Sakinah Bersamamu

Sakinah Bersamamu
Makan Malam Keluarga


__ADS_3

Malam ini Am dan Zafran terlihat sangat bersemangat, tak seperti malam-malam sebelumnya, ini adalah makan malam pertama mereka dengan formasi lengkap. Mereka makan malam di ruangan itu dengan beralaskan karpet dan meja kecil yang digunakan sebagai tempat piring. Shafa sendiri tak kalah semangat dari anak-anaknya. Sambil menunggu Rayyan kembali dari Shalat Isya ia menyiapkan makanan yang tadi di bawakan oleh ibu.


Kedua orang tua mereka masih kompak meninggalkan mereka berlima di ruangan perawatan Am. Besok pagi baru mereka akan menjemput keluarga kecil itu untuk kembali ke rumahnya.


"Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam" Am dan Zaf berlomba berlari ke arah Rayyan begitu mendengar ucapan salamnya.


Mereka langsung menggiring Rayyan untuk ikut duduk di tempat yang telah di siapkan. Ia duduk diantara Am dan Zafran sementara Shafa tepat berada di depannya dengan Zifara yang tak lepas dari sisinya.


Balita cantik itu hanya menatap mereka secara bergantian tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Atu mau makan cendili mommy" Ucap Am sambil mengangkat sendok dan garpu di tangannya.


Shafa nampak gugup dan salah tingkah saat Rayyan ada di depannya yang terus memperhatikan setiap gerak geriknya mengambilkan makanan untuk anak-anaknya.


"Em... mas, ma...mau makan yang mana?" Tanya Shafa yang sedikit gugup. Padahal yang di tanya ini suaminya loh. Baru di tatap aja sudah gugup begitu gimana kalau di sentuh, di peluk, di cium, di....


Ahh, Shafa nampak mengerjab beberapa kali sambil menggeleng kecil. Bisa-bisanya otaknya berkelana sampai kemana-mana membayangkan sang suami yang tidak-tidak. Efek menyendiri terlalu lama membuatnya pikirannya menjadi liar.


"Saya makan semua" Ucap Rayyan dengan seulas senyum pada wanita cantik yang sudah berganti pakaian dengan sebuah daster berwarna hitam. Jangan salah dasternya ini adalah salah satu daster ori yang di import dari Turki yang sering di sebut daster Turki.


Dengan hati-hati Shafa menyendokkan nasi dari kotak makan ke piring Rayyan kemudian meletakkan beberapa potong daging lengkap dengan sayurannya.


"Terima kasih" Ucapnya yang belum juga melepaskan pandangannya Shafa. Katakan bahwa ia sedang jatuh cinta lagi pada istrinya atau memang Rayyan yang tidak pernah tidak mencintai Shafa.


Shafa hanya mengangguk malu, lagi-lagi pipinya merona menambah kecantikannya di mata suaminya.


Sumpah, gue kok jadi deg-degan gini di tatap mas Ray... Ini padahal ekornya udah dua, dulu juga di "ea ea" in juga biasa, ini kok jadi labil gini?


"Bismillah dulu Am" Tegur Zafran pada sang adik yang sudah membuka mulutnya hendak menyuapkan nasi.


"Bismillahillohmanillohim" Ucapnya cepat sebelum melahap suapan pertamanya. Rayyan tersenyum bahagia meliaht kedua kakak beradik yang begitu rukun dan saling mengingatkan.

__ADS_1


"Zi aa..." Sedangkan Shafa mengalihkan rasa gugupnya dengan mulai menyuapi Zifara yang duduk di sampingnya.


"Shafa hanya makan itu?" Rayyan mengamati piring di depan Shafa yang hanya berisi nasi dan sayur bening bayam yang di campur dengan jangung manis.


"Ini makanannya Zizi mas" Jawabnya sambil terus menyuapi putri kecilnya tersebut.


"Shafa nggak makan?" Tanyanya lagi kerena hanya mendapati seebuah piring dengan porsi nasi kecil.


"Setelah Zizi dan Am selesai makan, Am kalau makan suka belepotan kalau nggak di bantu" Balasnya.


"Mommy, atu mau matan itannya" Am menggeser piringnya pada Shafa. Ia masih belum bisa memisahkan duri dengan daging dan dengan penuh kesabaran Shafa memisahkan daging ikan dari durinya.


Rayyan memperhatikan setiap gerakan Shafa dengan hati terenyuh. Ini hanya sebagian kecil dari kasih sayang dan perhatian Shafa terhadap anak-anaknya. Yang pasti lebih banyak hal yang telah wanita muda itu lakukan dari sekedar memperhatikan makanan anak-anaknya.


Apa kamu setegar itu selama ini?


Rayyan beranjak dari duduknya berpindah ke sebelah Shafa yang masih kosong.


"Ayah mau dekat mommy" Ucap Rayyan yang membuat Shafa melongo.


