Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Tawaran Malvin


__ADS_3

Begitu mengetahui Malvin ada di rumahnya Rayyan segera memutus panggilan. Dadanya bergemuruh hebat melihat dokter tampan itu memeluk putrinya layaknya anak sendiri.


Ia segera membereskan laptop dan perlengkapan lainnya yang masih terbuka di atas meja. Baru saja ia selesai memberikan materi kepada peserta seminar. Rencananya ia akan minum kopi bareng beberapa petinggi kampus sekalian berbaagi cerita sebelum ia kembali. Tapi sepertinya ia harus membatalkan rencana tersebut. Satu-satunya yang ada di kepalanya saat ini adalah bagaimana sampai di rumah secepat mungkin.


"Loh, pak Rayyan mau kemana?" Tanya salah satu rekannya, saat melihat Rayyan memakai jaketnya.


"Kebetulan ada pak Edy. Maaf pak, saya harus pulang sekarang. Istri saya sedang sakit" Jawabnya tanpa basa-basi.


"Tapi, rektor dan yang lainnya sedang bersiap-siap pak"


"Sekali lagi mohon maaf pak Edy. Sungguh saya harus pulang" Rayyan menunjukan wajah penuh penyesalan. Baginya tak ada yang lebih penting selain keluarga. Toh ia sudah menyelesaikan kewajibannya dengan baik.


"Tolong sampaikan permohonan maaf saya pada beliau pak Edy" Imbuhnya.


"Baiklah, semoga istri bapak baik-baik saja" Pak Edy menyalami Rayyan sebelum ayah tiga anak itu meninggalkan tempat kegiatan.


"Terima kasih, pak Edy. Saya duluan, Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Pak Edy memandang punggung Rayyan yang perlahan semakin menjauh. Ada rasa kagum dan bangga melihat dosen muda bergelar doktor tersebut. Cerdas, rendah hati dan sangat peduli pada keluarga.


Di temani pak Madi, yang berada di balik kemudi, Rayyan yang sejak tadi gelisah memikirkan istrinya di rumah mencoba melakukan video call dengan Aisyah. Ia sudah berniat memarahi gadis 19 tahun tersebut karena lalai menjalankan tugas menemani Shafa tanpa tahu bahwa Aisyah sudah berada di kediamannya.


"Assalamualaikum, eh itu ayah tuh" Aisyah nampak tengah bersama dengan Zifara yang beberapa waktu lalu bersama Malvin.


"Waalaikum salan" Niat awal ingin marah-marah pun ia urungkan tatkala melihat senyum manis dari putri kecilnya.


"Kunaon kang? Aish lagi sibuk nih kasi makan Zizi" Ucapnya sambil memperlihatkan sendok yang tengah di pegangnya.


"Dari tadi Syah? Ada siapa saja di rumah? Mommy Am gimana?" Tanya Rayyan beruntun. Ia tak mungkin langsung menanyakan keberadaan Malvin bukan?


"Dari jaman dahulu kala kali kang Aish disini. Tadi kesini sama dokter Malvin. Kak Shafa lagi ngelonin anak kesayangannya tuh" Jawab Aisyah sambil menyuapi Zizi.


"Malvin? Ngapain dia ke rumah Syah?"


"Yaelah, udah di kasi tau tadi sama-sama aku. Udah nggak usah baper, malu sama umur. Dokter tadi cuma ngasih obat terus pulang. Jadi jangan suudzon" Tukas Aisyah. Ia tahu apa yang sedang di pikirkan Rayyan.


"Ck. Siapa yang suudzon." Elaknya.

__ADS_1


"Keliatan dari mukanya. Nggak usah ngeles. Oh ya, kak Shafa udah baikan kok. Kalau akang pulang pasti langsung sembuh. Kangen katanya" Kalimat Aisyah kali ini berhasil membuat senyum kecil terbit di wajah Rayyan.


"Ya udah, titip anak-anak ya Syah. Bye bye Zizi sayang. Assalamualaikum"


"Waalaikum salam" Aisyah meletakkaan ponselnya di atas meja daan kembali melanjutkan kegiatannya. Namun, baru saja ia hendak beranjak menyimpan piring. Handphonenya kembali berdering.


"Ya Allah gustiiii! Ayah kamu ni yah Zi, bener-bener." Geramnya. Ia kembali meraih ponselnya yang ternyata panggilan dari Malvin.


"Dokter Malvin? Kok jadi deg-degan ya" Lirihnya saat melihat nama yang tertera di layar.


"Assalamualaikum dok" Jawabnya. Suaranya refleks menjadi lebut dan begitu enak di dengar.


