
"Bi, kami pergi dulu ya" Pamit Shafa pada bi Lastri. Senyum bahagia begitu tergambar jelas di wajah ART setianya itu. Setelah beberapa tahun rumah majikannya itu di penuhi dengan air mata kini ia bisa melihat senyum bahagia dari keluarga kecil itu.
"Hati-hati mbak, Mas! Adek Am jangan nakal ya" Pesan bi Lastri sebelum mereka masuk ke dalam mobil.
Sebelum masuk ke Time Zone, Shafa mampir dulu ke sebuah restaurant yang berada di mall tersebut. Ia harus menepati janjinya pada anak-anaknya yang juga tadi minta makan di luar. Seperti biasa, selain makanan, Shafa juga memesankan Am dan Zi aneka desert kesukaan mereka.
Ini adalah jalan-jalan perdana mereka dengan formasi lengkap. Namun, saat makan seperti ini Shafa lah yang di buat kewalahan oleh anak-anaknya. Pasalnya Zifara tidak mau makan jika bukan Shafa yang menyuapinya. Sedangkan Am, tidak mau makan sendiri tanpa bantuan Shafa. Hanya Zafran yang makan dengan tenang tanpa merepotkan mommynya.
"Mommy atu mau itu" Tunjuk nya ada saos cabe yang ada di atas meja.
"Itu pedis nak, Am makan saus ini aja yah" Jawabnya sambil menuangkan lagi saus tomat di atas piring Ayam milik Am.
"Atu mau coba mommy" Kekeh nya. Keras kepala Am ini sudah tidak di ragukan lagi.
"Ini, awas ya kalau Am kepedesan!" Shafa menuangkan sedikit saus cabe di piring milik Am. Dia kalau belum merasakannya akan terus merengek sampai mendapat apa yang di inginkannya.
"Zi, sama ayah ya nak. Mommy biar makan dulu" Rayyan mencoba membujuk Zifara namun ia menolak. Ia sudah berada di posisi paling nyamannya di kursi anak sebelah Shafa.
"Mommy... hah...hah...hah... Pedis mommy" Am mengibas-ngibas bibirnya dengan kedua tangannya, wajah merah dengan mata berkaca-kaca.
"Tuh kan, mommy bilang apa tadi? Am tidak mau mendengar" Omel Shafa yang langsung mengangkat Am ke pangkuannya. Ia mengelap bibir Am yang belepotan saus, juga memberinya minum untuk meredakan pedisnya. Setelah ini bisa dipastikan Am tidak mau lagi makan saus cabe.
"Pedis... Isk" Am menenggelamkan wajahnya di dada sang ibu sambil merengek menahan pedis.
"Mommy acu au itu" Di sebelahnya Zizi terus menggoyangkan tangaannya yang tengah mendekap Am.
"Ini nak" Rayyan memberikan apa yang di minta Zizi tapi gadis kecil itu menggeleng.
__ADS_1
"Mommy" Rengeknya yang merasa terabaikan oleh snag ibu.
"Am sini di gendong Ayah, mommy biar makan dulu" Rayyan bangkit dan mengambil paksa Am dari dekapan Shafa.
"Sepertinya kita harus nyari baby sister buat anak-anak" Ujar Rayyan setelah melihat keriwehan Shafa bersama anak-anaknya. Ia membayangkan jika Shafa hamil lagi tentu akan bertambah repot jika tidak ada baby sister yang membantu. Terlebih Am yang masih belum bisa sepenuhnya lepas dari mommynya.
"Aku masih bisa mengurus mereka kok mas. Sekarang masih mending, karena Zaf udah besar, dulu waktu mereka masih kecil-kecil lebih parah ini. Yang satu minta susu, yang satu mau tidur yang satu mau di pakein baju, dan kadang mereka kompak nggak mau di bantu yang lain selain aku" Jawabnya enteng. Ia sudah terbiasa dengan kekacauan yang di timbulkan oleh anak-anaknya. Rasa kagum Rayyan kian bertambah pada kesabaran Shafa. Ia merasa menjadi laki-laki paling beruntung yang mendapatkan sosok seperti istrinya tersebut.