"Makanlah, biar Zizi saya yang suapi" Ucapnya. Ia tak tega jika melihat istrinya mengabaikan makan malamnya demi anak-anaknya. Meskipun itu adalah tugas seorang ibu. Bagi seorang ibu, anak adalah prioritas utama. Ia sanggup menahan lapar demi melihat anak-anaknya kenyang.


"Nda mau" Ucap Zizi sambil memeluk Shafa.


"Nggak papa mas, udah biasa kok. Zizi makannya memang agak susah jadi harus aku yang nyuapin" Balasnya.


Rayyan tak bisa berbuat apa-apa karena putri kecilnya itu sepertinya masih merasa asing dengannya. Selain Shafa, Rayyan juga harus berusaha mendekatkan diri kepada anak-anaknya untuk semakin memperkokoh keluarganya.


"Ini makan!" Rayyan memberikan sesendok makanan untuk Shafa.


"Tapi..."


"Tidak ada bantahan" Ucapnya dengan seulas senyum yang begitu Shafa rindukan. Ia menerima suapan dari Rayyan dengan perasan campur aduk, tapi lebih banyak kesedihan di dalamnya. Momennya saat bertukar makanan di teras belakang rumahnya kembali terkenang. Momen yng kini hanya di yang mengingatnya.

__ADS_1


Alih-alih ingin membuat Shafa makan, perlakuannya yang menyuapi Shafa justru menimbulkan kerusuhan kecil, karena Am sang anak yang merupakan foto copiyan dirinya langsung mogok makan. Tidak mau makan kalau tidak di suap ayah.


"Atu juga mau di suap ayah!" Ucapnya sambil meletakkan sendok dan garpunya.


"Aku juga" Sang kakak yang biasanya anteng dan pendiam ikut bersuara.


"Tidak boleh nak, biar ayah makan. Kalian makan sendiri ya" Shafa memberikan pengertian pada kedua jagoannya.


"Nggak Mau!!!" Ucapnya bersmaan.


"Ayahkan baru pulang mommy, kita kan rindu pengen di suap ayah juga. Iyakan dek" Zafran kini berkompromi dengan adiknya.


"Iya" Jawab Am di sertai anggukan.


Akhirnya dua orang dewasa tersebut mengalah mengikuti kemaun sang anak. Shafa tetap menyuapi Zifara sedangkan Rayyan harus ekstra sabar menyuapi dua jagoan yang memiliki karakter berbeda itu. Setelah mereka selesai barulah Shafa dan Rayyan menikmati makan malamnya. Tapi, jangan harap mereka akan makan malam berdua saja, karena Am tetap saja merusuh dengan tak mau melepaskan pelukannya pada sang ayah sekalipun Rayyan tengah makan.


"Aku keluar sebentar mas, mau cari angin" Ucap Shafa setelah menidurkan Zifara. Am dan Zafran pun sudah tertidur setelah mendengarkan dongeng yang di ceritakan oleh Rayyan. Shafa sedikit heran, Rayyan kan sedang lupa ingatan tapi kok cerita rakyat dan cerita-cerita anak lainnya dia masih ingat? Apa dia hanya melupakan kenangannya saja?


Di ruangan itu terdapat 2 buah bed berukuran sedang. Satu digunakan oleh Zafran dan Am dan satu untuk Shafa dan Zifara. Rayyan sendari entah akan tidur di bed yang mana malam ini. Yang pasti kedua orangtua mereka telah menyiapkan ruangan itu untuk keluarga kecil yang sedang kangen-kangennya.


Tak ingin membiarkan Shafa keluar sendiri, Rayyan segera menyusulnya. Mungkin ini saat yang tepat untuk mereka saling mengenal lebih dalam. Ups, bukan mereka, tapi Rayyan. Dia perlu menyelami kembali hati Shafa yang kedalamannya belum ia tahu.


Shafa yang menyadari kehadiran Rayyan di sebelahnya hanya tersenyum. Tak ingin bersuara, ia hanya ingin menikmati kedamaian dalam hening malam ini.


"Shafa..." Panggil Rayyan. Ia bingung harus memanggilnya seperti apa? Ia tak ingat panggilan apa yang ia ucapkan untuk menyebut wanita hebat di sebelahnya ini


"Hmm" Jawab Shafa singkat.


"Apa perasaan Shafa masih sama, dulu saat saya masih bersama Shafa, kemarin saat saya tidak di samping Shafa dan sekarang saat saya kembali tapi tidak mengingat Shafa?"


Shafa menoleh, menatap mata teduh yang juga menatapnya dalam. Ada gurat kesedihan yang tergambar jelas di wajah keduanya.


Harusnya kamu tahu jawabannya mas. Dulu, kini dan nanti aku akan tetap berada di sini, di posisi ini, ada atau tanpa dirimu.

__ADS_1


__ADS_2