap seperti itu semakin tinggilah egonya. Ia tak bergeming, ia malah membalas tatapan Rayyan dengan tatapan marah.
Rayyan menghembuskan nafas panjang, istrinya benar-benar keras kepala. Sekarang ia tahu, dari mana Am mewarisi sifat keras kepala dan susah di aturnya.
__ADS_1
"Shafa yang minta! Maka Jangan protes!" Ucapnya. Tangannya mulai bergerak melepas kancing blouse yang Shafa kenakan.
Rayyan menahan nafasnya, bukan hanya karena gugup tapi bayangan demi bayangan yang silih berganti muncul membuatnya yakin untuk tetap melakukannya. Beberapa potong ingatan tiba-tiba muncul saat melihat kemarahan Shafa yang sangat tidak asing baginya. Ia memejamkan matanya sejenak saat mengatur ritme nadinya. Ia harus tenang, dengan begitu mungkin akan memudahkannya mengingat semuanya. Tanpa ragu sedikitpun Rayyan melepaskan blouse putih yang sudah basah terkena air hujan itu. Ia menyunggingkan senyum memandang wajah Shafa yang masih menyorotnya dengan tatapan kesal. Bahkan dalam kondisi setengah telanjang seperti ini ia masih tidak menurunkan egonya.
"Mau di bantu lepas roknya juga?" Tanya Rayyan yang terdengar lebih lembut. Shafa tetap tak menjawab. Dan dengan sekali tarik, rok plisket berwarna cream itu jatuh kelantai.
Mata Shafa berkaca-kaca, ia teringat bagaiman terakhir kali Rayyan menjahilinya di kamar mandi, Rayyan yang begitu lembut, perhatian sangat berbanding terbalik dengan Rayyan yang kini ada di depannya. Jika itu Rayyan yang dulu, pasti ia sudah dihujani kecupan-kecupan sayang dan pujian yang membuatnya merasa di sayang. Namun ini, jangankan kecupan, ucapan manis pun seakan berat terlontar dari bibirnya.
Rayyan kembali mengabaikan tatapan menghiba Shafa, ia mengambil jepit rambut yang tersimpan di rak penyimpanan handuk dan dengan telaten mulai menjepit rambut indah istrinya keatas agar tak basah.
"Isk...Isk" Terdengar isakan kecil dari bibir Shafa. Ia tak tahu apakah yang dilakukan Rayyan kali ini karena bentuk perhatiaan dan sayangnya pada dirinya ataukah hukuman atas sifat keras kepalanya.
Rayyan mengkat wajah Shafa dengan telunjuknya. Di usapnya lembut pipi mulus yang telah basah dengan air mata.
Cup!
Cup!
"Jangan menangis" Tatapan yang tadi datar menjadi teduh menenangkan.
"Mas Ray jahat! Hiks" Ucapnya sambil memukul mukul dada Rayyan meluapkan semua kekesalannya. Tak ada perlawanan dari Rayyan, ia justru tersenyum sambil menatap wajah Shafa.
"Apa senyum-senyum! Mas senengkan lihat aku sedih" Tuduhnya yang lagi-lagi menyudutkan Rayyan.
"Ayo cepat mandi keburu dingin" Ucapnya sambil menggiring Shafa menuju bathup yang sudah terisi penuh air. Insting Rayyan mengatakan istrinya ini senang mandi dengan cara berendam.
Masih dengan perasaan dongkol yang bercampur aduk Shafa menghentakkan kakinya menuju bathup yang sudah terisi sabun dengan aroma mawar. Rayyan mengambil posisi berjongkok di belakang tubuh Shafa memandang bahu mulus yang terekspos bebas didepannya.
__ADS_1
Masih tidak ada pergerakan dari dalam bathup memaksa Rayyan melakukan lebih dari sekedar duduk mengamati. Ia memasukkan tangannya kedalam bathup berisi busa tersebut, bagian pertama yang disentuhnya adalah bahu licin Shafa.