Setelah selesai makan malam, Shafa dan pasukannya segera menuju ke wahana bermain anak. Ia membiarkan Zaf dan Am dan Zizi memilih permainan yang di sukainya bersama sang ayah sedang dirinya hanya mengikuti dr belakang sambil sesekali mengambil gambar kebersamaan mereka. Tawa dan kegembiraan tergambar jelas di wajah ayah dan anak itu. Baru kali ini Shafa melihat anak-anaknya tertawa lepas seperti itu.
"Lempal bang! Lempal!" Teriak Am menyemangi Zaf yang tengah mencetak poin sebanyak banyaknya untuk mendapatkan banyak kupon yang bisa di tukarkan dengan hadiah menarik. Meski tak seberapa nilainya tapi hadiah hasil penukaran kupon itu memiliku arti tersendiri bagi para anak-anak.
"Ayah acu au andi bola" Giliran Zizi kini yaang menunjuk wahana permainan bola. Malam ini mereka memuaskan diri mencoba hampir semua permainan yang ada di tempat itu.
"Am hati-hati nak!" Ujar Shafa saat putranya dengan semangat memanjat prusutan balon yang terhubung dengan kolam bola.
"Mommy habis ini beli es krim ya" Pinta Zafran yang sudah lelah bermain basket dan balap mobil.
"Iya..."
Waktu sudah menunjukkan hampir jam 9 malam. Sudah hampir 2 jam mereka berada di mall itu. Kini ke limanya tengah menikmati es krim di salah satu kedai yang cukup ramai pengunjung.
"Mas tolong ambilin air mineral yang tidak dingin" Pinta Shafa menunjuk jajaran botol yang ada di atas meja kasir.
Baru beberapa langkah Rayyan beranjak langkahnya terhenti saat seseorang memeluknya dari belakang.
"Mr. Ray... Hiks"
__ADS_1
"Hei, Lepaskan!" Rayyan berbalik melihat siapa yang berani memeluknya begitu saja. Tatapan tajam matanya mengarah pada wanita yang baru saja memeluk. Wanita yang baru pertama kali di lihatnya.
"Kamu siapa?" Tanya Shafa yang kini berada di tengah-tengah mereka. tatapannya tak kalah tajam menatap Rayyan dan wanita itu bergantian. Ia mencoba mengingat-ingat wanita dewasa berambut sebahu yang ada di depannya itu.
"Saya yakin mr. Ray masih hidup. Saya rindu mr. Ray" Ucapnya dengan binar bahagia, mengabaikan keberadaan Shafa yang sejak tadi menggeram ingin menghajarnya jika tidak ingat ada anak-anaknya bersamanya.
"Mas kenal dengan perempuan ini?" Shafa beralih menatap Rayyan dengan tatapan mengintimidasi. Ia lupa bahwa suaminya amnesia, sekalipun ia mengenalnya pasti dia akan lupa.
"Nggak Shafa, saya baru pertamaa kali melihatnya" Ucap Rayyan.
"Saya---" Wanita itu mencoba buka suara sebelum menghentikannya.
"Siapapun kamu, jangan coba-coba mendekati suami saya!" Ucap Shafa penuh dengan penekanan.
"Ayo pulang!" Shafa menarik lengan Rayyan menuju bangku di mana anak-anak mereka berada. Ia mengangkat tubuh Am dan memberikannya pada Rayyan untuk ia gendong, sedangkan dirinya menggendong Zifara sambil menggandeng tangan Zafran.
"Nggak usah balik-balik!" Ucap Shafa ketus.
Terima kasih Tuhan telah memberikan kehidupan kedua untuk mr. Ray. Gumam wanita itu sambil mengusap air matanya yang sempat menetes.
"Sayang tenang, mas beneran nggak kenal dia" Rayyan mencoba menenangkan amarah istrinya. Acara jalan-jalan yang tadinya menyenangkan berubah menjadi kacau karena hadirnya wanita misterius itu.
Sepanjang perjalanan Shafa terus berfikir, siapa wanita yang berani memeluk suaminya itu? Ia belum pernah melihatnya sebelumnya.
Tidak mungkin mas Ray selingkuh! Gumamnya saat dugaan-dugaan itu muncul.
Apa dia wanita yang dikenal mas Ray sebelum kecelakaan? Tapi siapa?
__ADS_1