"Waalaikum salam. Aulia, apa suami Shafa sudah pulang?"


Yaelah, kirain nyariin aku. Ternyata nanyain bapaknya bocah. Segitu nggak bisa move on nya kah dirimu dok?


"Kak Ray sedang di perjalanan. Kemungkinan sore baru sampai" Jawab Aisyah datar. Moodnya berubah seketika.


"Bagus! Aulia saya butuh bantuan kamu malam ini" Ucapnya membuat Aisyah bingung.


Bantuan? Tumben butuh bantuanku? Jangan-jangan dia minta tolong supaya dekat lagi dengan kak Shafa? Oh, Big No!!!


Aku nggak lagi mimpi kan ya?


"Aulia!"


"Ah... I..iya dok" Ia memukuli bibirnya yang tiba-tiba menjadi gagap.


"Bisa kan? Sebagai imbalannya saya akan permudah proses kelulusan kamu" Sungguh tawaran yang sangat menggiurkan. Jika biasanya ancaman yang di layangkan Malvin bersifat merugikan kali ini justru menggiurkan Aisyah. Dan tanpa sadar ia mengiyakan ajakan tersebut.


"Siap dok!"


"Good! Saya tunggu jam 7 tepat di depan Imprial hotel"


Hingga panggilan terputus Aisyah masih bengong. Ia kembali mencerna ajakan Malvin tadi. Ia bahkan lupa menanyakan mengapa Malvin mengajaknya, semua seperti hipnotis bagi Aisyah yang langsung menyetujui ajakannya.


"Tante... Num" Suara Zizi menyadarkan Aisyah dimana dirinya berada saat ini. Dan dengan sigap ia menyimpan piring yang di pegangnya serta mengambikan minum Zifara.

__ADS_1


.


.


.


.


.


.


.


.


Malvin menghembuskan nafas lega setelah menghubungi Aisyah. Setidaknya ia bisa bebas dari pertunangan paksa dengan Angela.


Bawa kekasih kamu ke hadapan kami, atau papa akan mengumumkan pertunangan kamu dengan Angela malam ini.


Kata-kata sang ayah terus terngiang dibtelinga Malvin. Entah sejak kapan keluarganya begitu sangat menyebalkan. Mereka selalu me rong rong Malvin untuk menikah dengan alasan usianya yang sudah kepala 3. Di tengah keputus asaannya, ia teringat pada asisten pribadinya, Aisyah Aulia Zahra. Dan sebuah ide brillian melintas di kepalanya. Aisyah satu-satunya wanita yang lumayan dekat dengan Malvin, dalam arti bisa ia perintah sesuka hatinya. Ia memanfaatkan hal itu untuk menggagalkan rencana pertunangannya dengan Angela. Setidaknya ia bisa mengulur waktu. Begitu pikirnya. Cukup meminta Aisyah menemaninya hadir di pesta ulang tahun papanya, semua akan beres dan ia tak perlu bertunangan dengan Angela.


Malvin menyunggingkan senyum sambil berbaring menatap langi-langit kamarnya. Ia merasa tenang dengan ide mengelabuhi keluarganya. Tanpa ia sadar bahwa ia bisa saja terjebak dalam permainannya sendiri.


"Masuk" Seru Malvin saat mendengar pintu kamarnya di ketuk.


"Eyang?" Ia segera bangkit menghampiri wanita renta yang berjalan menghampirinya.


"Kenapa Eyang kemari? Apa eyang naik tangga sendirian?" Dengan lembut ia mendudukan sang nenek di sofa yang ada di sisi kamarnya.


"Eyang ingin bertemu cucu nakal eyang ini" Ucap Enyang sambil mencubit pinggang Malvin.


"Kan, Eyang bisa panggil Malvin ke bawah" Eyang hanya tersenyum di balik guratan haalus yang memenuhi wajahnya.


"Eyang mau bertanya, apa Malvin akan menerima pertunangan dengan Angela?" Sepertinya Eyang ingin bicara dari hati ke hati dengan cucu kesayangannya itu.


"Tentu tidak!" Jawab Malvin mantap.

__ADS_1


"Berarti, kamu akan memperkenalkan kekasihmu pada kami?" Terlihat jelas binar bahagia di mata wanita berusia 70 tahun itu.


"Tentu, eyang tidak usah khawatir," ucap Malvin sambil mengusap punggung tangan Eyangnya. Ada sedikit rasa bersalah di hatinya karena kebohongan yang akan ia lakukan. Tapi, ia tak punya pilihan lain.


__ADS_2