Shafa menahan nafas, tidak menyangka Rayyan benar-benar melakukannya. Ancamannya untuk memandikan Shafa ternyata bukan hanya gertakan semata. Shafa memejamkan matanya kuat-kuat saat tangan Rayyan mulai menyusuri punggungnya, menggosoknya lembut hingga berhenti pada satu titik. Shafa membuka matanya dan segeranmembalikkan tubuhnya.
"Mas Ray!" Pekiknya. Terlambat sudah, Rayyan telah berhasil melepaskan kaitan pada punggungnya.
Rayyan terkekeh kecil melihat wajah Shafa yang sudah merah.
"Kenapa? Ayo lanjut lagi" Ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Aku bisa sendiri!" Ucap Shafa ketus tangannya menyilang di dada menahan agar penutup atas tubuhnya tidak terlepas.
"Nah gitu, dari tadi tadi kalau Shafa nurut tidak akan lama" Ucap Rayyan. Dan karena ucapannya itu membuat Shafa menggeram.
Kenapa jadi gue yang di salahin. Dasar suami durhaka, nggak peka!!! Shafa mendelik ke arah Rayyan yang nampak santai tanpa beban. Tapi jangan salah, jauh di dalam hatinya Rayyan menahan. Menahan degupan jantungnya yang sudah seperti genderang mau perang.
Setelah menyelesaikan mandi singkatnya Shafa keluar dengan wajah freshnya melewati Rayyan yang tengah duduk di sofa sambil memainkan handphone nya. Ia hanya melirik sekilas Shafa yang mengenakan jubah mandi berwarna putih tersebut. Ruangan dingin ditambah hujan yang tak kunjung reda membuat Shafa sedikit menggigil di tambah lantai keramik yang dingin membuatnya harus berjalan berjinjit mencari keberadaan sandal miliknya.
Cukup lama Shafa menatap tas pakaian berwarna hijau di depannya. Ia merutuki kebodohannya yang nekat menerobos hujan hanya karna handuk s*alan itu. Tak ada lagi baju layak pakai yang tersisa. Satu satunya pakaian tertutup yang tersisa telah basah terkena air hujan. Pun ia tak mungkin memakai pakaian yang dikenakannya pagi tadi.
Shafa menghembuskan nafas kasar, ia menoleh sekilas ke arah suaminya yang nampak serius dengan benda pipih ditangannya. Shafa tak punya pilihan lain selain memakai dress minim yang ada di tasnya atau jubah mandi yang kini melekat di tubuhnya. Niatnya menggoda Rayyan hilang seketika saat mengingat kejadian yang hingga saat ini masih mengganggu fikirannya.
"Kenapa melamun? Cepat ganti baju, atau mau saya bantu pakaikan?" Lagi-lagi nada ancaman terdengar dari mulut Rayyan. Ia meletakkan ponselnya dan berjalan mendekati Shafa yang masih duduk berjongkok di depan lemari.
"Coba saya lihat" Rayyan meraih tas pakaian milik Shafa kemudian memeriksa isinya. Hanya ada pakaian dalam berwarna senada hitam dan peach juga dua buah mini dress berwarna Merah dan biru. Setelah melihat duaa buah baju kurang bahan tersebut Rayyan memberikan yang warna merah pada Shafa dan meletakkan kembali yang warna biru di dalam tas.
Good choice! Gumam Shafa. Pakaian yang baru saja di pilih adalah keluaran salah satu brand ternama yang di belinya dengan harga fantastis sebelum Rayyan menghilang dua setengah tahun yang lalu. Mau tidak mau ia harus mengganti pakaiannya dengan baju kurang bahan yang menjadi favoritenya itu, toh Rayyan tidak mungkin akan mengapa-apakan nya. Shafa kembali masuk kedalam kamar mandi untuk memakai gaun tidur super tipis berwarna menantang itu.
__ADS_1
Ia menatap miris pantulan wajah cantik dan tubuh seksinya dalam cermin.
Sayang sekali, Suamimu bukanlah Rayyan yang dulu selalu bisa kau takhlukkan dengan tubuh indahmu. Bahkan jika aku telanjang di depannya, mungkin dia hanya akan melirikku sekilah. Ck, apa aku semurahan itu sekarang?